seolah semua pudar
cahaya itu tak lagi dapat
ku tatap
sinar itu perlahan redup
seiring anganku yang kian
sirna
hanyut terbawa tetesan air
hilang
tak terlihat
entah bagaimana lidah ini
bergerak
bisu menanggapinya
langkah kakiku mulai
gontai
lemah berjalan menyusuri
setiap jalan
bahkan aku lupa bagaimana
caraku untuk kembali berdiri tegak
bahkan aku lupa caraku
untuk tegak menatap langit, menantang langit
yang kian terik menyengat
kulit
kini aku jatuh
tersungkur padu bersama
peluh
lensa mataku menguning
aku terlalu lemah untuk
kembali berdiri kokoh
biar, biar ku jalani ini
tanpa mereka tahu apa yang
sesungguhnya mereka lihat tentangku
bukan sesungguhnya yang
mereka lihat jauh di dalam
mungkin hanya Tuhan yang
tahu segalanya
mungkin hanya pada Tuhan aku
mampu mengungkapkan segalanya
dan mungkin hanya Tuhan
yang mampu menerjemahkan segalanya
berulangkali ku coba untuk
menahan setiap butir air yang tertahan di kelopak mataku
namun, dayaku tak
membandinginya
butir itu mengalir deras
mengikuti detak waktu
terkadang aku rindu kala
aku bermain dengan masa yang sudah-sudah
impianku untuk kembali
dalam putaran waktu itu, teramat mustahil
impian tinggallah mimpi
kini, aku mencoba
mengikuti arus berjalannya waktu
mengikuti irama detik
hingga aku terbawa menuju
impianku yang sesungguhnya
Tuhan, bukanku patah dalam
garis mimpiku
bukanku diam dalam usahaku
tapi,
Tuhan, aku menangis
menahan segala rasa yang
bergejolak dalam dada ini
mengusir rasa yang tak
menentu, bersalah
Tuhan, kini anganku
menjauh !
Komentar