Ada hujan yang tak kunjung reda pada Desember ini. Hujan di langit abu-abu itu membawa kenyataan yang seolah menawarkan semburat sendu untuk segera reda. Pelangi yang sewaktu-waktu melengkung, tepat sekali pada jejak-jejak yang pernah dilewati, menyadarkan bahwa pelangi ada tidak untuk selamanya, tapi juga tidak pergi untuk selamanya. Semesta memeluk rindu pada setiap perubahan itu, air hujan yang jatuh, langit yang menjingga, serta pelangi yang terukir. Berbagai bentuk perubahan itu semesta memeluknya dengan hangat, dalam pelukan matahari yang dinanti. Semesta paham bahwa setiap perubahan yang terjadi, pada akhirnya semua akan kembali pada semesta. Pada jejak kakinya yang basah, ternyata masih berbekas langkahnya. Ternyata, Tuhan tidak benar-benar menghapusnya. Kerap suara langkahnya masih sayup terdengar, gerak tubuhnya masih tergambar, gemericik air yang jatuh di payungnya masih juga meninggalkan sisa. Hujan benar-benar mengembalikan semuanya. Semua yang sebenarnya tidak hilang,...
bukan aku menyerah atas semua yang telah aku perjuangkan selama ini.. tapi, ketika cinta itu menuju rumahnya maka ia akan pulang dengan atau tanpa harapan