Langsung ke konten utama

BIARKAN AYAH MENJAGANYA, BUNDA


BIARKAN AYAH MENJAGANYA, BUNDA

            Ayah kembali membuka lembaran using yang hingga kini masih tersimpan rapi dalam lemari kecil miliknya. Membuka lembar demi lembar album, tertata rapi setiap kisah keluarganya yang harmonis. Bersama anak-anaknya dan istrinya terkasih.
            Semua seolah lenyap ketika sang bunda mulai tak mampu lagi menahan setiap emosinya. Ayah teringat kembali atas detik-detik kepergian ratu hidupnya, Merlyndiana.

**

            Hari itu harusnya menjadi hari yang harusnya dilalui Merlyn dengan penuh dukungan, karena hari itu Merlyn akan ikut tes untuk masuk perguruan tinggi negeri pilihan sang bunda. Bunda memang sangat mengharapkan Merlyn bisa melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi pilihan sang bunda itu. Sebenarnya Merlyn sudah lolos tes untuk perguruan tinggi negeri yang sangat dia inginkan, namun demi membahagiakan sang bunda, Merlyn pun rela melepas semua keinginannya demi sang bunda yang sangat dicintainya.
            Merlyn mendapatkan lokasi tes yang sangat jauh dan mengharuskan dia berangkat lebih awal.
“Pagi banget sih, Mer?” kata sang bunda yang baru keluar kamar dan melihat Merlyn sudah rapi bergegas akan berangkat.
“Iya bunda, lokasinya jauh banget. Harus sampai tempat setengah jam lebih awal.” cerita Merlyn sembari membuat sarapan untuknya.
            PRANG!! Sebuah piring makan yang digenggamnya jatuh dan seisinya semua tumpah sebelum sedikit pun Merlyn menyentuh makanan itu.
“Merlyn!!! Apa-apaan sih kamu! Ceroboh banget! Bersihin! Bunda capek tahu nggak sih kamu!” semprot bunda pada Merlyn.
Merlyn tak mampu membantah setiap kata yang dilontarkan bunda, Merlyn menurutinya tanpa memedulikan tentang kebutuhan sarapannya.
            Ayah yang masih tertidur sontak bangun mendengar keributan antara Merlyn dan bunda.
“Ada apa, Bun?” tanya ayah yang langsung menghampiri dapur.
Ayah memerhatikan Merlyn yang sedang membersihkan serpihan-serpihan beling yang berhamburan di lantai, “Tes kamu jam berapa, sayang?” sembari membantu mengumpulkan serpihan beling.
“Jam setengah 7, Yah.” Merlyn masih sibuk merapikan lantai.
“Ya sudah, cepat. Biar nanti ayah aja yang mengepel lantainya habis ayah anter kamu ke stasiun.”
            Dalam hati, Merlyn ingin sekali mengeluarkan air mata karena sikap sang bunda akhir-akhir ini berubah. Namun Merlyn tak mau berburuk sangka padanya, “Mungkin bunda capek seharian kerja” gumamnya dalam hati.
“Kamu bareng Rena sama Farah kan?” tanya bunda saat Merlyn menunggu ayah untuk mengantarnya.
“Nggak, Bun. Rena dianter papanya, kalo Farah bareng sama tantenya.”
“Loh, kamu sendiri? Gimana sih?”
“Nggak apa-apa, Bun. Yang penting aku udah tahu tempatnya.”
Bunda tak membalas lagi ucapan Merlyn.
            Melihat ayah yang sudah rapi, bunda bingung. Ya, karena sebelumnya bunda hanya tahu aku berangkat bareng Rena dan Farah.
“Ayah mau kemana?” tanya bunda.
“Nganterin Merlyn dulu, Bun.” Ayah bersiap membuka pintu mobilnya.
“Kan mau benerin mobil bunda, gimana? Bunda masuk pagi, Ayah!” Bunda protes.
Sementara Merlyn hanya memerhatikan ayah dan bundanya yang sedang berdebat, air mata Merlyn tak mampu lagi dicegah, namun dia berusaha mengusap seluruh kesedihannya seketika dia teriangat tentang semua harapannya membahagiakan sang bunda.
“Cuma sampai stasiun doing, Bun. Nanti ayah langsung balik kok. Merlyn sendirian, takut telat.” Ayah menjelaskan.
“Merlyn, kamu bawa motor sendiri aja. Mobil Bunda rusak, nanti bunda nggak bisa berangkat.” perintah bunda pada Merlyn.
“Ya ampun, Bunda…” sebelum ayah melanjutkan  perkataannya, bunda sudah memotongnya, “Udah ayah cepat benerin mobil bunda dong.” Merangkul tangan ayah.
            Merlyn menuju garasi untuk mengambil motor, waktu yang dia punya sudah tidak banyak lagi. Merlyn harus segera berangkat.
“Merlyn berangkat ayah, bunda. Doain ya?” pamit Merlyn.
“Hati-hati, sayang.” Ayah mengecup kening Merlyn.
Merlyn memacu kendaraannya dengan sangat kencang, Merlyn mengejar waktu demi kebahagiaan sang bunda.
Ayah yang melihatnya, tak kuasa menahan rasa khawatir pada putri manisnya itu, pandangan ayah tak luput sampai akhirnya Merlyn hilang dari pandangan mata.
            Tak henti kekhawatiran ayah pada putrid manisnya itu, perasaan tak karuan mulai dirasakan oleh sang ayah, namun sang ayah tetap memusatkan perhatiannya pada kerusakan yang dialami mobil istrinya. Selama berjam-jam, tak jua ada hasilnya, kerusakan yang terjadi pada mobil bunda tak kunjung bisa diatasi. Semua karena pikiran ayah tertuju pada putrid manisnya, “Nggak biasanya aku terbayang anakku sampai seperti ini. Tuhan, tolong jaga dia!” dalam hati ayah berdoa.

**

            Di sepanjang perjalanan, Merlyn tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada sikap bunda akhir-akhir ini. Air mata Merlyn kini mengalir deras, namun Merlyn tetap berusaha untuk fokus dengan keadaan di jalan raya, “Harusnya buda memberiku semangat, setidaknya menyiapkan sarapan untuk aku, tapi ini tidak, sejak kemarin aku selalu salah dimata bunda, entah apa yang telah aku perbuat seolah aku melakakukan kesalahan teramat besar dimatanya.” batinnya berkata dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya yang tertutup helm.
            Sampailah Merlyn di persimpangan jalan dekat stasiun, tak disangka, sebuah truk besar dihadapannya melaju dengan sangat kencang mengarah ke Merlyn, Merlyn tak mampu mengendalikan kecepatannya karena dia juga memacu kendaraannya dengan sangat tinggi. Terjadilah, motor dan truk beradu kencang. Merlyn terlempar jauh, helm yang digunakannya pun terlepas dikarenakan Merlyn lupa mengaitkan tali helm itu karena saking ingin mengejar waktu.
            Tubuh Merlyn berlumuran darah, mulai dari kepala hingga kaki. Tubuh Merlyn terbujur di tengah jalan yang kemudian dipindahkan warga sekitar tempat itu ke pinggir jalan. Beberapa warga mencoba menghubungi ambulan untuk membawanya Merlyn ke rumah sakit terdekat agar segera mendapat pertolongan pertama.

**

            Perasaan ayah semakin tidak karuan. Tiba-tiba air sebutir air mata ayah jatuh membasahi pipinya, “Merlyn!” perasaan ayah tepat tertuju pada putri manisnya. Seolah batin Merlyn memanggil batin ayah, ayah segera mengambil kunci mobil berniat untuk menyusul putri manis, putri tercinta, harapan dalam hidupnya.
“Ayah mau kemana?” tanya bunda yang kaget melihat suaminya terburu-buru.
Tanpa banyak kata, ayah meninggalkan bunda ke garasi mobil.
            Belum sempat ayah membuka pintu mobilnya, handphone miliknya berdering.
“Selamat Pagi. Saya bicara dengan orang tua Merlyndiana Pranesta?” suara berat terdengar dihandphone milik ayah.
Perasaan ayah semakin tidak karuan, pikiran ayah semakin tak tentu, yang ada dipikirannya saat itu hanyalah putri manisnya tercinta, Merlyn, “Iya benar, saya ayahnya, ini dengan siapa?”
“Kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa saudari Merlyndiana sekarang berada di rumah sakit karena kecelakaan dan keadaannya kritis. Dimohon pihak keluarga untuk segera datang. Terima kasih.”
            Kaki ayah seolah tak lagi bertulang, semua tubuhnya terasa kaku, air mata yang semula hanya sebutir, kini deras mengalir di wajahnya. Firasat yang dirasakan ayah ternyata benar.
Ayah dan bunda segera menuju rumah sakit untuk melihat keadaan sang putri tercinta.

**

            Setengah berlari ayah menuju informasi untuk bertanya perihal kejadian yang menimpa anaknya. Benar saja, saat ayah sampai pada tempat yang diperintahkan oleh informan tadi, pihak kepolisian sedang menunggu di depan ruang UGD.
“Bapak keluarganya Merlyndiana?” tanya polisi itu yang segera beranjak bangun dari kursi.
“Iya iya, bagaimana keadaan putri saya? Bagaimana?” Ayah sangat panik.
“Bagaimana ceritanya, Pak bisa terjadi seperti ini?” tanya bunda pada polisi itu, dan polisi itu menjelaskan dengan detail.
Sementara ayah tak mampu menahan kesedihannya, tangisnya ketika dokter keluar member kabar bahwa Merlyndiana Pranesta tak lagi dapat diselamatkan nyawanya. Dokter mengatakan bahwa terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya terutama kepalanya, dan Merlyn sudah kehilangan nyawanya sejak dalam perjalanan menuju rumah sakit.
            Tangis ayah meledak. Semua seolah terasa seperti mimpi, mencoba membangunkan diri mimpi, namun apalah daya semua bukan mimpi seperti yang ayah harapkan. Putri manisnya telah pergi untuk selamanya, ratu dalam hidupnya takkan lagi mampu mewarnai hari-harinya. Semua bagai menghujam jantung ayah, seolah ayah kehilangan separuh jiwanya ketika melihat tubuh anaknya terbujur kaku dan pucat pasi.

**

            Di kamar Merlyn, ayah ingin merasakan kebersamaan yang dulu pernah ada bersamanya, saat Merlyn masih mewarnai hidupnya. Tangis ayah pun pecah ketika melihat sederet foto-foto cantik Merlyn yang terpajang rapi di dinding kamarnya.
            Saat ayah merapikan tempat tidur Merlyn, ayah menemukan sebuah buku diary peninggalan Merlyn. Saat ayah membukanya lembar demi lembar, tak kuasa ayah menahan tangis yang terisak. Tak seperti wanita biasanya, Merlyn tidak menggunakan buku diarynya untuk menuliskan keluh kesahnya yang terjadi pada setiap harinya, melainkan yang ditulisnya adalah ucapan jika suatu ketika Tuhan dan malaikat menginginkannya kembali. Merlyn mengungkapkan semuanya di buku diary itu jikalau dia tak akan bisa terbangun lagi dari tidurnya, jikalau dia tidur untuk tidur panjangnya.
            Bunda menghampiri ayah dan tak kuasa melihat suaminya berderai air mata.
“Ayah, bunda minta maaf, bunda menyesal. Kalau saja bunda tidak menyuruhnya bawa motor sendiri. Bunda menyesal ayah, maafin bunda.” dengan air mata yang juga mengalir deras, bunda bersimpuh di hadapan ayah.
Suasana saat itu memang sangat mengharukan.
“Sudahlah, Bunda. Tak ada yang harus disesali, Merlyn sekarang sudah tenang di surga. Coba bunda baca ini!” ayah menujukkan buku diary Merlyn pada halaman terakhir.

Bunda, maafin Merlyn kalau pada akhirnya Merlyn harus pergi untuk selamanya dan mengubur semua harapan bunda ke Merlyn. Satu hal yang harus bunda tahu, Merlyn rela melepas semua keinginan Merlyn, itu semua demi Bunda. Merlyn sayang banget sama bunda, bahkan kalu harus sampai bertukar nyawa, tanpa pikir panjang Merlyn akan tukar semuanya, biar Merlyn yang pergi ya Bunda.
Bunda.. Jaga ayah baik-baik, terima kasih buat kalian. Tetap doakan Merlyn ya, Ayah.. Bunda.. Selamat Jalan!

            Seperti itulah goresan akhir seorang Merlyndiana Pranesta yang setiap malamnya, menjelang tidurnya, selalu menyempatkan diri untuk memberikan ucapan terakhir jika dia pergi menuju kehidupan abadi.


~ Kita tak pernah menyadari bahwa seseorang terasa begitu
berarti, ketika dia telah pergi untuk selamanya ~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...