Langsung ke konten utama

TAMAN BUNGA DAN KISAHNYA


TAMAN BUNGA DAN KISAHNYA

Taman bunga dengan bunga-bunga yang bertebaran indah, embun pagi yang menyejukkan, dan semilir angin pagi yang menambah keindahan itu.
“Aduh maaf, lo gak apa-apa kan?” sambil memeriksa lututku yang sedikit luka karena sepedanya.
                Ya, tak sengaja sepeda yang ia tumpangi menabrakku yang juga sedang bersepeda di taman komplek.
“Aduh, hati-hati dong.” meringis kesakitan.
“Yaah, maaf deh yah? Gue anterin pulang deh, mau?” katanya sedikit ketakutan.
“Ah udah gak usah, gue gapapa kok” kataku sambil berdiri dan menumpangi sepedaku kembali dan berlalu meninggalkannya.
               
                Keesokannya, aku bertemu lagi dengan pemuda itu. Awalnya aku sudah lupa karena saat kejadian kemarin, aku tak memerhatikan wajahnya. Namun dia menyapaku.
“Hei, udah sembuh?” dia menghampiriku yang sedang bermain ayunan di taman komplek.
Dalam hati bergumam, “Wajahnya sejuk” dalam hati pun tertawa.
“Gapapa kok, cuma sedikit lecet aja. Makanya kalo naik sepeda jangan bengong ya?” kataku sambil tersenyum.
                Mulailah kami membicarakan hal-hal lain cukup lama sampai akhirnya dia meminta nomor handphoneku. Di sela pembicaraan tadi aku menanyakannya mengenai tempat tinggalnya, wah tak ku duga, ternyata rumahnya cukup jauh dari taman bunga itu. Ya sekitar satu setengah jam dari taman bunga itu untuk menuju rumahnya.
“Wah, emang gak capek ya? Kok sampai dibela-belain gitu ya naik sepeda cuma buat kesini?” kataku heran.
Tertawa manis, “Taman ini indah, gue melihat ada yang berbeda dari taman ini. Coba deh lu perhatiin, bunga-bunganya indah, burung-burungnya banyak, merdu, sejuk, danaunya alami banget, ini bagai surge.” Katanya sembari menatap sekeliling taman.
Ya memang, taman itu memang indah dengan segala pesonanya. Aku pun hanya terdiam dan turut menyaksikan pesona yang dihadirkan pada taman itu. Dalam hati berbisik, “pemuda ini menarik”. Sepanjang perjalanan pulang, wajahnya yang sejuk terbayang dan tutur katanya yang lembut mengiringi kakiku memutar pedal sepeda.
                Seketika malam menyambutku dengan penuh kelembutan. Merasakan dinginnya malam membuatku semakin hanyut dalam angan tentangnya. Bayang-bayang indah akan dirinya membuatku semakin mudah melukiskannya dalam imajinasi terindahku. Matanya indah.
                Ku goreskan keindahan itu dalam setiap bait puisi terindah di atas kertas putih. Terlelap aku dalam indahnya kejadian tadi pagi. Wajahnya sejuk, suaranya merdu dan semua tak mampu hilang dalam ingatanku.
Selamat malam, cantik
Seketika handphone yang ku letakkan di atas kasur yang kebetulan ada di sampingku berbunyi dan ku baca ada pesan singkat darinya. Ah tidak, hatiku berdegup kencang. Tak ku sangka dia yang sedang ada dalam imajinasiku seolah mendengar semua suara hatiku. Deg-degan, pastinya. Namun tak mampu ku berbohong pada hati kecilku kalau aku harus tak membalas pesan singkat itu.
 Kejadian tadi pagi membuatku seolah dunia ini berputar terlalu cepat. Mungkin inilah yang namanya keindahan pandangan pertama? Haha.
                Aku membalasnya, dan tak terasa waktu sudah semakin larut. Aku pun menyudahi perbincangan itu dan lelaplah aku dalam mimpi indahku.
Setiap malam, dia selalu mengirimkan puisi indah untukku. Oh, betapa lembutnya hati pemuda itu.
                Memang kami tak banyak waktu untuk bertemu, hanya seminggu dua kali waktu kami bertemu dan tempatnya pun di tempat yang selalu menunjukkan pesona keindahannya di mata kami berdua, terlebih dirinya.
                Hari-hari berlalu, hubungan kami bertambah lekat. Hingga pada akhirnya, dia mengungkapkan semua rasa yang ada dalam dirinya.
“Coba deh lo lihat dua burung yang lagi di sarang itu!” katanya sambil menunjuk ke arah pohon yang terdapat sarang burung.
“Hm, iya lihat, kenapa?” dengan wajah tak mengerti.
“Gue ngebayangin itu kita berdua, burung itu saling menyayangi, saling melindungi dan saling berbagi kasih, pasti mereka nyaman disana, dan gue tahu, mereka nyaman itu karena mereka saling melengkapi.” katanya dengan tatapan kosong tak terlepas pada pandangan terhadap burung-burung yang sedang pada sarangnya.
Aku tak mengerti maksudnya dan aku hanya membisu turut menyaksikan ke arah pohon dengan sarang burung itu.
“Gue sayang sama lo, Ra!” katanya tiba-tiba.
                Sontak aku terkaget, tiba-tiba dia menyatakan sesuatu yang ada di luar pikirku.
“Sayang?” kataku.
“Iya, setelah beberapa bulan ini gue mengenal lo, gue ngerasa ada sesuatu yang beda yang menarik dari dalam diri lo” tatapnya tajam menatapku.
                Waktu seolah terhenti. Tak ku dengar detak jam yang berputar. Pikiranku jauh melayang masuk dalam jurang matanya. Aku merasakan hal yang sama dan waktu kembali seperti semula dengan semua perbedaannya.

                Hari ini aku harus mengunjungi rumah tanteku yang sedang mengadakan acara ulang tahun anaknya.
Sesampainya, aku membantu tanteku yang sedang sibuk menyiapkan acara. Sementara keluargaku, membantu pekerjan yang lain.
                Bel rumah berbunyi, tanteku segera membuka pintu rumahnya. Dipersilahkanlah tamu itu masuk ke rumahnya. Aku yang sedang berada di kamar tamu, asyik mendengarkan musik. Mamaku masuk ke kamar untuk mengambil sesuatu yang tertinggal.
“Ada siapa, Ma di bawah?” tanyaku yang tadi kebetulan mendengar suara mobil masuk gerbang rumah tanteku.
“Ada keluarga Pak Harditama, baru datang dari Singapura beberapa bulan lalu.” kata Mama menjelaskan.
“Saudara atau tamu?” tanyaku yang memang tak mengetahuinya.
“Saudara, dia pindah ke Singapura pas kamu masih umur 5 tahun. Anaknya kan dulu teman main kamu, kamu akrab banget dulu sama Randy.” Mama mengingatkanku.
                Sebentar aku memutar memori otakku menuju 12 tahun lalu.
“Oh Randy, iya Ma aku ingat, yang anaknya iseng itu ya?” sambil tertawa aku mengingatnya.
“Sekeluarga ikut, Ma?” kataku.
“Mama belum lihat, ini Mama mau ke bawah” berlalu Mama keluar kamar dan menuruni tangga.
                Aku penasaran, dan aku putuskan untuk menyusul mama ke bawah. Saat aku sampai di ruang tamu. Aku melihat sosok pemuda yang sepertinya tak asing bagiku. Ya, pemuda itu adalah Randy dan dia adalah pemuda yang selama ini menemaniku saat aku di taman bunga komplek rumahku. Tersentak aku kaget, tak percaya bahkan merasa ini semua adalah mimpi.
                Bagaimana mungkin seseorang yang kini mengisi hati kosongku tak lain adalah saudaraku sendiri, berasal dari satu keluarga.
“Randy?” kataku kaget menatapnya.
“Loh, Raisa? Kamu disini juga?” dia pun kaget.
                Tertunduk kami satu sama lain, tak menyangka kami dipertemukan sebagai seseorang yang saling menyayangi namun di sisi lain kami dalam satu keluarga. Tak mengerti apa yang harus kami bicarakan dan apa yang harus kami perbuat. Semua terasa hening.
                Entah penampilan kami yang sangat berubah atau memang karena apa yang membuat kami tak bisa mengenal keadaan di masa 12 tahun yang lalu.
“Wah, masih ingat ternyata kalian?” kata tante yang mengantarkan snack dan minuman ke meja tempat kami berdiam diri sejak tadi.
                Aku tak mampu berkata apapun untuk menjawab pertanyaan tante. Seolah ingin menangis, namun ah entahlah. Keluargaku tak ada yang mengetahuinya kalau sebelumnya aku memang sudah bertemu dan menjalin kasih bersamanya. Kalau pun tahu, pasti mereka menyuruh kita untuk memutuskan semua ini karena kami berasal dari satu keluarga besar.


                Aku menangis dalam balutan kabut malam. Langit mendung, bulan dan bintang pun tak ku lihat bercahaya.
“Aku benar-benar tak menyangka kalau akhirnya seperti ini.” kata Randy yang tiba-tiba menghampiriku yang sedang duduk di balkon.
“Aku juga. Aku gak tahu harus gimana, aku takut.” kataku dengan air mata ang terus mengalir di wajah.
“Aku juga takut, aku sayang kamu melebihi ini, dan aku gak tahu kalau kita harus tamatkan semua ini”  katanya mengelus lembut rambutku.
                Malam itu kami menyelesaikan semuanya. Hingga satu keputusan telah kami dapatkan, kami mencoba untuk tetap melanjutkan kisah ini dengan tidak memberitahu keluarga, kalau pun sampai ketahuan, kami akan siap untuk memutuskannya.
                Aku tak pernah menyangka cinta terlarang ini terjadi dalam kehidupanku. Aku mengalaminya, sungguh ini semua di luar kehendakku. Pemuda itu tak mampu mengingatkanku pada keadaan di 12 tahun lalu. Dia sungguh berbeda, jauh berbeda. Aku menyukainya.
               
               

Komentar