Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

SELAMAT ULANG TAHUN IBU SAYANG

Dear Ibu... Matahari yang tegas menunjukkan dirinya pun takkan mampu mengalahkan kehangatan tangan lembutmu Angin yang berhembus pun takkan mampu membawa pergi kasihmu meski aku tak selalu menjadi apa yang Ibu inginkan Namun Tuhan selalu bersama janjiNya bahwa ketika aku dalam kandunganmu dulu, aku terlalu takut untuk menatap dunia, namun Tuhan menjanjikan bidadari yang akan selalu menemaniku bahkan merelakan nyawanya demi aku sekalipun. Ketika itu pula, aku percaya bahwa Tuhan tak pernah ingkar dengan semua janjiNya bahkan hingga saat ini aku merasakan pembuktianNya Dear Ibu... Sesungguhnya setiap kali hadir tanggal 24 September aku bimbang haruskah aku bahagia atau bersedih ? Ya, aku bahagia karena pada tanggal itu Ibu merasakan hari dimana semua terasa lebih istimewa, tapi di lain hal aku bersedih karena sesungguhnya aku belum siap melihat rambutmu memutih perlahan, kulitmu tak sekencang dulu, dan terlebih aku terlalu takut kehilangan untuk tidak bersama lagi dengan bidad...

MENCINTAIMU DALAM ILUSIKU

dalam lembar ini ajari aku sedikit melukiskan kisah tentang perjalanan yang tiada akhir di sudut kejauhan, tampak sebuah telaga yang jernih tak terbendung airnya mengalir begitu deras tak terhentikan di sudut kejauhan, aku memusatkan pandanganku pada tempat yang membuat anganku melayang tempat dimana aku bisa bersamamu sampai batas waktu yang tak ditentukan dan pada akhirnya aku menyadari bahwa aku mencintaimu dalam ilusi ilusi yang selalu menerka tentang keberadaan aku dihatimu meski tidak sepenuhnya aku berharap, aku juga takkan bisa lari dari kenyataan bahwa aku tetap saja berharap kamu memang pada awalnya aku mencoba untuk tidak memusatkan diriku pada harapan itu, tapi kian lama aku sadar bahwa sejatinya aku hidup bersama harapanku, harapan yang membuatku bertahan hingga batas waktu yang tak ditentukan karena aku hanyalah manusia, manusia yang tidur dan bermimpi, manusia yang melamun dan berkhayal meski terkadang aku takut, aku takut ilusiku menikam diriku sendir...

JEJAK PENA

ajari aku menggunakan pena akan aku tulis gemercik air, udara dingin, kabut senja, sampai daun gugur yang hilang sewaktu-waktu karena aku mencintai yang sewaktu-waktu pergi, yang sewaktu-waktu diambil aku belajar bagaimana caranya melepaskan aku belajar bagaimana menyikapi kepergian aku belajar mengosongkan diri dari apapun yang memenuhi hingga setiap ruang dalam hati terasa lebih lapang dari biasanya lalu mengisinya lagi dengan lebih tertata dan bijaksana karena aku mencintai yang sewaktu-waktu mati, yang sewaktu-waktu harus hilang aku belajar tentang kesendirian betapa hidup dalam diri sendiri begitu meresahkan aku belajar bagaimana membuat hari-hari terasa lebih lapang, selalu siap dengan kehilangan, selalu siap dengan kepergian sebab sejatinya aku tidak pernah memiliki apa-apa Tuhan hanya menitipkanmu untuk aku cintai aku khawatir apabila aku mencintaimu tidak dengan petunjukNya aku takut ketika mencintaimu justru mengundang murkaNya aku sudah berusah...