Langsung ke konten utama

TUHAN, ANGANKU MENJAUH !



seolah semua pudar
cahaya itu tak lagi dapat ku tatap
sinar itu perlahan redup
seiring anganku yang kian sirna
hanyut terbawa tetesan air
hilang
tak terlihat
entah bagaimana lidah ini bergerak
bisu menanggapinya
langkah kakiku mulai gontai
lemah berjalan menyusuri setiap jalan
bahkan aku lupa bagaimana caraku untuk kembali berdiri tegak
bahkan aku lupa caraku untuk tegak menatap langit, menantang langit
yang kian terik menyengat kulit
kini aku jatuh
tersungkur padu bersama peluh
lensa mataku menguning
aku terlalu lemah untuk kembali berdiri kokoh
biar, biar ku jalani ini
tanpa mereka tahu apa yang sesungguhnya mereka lihat tentangku
bukan sesungguhnya yang mereka lihat jauh di dalam
mungkin hanya Tuhan yang tahu segalanya
mungkin hanya pada Tuhan aku mampu mengungkapkan segalanya
dan mungkin hanya Tuhan yang mampu menerjemahkan segalanya
berulangkali ku coba untuk menahan setiap butir air yang tertahan di kelopak mataku
namun, dayaku tak membandinginya
butir itu mengalir deras mengikuti detak waktu
terkadang aku rindu kala aku bermain dengan masa yang sudah-sudah
impianku untuk kembali dalam putaran waktu itu, teramat mustahil
impian tinggallah mimpi
kini, aku mencoba mengikuti arus berjalannya waktu
mengikuti irama detik
hingga aku terbawa menuju impianku yang sesungguhnya
Tuhan, bukanku patah dalam garis mimpiku
bukanku diam dalam usahaku
tapi,
Tuhan, aku menangis
menahan segala rasa yang bergejolak dalam dada ini
mengusir rasa yang tak menentu, bersalah
Tuhan, kini anganku menjauh !



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...