Langsung ke konten utama

ACRIOPSIS TERINDAH
Oleh: Adhelita Audina Pradanti

            Hatiku berbunga dan hariku berwarna saat dia mengungkapkan semua yang dirasakannya. Hari-hari ku lalui bersamanya. Aku bahagia, ya aku sangat bahagia menjalani hari bersamanya.
Hingga sekitar 5 bulan kami menjalani hari bahagia, dia jadi sering sakit akhir-akhir ini. Keterangan sakit di absen kelas pun cukup banyak menjejeri namanya.
            Awalnya, dia bilang hanya demam biasa. Beberapa hari dia tidak masuk sekolah sampai sekitar memakan waktu 3 hari, hari itu aku berniat menjenguknya untuk memastikan keadaannya. Kebetulan, hari itu sekolah pulang cepat karena semua guru akan mengadakan rapat. Bergegas aku menuju rumahnya.
“Assalamualaikum” terdengar suara bel rumah yang baru saja aku tekan.
“Sebentar ya?” kata orang yang ada di dalam rumah itu.
Aku menunggu dengan memegang kantong plastik berisi buah yang aku beli saat perjalanan menuju rumah Daniel. Tak lama, pintu terbuka.
“Masuk, Mba” kata pembantu rumahnya Daniel mempersilakan aku masuk.
“Oh iya, makasih” aku langsung masuk ke dalam rumah yang nampaknya sangat sepi.
Pembantu itu juga masuk setelah menutup rumahnya saat aku telah melewati pintu itu.
“Langsung ke kamarnya Mas Daniel aja, Mba. Dia ada di kamarnya.” katanya menunjuk arah anak tangga.
            Aku bergegas menjejaki anak tangga itu, dan sampailah aku di depan kamar berpintu coklat bermotif tazmania. Ya, Daniel memang sangat hobi mengoleksi apapun yang berbau tazmania.
“Masuk” katanya saat aku mengetuk pintu kamarnya yang kedua kali.
Ku buka pintunya dan dia terlihat sangat kaget karena sebelumnya aku tidak bilang padanya kalu hari ini aku mau main ke rumahnya.
“Kamu nggak bilang dulu sih kalo mau kesini?” katanya sambil bangun dari tidurnya.
“Sengaja” jawabku dengan senyuman dan duduk di sebelahnya.
“Berantakkan nih kamarnya, malu nih sama kamu” katanya sambil tertawa pelan.
“Masih sakit?” tanyaku sambil memegang dahinya yang masih terasa hangat.
“Tadi pagi panas lagi, padahal mau sekolah” katanya dengan suara agak sedih.
“Nggak usah dipaksain lah kalo masih pusing” jawabku sambil membuka kulit jeruk untuknya.
“Kan mau ketemu kamu, kangeeeen” dia menggodaku.
            Aku menghabiskan waktu bersamanya, dan tiba-tiba mamanya Daniel datang mengantarkan makan siang untuk Daniel. Mamanya pun kaget karena tiba-tiba di dalam sudah ada aku dan terdengar dari luar Daniel seperti berbicara sendiri.
“Eh Tante” sapaku saat Tante Hera menghampiri kami.
“Oh ada Alika ternyata, kirain Daniel ngomong sendiri di kamar. Kaget tante” katanya sambil meletakkan makanan dan minumannya Daniel di meja.
“Hehe, iya tante, sengaja memang aku nggak ngasih kabar dulu” kataku sembari membantu Tante Hera meletakkan seisi nampan yang dibawanya.
“Kebiasaan deh kamu, kok jam segini udah pulang?” tanya Tante Hera.
“Iya tante, tadi ada rapat guru jadinya anak-anaknya dipulangin semua deh” jawabku.
“Oh, udah makan belum? Makan bareng tante sama Kak Randy, yuk?” ajak Tante Hera.
Daniel yang dari tadi asyik menonton DVD dan makan makanan yang diantar mamanya seperti punya dunia sendiri.
“Ah nggak usah tante, nanti aja, belum lapar kok” sanggahku ajakan mamanya Daniel.
“Udah ayo bareng-bareng, biar rame! Nggak enak tante cuma makan berdua doang sama Kak Randy. Ayo !” Tante Hera menarik tanganku dan aku tak bisa lagi menolaknya.
            Aku menuruni anak tangga bersama Tante Hera. Ya, aku memang sudah dekat dengan keluarganya Daniel. Kebetulan Daniel juga sangat dekat dengan mama dan kakaknya. Hampir setiap malam minggu aku diajak main ke rumahnya dan tak jarang kami jalan bareng sama keluarganya Daniel. Itu mengasyikkan.
Saat mulai menuruni beberapa anak tangga, Daniel menyusul, “Aku ikut dong!” katanya dengan setengah berlari menyusul aku dan Tante Hera.
“Awas ih jatuh, lagi lemes juga” aku menghentikan langkahku menunggu Daniel.
            Sampailah kami semua berkumpul di meja makan. Ada Kak Randy, Tante Hera, aku dan juga Daniel. Papanya Daniel sedang dinas keluar kota beberapa minggu lalu. Mba Ela yang sedang menyiapkan makan siang untuk kami semua tampak sibuk mondar-mandir mengambil dan menata makanan.
“Ayo Alika dimakan, tante ambilin ya?” mengambilkan nasi ke piringku.
“Makasih tante” jawabku.
Tante Hera masih menawarkan berbagai macam makanan yang tersedia di meja makan untukku. Tante Hera memang sangat sayang aku, karena menurut cerita Daniel, mamanya sangat ingin punya anak perempuan tapi setelah punya dua anak, Tante Hera memutuskan untuk program keluarga berencana. Makanya, tak heran semua keluarganya kalau Tante Hera sangat perhatian sama aku.
            Selesai makan siang, Tante Hera ada acara arisan bersama teman-temannya, sementara Kak Randy seperti biasa setelah jam makan siang dia kuliah. Tinggallah kami bertiga di rumah. Daniel memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Aku dan Daniel bersenandung bersama melantunkan nada-nada indah yang keluar dari gitar kesayangannya di balkon rumah. Indahnya, tak mampu ku lukiskan.
           
            Sekitar 3 hari Daniel tidak masuk sekolah, akhirnya dia kembali masuk sekolah dan menjalani hari-harinya seperti biasa di sekolah. Tak sampai seminggu, Daniel kembali tidak masuk sekolah. Aku mulai khawatir, entah penyakit apa yang sedang dideritanya. Dalam hati aku bertanya-tanya dan aku pun berharap, semoga sesuatu yang tak ku inginkan terjadi padanya.
            Bintang hadir menyapa malam, dan angin berhembus menyambut indahnya malam itu. Di jendela kamar aku duduk menatap langit dengan memutar memori ingatan ku bersama Daniel. Senyum menghiasi wajahku, sendiri saat itu begitu indah.
            Namun, semua seolah sirna tak berbekas. Tiba-tiba terdengar reff lagunya Kerispatih-Mengenangmu, aku bergegas mengambil handphone dan ku tekan salah satu tombol handphone itu.
Terdengar suara, “Hallo, Alika” dengan nada rintihan tangis yang begitu pedih.
“Iya tante, ada apa?” jawabku kaget.
“Daniel, Ka” suara Tante Hera yang masih menangis tersedu
“Daniel kenapa tante?” kataku yang mulai tak tenang dengan keadaan itu
“Kamu ke Rumah Sakit Cempaka Indah sekarang bisa?” katanya
“Oh iya tante, aku langsung kesana” tanpa pikir panjang aku mengiyakan suruhan Tante Hera.
Aku mulai berpikir tak enak tentang Daniel. Dalam perjalanan, aku tak tenang, dan dalam hati “Ya Tuhan, jaga dia, jaga dia untukku, ku mohon” dengan mengepal tangan berharap semua keajaiban Tuhan datang malam itu.
            Sampai di rumah sakit, Tante Hera sudah menungguku di lobby rumah sakit dan langsung memelukku. Sontak, aku kaget dan tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Ada apa, tante? Cerita sama Alika!” tanyaku menatap penuh harap Tante Hera.
Aku mengajak Tante Hera duduk dan mencoba menenangkannya agar bisa menceritakan semua yang terjadi.
“Tante tenang ya?” mengusap air mata yang terus mengalir di wajahnya.
“Tadi sekitar jam 7, Daniel pingsan di ruang tamu. Tante kaget waktu lihat dia tiba-tiba tiduran di lantai, nggak biasanya, pas tante coba bangunin dia nggak sadar-sadar, tante bingung, di rumah cuma bertiga, Daniel juga lagi sakit, tante takut dia kenapa-kenapa” ceritanya dengan air mata yang terus mengalir.
Memang sebelumnya Daniel belum pernah sakit sampai separah ini yang mengharuskan dia ke rumah sakit. Tante Hera yang juga bisa dibilang over protective wajar saja kalau dia terlalu panik dengan keadaan yang menimpa anaknya.
“Tante nggak pikir panjang, langsung nyuruh Mba Ela buat nelpon taxi buat bawa Daniel ke rumah sakit. Tante benar-benar panik, Ka” masih dengan air mata yang mengalir di pipinya sambil ia mengusap butiran air mata yang jatuh itu.
“Yaudah tante tenang, kita berdoa aja semoga Daniel nggak kenapa-kenapa ya?” kataku menenangkan dan memeluk Tante Hera.
            Tak lama, dokter keluar dari ruangan tempat Daniel berada dan mencari orang tua Daniel. Tante Hera menghampiri dokter dan berlalu meninggalkan aku untuk ke ruang dokter. Aku masuk ke ruangan itu dan terlihat Daniel yang terbaring lemah di bangsal rumah sakit. Air mata sedikit demi sedikit mulai membasahi wajah.
Menghampirinya yang tergolek lemah, mencoba memegang tangannya yang tak berdaya, terucap dalam hati, “Semoga kamu baik-baik saja, sayang” dengan air mata terurai tak tertahankan.
            Tante Hera masuk ruangan itu dan mengajakku keluar untuk membicarakan sesuatu yang tampaknya sangat penting dan itu semua mengandung tanda tanya besar dalam pikiranku karena Tante Hera terus menangis dan tergambar dalam matanya ada sesuatu yang sangat sulit ia terima dalam hidupnya. Melihatnya, aku segera mengajak Tante Hera ke taman yang ada di rumah sakit itu dan mulailah Tante Hera menceritakan semuanya.
            Bagai tersambar petir yang teramat dahsyat. Malam gelap tak bercahaya, cahaya bulan dan bintang seolah pudar dalam pandangan. Tak ku rasa semilir angin lembut yang biasa menyambut malam. Tante Hera mengungkap semua yang amat tak terduga, Daniel, Daniel mengidap kanker paru-paru stadium akhir dan itu semua sudah sulit disembuhkan. Daniel memang tak pernah cerita pada siapa pun kalau dirinya merasakan sesuatu yang lain dengan paru-parunya. Pantas saja aku sering melihatnya memegangi dadanya dan ketika ku tanya, dia selalu menjawab kalau dia baik-baik saja.
            Aku tak bisa menahan kesedihanku, kakiku gemetaran, rasanya tak sanggup menerima semua ini. Tante Hera pun tak berdaya menceritakan semuanya langsung pada Daniel atau pada keluarganya, terutama papanya Daniel yang esok akan pulang dari tugas dinasnya.
Aku memutuskan untuk pulang dan kembali ke rumah sakit besok, memberi waktu Tante Hera untuk membicarakannya dengan keluarganya. Waktu sudah malam, menunjukkan pukul 22.00 WIB. Gelisah malamku saat itu, hingga jam berputar dan mengarah pada angka 2, aku tetap tak bisa memejamkan mata. Pikiranku melayang tak tentu arah, membayangkan sesuatu yang akan terjadi pada Daniel dan sesuatu yang akan ku terima dan tentunya sulit untuk ku jalani. Malam itu hujan turun dengan sangat derasnya, membasahi seisi bumi yang kering lusuh tak menyejukkan. Aku yang masih gelisah dengan semua kejadiannya ini, duduk di tempat favoritku, jendela kamar, menikmati setiap butiran air hujan dengan maksud menenangkan jiwa dan pikiranku yang seolah terasa namun tak ada.

            Mungkin lelah menangis dan berpikir jenuh tentang semua peristiwa hari ini, kejadian yang tak pernah ku inginkan dalam hidup. Namun inilah hidup, tak selalu bahagia dan walau bagaimanapun juga aku harus menerima semuanya meski sulit. Aku beranjak pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaannya yang sudah sekitar 2 minggu dirawat di rumah sakit terbaring lemah tak berdaya.
“Hei, udah mendingan?” aku menghampiri saat melihat dia sedang tiduran.
“Yah beginilah, kamu sama siapa?” jawabnya sambil memposisikan dirinya untuk duduk.
“Sendiri, tadi Kak Randy ada perlu dulu katanya, jadi nggak bisa anter aku kesini” ceritaku.
Daniel mencoba menggenggam tanganku, “Aku sayang kamu” tatap matanya yang tajam merasuk jiwa.
“Kamu cepat sembuh dong, sayang. Aku kangen pengin jalan bareng lagi sama kamu” balasku.
“Aku janji deh, kalau kamu sembuh nanti, aku bakal ajak kamu jalan ke tempat yang paling indah menurut aku, aku janji!” lanjutku dengan senyum yang terukir diwajahku dan dua jari telunjuk serta jari tengahku yang berdiri meyakinkan Daniel.
Daniel hanya tersenyum dan menggenggam tangaku semakin erat.
            Tapi, entah ini sebuah keajaiban Tuhan atau memang sudah waktunya. Setelah 2 hari berlalu, dokter membolehkan Daniel untuk istirahat di rumah. Tak dapat ku tutupi kebahagiaanku. Aku masih ingat dengan janjiku, namun tak ku biarkan aku menuruti maunya karena hari itu dokter menyuruhnya untuk istirahat di rumah.
Aku putuskan untuk menepati janjiku esok, kebetulan besok adalah malam minggu. Harapku besok adalah malam minggu terindah.

            Hari yang ku tunggu tiba, sekitar jam 8 Daniel menjemputku. Aku sudah siap untuk mengajaknya ke tempat yang menurutku itu sangat indah.
“Aku penasaran kamu mau ajak aku kemana” kata Daniel penasaran.
“Lihat aja nanti, tempatnya tuh indah banget, sejuk, damai, pokoknya aku suka banget tempat itu” jelasku dengan membayangkan keindahan tempat itu.
            Kebun Anggrek, ya disana penuh dengan misteri keindahan. Berpuluh tanaman anggrek menghiasi, mewarnai kebun yang pesona keindahan sungguh luar biasa. Damai, sejuk, teduh, dan layaknya berada diantara lekukan indah pelangi. Aku setengah berlari menggandeng tangan Daniel dan mengajaknya mengelilingi kebun yang luas dan penuh dengan berbagai jenis tanaman anggrek. Daniel pun terpesona dengan keindahan yang dihadirkan oleh kebun itu. Kebun itu memang agak sepi karena belum banyak orang yang tahu. Mungkin itulah yang membuat kebun itu menghadirkan kedamaian tersendiri.
Setelah lelah mengelilingi kebun itu, aku mengajaknya beristirahat di kursi yang tersedia di kebun itu, kursi itu mungil, hanya mampu menampung dua orang. Kursi itu juga salah satu kursi favoritku, karena letaknya yang menghadap ke danau buatan dan langsung mengarah pada Anggrek Acriopsis. Anggrek itu adalah anggrek kesukaanku, bunganya yang sangat indah tak jemu ku memandang.
“Indah ya Acriopsis itu?” kataku sambil menunjuk pada sekumpulan Anggrek Acriopsis yang berdekatan dengan sekumpulan Anggrek Vanda.
“Iya, keduanya indah. Terasa menyegarkan mata.” tatap tajam Daniel terpesona keindahan Anggrek Acriopsis dan Anggrek Vanda.
“Pengin ya di taman depan rumah aku, tumbuh bunga-bunga indah kayak gitu. Di kamar aku pun kalo bisa, aku hiasi dengan Anggrek Acriopsis. Wah, pasti aku rawat banget tuh” ceritaku sembari tersenyum membayangkannya.
Daniel hanya tersenyum mendengar ceritaku.
            Tiba-tiba, Daniel terlihat pucat. Bibirnya pucat, matanya sayu. Seperti orang ingin pingsan. Disela itu, dia pun terbatuk dan begitu kagetnya aku saat ku lihat di sapu tangan miliknya terdapat darah yang keluar dari mulutnya saat dia batuk. Tanpa pikir lama, aku langsung membawanya ke rumah sakit. Aku panik, penyakitnya kembali kambuh.
Saat Daniel sudah ditangani oleh dokter, aku mencoba tenang. Aku langsung menghubungi Tante hera dan Kak Randy. Tante Hera dengan terburu-buru bergegas menuju rumah sakit ditemani suaminya dan Kak Randy.
“Daniel gimana, sayang?” tampak Tante Hera yang begitu paniknya.
Aku menceritakan semua kejadian yang aku alami bersamanya hingga Daniel bisa kambuh lagi penyakitnya. Kami semua menunggu keadaan Daniel dari dokter. Saat dokter keluar, papanya Daniel yang lebih dulu menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Daniel.
“Penyakitnya kambuh, untuk saat ini masih baik-baik aja” kata dokter yang menangani Daniel.
“Alhamdulilah” kami semua yang mendengarnya.
“Boleh kami masuk, Dok?” tanya Kak Randy.
“Oh silakan” dokter itu membolehkan.
Kami masuk ruangan yang berlabel Anggrek dipintunya dan melihat keadaan Daniel yang sangat memprihatinkan. Wajahnya pucat pasi, lemah tak berdaya dengan infus yang menempel di tangannya, kasihan Daniel.

            Daniel siuman sekitar jam 7 pagi, kebetulan saat itu aku menginap. Aku yang tidak bisa tidur hingga semalam penuh, berjaga atas kesadaran Daniel. Akhirnya Daniel sadar dan aku orang yang pertama melihat dia sadar. Daniel masih antara sadar dan tidak sadar. Aku mencoba menyadarkannya dengan memegang erat tangannya. Sadarlah Daniel.
“Kayaknya tadi aku nggak disini deh” tanyanya heran.
“Kamu pingsan pas kemarin lagi di kebun anggrek” jelasku.
Tante Hera dan Kak Randy pun bangun dari tidurnya.  Kami berbincang bersama sebentar. Hingga disela pembicaraan itu, “Ajak aku ke tempat kemarin, mau?” pinta Daniel.
“Tapi kamu masih begini, sayang. Besok aja” saranku.
“Please! Sekali ini aja turutin kemauan aku, mungkin ini kemauan terakhir aku. Ya? Ayolah, sayang!” mohonnya.
Aku pun menurutinya dan dokter pun mengijinkannya. Tante Hera dan Kak Randy tetap menunggu di rumah sakit.
            Sesampainya di kebun anggrek, Daniel langsung menuju pada sekumpulan Anggrek Acriopsis. Dia memetik bunga indah itu, dan mengajakku duduk di tempat kemarin aku duduk berdua dengannya. Dia memberikan anggrek yang sudah dipetiknya itu kepadaku.
“Ini untuk kamu, sayang. Mungkin ini pemberian terakhir dari aku untuk kamu” katanya sembari menyodorkan setangkai Acriopsis itu.
“Aku nggak ngerti ah maksud kamu” tanyaku bingung.
“Mungkin aku nggak bisa kasih kamu beribu Acriopsis dan mewujudkan keinginan kamu ada berjuta Acriopsis di taman rumah kamu. Aku tahu aku nggak akan bisa wujudkan semua mimpi kamu itu. Tapi, ini setangkai Acriopsis yang aku kasih, kamu jaga ya sebagaimana kamu menjaga kasih sayang aku. Walaupun aku nggak ada nanti, tapi aku pengin, kamu tetap menjaga semua ini. Anggap aja Acriopsis ini adalah aku. Acriopsis yang bisa menemani kamu, membahagiakan kamu dan suatu saat kamu bisa mewujudkann semua keinginan kamu dengan Acriopsis ini” jelasnya sambil terus memandangi Acriopsis yang digenggamnya.
            Tak terasa air mata mengalir. Seiring berjalannya waktu, Daniel tidur di pangkuanku. Aku tak mengerti apa maksud semua tindakannya sedari tadi. Perlahan, matanya menutup, wajahnya pucat pasi dan seluruh tubuhnya kaku dan dingin. Sungguh, entah apa yang harus aku lakukan saat itu. Semuanya seperti gelap seketika. Aku bergegas membawanya kembali ke rumah sakit. Disana, Tante Hera dan Kak Randy masih menunggu. Semuanya berakhir saat dokter memutuskan hal yang seharusnya tidak terjadi. Daniel pergi untuk selamanya.
            Aku tak sanggup menahan semua kepedihanku. Air mata jatuh deras tak tertahankan. Hujan yang mengguyur tak ku rasakan dinginnya, jiwaku seolah mati rasa mendengar sesuatu yang harusnya tak ku dengar. Tak mudah menerima semua kepedihan ini, sulit menerima kepergiannya. Meski yakin dia bahagia disana, tak berarti aku bahagia disini. Luka, kembali luka ini menyayat hati. Semua sirna begitu saja, menjadi sebuah kenangan yang tertinggal. Anggrek Acriopsis, akan ku jaga semampuku, mengenangnya dalam angan, angan terindah dalam pilu.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...