Langsung ke konten utama

MUTIARA HATIKU


MUTIARA HATIKU
Oleh: Adhelita Audina Pradanti

Malam itu tak ku lihat seberkas cahaya menerangi gelapnya malam. Dinginnya hawa menusuk hingga ke tulang rusukku. Merasakan sejuknya angin malam, sebuah lagu mengalun lembut ditelingaku.
            Tiba-tiba handphone milikku berdering, ku dapati SMS dari Ryan. Pesan singkatnya membuatku bertanya-tanya.
Sayang, terimakasih telah menjadi separuh hidup ini
Maafkan aku yang tak pernah membahagiakanmu
Aku memang bukan malaikat yang bisa selalu menemanimu
Aku hanyalah manusia dengan segala keterbatasanku
Cintamu membuatku sempurna
Sungguh kau tak mudah tergantikan
Umurku memang takkan lama, tapi percayalah Sayang, cintaku akan abadi untukmu, kaulah yang terindah !
Seperti itulah cuplikan pesan singkat dari dia. Hatiku semakin bertanya-tanya, tak pernah sebelumnya ia mengirimkan pesan singkat seperti itu.
            Tak berapa lama, hpku kembali berdering, dia meneleponku. Aku angkat telpon itu dan ku dengar dari kejauhan lagu ARMADA_PEMILIK HATI.
Sungguh, hari itu dia membuatku terus bertanya-tanya dalam hati. Namun ku coba untuk selalu berpikir positif tentangnya.

            Hari berganti, ku temui Ryan sedang duduk menyendiri di bawah pohon rindang di halaman sekolah dengan pena dan kertas yang tergenggam di tangannya. Aku yang baru saja datang segera menghampirinya. ”Hei, sendirian aja?” kataku menyapanya. Namun dia tetap dingin menyambutku sembari terus menggoreskan penanya di atas kertas putih yang telah tergambar tulisan-tulisan indah karenanya. Aku semakin bimbang dengan semua sikapnya akhir-akhir ini, aku merasa tidak ada yang salah dari diriku, lalu mengapa?
            Ku tarik nafasku dalam-dalam, dan ku mulai lagi membuka pembicaraan, berharap dia menyambutku hangat. ”Serius banget yah nulisnya?” kataku sambil tertawa pelan, membuat suasana mencair. Namun tetap saja, dia sama sekali tak menggubrisku. Saat itu, ku mulai pembicaraan serius, ”Kamu berubah yah? Ada apa?” kataku lembut sambil menatapnya yang masih menunduk menatap penanya yang menari di atas kertas putih.
            Dia hanya menggelengkan kepala, memberi isyarat bahwa apa yang aku katakan tidaklah benar. Itulah yang aku tangkap dari maksud isyaratnya.
”Terus kenapa? Kamu gak biasanya kaya gini, dari kemarin kamu bikin aku bingung. Kalau ada masalah kan biasanya cerita, aku punya salah?” jelasku yang masih saja dijawab dengan menggelengkan kepala.
            Jam sudah menunjukkan pukul 07.00, tak lama lagi bel masuk berbunyi. Aku pun berniat meninggalkan dirinya walaupun masih terasa berat karena sikapnya yang berubah 180 derajat. ”Ya sudah, aku mau masuk kelas dulu ya?” kataku sambil meninggalkannya.

            Sungguh aneh, aku tak paham apa maksudnya. Istirahat dia tak menemuiku, pulang sekolah pun tak memberi kabar padaku.
Dalam hati ku terucap, masalah apa yang sedang mendera batinnya sampai dia berubah?
            Hampa terasa segala hariku dengan keberubahan sikapnya. Sore itu hujan turun teramat deras, aku menikmatinya dengan duduk manis di sebuah kursi sembari menatap setiap tetes air hujan yang turun.
Lamunanku buyar ketika handphone berdering tanda telepon masuk, tertulis dalam layar hpku sebuah nama ”Ryan”. Segera aku angkat telepon itu, dikejauhan sana ku dengar suaranya yang begitu lemah seperti orang yang sudah tak memiliki daya. Panik, ya tentu.
”Halo..” katanya sungguh dengan suara yang teramat lemah.
”Kamu kenapa?” jawabku dengan nada yang agak panik.
            Telepon itu tiba-tiba terputus. Oh Tuhan, apa maksud semua ini ?
Tak berapa lama, adiknya yang memang dekat denganku, mengirim sebuah pesan singkat yang tertera di layar hpku
Kakak, Kak Ryan dirawat rumah sakit
Aku belum tahu Kak Ryan divonis apa sama dokter
Tadi sih aku lihat mama nangis waktu keluar dari ruang dokter
Aku takut kak !

            Sungguh sangat tersentak aku membaca pesan singkat dari Diana. Aku segera menghubunginya. Namun apalah daya, telepon ku ditolak olehnya, dan beberapa menit setelah itu, Diana kembali mengirimkan pesan singkat padaku.
Maaf kak, aku gak bisa angkat telepon kakak
Aku lagi sama kak Ryan, tadi kak Ryan pesan sama aku kalau aku gak boleh cerita ini ke kakak
Segera aku membalasnya meski hati getir memikirkan apa yang sedang terjadi dengan Ryan.
Oke, besok kakak mau ketemu sama kamu, di tempat biasa ya ? Jam 2 siang
Diana pun menyetujuinya.

            Sepulang sekolah itu, matahari tak kunjung menunjukkan keindahan cahayanya, hanya awan gelap yang kian menemaniku menuju perjalanan ke taman untuk bertemu Diana.
            Sesampainya, ku lihat Diana dengan rambutnya yang terurai indah duduk di kursi taman. Ku hampiri dia denga jalan agak cepat, tak sabar ingin tahu apa yang sedang terjadi oleh Ryan.
”Kak..” suara indah nan lembut mengalun di bibirnya yang membuat aku semakin bingung.
”Ada apa, Diana sama Kak Ryan? Cerita sama kakak, please!” mintaku penasaran.
            Tiga jam berlalu, tak terasa aku meneteskan air mataku begitu derasnya. Tak pernah terpikir dalam benakku kalau semua akan seperti ini jadinya. Tak tahu apa yang dapat aku lakukan saat itu dan saat aku berhadapan dengan Ryan nanti.
            Keesokan harinya, aku mencoba menghubungi Ryan dan mengajaknya berbicara empat mata. Dia setuju, sekitar pukul 7 malam dia menjemputku di tempat bimbingan belajar aku berada. Dia mengajak ke sebuah tempat yang keindahannya tak dapat terlukiskan oleh kata-kata.
            Ku mulai sebuah pembicaraan serius dengannya.
”Kenapa kamu nggak jujur sama aku?” kataku sambil menatapnya yang terus menunduk.
Diam, membisu. Menunduk seolah menangis dalam hati.
”Sayang, aku udah tahu semua dari Diana. Aku cuma pengin tahu kenapa kamu nggak jujur sama aku? Hilangkah kepercayaan kamu sama aku?” tanyaku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
            Tampak air mata mengalir di wajah Ryan. Membuatku ikut meneteskan air mata yang telah tertahan sejak dari tadi.
”Aku takut dan aku nggak mau nyusahin kamu lagi. Aku ngerasa udah banyak menyusahkan kamu tanpa pernah aku membahagiakan kamu. Mungkin kamu juga banyak masalah dalam hidup kamu, kalau aku cerita masalah ini ke kamu, aku cuma akan menambah masalah kamu di kehidupan kamu.” ceritanya dengan tatapan kosong ke depan menatap indahnya danau yang terbentang luas dengan mata yang berkaca.
            Aku tak mampu menjawab apa pun, hanya air mata yang dapat mengalir di pipiku.
”Ya memang, kemarin dokter memvonisku kalau aku terserang kanker otak stadium 4 dan dokter juga telah memvonisku kalau hidupku tak akan lama lagi. Aku cuma bisa pasrah meskipun mama dan papa terus menyuruhku untuk melakukan operasi, bahkan mama sama papa memaksa dokter untuk mengoperasi otakku. Tapi bagiku itu percuma, kanker stadium 4 sudah sulit untuk disembuhkan, dan kini aku hanya tinggal menunggu waktuku saja.” lanjut ceritanya yang semakin membuat aku menangis tersedu. Sungguh saat itu aku tak mampu menahan air mataku sediakala.
            Tiba-tiba Ryan berpindah posisi menghadapku, ”Aku sayang kamu, ini bukan mauku, tapi ini udah kehendak Tuhan. Kamu ngerti kan?” katanya sambil menghapus air mata yang mengalir di pipiku dengan tangan lembutnya.
Saat itu, aku seperti tunawicara, tak mampu berkata-kata mendengar semua penjelasannya dan ya itu, hanya derai air mata yang dapat aku tunjukkan padanya.
”Percayalah! Walau aku udah nggak ada nanti, tapi cinta aku pasti selalu abadi buat kamu kok, Sayang. Pulang yuk? Sudah jam 9, nanti disangkanya aku nyulik kamu lagi sama ayah.” ajaknya sesekali ia tertawa kecil.

            Dalam perjalanan, tak hentinya air mata mengalir di pipiku. Seolah aku tak tahu harus bagaimana dan tak karuan hati ku rasa saat itu. Ku peluk dia dalam dinginnya angin malam, mungkin inilah pelukan terakhirku untuknya. Semua bagai badai yang datang menerjang tubuh ini hingga semua hancur berkeping.
            Sesampainya di rumah, lagi, dia membuatku tak mampu menahan air mata yang telah banyak terbuang untuknya.
Dia menarik tanganku saat aku membuka pagar rumahku, ”Sayang, aku percaya kamu cewek tegar! Bukan aku ngelarang kamu nangis di hadapan aku, tapi aku nggak sanggup kalau aku harus ngeliat air mata kamu yang terus menetes di pipi kamu. Cantiknya luntur loh!” katanya sambil mengelap air mataku.
            Segera ku mengambil air wudhu dan berserah kepada Tuhan atas semua yang telah dan akan terjadi padaku. Dalam doa ku sebut namanya, dalam lirih ku berdoa untuknya.
Malam itu mungkin menjadi malam terakhir indahku bersamanya. Entah bagaimana ceritanya nanti, semua telah terjadi dan semua sudah menjadi kehendakNya. Aku, aku hanya bisa menerima semua ini dan belajar untuk tetap tegar menghadapinya meskipun sesungguhnya hati ini terlalu rapuh untuk menerima semuanya.

            Minggu pagi, Ryan menjemputku dan mengajak untuk main ke rumahnya. Di rumahnya, tepat di halaman belakang rumahnya, kami melantunkan lagu-lagu kesukaan kami. Ya, seperti biasa, dia memainkan sebuah gitar kesayangannya dan aku lah yang menyanyikan lagunya dengan sesekali ia ikut bernyanyi juga. Pepohonan seolah ikut mendengar rintih dan jerit hati yang sedang ku rasa lewat lantunan lagu yang ku nyanyikan dan seolah angin berhembus senada dengan lantunan melodi gitar yang dimainkannya. Teramat indah untuk pagi yang cerah itu.
            Namun, cerahnya pagi seolah pudar, luntur dan hilang seketika ku lihat Ryan jatuh pingsan. Aku panik dan bergegas mencari mamanya Ryan. Kami semua membawanya ke rumah sakit. Tak hentinya air mataku berderai melihat Ryan tertidur.
            Sesampainya di rumah sakit, dokter dan perawat rumah sakit itu langsung membawanya ke ruang UGD. Tegang, sedih dan air mata semua hadir mengelilingiku.
Dalam hati tak hentinya ku berdoa untuknya.
”Oh Tuhan, kalaulah memang ini tiba saatnya kau menginginkannya, biarkan aku sekali ini saja melihat senyumnya untuk yang terakhir. Tuhan, ku mohon” terucap dalam batinku.

            Sekitar 3 jam menunggu keputusan dokter, dokter keluar dengan wajahnya yang teramat putus asa. Aku langsung masuk menemui Ryan.
”Sayang, inilah akhir segalanya. Malaikat sudah menungguku dan Tuhan telah menanti kehadiranku disisiNya. Aku tunggu di surgaNya ya, Mutiara hatiku ?” katanya dengan nada begitu lemah dan terbata-bata.
            Tak lama, kejadian hitam itu muncul. Wajahnya yang tampan, kini menjadi pucat pasi. Kulitnya yang dulu hangat, kini dingin. Semua telah hilang, semua telah menjadi kenangan. Tangis, kesedihan, air mata hadir bercampur menjadi suatu yang padu. Tak terbayang olehku harus kehilangan orang yang selama ini mengajarkanku tentang arti sebuah kehidupan, kasih sayang dan cinta sejati. Ku coba ikhlas melepas semua kenangan indah bersamanya. Dia telah pergi, menghadap kepada Sang Pemilik sejati.
            Biarkan aku disini, menata kembali serpihan kisah-kisah indah bersamamu yang seolah hancur, menghapus tinta hitam karena kepergianmu. 


Puisi Untukmu

Andaikan waktu dapat ku putar
Ku ingin mengulang kisah indah bersamamu
Hadirmu, membuatku tersenyum
Adanya dirimu, membuatku mengerti tentang arti sebuah cinta

Disini,
Hanya malam yang menemaniku
Hanya bintang yang menerangiku
Hanya bulan yang menghiburku
Hanya angin yang menyejukkanku
Hanya embun yang membasahi hatiku
Hanya mentari yang menghangatkanku
Hanya burung yang melupakanku dari kesepian

Imajinasiku tak lagi mampu mengukir bayangmu
Tak lagi mampu melukis wajahmu
Biarlah semua ku simpan dalam hati
Dalam kotak hati kecilku
Hati kecil yang amat ku jaga
Ku jaga hingga akhirnya ku menemukan cinta lain darimu
Meski ku tahu, cinta itu tak pernah hadir
Kau telah tertanam kuat di hatiku
Namun biarlah
Hanya waktu yang menjawab semua













Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...