Langsung ke konten utama

LANGIT DAN MATAHARI

“Sayang, hari ini jadi kita pergi, kan?” Venti memastikan.
“Jadi dong, sayang. Ini aku lagi on the way jemput kamu.”
“Oke. Aku tunggu, sayang”
            Satria berencana untuk merayakan hari ulang tahunnya Venti. Satria sudah menyiapkan kejutan untuk Venti.
Namun, tiba-tiba sesaat Venti dan Satria akan berangkat, langit mendung bahkan sangat gelap. Angin berhembus lebih kencang.
“Yaaah, cuacanya kok jadi gini ya?” menatap langit dari dalam mobil.
Satria dirundung kegelisahan, “Sayang, kita tunda aja ya? Cuacanya nggak mendukung banget.” Satria menatap Venti dengan wajah yang teramat penuh dengan rasa kegelisahan.
“Yah, sayaaang. Nanti juga di jalan cuacanya berubah kok. Lanjut ya?” Venti memaksa.
“Tapi, sayang..”
Venti segera memotong ucapannya Satria, “Lanjut ya, sayang?” senyum manisnya mengalahkan rasa kegelisahan Satria. Satria tak mampu lagi berbuat apa-apa selain menuruti kemauan kekasihnya.
            Meski diselimuti rasa yang sangat tak menentu, jantung Satria terasa berdebar lebih kencang dari biasanya. Firasat-firasat buruk mulai dirasakannya, namun Satria sesegera mungkin membuang semua pikiran negatifnya dan mencoba lebih berkonsentrasi pada mobil yang dikendarainya.
“Sayang, kamu kenapa sih?” tanya Venti yang sedari tadi bingung melihat sikap Satria.
“Hah? Nggak, aku nggak apa-apa kok.” Satria hanya menjawab seadanya.
Suasana kembali hening. “Perasaanku dari tadi kok nggak enak ya?” cerita Satria.
“Kenapa?” tatap Venti pada Satria.
“Entahlah” Satria kembali memusatkan perhatiannya pada jalan di hadapannya.
“Kebawa suasana kali ya? Jadi galau-galau gimana gitu.” canda Venti, tertawa pelan.
            Sampai tempat tujuan, Satria memakaikan tutup mata yang hampir menutupi sebagian wajah kekasihnya itu. “Nggak boleh ngintip loh, sayang.” Satria menuntun Venti menuju tempat yang telah dipersiapkannya.
“Awas ya kalo macam-macam!” Venti takut.
Satria tetap menuntunnya dan Venti terus bertanya-tanya.
“Ih kamu ngapain sih giniin aku?” tanya Venti yang memang dari tadi tidak sadar kalau hari ini adalah hari lahirnya dia.
“Ssht! Jangan berisik, udahlah ikutin aku aja.” Satria tetap menuntunnya.
Venti sekejap diam, menuruti semua omongan Satria. Dengan langkah terbata, Venti mencoba mengikuti arah tuntunan Satria.
            Tak bisa dipungkiri, jiwa romantis memang ada pada Satria.
“Nah, sekarang kamu boleh buka tutup mata kamu.” perintah Satria.
Perlahan Venti membuka tutup matanya dan membenahi penglihatannya yang sedikit kabur setelah matanya tertutup oleh sapu tangan berwarna biru.
“Wow!” mata Venti terbelalak seketika melihat settingan yang sungguh luar biasa di sekitarnya.
            Taman penuh bunga beraneka ragam dengan dominan bunga anggrek, bunga favorit Venti yang mengelilingi rerumputan hijau alami penuh kesegaran. Venti berdiri dikelilingi bunga-bunga cantik yang disulap Satria berbentuk hati.
“Ini semua kamu yang design?” tampak rona kekaguman di wajah Venti menatap Satria.
Satria hanya mengangguk dan Venti memeluk erat Satria dengan uraian air mata bahagia yang tak mampu dibendungnya lagi
Satu yang menjadi pusat perhatian Venti adalah di seberang danau taman ada ukiran rumput yang membentuk huruf “H B D V”
Venti melepas pelukannya dan mengarahkan pandangannya pada ukiran rumput itu, “Ukiran rumput itu unik banget?” tanya Venti segera menghampirinya.
Satria tertawa, “Serius kamu?” tanyanya.
“Serius! Unik banget!” Venti mengelilingi sekitar ukiran itu. Rumput yang ditengahnya ditanami anggrek warna-warni, dan semuanya terlihat padu.
Satria tertawa melihat tingkah Venti yang sangat mengagumi ukiran itu.
“Kok kamu ketawa sih?” Venti mempertegas.
“Kamu tahu nggak apa arti dari huruf ukiran ini?” Satria memulai keseriusannya.
Menatap ukiran itu dan terus berpikir, “Hmm nggak, kamu tahu?”
“Kamu beneran lupa, sayang?” tanya Satria meyakinkan dan mencoba mengingatkan.
“Apa sih?” Venti semakin tak mengerti.
“Ayo sini ikutin aku!” Satria menggenggam tangan Venti. “H itu Happy, B itu Birth, D itu Day, V itu Venti” senyum Satria menatap Venti setelah mengajaknya menjelaskan tiap huruf ukiran itu.
Venti tertawa lepas, “Ya Tuhaaaaan, hari ini aku ulang tahun.” wajahnya berbinar.
Suasana kebahagiaan sangat terasa kala itu.

**

            Lelah, Satria memutuskan untuk mengantar Venti pulang. Sepanjang perjalanan, tak ada hentinya mereka bersenda gurau, bahkan di dalam mobil pun sesekali mereka bercanda.
“Kok aku nggak pernah tahu ya kalo kamu sibuk ngurus semua itu?” tanya Venti.
“Iyalah, kamu juga sibuk sendiri sama kerjaan kamu. Kamu cuma tahunya waktu aku sakit itu kan?”
“Oh jadi kamu sakit karena…?” belum selesai Venti meneruskan ucapannya, Satria memotong, “Aku kehujanan, kamu tahu sendiri kan aku paling nggak bisa tuh kena hujan, nah karena waktunya mepet, ya udahlah demi kamu, sayang.” Satria mengedipkan sebelah matanya pada Venti.
“Iiiiih centil kedip-kedip.” ledek Venti.
“Ah kamu mah!” Satria membalas.
“For all, aku suka banget banget banget, aku benar-benar nggak ingat dan nggak nyangka sama semua hari ini.”
“Iyalah, kamu kan punya gejala pikun dini.” Balas Satria meledek Venti.
            Tiba-tiba hujan sangat deras, kaca mobil dipenuhi kabut, angin pun berhembus sangat kencang, pepohonan di pinggir jalan tertiup kesana-kemari mengikuti arah angin. Pandangan Satria mulai terganggu.
Sesaat perjalanan, tiba-tiba sorot lampu menyinari mobil yang dikendarai Satria, Satria hilang kendali dan semua firasat buruk Satria pun berwujud nyata. Sebuah truk menabrak tepat mobil yang berisikan Venti dan Satria. Keduanya mengalami luka parah dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

**

            Udara pagi itu sangat sejuk menyentuh setiap organ pernapasan, teh hangat yang setia menemani kala fajar terbangun menambah kesegaran alami, gemericik air yang bersumber dari tarian setiap ikan-ikan koki kecil sungguh memperindah suasana.
“Pagi, sayang.” keningku hangat akan sentuhan bibirnya.
“Pagi” menerima sarapan pagi istimewa dari Satria.
            Setelah 3 bulan berlalu, Venti divonis dokter mengalami kelumpuhan saat peristiwa mengenaskan itu menimpa hidupnya. Venti seolah tak lagi mempunyai tujuan hidup, semua seolah gelap, cahaya memudar bahkan padam.
“Sayang..” panggil Venti pada Satria yang sibuk member ikan-ikan kecil di kolam mungil yang menghiasi halaman belakang rumah Venti.
“Ada apa, sayang? Kamu butuh apa?” Satria menghampirinya dan bertekuk lutut dihadapannya.
“Kalau kamu mau tinggalin aku, aku udah siap kok.” ujar Venti yang membuat satria tersentak.
“Loh? Maksud kamu apa, sayang?” Satria tak mampu mencerna maksud kalimat yang terucap dibibir Venti.
“Coba aja kamu lihat aku sekarang! Aku nggak bisa apa-apa lagi! Aku cacat!” Venti memukul-mukul kakinya dan air mata mengalir deras membasahi wajahnya.
“Sayang.. Sayang.. Sabar..” Satria menggenggam tangan Venti dan menatapnya tajam.
“Sayang, dengar aku baik-baik! Aku nggak akan pernah ninggalin kamu hanya karena keadaan kamu sekarang. Bagi aku, kamu tetap kamu yang dulu, nggak ada yang hilang sedikit pun dari perasaanku ke kamu. Aku ada untuk kamu, sayang. Percaya sama aku!” Satria memperjelas, dan semua membuat air mata Venti terlalu sulit tertahankan.
“Tapi…”
“Sayang, coba kamu lihat langit itu. Langit tak pernah meminta pada matahari untuk selalu bersinar cerah menemaninya, terkadang matahari itu redup bahkan tak memperlihatkan kehadirannya, tapi apa pernah langit berkhianat meninggalkan matahari? Apa pernah langit protes pada matahari? Nggak kan? Nah, seperti itulah aku belajar tentang kehidupan.” Satria menghapus air mata yang membasahi wajah cantik Venti.
            Venti mulai tenang, dan memeluk erat Satria seolah tak ingin tangannya melepas genggaman itu.



~ seseorang yang tak pernah mengeluh akan kekuranganmu, dialah seseorang yang patut kau cintai ~

           
























Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...