Langsung ke konten utama

KALA CINTA BERNUANSA BENING





Terima kasih kepada Tuhan yang selalu memberiku imajinasi dalam menulis novel ini


Ku persembahkan dengan cinta untuk ibu dan ayahku serta sahabatku tercinta sebagai hadiah terakhir selama masa-masa indah SMA,
~ Dian Utami
~ Novi Dwi Setiani
~ Rizka Wulan Sari
~ Ervina Nito Haryani
~ Hanna Chairunnisa
~ Novianti Ekaningsih
Juga seseorang yang jauh disana yang tak pernah hentinya memberi motivasiku dalam menulis, Gantar Historia Anandari Muliahara









Kehidupan layaknya air yang mengalir
Tenang, sejuk, damai namun tak pernah diam
Suatu saat nanti,
air itu akan berhenti pada tempat yang sudah disiapkan
tak perlu banyak menuntut menjalani hidup serba istimewa
jalani apa adanya
karena kebahagiaan hidup adalah disaat kita mampu menerima segala sesuatu apa adanya dan tetap menjalaninya dengan hati yang damai

~ Adhelita Audina Pradanti ~








KALA CINTA BERNUANSA BENING
Oleh: Adhelita Audina Pradanti

        Air hujan yang mengalir begitu deras teramat sangat menenangkan. Gemericik air yang mengalun lembut ditelinga, membuatku hanyut dalam kedamaiannya. Tetes demi tetes air mengalir seirama. Lamunanku buyar seketika pintu ruang praktikku terketuk, “Silakan masuk.” Jawabku sembari aku menatap arah suara itu berbunyi.
“Ada pasien, Dok.” kata suster yang mengantarkan data ke ruang praktikku.
“Oke.” jawabku sambil melihat data pasien tersebut.
        Beberapa menit kemudian, seorang wanita setengah baya dengan seorang pemuda berkursi roda masuk ke ruang praktikku. Mungkin aku sudah terbiasa dengan fenomena wajah seperti yang ku lihat saat itu. Mereka duduk di hadapanku. Ternyata wanita setengah baya itu adalah ibu seorang pemuda yang bersamanya, pemuda itu terlihat diam dalam tatapan kosong yang terus menatap ke bawah, jiwanya memang ada, namun seperti tak berpenghuni.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanyaku.
“Dok, tolong saya, ini anak saya, dia mengalami gangguan mental sejak beberapa minggu lalu.” ujar Ibu Winda.
“Hm, sebabnya apa, Bu?” tanyaku sambil memeriksa kondisi Arditama Suryadinanta.
        Pemuda itu mengelak ketika aku mencoba menyentuhnya, memastikan keadaannya.
Ibu Winda beranjak dari tempat duduknya, menceritakan masa kelam sebab anak tunggalnya menderita gangguan mental.
“Ardi ditinggal pergi tunangannya, Dok. Ya, ditinggal pergi untuk selamanya, peristiwa kecelakaan maut itu merenggut nyawa Novita, tunangannya Ardi. Ardi begitu terpukul mengalami kejadian itu, padahal dalam jangka waktu sebulan mereka akan melakukan resepsi pernikahan. Ardi sangat berharap pada Novita, Ardi begitu mencintainya, begitupun dengan Novita.” cerita Ibu Winda, berdiri menatap rintik sisa hujan dari pepohonan yang ada di depan jendela ruang praktikku.
        Aku berdiri di belakangnya mendengar dan mencoba menangkap setiap kejadian yang diceritakan Ibu Winda.
Lanjutnya, “Kecelakaan maut itu turut merenggut kebahagiaan Ardi, saya nggak tahu, Dok apa yang harus saya lakukan. Ardi adalah pewaris tunggal perusahaan kami, mereka adalah satu-satunya harapan kami. Tapi kalau dia begini, bagaimana bisa, Dok?” air mata Ibu Winda mengalir tak tertahankan, berbalik menghampiriku dan Ardi.
        Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan setelah mendengar dan mengerti setiap kejadian yang diceritakan Ibu Winda.
“Memanglah, tak mudah menerima kenyataan pahit seperti yang dialami Ardi ini, namun setiap masalah selalu ada hikmah yang terpendam kok, Bu.” Kataku sambil mengelus pundak Ardi, kini Ardi mulai beradaptasi denganku meski terkadang ia sedikit berontak ketika aku sentuh.
“Tolong saya, Dok.” harap Ibu Winda.
“Iya, Bu. Saya akan membantu sebisa saya.” jawabku tersenyum.
        Pemuda seperti Ardi sangat disayangkan memiliki mental yang tidak terlalu kuat, sehingga ia larut dalam kesedihannya yang membuat mentalnya sedikit terganggu karena bayangannya dimasa lampau.
“Saya punya tempat rehabilitasi, Bu. Kalau Ibu bersedia, saya akan tempatkan Ardi disana agar saya bisa memantau keadaannya. Bagaimana?” tanyaku pada Ibu Winda.
        Ibu Winda terlihat diam, memikirkan penawaranku yang mungkin terasa berat untuk diterima seorang Ibu Winda yang teramat sayang pada Arditama.
“Apa nggak bisa dokter aja yang ke rumah saya setiap hari? Saya akan bayar semau dokter, tenang saja. Untuk sementara, dokter saya sewa dulu ya untuk menangani permasalahan anak saya ini, Dok. Saya mohon, Dok” Ibu Winda terlalu berharap.
        Sejenak aku memikirkan tentang keputusan apa yang akan aku ambil. Ibu Winda terus memohon dan memohon kepadaku.
“Dok, apa dokter butuh kamar untuk menginap di rumah saya selama terapi kejiwaan anak saya? Takut dokter lelah bolak-balik. Saya mohon dokter.” Ibu Winda keras berharap.
        Akhirnya, aku mantapkan hatiku untuk menerima tawarannya Ibu Winda. Bukan karena materi aku menerimanya, melainkan aku sangat tidak punya hati melihat keadaan Ardi dan Ibu Winda. Pemuda seperti Ardi seharusnya hidup bahagia dengan apa yang dia punya saat ini.
“Iya, Bu. Saya coba untuk menerima tawaran yang Ibu tawarkan.” kataku sambil tersenyum dan mengelus pundak Ardi, lagi.

**

        Ku baringkan tubuhku di atas kasur bermotif mickey yang tertata rapi di kamarku. Tatapanku terfokus pada atap-atap langit kamar. Membayangkan apa saja yang akan aku alami disana ketika aku menjadi psikolog pribadinya Ardi.
        Dinginnya malam itu begitu menusuk aku rasakan. Pikiranku terus tertuju pada sosok Ardi tadi yang sangat menggugah hatiku untuk megembalikannya kekeadaan awal. Sejujurnya aku masih belum yakin dengan keputusan yang telah aku sampaikan pada Ibu Winda. Namun, jauh di dalam hati kecil, aku sangat ingin mengembalikan Ardi pada sosok dia semula.
        Hingga malam semakin larut, tak terasa aku tertidur pulas.
“Hei dokter cantik, minum dulu nih teh hangatnya.”
“Makasih sayang, kok belum tidur sih?”
“Mau nemenin kamu dulu ah, tidur yuk, udah malam nih, lanjutin besok aja nulisnya”
        Bukan aku yang mencarimu, bukan kamu yang mencari aku, cinta yang mempertemukan dua hati yang berbeda ini. Handphone yang ku letakkan di meja kamar berdering. Dengan mata yang masih setengah terbuka, aku mengambil telepon itu dan melihat siapa yang tega malam-malam mengganggu tidurku.
“Halo..” aku yang masih sangat ngantuk.
“Halo, Dokter Callista ya? Maaf ganggu dokter, ini saya Ibu Winda.” Jawab seseorang diseberang sana.
Aku langsung memposisikan diriku untuk duduk, “Oh iya Ibu Winda, ada apa?”
“Saya cuma mau memastikan aja dokter benar yakin kan menerima tawaran saya?”
Sejenak aku terdiam, pikiranku kembali melayang pada hal yang aku pikirkan sebelum tidur tadi.
“Dok.. Dokter Callista, mau kan tolongin saya? Tolong Ardi?” panggil Ibu Winda.
“Hm iya iya, Bu”
        Obrolan itu tertutup ketika Ibu Winda mendapat keyakinan atas keputusanku.
Tapi apa maksud dari mimpiku tadi ya? Haha mungkin aku memang sudah butuh seorang pendamping hidup untuk umurku yang semakin membesar. “Tapi kok, kenapa Ardi yang jadi suamiku dimimpi itu?” gumamku dalam hati. “Hmm mungkin karena aku kepikiran Ardi sedari tadi.”

**

“Makan dong, sayang.”
Ardi hanya diam, menggeleng, tanpa sepatah kata, menatap jendela kamarnya dengan pemandangan taman rumahnya yang begitu damai.
“Minum dulu susunya” Bu Winda menyuguhkan.
Praaang! Gelas itu ditampik oleh Ardi yang memang terkadang suka hilang kendali dan tak jarang Bu Winda hanya bisa meneteskan air matanya dikala Ardi sedang hilang kendali menahan emosi dirinya.
“Mbak Rina.. Mbak..” panggil Bu Winda pada pembantunya.
Mbak Rina yang segera berlari membawa diri ke kamar Ardi menghampiri sang majikan.
“Tolong bersihin, Mbak”
“Iya baik, Bu.” Mbak Rina mengambil perlahan serpihan-serpihan gelas kaca yang berserakan di kamar Ardi. “Den Ardi, cepat sembuh dong, saya nggak tega ngeliat Den Ardi terus kaya gini.” sambil membersihkan kamar Ardi dari pecahan gelas kaca dan air susu yang tadi ditampik Ardi, “Den Ardi biasanya ceria, hampir nggak pernah murung, ayo dong Den sembuh, Mbak Rina kangen sama candaannya Den Ardi yang renyah.” Mbak Rina mencoba mengajak bicara Ardi dan Ardi tetap pada posisi semula.
        Ibu Winda yang sedang memberi makan ikan-ikan hias peliharaannya Ardi, tak dapat menahan tetesan air matanya. Ibu Winda duduk di jembatan kolam ikan hias milik Ardi dengan tatap kekosongan memikirkan keadaan Ardi. Ricikkan air yang tenang, ikan berenang kesana kemari mungkin menjadi hiburan tersendiri bagi Bu Winda yang kini sangat merasa kesepian yang mendalam. Biasanya, Ardi dan dan Novita yang menemaninya, bersenda gurau, mendengar celotehan renyah Ardi, mendengar curhatan Novita. Kini seolah semua lenyap tak tersisa bersama kenangan yang teramat indah untuk seorang Ardi begitu juga Ibu Winda.
“Ya Tuhan, mengapa semua terasa begitu berat? Kepada siapa aku harus membuang semua beban perasaanku? Kini aku merasa aku sudah tidak punya siapa-siapa untuk berbagi cerita, kebahagiaanku seolah semua terkubur dalam bersama luka yang dialami anak tunggal yang teramat aku sayang. Harapanku musnah bersama cerita yang dialami Ardi. Tuhan, Ardi alaha kekuatanku hidup.” Batin Bu Winda berucap bersama tetesan air mata yang mengalir lembut diwajah cantiknya.

**

        Aku mengambil handphone dari dalam tas, dan mencari kontak Ibu Winda.
“Halo Bu Winda?” sapaku.
“Iya, dok?”
“Maaf, Bu saya ke rumah ibu agak telat, ada urusan yang harus saya selesaikan hari ini. Nggak apa-apa kan, Bu?” tanyaku.
“Oh iya, dokter nggak apa-apa kok. Saya tunggu ya, dokter.”
        Sesegera mungkin aku langsung menyelesaikan urusanku dan langsung menuju rumah Bu Winda.
        Mengambil selembar kartu nama dari dalam dompet, mengendalikan mobilku menuju rumah alamat rumah Bu Winda yang tertera dikartu nama itu.
“Assalamualaikum” menekan tombol bel rumah mewah itu.
Beberapa menit kemudian, suara pintu terbuka, aku membalikkan tubuhku menatap ke arah suara itu, “Cari siapa, Non?” tanya Mba Rina.
“Bu Winda ada?”
“Oh ada, sebentar ya saya panggilkan.” Mba Rina berlari pelan menuju kolam ikan di belakang rumahnya.
        Aku tertuju pada sebuah kaca jendala yang bersebrangan dengan depan pintu tempatku berdiri, dari kejauhan terlihat Ardi yang duduk di sebuah kursi roda menatap kosong rumput-rumput hijau yang terlihat di sekeliling rumahnya. “Kasihan sekali.” hatiku bergumam. “Mungkin Tuhan sedang menguji kesabaran keluarga ini.”
“Dokter Callista, silakan masuk, Dok.”
“Oh iya terima kasih Ibu.”
        Ibu Winda langsung mengajak aku ke ruang dimana Ardi terpaku tanpa asa.
“Begitulah keadaannya. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik. Entah apa yang harus saya lakukan, saya tak bisa berbuat banyak padanya.” cerita Bu Winda tanpa pengharapan.
”Semoga saya bisa membantu ya, Bu? Ibu sabar saja, semua masalah pasti ada solusinya kok.” merangkul pinggang Bu Winda, mencoba menenangkan.
        Bu Winda menghela napasnya perlahan seolah melepas segala beban yang dirasakannya meski hanya sedikit.
“Ayo dokter saya tunjukkan ruang kamar yang akan dokter pakai selama berada di rumah saya” ajak Bu Winda.
Sampai disebuah ruang yang sangat rapi dan sangat nyaman.
“Makasih, Bu Winda.” Meletakkan koper milikku di samping tempat tidur.
        Bu Winda memberiku waktu untuk istirahat dan membereskan koper milikku karena aku pun tidak tahu sampai kapan aku akan berada disini. Sampai Ardi pulih, pastinya.

**

“Bu Winda, sendirian aja nih?” sapaku sembari duduk di kursi sebelahnya.
“Yaa beginilah, Dok.” Menatapku, tersenyum penuh luka.
“Saya mau ke kamar Ardi dulu ya, Bu?”
“Silakan, Dok.”
        Menyusuri beberapa ruangan di rumah yang terbilang teramat besar untuk penghuni berjumlah 3 orang itu.
“Apa kabar, Ardi?” sapaku begitu memasuki kamarnya.
Seperti biasa, tanpa sepatah kata Ardi terus pada sikap semulanya.
Aku menghampirinya, aku yakin sebenarnya dia ingin menjawab pertanyaanku, namun kepedihan yang dialaminya seolah menutup semua sarafnya untuk bekerja.
“Manusia layaknya tidak terlalu larut dalam kesedihan, seperti air yang terus mengalir dalam haluannya, bening dan menyegarkan.” membuka kain bening yang menutupi jendela kamarnya. Cahaya matahari memancar langsung ke wajah Ardi. Ardi mengernyitkan dahi dan matanya terlihat menyipit menolak pancaran hangat itu.
“Lihatlah matahari itu, bersinar dengan tegasnya. Memancarkan kehangatannya. Walau beberapa sebagian orang tak mengharapkan kehadirannya, matahari tetap bersinar dengan lantang.”
Ardi tetap tak menghiraukan semua perkataanku, tapi aku yakin dia mengerti apa yang aku bicarakan, dalam hati kecilku, aku merasa dia tidak mengalami gangguan mental, namun dia hanya terlalu larut dan jatuh dalam luka yang teramat dalam dan sulit untuk bangkit kembali.
“Dokter, ini sarapan buat Den Ardi, kalau dokter mau sarapan, ada di bawah, sudah ditunggu nyonya.” kata Mba Rina sambil meletakkan setangkup roti dan segelas susu ke meja kamar Ardi.
“Iya makasih, Mba. Bilang Ibu Winda duluan aja.” pintaku.
        Mba Rina berlalu meninggalkan kamar Ardi.
“Dimakan dulu ya?” aku mengambilkan piring berisi roti itu untuknya.
Ardi menggeleng. “Minum susu mau?” tanyaku, dan Ardi memberikan jawaban yang sama.
“Terus kamu maunya apa? Nggak lapar?” tanyaku meski aku tahu jawaban dia.
        Kembali ku letakkan makanan itu di atas meja.
“Kamu mau jalan-jalan keluar ya?” reflek pertanyaan itu terucap seketika aku menatap matanya dan kali ini jawaban yang diberikannya pun berbeda. Dia mengangguk, dan itu tandanya dia mau.
“Yuk!” aku langsung memutar kursi rodanya dan membawanya keluar.
Aku membawanya ke halaman rumah, mengajaknya menikmati rerumputan hijau dengan embun-embun pagi menyejukkan. Kemudian aku membawanya ke taman dekat rumahnya, menikmati panorama indah syarat akan kedamaian.
“Seharusnya, kalau kamu ngerasa bosan, kamu kesini aja, sendirian kan lebih enak, tanpa harus ajak mama. Coba lihat bunga mawar warna-warni itu, indah banget kan? Mereka saling bermekaran, mencerahkan tempat indah ini, mewarnai kegiatan pengunjung disini setiap harinya. Saya ingin, ingin sekali menjadi seperti itu, kamu juga pastinya. Iya, kan?” ujarku menatap bunga itu.
        Ardi menangis, memejamkan matanya, air matanya mengalir. Entah apa yang sedang dia rasakan, aku pun tak mengerti.
“Kamu kenapa?” mengusap air mata yang mengalir dipipinya.
Aku membawanya pulang setelah kurang lebih berada setengah jam di tempat itu. Mungkin ada kenangan tersendiri tentang Ardi dan masa lalunya atau memang dia merasakan setiap bait kata yang terucap dibibirku tadi, entahlah.
        Sepanjang jalan, aku mencoba memasangkan earphone ditelinganya dan ku perdengarkan musik-musik instrument yang sangat lembut didengar. Berharap bisa menenangkan jiwa dan pikirannya, sedikit mengubur dalam kepedihannya yang teramat mendalam. Ku biarkan dia menikmati setiap alunan musik yang didengarnya sembari terus aku membawanya pulang.
        Sesampainya di rumah, aku letakkan dia di tempat favoritnya, dibalik jendela, menatap ke arah halaman belakang rumahnya yang asri, penuh nuansa kesejukkan. Aku tinggalkan sejenak dia di kamar itu tanpa melepas earphone yang ku pasang tadi ditelinganya.

**

“Darimana aja, Dokter?” tanya Bu Winda yang sedang duduk di sofa di ruang tv.
“Ngajak jalan-jalan Ardi, kayaknya dia jenuh, butuh udara luar.” ceritaku.
“Yah kalau saya bisa ngajak jalan-jalan setiap hari juga pasti saya lakuin, Dok. Tapi saya juga kan harus kerja, intinya sih ya buat dia juga sih.” ujar Ibu Winda dan aku hanya tersenyum.
“Dokter sarapan dulu sana, belum sarapan kan?” Bu Winda mempersilakan.
        Ketika aku hendak menuju meja makan, mataku tertuju pada sebuah bingkai foto yang tertata rapi di lemari yang letaknya tidak jauh dari meja makan, ya tepatnya di samping piano. Aku memperhatikan detail foto-foto yang terpajang rapi di lemari itu. Tiba-tiba Bu Winda menghampiriku yang sedang serius memperhatikan setiap potret dalam bingkai tersebut.
“Itu foto keluarga besar saya, Dok.” ucap Bu Winda menunjuk bingkai paling besar di lemari itu.
Aku mengangguk, turut memperhatikan arah tangan telunjuk Bu Winda, “Oh iya, kalau boleh tahu, bapaknya Ardi kemana, Bu? Dari kemarin saya belum pernah melihat?” tanyaku sambil tetap melihat potret demi potret bingkai yang terpajang di lemari itu.
“Ayahnya Ardi sudah meninggal sejak 2 tahun lalu, serangan jantung yang dideritanya merenggut nyawanya diumur 50 tahun.” cerita Bu Winda penuh tatapan kosong.
“Hm, maaf Ibu, saya minta maaf banget, saya nggak tahu.” terkejut mendengar cerita itu.
“Nggak apa-apa kok, Dok. Itulah alasan saya, saya nggak menyetujui penawaran dokter lalu untuk membawa Ardi ke pusat rehabilitasi milik Dokter Callista. Mengusap setetes air mata yang mengalir dipipinya, “Rumah ini sudah sangat sepi, kalau Ardi dibawa ke tempat itu, bagaimana dengan saya, Dok? Saya semakin tidak punya tujuan hidup dan.. semakin saya tidak punya kekuatan untuk tetap berdiri. Ada Dokter Callista disini saja saya sudah merasa mampu untuk bangkit lagi.” senyumnya tergambar diwajahnya, meski sebenarnya terlalu banyak luka yang terpendam.
“Iya, Bu. Badai pasti berlalu, yakinlah. Semampu saya, saya akan coba jalani ini, membantu Ibu yang sudah saya anggap seperti keluarga saya.” mengelus punggung Bu Winda dengan lembut.
“Terima kasih, Dokter. Saya yakin kok pasti dokter bisa. Hati dokter penuh ketulusan.” senyum Bu Winda.
“Ah Ibu bisa aja deh.” aku malu-malu.
        Aku melanjutkan tujuan utamaku untuk sarapan yang sempat tertunda karena mengajak Ardi keluar dan terfokus pada setiap potret kenangan Ibu Winda.

**

        Siang itu panas matahari begitu terik membakar bumi. Teringat akan Ardi yang sedari pagi belum makan, aku melangkahkan kaki menghampirinya di kamar bernuansa coklat muda nan elegan.
“Hei Ardi.. Betah banget sih diam disini terus?” sapaku sambil membawakan makanan untuk Ardi.
Duduk di pinggir tempat tidur, “Karena tadi saya sudah ajak kamu jalan-jalan, sekarang kamu makan, ya?” mengangkat sesendok bubur ayam kesukaannya.
        Ardi menghindarkan mulutnya dari arah sendok yang aku suguhkan. Meletakkan sendok ke atas piring, “Kali ini aja, please. Terima yang aku suguhkan, aku mohon.” pintaku dengan penuh harap.
Tanpa berkutik, Ardi tetap tak menghiraukan. Aku terus mencoba, “Arditama Suryadinanta, makan ya?” dengan senyum yang melengkung dibibirku. Tetap, dia menolak apa yang aku berikan.
        Aku beranjak dari sisinya. Kembali mataku tertuju pada sebuah bingkai foto yang tergelatak di atas tempat tidur bermotif garis zig-zag. Aku hampiri dan aku mengambilnya yang tergeletak terbalik di atas tempat tidur itu.
“Oooh” kepalaku reflek mengangguk dan melihat Ardi. Tak lama, hanya beberapa menit saja aku pandangi potret masa lalu seorang Arditama bersama tunangannya yang teramat disayangnya itu. Tak mau menambah kesedihan yang dialami, aku meletakkan kembali potret itu di atas kasur, posisi awal bingkai itu ada.
        Matahari yang begitu terik memancar tepat ke arah jendela kamar Arditama. Aku segera melepas ikatan kain itu. Jendela itu tertutup, pemandangan luar pun tak lagi terlihat, hanya motif-motif kain coklat muda padu dengan dinding kamar elegan itu.
“Saya pernah berpikir, andai saya bisa memilih, saya ingin rintik hujan yang terus membasahi bumi ini. Namun, sejenak saya terpikirkan kembali, andai itu terjadi, bumi ini bahkan dunia ini pasti sangat monoton, setiap saat hujan, setiap saat air yang yang ditemui. Kemana-mana pasti butuh jas hujan atau payung.”
Berdiri di sebelah kursi roda Ardi, menatap motif-motif kain yang terpasang di jendela kamar elegan itu, “Seperti itulah hidup, tak selamanya harus bahagia, kadangkala kita harus juga merasakan sakit, bahkan yang terdalam sekalipun. Namun jangan pernah jadikan semua itu alasan untuk kita terus tenggelam dalam keterpurukan. Kalau luka yang kita alami sebenarnya mampu membuat kita menjadi manusia yang lebih tegar dan sabar, bukankah itu baik? Dan bukankah Tuhan memang menciptakannya dengan tujuan seperti itu?” ku genggam kedua tanganku, ku hembuskan nafasku perlahan. Berharap Ardi mengerti semua yang aku katakan dan mampu mengembalikan dirinya kekeadaan semula. Karena sebenarnya hanya dia yang mampu mengembalikan keadaannya sendiri, aku hanyalah mediasi proses pemulihannya.

**

“Ya, Des? Ada apa?” memasangkan telepon ke telinga sebelah kiriku.
“Nggak apa-apa. Pengin tahu aja keadaan lo.” suara Dessy yang lembut terdengar merdu.
“Kabar gue baik nih, Des. Lo gimana? Senang nggak disana?”
“Gue juga baik kok, Ta. Ketemuan yuk?” tawa pelan Dessy terdengar samar.
“Hah? Lo udah balik?” kataku terkejut.
Berjalan ke arah beranda kamar, “Baru aja sampai Jakarta, mau langsung ke Bandung, kangen nih gue sama lo.”
“Sama, Des. Gue juga. Nanti gue kabarin lagi deh ya?” kataku senang.
“Wah, sibuk ya Ibu Dokter Callista?” canda Dessy.
        Sejenak teringat masa-masa SMA bersama Dessy. Sejak umur 13 tahun aku sudah mengenal Dessy, dialah sahabat terbaikku. Hingga umur kami mencapai 25 tahun, hubungan itu tetap terjaga.
Menenggak teh hangat dari secangkir gelas, memikirkan kapan waktu yang yang tepat untukku bertemu dengan sahabat lamaku, karena disini aku juga bertugas menjaga anak tunggal Ibu Winda Suryadinanta.
“Tidak mungkin aku membawa Ardi ikut bertemu dengan Dessy.” gumamku dalam hati.
        Aku menghampiri Bu Winda untuk meminta izin keluar, walau bagaimanapun juga, aku tamu di rumah mewah itu, jadi kemana-mana aku harus izin pada sang empunya rumah. “Mba Rin, Bu Winda dimana?” tanyaku pada pembantu rumah itu yang sedang sibuk membersihkan perabotan rumah dari debu.
“Biasanya sih di taman, Dok.”
        Segera aku menghampirinya. Terlihat Bu Winda sedang memberi makan ikan hias peliharaan Ardi.
“Wah, Ibu rajin ya?” sapaku mencairkan suasana.
“Eh, Dokter. Iya nih, ikan-ikan ini punya Ardi. Ardi sayang banget sama ikan-ikan ini. Namun semenjak dia begitu, ikan ini nggak ada yang ngurus lagi.” ceritanya, melemparkan makanan ikan ke kolam.
“Bu, saya mau minta izin keluar besok pagi, kemungkinan sampai siang, sahabat lama saya yang baru pulang dari Jepang, sekarang sudah disini. Boleh kan, Bu?”
“Ya, boleh dong, Dok. Santai aja.” senyum Bu Wina, mengizinkan.
“Terima kasih, Bu. Boleh saya bantu kasih makannya?” tawarku.
Bu Winda memberikan makanan ikan itu padaku.

**

“Lo dimana, Ta?” terdengar suara Dessy dispeaker handphone.
“Iya ini gue lagi on the way, sayang. Sabar dikit kenapa?” jawabku tetap konsentrasi pada kemudi mobil yang aku bawa.
        Pagi itu sedikit mendung, entah mau hujan atau tidak, tapi awan pagi saat itu sangat gelap. Embun di kaca mobil mengganggu pemandanganku, aku turunkan kecepatan mobil yang aku bawa. Ternyata, hujan turun sedikit demi sedikit, angin berhembus cukup kencang, terlihat pepohonan di pinggir jalan mengayun kencang mengikuti arah angin itu. Semakin pandanganku sedikit terganggu pada embun dan air hujan yang menghalangi kaca mobilku.
        Terdengar suara gaduh di samping mobilku.
“Oh My God!” gumamku dalam hati. Segera aku pinggirkan mobilku, dan aku ambil payung yang memang sudah tersedia selalu di kursi belakang mobilku.
“Ya ampun, kita ke dokter ya, Dik? Maafin kakak, Dik.” terlihat gadis perempuan berseragam putih merah tergeletak jatuh di pinggir jalan bersama dengan sepeda mininya. Jas hujan hijau yang dikenanya melindungi seragamnya dari guyuran air hujan yang deras.
“Aku nggak apa-apa kok, Kak.” katanya sambil berusaha mengambil sepedanya kembali.
“Kakak anterin aja ya? Ayo, masukkin sepedanya ke mobil kakak!” ajakku sembari membantunya memasukkan sepeda ke dalam bagasi mobilku.
        Aku sangat merasa bersalah pada gadis kecil itu. Hujan deras, angin kencang tak menghalangi gadis kecil itu untuk tetap menuntut ilmu.
“Tadi aku cuma kecipratan kubangan air pas mobil kakak lewat di sebelah aku, terus airnya masuk ke mata aku, pas aku lagi ngucek mata aku, mata aku buram, eh aku jatuh deh.” cerita anak itu polos sambil membuka seisi tasnya. Mungkin memastikan basah atau tidak barang seisi tasnya.
“Oooh.. Tapi kamu baik-baik aja kan, Dik?” aku memastikan.
“Iya, Kak.” senyumnya.
“Oh iya, kamu sekolah dimana, Dik? Tunjukkin ya jalannya?”
“Oke, Kak!” menunjukkan ibu jari gadis kecil itu.
        Beruntung, hujan dan angin sudah mereda. Beruntung pula gadis kecil itu baik-baik saja.
“Callista, lumutan nih gue! Lama banget sih lo?” protes Dessy.
“Iya, Dessy sayang, sabar ya? Sebentar lagi sampai nih.” rayuku menenangkan hati Dessy yang sudah sangat kesal menungguku hampir 2 jam.
        Terlihat Dessy sedang menikmati kopi favoritnya ala Café Starbucks. Aku masih ingat, tak lain dan tak bukan, itu pasti Cappucinno Latte yang sedang ada di hadapannya.
“Sorry, honey. Tadi ada tragedi sedikit, hehe.” cipika-cipiki.
“Hadeuh, abis 2 cangkir nih gue, Ta!” protes Dessy lagi.
        Seorang pelayan café itu menghampiri mejaku, memberikan buku menu ke meja tempat aku dan Dessy ada.
“Eh lo gimana disana? Kangen banget gue sama lo, Dess!” aku memulai.
“Yaah, enak nggak enak lah, Ta. Disana gue jarang banget makan nasi, ya ampun benar-benar susah banget buat nyari beras. Makanya begitu sampai Bandung kemarin gue langsung makan nasi goreng 2 piring, boooo!” ceritanya disertai tawanya yang terbahak.
        Aku yang mendengarnya juga tak habis pikir kalau Dessy sampai segitunya. “Kasihan banget sih lo, Dess. Bawa padi dong dari sini, hahaha” candaku.
“Gila, lo!” kata Dessy menenggak minuman dicangkirnya.
        Pelayan café datang membawa pesanan aku dan Dessy. “Makasih, Mba.” Menggeser pesanan Dessy mendekat padanya.
“Lo gimana disini? Sibuk banget kayaknya, Bu Dokter?” ledek Dessy.
“Ah lo bisa aja, Dess. Gue lagi disewa buat pemulihan orang nih, Dess.” ujarku.
“Hah? Maksudnya gimana, Ta?” sambil memotong strawberry cake.
“Iya, jadi ibu itu punya anak, anaknya lumpuh, mentalnya juga sedikit terganggu, tapi kalo menurut gue dia Cuma frustasi tingkat tinggi aja sih gara-gara ditinggal mati tunangannya, kecelakaan.” ceritaku.
“Lah terus pusat rehabilitasi milik lo gimana tuh?” tanya Dessy serius.
Menyuap tiramisu cake, “Ya itu mah kan ada orang-orang kepercayaan gue yang gue suruh buat bantu gue ngurus juga, jadi gue ngecek aja sih paling kalo sempat, nah yang gue tinggalin sementara tuh jadwal praktik gue di rumah sakit.”
“Jadi lo menginap gitu di rumah dia? Berapa lama?” tanya Dessy.
“Yap. Entahlah, Dess. Sampai dia kembali kekeadaan semula pastinya. Nyokapnya kasihan banget, Dess. Gue nggak tega ngelihat nyokapnya, sumpah deh!”
“Gila lo, Ta. Berubah banget ya?” celetuk Dessy.
“Maksud lo?” dahiku mengernyit.
“Ya dulu kan lo cuek banget, Ta. Benar-benar bukan jiwa lo yang sekarang deh.” cerita Dessy mengingat masa SMA.
“Yee kacrut!” mengacak-acak poninya Dessy yang membuat wajahnya terlihat begitu imut.
        Sekitar lebih dari 3 jam kami bernostalgia. Aku memutuskan untuk pulang.
Saat aku kendarai mobil, aku melihat selembar kertas dibawah kursi mobil tempat gadis kecil duduk tadi.
“Apa nih?” batinku.
Tertera biodata siswa di kertas itu. Sepertinya penting, aku langsung mengarahkan mobilku ke alamat yang tertera di kertas itu.

**
        Rumah yang sederhana, bahkan teramat sederhana berdiri setengah rapuh di daerah yang sangat sunyi. Penerangan pun mungkin sangat minim sekali. Aku langkahkan kaki menuju rumah mungil itu, memperhatikan sekeliling rumah tersebut. Alas tanah pun menjadi lantai rumah itu, tanpa keramik, ya.
“Benar ini rumah Tamara Devina?” membuka lembaran kertas yang masih rapi ku pegang.
Seorang pria berada di depan pintu rumahnya menatapku penuh tanda tanya, “Iya, itu adik saya. Mba siapa ya?” tanya pria itu.
“Oh, saya Callista.” menjulurkan tanganku. “Saya Noval, Mba.” jawabnya.
“Silakan masuk dulu, Mba. Maaf begini keadaannya.”  Noval merendah.
        Memasuki ruangan yang memang hanya ada satu ruang dalam rumah itu, beralaskan tikar, dan aku duduk bersila menceritakan semua kejadian yang aku alami bersama adiknya, Tamara. Segelas air putih tersedia di hadapanku. “Diminum, Mba. Maaf cuma ada ini aja.”
“Iya terima kasih.”
“Pasti si Mara bingung deh nyariin biodata ini.” gumam Noval pelan.
“Iya, saya juga baru lihat beberapa jam kemudian. Penting banget ya biodata itu?” tanyaku.
“Biodata ini untuk pengajuan siswa tidak mampu di sekolahnya Mara, Mba. Kalau tidak menggunakan biodata ini, Mara harus melunasi administrasi sekolahnya, kalau tidak dia tidak bisa ikut ujian, Mba.” ceritanya sambil memandangi selembar kertas itu.
“Oh ya? Mara pulang jam berapa? Kalau begitu saya antar saja ya ke sekolahnya?” mengambil kunci mobil dari dalam tasku.
“Ah, nggak usah, Mba. Sebentar lagi Mara pulang kok. Mungkin besok masih bisa.” ujarnya.
        Benar saja, beberapa menit kemudian, suara sepeda berhenti di depan rumah itu. Langkah kaki terdengar mendekat, “Assalamualaikum.” suara gadis kecil, imut.
“Waalaikumsalam.”
“Abang, biodata Mara hilang. Mara nggak boleh ikut ujian.” rengek Mara pada abangnya.
“Kata siapa hilang? Ada nih.” Noval menunjukkan selembar kertas pada Mara yang duduk di sebelahnya.
“Eh kakak yang tadi.” kata Mara setelah sadar melihatku.
“Hei” senyum.
        Wajah Tamara tampak tetap terlihat sedih meski dia sudah tahu biodatanya tidak hilang.
“Percuma, Bang. Hari ini hari terakhir, mau nggak mau Mara harus melunasi administrasi kalau mau ikut ujian. Gimana ya, Bang?” wajah Mara tampak bingung.
“Hm, nanti kita ke sekolah aja. Kakak yang bertanggung jawab deh, Mar.”
“Wah nggak usah, Mba. Biar ini saya aja yang urus. Makasih banget loh Mba udah ngembaliin biodata ini.” tolak Noval.
        Dalam hati aku sangat merasa bersalah. Kasihan sekali mereka harus melunasi administrasi yang menyangkut masa depan Tamara, sedangkan biaya untuk makan sehari-hari pun sangat sulit.
Tamara sepulang sekolah harus membantu abangnya mengurus ternak orang lain, dan upah yang diberikannya sangat tidak sebanding dengan keringat yang harus mereka keluarkan.
        Mereka memang hanya tinggal berdua. Orang tua mereka pergi merantau sejak 5 tahun yang lalu, namun sampai sekarang mereka tidak pernah tahu bagaimana kabar orang tua mereka, bahkan mereka pun tidak tahu entah kemana orang tua mereka pergi. Noval cerita banyak denganku selama menunggu Tamara pulang sekolah.
“Ya sudah, saya pamit dulu ya?” kataku.
“Iya, Mba. Hati-hati di jalan ya? Terima kasih banyak sekali lagi.” senyum Noval terhias diwajahnya.
“Daaa kakak..” teriak gadis kecil itu setelah aku hampir sampai di depan pintu mobilku. Aku melambaikan tangan padanya.
        Di dalam mobil, pikiranku tak habis pikir pada keadaan kakak beradik itu. Hebat sekali mereka, mampu hidup berdua dengan segala keterbatasan. Pikiranku langsung tertuju pada sekolah Tamara, hari itu juga aku langsung menuju sekolahnya Tamara untuk menghapus sedikit rasa bersalahku.
“Ada yang bisa saya bantu, Mba?” sapa hangat Tata Usaha sekolah itu.
“Saya mau melunasi biaya administrasi atas nama Tamara Devina, Bu. Murid kelas 6.”
“Sebentar ya, Mba saya cari dulu datanya.” terlihat wanita itu memperhatikan setiap deret nama siswa yang tertera di layar komputer.
“Oh ya, ada. Tamara Devina, siswa kelas 6A.” wanita itu memutar tubuhnya kembali menghadapku.
        Wanita itu menyebutkan nominal yang harus dibayar, dan aku mengeluarkan sejumlah uang yang dimintanya.
“Kalau ada yang nanya, jangan beri tahu identitas saya ya, Bu?” pintaku setelah melengkapi data bukti pelunasan.
“Loh? Memang kenapa?” wanita itu heran.
“Tolong ya, Bu. Jangan diberitahu.” Menyerahkan kertas dan bolpoin pada wanita itu.
Wanita itu hanya mengangguk, “Oh iya, Bu. Terima kasih.” berdiri, berjabat tangan. “Sama-sama.”

**

Tubuhnya tertunduk di sebuah ruang tunggu sekolah itu. Kakinya seperti bergemetar, mengharapkan sesuatu.
“Mas, silakan!” seorang pegawai sekolah mempersilakan Noval untuk masuk ke ruang tata usaha.
        Noval melangkahkan kakinya menuju ruang itu dengan penuh harap. Menarik kursi, duduk menunjukkan selembar kertas ke hadapan pegawai tata usaha, “Bu, tolong adik saya, apa biodata ini sudah tidak berlaku hari ini?” Noval menyerahkan selembar kertas bertuliskan biodata Tamara Devina.
Wanita itu memperhatikan biodata yang tertera di selembar kertas itu, “Sepertinya kemarin sudah lunas atas nama Tamara Devina.” Mengernyitkan dahi.
“Maksud ibu?” tanya Noval bingung.
“Sebentar, Mas.” wanita itu memastikan mengecek data di komputer.
        Noval tetap tidak mengerti dan hanya memperhatikan kesibukan wanita itu mencari data di komputernya.
“Iya, Mas. Atas nama Tamara Devina sudah lunas administrasi.” jelas wanita itu.
“Loh? Siapa ya, Bu yang melunasinya?” mata Noval terbelalak ketika tahu administrasi adiknya sudah dilunasi.
“Maaf, Mas. Ini privasi sekolah, kami tidak berhak mempublikasikannya.” wanita itu menjelaskan.
“Oh ya sudah, Bu. Terima kasih.” mengulurkan tangan pada wanita itu.
“Sama-sama, Mas.” menjabat tangan Noval seraya tersenyum.
        Noval melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Pikirannya terus berputar menerka-nerka siapa dermawan yang melunasi administrasi adiknya itu tanpa sepengetahuannya. Hingga saat sampai rumah, pikirannya terbesit pada sosok wanita muda yang kemarin mengunjunginya. “Mba, Callista?” pikirnya.
“Ya, itu pasti Mba Callista yang melunasinya.” hatinya yakin pada terkaannya.

**

        Sore itu hujan deras kembali membasahi bumi. Mendamaikan, juga menyejukkan suasana.
“Arditama, bagaimana keadaanmu? Ini susu manisnya diminum dulu ya?” membawakan segelas susu vanilla kesukaannya.
Prang! “Ya Tuhan!” gelas itu hancur berserakan di lantai kamar elegan itu dengan air susu yang mengalir ke segala arah.
“Mba Rina..” teriakku.
Dengan langkah agak berlari, Mba Rina menghampiri sumber suara yang memanggil namanya. “Ada apa, Dok?” tanyanya. “Ya ampun, Den Arga.” setelah melihat ke arah lantai kamar Ardi sembari membersihkan kamar itu.
“Tenang, Ardi.” memijat lembut kedua bahunya.
Duduk bertekuk lutut di hadapan Ardi, “Aku tahu kamu bosan. Maaf ya seharian ini saya sibuk dengan urusan saya. Untuk menebus dosa saya sama kamu hari ini, kamu mau ya ikut saya?” senyum terukir di wajahku.
        Tanpa pikir lama, aku membawa Ardi masuk ke dalam mobil. Aku tahu, Ardi pasti suka tempat itu.
“Mba, Bu Winda belum pulang?” tanyaku pada Mba Rina saat berpapasan di dekat tangga rumah mewah itu.
“Belum, Dok. Ibu biasanya pulang malam, ada yang bisa saya bantu, Dok?”
“Oh, nanti kalau Ibu pulang, tolong sampaikan aja sama dia, aku sama Ardi mau keluar. Ardi bosan di rumah terus. Ok, Mba?” kataku yang kemudian berlari kecil menuju mobil, Ardi sudah menunggu.
        Tatapan Ardi tak berubah, tetap pada satu titik di hadapannya. Aku yang kerap kali melirik ke arahnya, entah mau bicara apa. Namun aku selalu tersadar, Ardi pasti bisa kembali pada keadaan semula. Pasti bisa! Begitu optimisnya aku.
“Kamu itu harusnya mendengarkan lagu-lagu instrumen lembut kaya gini nih.” menekan tombol on pada DVD mobilku.
“Saya juga suka kok lagu-lagu instrumen kaya gini. Tenang, menyegarkan pikiran dikala saya lagi suntuk atau pusing sama segala urusan saya.
        Biarlah aku seperti bicara dengan patung, tanpa tanggapan, hal biasa. Tapi aku yakin pada sosok yang satu ini, dia mendengar tentang semua apa yang aku bicarakan sejak awal. Namun entahlah, apa yang membuatnya sampai sekarang tak mau membuka mulut dan menggerakkan lidahnya.
“Kamu pasti suka tempat itu. Tempat itu indah, jauh sekali dari keramaian. Sabar ya? Macet nih!” menatap Ardi sesaat.

**

        Mendorong kursi roda Ardi memasuki tempat bernuansa kedamaian itu. Tampak awal, pemandangan hijau nan asri. Bunga-bunga bermekaran indah. Pepohonan tumbuh segar. Air mancur menari beriringan. Semilir angin meniup pepohonan ke segala arah mengikuti arah angin itu berhembus.
“Kuasa Tuhan begitu indah. Tidak banyak orang yang tahu tempat ini.” memandang keseluruhan dengan penuh kekaguman.
“Saya yakin, kamu pasti suka, kan?” berbalik arah menghadap Ardi yang terus diam tanpa kata.
        Membawanya berkeliling di tempat itu, menik mati setiap keindahan yang terselip di tempat itu. Sampai di suatu pinggir danau, aku menghentikan langkahku di kursi yang tersedia di pinggir danau itu.
“Ardi, sebenarnya sangat terasa indah jika kamu dapat menikmati keindahan panorama tempat ini setiap saat. Semua bisa kamu lakukan kalau kamu sembuh, dan seharusnya kamu punya tekad untuk mengembalikan keadaanmu seperti dulu. Masa lalu sebaiknya hanya dijadikan pelajaran, tidak untuk menjadikan kita tenggelam ke dalamnya.” ucapku mencoba memotivasi Ardi.
Meski Ardi tetap tak menggubris semua pembicaraanku, aku tak pernah bosan memotivasinya agar dia bisa kembali seperti semula. Karena sesungguhnya, hanya dia yang mampu mengubah dirinya.
“Saya sering ke tempat ini, sendiri. Betapa indahnya menikmati tempat seperti ini sendirian, tak ada gangguan, suasana terasa sangat hening. Waktu berjam-jam bisa saya habiskan di tempat ini seorang diri. Tak ada kata kesepian dalam hidup saya, karena saya merasa saya tak sendiri.” ceritaku sambil menatap langit yang kian memudar.
“Coba kamu lihat burung-burung itu!” tunjukku pada sekumpulan burung-burung yang akan pulang ke sarangnya. “Mereka tampak bahagia walau sebenarnya diantara mereka ada yang sedang sedih, entah apa yang mereka rasakan, mereka tetap bisa terbang tinggi, berkumpul bersama hingga petang ini.” menatap langit.
        Langit kian gelap, matahari tampak bergulir menuju peraduannya. Rintik hujan kembali turun, aku membawa Ardi kembali ke mobil untuk segera pulang. Secepat mungkin aku mendorong kursi rodanya itu, takut hujan akan semakin deras dan membasahi tubuhnya. Sampai di mobil, aku mengusap wajahnya yang terkena rintikkan air hujan. Perlahan aku usap, memakaikan jaket ke tubuhnya karena cuaca sangat dingin kala itu.

**

“Bu Winda, boleh saya bicara sebentar?” berdiri di depan pintu ruang kerja Bu Winda.
“Oh iya, Dok. Tunggu di kebun belakang ya?” pintanya.
        Aku langkahkan kakiku menuju tempat favorit Bu Winda. Beberapa menit kemudian, “Ada apa, Dokter Callista?” tanya Ibu Winda dari belakangku.
Memutar tubuhku, menghadap Ibu Winda, “Hmm.. Saya harus meninggalkan tempat ini untuk beberapa minggu ke depan, Bu. Ada tugas yang harus saya selesaikan.” jelasku dengan kedua tangan yang ku genggam. Perasaan tidak enak pada Bu Winda bersarang di hatiku.
“Beberapa minggu? Kalau saya boleh tahu, tugas apa ya, Dok?” tanya Bu Winda.
“Iya, Bu. Entah 2 atau 3 minggu ke depan. Pusat rehabilitasi punya saya sedang membutuhkan saya untuk menangani beberapa pasien disana, saya juga butuh tenaga baru untuk dipekerjakan disana. Tadi bawahan saya menelpon saya, mereka sangat membutuhkan saya. Saya mohon maaf, Bu. Tidak ada jalan lain selain saya yang harus turun tangan langsung.”
Melepaskan kacamatanya dan meletakkan di atas meja kecil di sebelahnya, “Yaaa, walau berat rasanya, mau gimana lagi? Tugas dokter tidak hanya disini, saya izinkan. Tapi saya sangat berharap dokter mau kembali lagi kesini untuk kembali membantu saya mengurus Ardi. Bagaimana?” dengan senyuman yang terlihat tersimpan beribu makna di dalamnya.
“Terima kasih, Bu.” membalas senyumnya.
        Aku pergi meninggalkan Bu Winda di kebun belakang. Ibu Winda tidak beranjak dari tempatnya. Terlihat dia sedang memberi makan ikan-ikan hias di kolam, tatapannya kosong memerhatikan ikan-ikan yang saling berebut mendapatkan makanan. Hatinya tak karuan memikirkan apa yang harus dia lakukan saat Dokter Callista meninggalkannya. Semenjak Dokter Callista itu hadir, perasaannya sedikit tenang, karena Ibu Winda meyakini Dokter Callista mampu mengembalikan keadaan anak tunggalnya, Ardi. Namun mau tak mau, Bu Winda tetap harus sedikit merelakan kepergian Dokter Callista untuk beberapa minggu ke depan.
        Aku melangkahkan kaki menuju kamar Ardi, aku belum cerita padanya kalau aku harus meninggalkannya beberapa minggu ke depan.
“Arditama, sedang apa kau disana?” mencoba mencairkan suasana.
“Sudah malam, kok belum ditutup sih?” sambil menyingkap kain jendela yang teruntai.
Membawa Ardi ke tampat tidur, “Ardi, besok saya harus pergi untuk beberapa minggu ke depan. Saya berharap, kamu bisa lebih baik dari ini. Ada tugas yang harus saya selesaikan. Kamu baik-baik ya disini. Semoga cepat sembuh.” memasangkan selimut ke seluruh tubuhnya. “Malam Tuan Ardi” sapaku lembut dan tersenyum.

**
        Tanganku menggenggam koper. Ibu Winda, Arditama, dan Mba Rina ternyata sudah menungguku di ruang tamu rumah mewah itu. Mereka serentak berdiri ketika melihatku hadir membawa koper menghampiri mereka.
“Dokter Callista..” Ibu Winda memelukku.
“Kalau tugas saya selesai, saya kembali kesini kok, Bu.” menenangkan Bu Winda.
“Dokter sudah saya anggap seperti anak saya sendiri.” teruntai kalimat itu dari bibir Ibu Winda, sambil mengusap air matanya yang mengalir lembut di wajah cantiknya.
“Terima kasih, Ibu.” senyumku.
        Ardi tak menatap ke arahku, dia menatap ke arah televisi di ruang yang tidak berada jauh dari tempatnya berada.
“Ardi, cepat sembuh ya?” kataku sebelum meninggalkannya.
        Dalam hati, sebenarnya berat langkahku meninggalkannya. Entah mengapa perasaanku begitu yakin bahwa Ardi pun terlalu sulit menerima kenyataan ini, ya aku memang pergi untuk kembali, namun waktu 2 sampai 3 minggu mungkin bukan waktu yang cepat untuk berpisah.
        Setelah berpamitan pada penghuni rumah itu, aku bergegas meninggalkan mereka semua. Mungkin mereka yang baru aku kenal sebulan lalu, sudah seperti keluargaku sendiri. Aku sudah menganggap mereka bagian dari hidupku.
        Arditama Suryadinanta, aku berharap bahkan sangat berharap atas kesembuhannya. Semaksimal mungkin aku merawatnya dengan tulusnya hati, berharap dia mampu kembali kekeadaan semula. Kuat hati ini untuk melihatnya kembali tersenyum, ceria, bergerak aktif, dan menjadi sosok pria terhebat dalam keluarganya. Meski sebelumnya aku tak pernah melihat kebahagiaannya, namun aku turut merasakan dengan apa yang sudah diceritakan Ibu Winda semua tentang Ardi. Ardi yang menjadi harapan dalam keluarga itu semenjak ayahnya pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.

**

        Melesat mobilku menuju tempat pusat rehabilitasi yang ada di Jakarta. Dalam mobil, terdengar lagu instrumen lembut, mengingatkanku sosok Arditama Suryadinanta. Aku lirikkan mataku ke kursi sebelah, mencoba mengingat wajah Ardi kala aku ajak dia ke taman terindah itu.
        Sekitar 2 jam perjalanan, akhirnya aku sampai tujuan. Aku parkirkan mobilku dan bergegas menuju ruang asistenku. Sebelum sampai pada ruangannya, ternyata asistenku, Brenda, sudah menungguku di lobby utama.
“Hei, Bren. Gimana?” tanyaku yang sedikit kelelahan karena harus melangkahkan kakiku dengan cepat.
“Duh, kita nggak punya tenaga baru dibidang psikiater, Ta. Gue aja bingung harus gimana, makanya gue suruh lo kesini.” cerita Brenda sambil berjalan menelusuri lorong-lorong pusat rehabilitasi itu.
“Hmm.. Lo udah cari via online?”
“Udah, Ta. Udah gue ubek-ubek tuh semua website yang berhubungan, tetap aja susah!” Brenda panik.
        Sampai di ruanganku, aku meletakkan tasku ke atas meja.
“Terus gimana dong, Ta? Lo aja punya kesibukan sendiri, kasihan pasien-pasien disini.” tanya Brenda. “Andai aja mereka pada nggak dikirim ke luar daerah, nggak sesulit ini deh.” Brenda menundukkan wajahnya, menempelkan telapak tangan kananya ke dahinya.
“Sudahlah, Brenda. Jangan panik gitu. Semua bisa teratasi kok.” aku menenangkan.
“So?”
“Oh iya, gue baru inget deh, gue punya teman kuliah dulu, deket sih sama gue, coba gue hubungin dulu nomornya.” mengambil handphone dari dalam tasku, mencari kontak yang aku maksud pada Brenda.
        Beberapa menit kemudian.
“Halo, Ferdy?” sapaku ditelepon itu.
“Ya, ada apa, Ta?” sapanya kembali.
“Hah, ternyata dia masih menyimpan nomorku?” gumamku dalam hati berselimuti hati yang cukup bahagia.
“Hari ini lo sibuk nggak? Hmm.. Bisa ketemu?” ajakku sedikit gugup. Yaaa, mungkin karena sudah lama tidak bertemu dan jarang sekali kontak dengannya.
“Kebetulan nggak, dan lo sangat tepat! Ketemu dimana nih?” tanyanya.
Mataku mengarah ke sudut kiri atas atap, “Di café J&Co Bread aja ya?”
“Hm, oke gue tunggu disana.” Ferdy menyetujui.
“Sip, thanks Fer sebelumnya.”
“Eh Callista!” panggil Ferdy saat aku mau menutup telepon itu.
“Apa, Fer? Lo nggak bisa?” tanyaku dengan nada sedikit kecewa.
“Lo kangen ya sama gue?” terdengar tawanya yang renyah dikejauhan sana.
“Yah dasar lo! Udah cepetan lo berangkat, gue mau jalan nih.” balasku dengan sedikit menahan tawa.
        Brenda yang sedari tadi memperhatikanku, bingung menatapku. “Gimana, Ta?” tanyanya sambil mengikuti langkah kakiku.
“Lo tunggu disini ya? Gue ada proyek buat ini juga kok pokoknya.” langkah kaki aku percepat menuju parkiran.
        Brenda terus mengikuti langkah kakiku hingga parkiran, “Callista!”
“Udah sayang, lo tunggu disini aja. Nanti gue kabarin lagi, oke?” membuka pintu mobil dan melambaikan tangan padanya.

**

        Mencari dimana Ferdy, duduk disebelah mana dia, melingak-linguk ke segala penjuru tempat. Akhirnya terlihat seorang pria berbaju biru, duduk di sebelah pojok tempat itu sedang menikmati guava juice. Aku bergegas melangkahkan kakiku menghampirinya.
“Sorry lama, agak macet.” menarik kursi dan duduk.
“No problem laaah, sabar kok gue.” candanya yang hanya aku bisa balas dengan senyuman yang terukir di wajahku.
Ferdy menawarkan menu apa yang aku mau dan memesankan pada pelayan café itu, “Gue butuh bantuan lo nih, Fer.”
“Apa?” menghisap sedotan yang tercelup di dalam minumannya.
“Pusat rehabilitasi gue butuh psikiater nih. Gue inget lo karena cuma lo yang masih kontak sama gue walau sedikiiiiit banget, yang lain mah udah pada lenyap. Makanya nih gue berharap sama lo.” celoteh aku.
“Loh yang lama?” tanyanya dengan wajah yang menujukkan kebingungan.
“Psikiater yang lama dikirim ke luar daerah semua. Makanya Brenda bingung banget itu. Gue juga lagi ada proyek di Bandung nih, Fer.” ceritaku.
“Brenda? Brenda sahabat lo yang dulu anak sastra Inggris itu?” mencoba mengingat beberapa tahun silam.
“Haha iya, masih ingat aja lo!”
“Waduh itu anak kerja sama lo? Melenceng banget tuh dari jurusan awalnya.” tawa Ferdy.
“Yaa, rezeki orang mah udah ada yang ngatur kali.”
        Pelayan café itu datang membawakan minuman pesananku dan meletakkan di atas meja, di hadapanku.
“Oke gue bisa, gue juga lagi nggak terlalu sibuk sih. Kalau buat bantu lo mah, gue bisain deh, Ta.” mengerlingkan sebelah matanya.
“Centil lo!” tertawa meledeknya.
“Lo nggak berubah ya?” senyum manisnya terukir.
“Maksud lo?”
“Tetap cantik, kayak dulu.” senyum jahil.
“Apaan sih lo!” tawaku. “Besok bisa kan ke tempat pusat rehabilitasi gue?”
“Oke, bisa diatur!” Ferdy menyetujui.

**
        Mentari pagi menghangatkan bumi, cahayanya indah memancarkan setiap sudut bumi. Tak terkecuali aku yang juga turut menikmati keindahan pagi itu. Ditemani teh hangat dan roti aku menikmati kuasa Tuhan yang begitu luar biasa indahnya. Udara segar yang tak banyak orang dapat merasakan. Kicauan burung-burung yang hendak berkeliling mencari makan pun menjadi sebuah fenomena yang amat mengagumkan. Betapa indahnya pagi ini.
        Jam sudah membentuk sudut 90°, aku bergegas mengambil handuk yang tergantung pada tempatnya. Ya, hari ini adalah hari pertamanya Ferdy membantu tugasku di tempat pusat rehabilitasi. Janjinya sih jam 10, “kita lihat siapa nanti yang ngaret!” batinku tertawa.
        Jam 10 kurang 15 menit, aku segera memarkirkan mobilku dan bergegas menuju ruang kerjaku, sedikit berlari membuat napasku terengah. Ketika sampai di lobby utama menuju ruang kerjaku, ternyata, “Ferdy?” mataku terbelalak menatapnya. Padahal dulu selagi masih kuliah, dia yang paling sering telat sampai aku berpikir, jam yang dipakainya itu terbuat dari karet.
“Yeee, emang gue nggak bisa berubah!” Ferdy menjulurkan lidah.
“Gue kira lo masih kayak dulu, yang gue sampai bosan kalau udah janjian sama lo.” ledekku padanya. Berjalan menelusuri lorong tempat pusat rehabilitasi itu sambil aku dan Ferdy memutar memori beberapa tahun silam.
        Terlihat Brenda sedang sibuk merapikan tumpukkan kertas-kertas di mejanya, “Gimana, Ta?” tanpa menatapku, Brenda bertanya. Tak berapa lama, “Ferdy?” terkejut Brenda melihat aku bersama Ferdy.
Aku hanya bisa tersenyum manis di hadapan Brenda yang masih memperlihatkan giginya di hadapanku dan Ferdy.
“Cieeeeee.. Kayaknya bunga di taman mekar lagi tuh.” ledek Brenda sambil mengerlingkan sebelah matanya.
“Iyalah, bunga di taman emang mekar mulu, kan ada yang ngurusin tuh Pak Obong.” merapikan meja kerjaku.
Ferdy dan Brenda cengar-cengir melihatku, mungkin mereka sadar kala itu aku salah tingkah.
“Oooh jadi ini nih partner kerja lo?” masih dengan nada bicara meledek.
Aku tak menjawabnya, melainkan diam tanpa kata.
“Duh, jadi mendadak jutek gitu sih, neng.” lanjut Brenda.
        Ferdy yang hanya diam, membaca buku-buku psikologi yang tersimpan rapi di balik rak buku di ruang kerjaku hanya tersenyum tiap kai mendengar Brenda meledekku. Aku dan Brenda memberi pengarahan pada Ferdy tentang tugas yang harus dia kerjakan selama berada di tempat pusat rehabilitasi itu.

**
        Ferdy menjalankan tugas di hari pertamanya dengan baik, tidak salah aku memilih menjadi partner aku di bidang kesehatan ini. Aku langkahkan kakiku menuju parkiran tempat mobilku terparkir. Sesaat kakiku melangkah diantara lorong-lorong menuju lobby utama, “Callista!” Ferdy memanggilku dan setengah berari menghampiriku.
“Ya, ada apa, Fer?” tanyaku bingung.
“Hmm.. Hmm..” terlihat Ferdy menggaruk-garuk kepala belakangnya.
“Apa, fer? Udah malam nih.” pintaku, dengan tatapan padanya dengan wajah bingung.
Ferdy masih saja gugup untuk mengutarakan apa yang mau diutarakannya.
“Hmm.. Besok aku jemput aja ya?” Ferdy malu-malu.
Menahan tawa, “Aku?” tak mampu lagi aku menahan rasa ingin tertawa. “Jadi dari tadi cuma mau ngomong itu?” aku berlalu meninggalkannya.
Brenda yang sedari tadi mengintip di balik tiang lorong, tertawa geli melihat percakapanku dengan Ferdy dan Brenda menghampiri Ferdy yang masih tersenyum malu, mungkin karena tingkahnya tadi, sedangkan aku? Berlalu meninggalkannya.
        Brenda masih dengan tawanya sampai di hadapan Ferdy, “Callista nggak pernah berubah ya dari dulu?” menatap langkah Callista yang kian memudar dari pandangan.
“Yaaa, begitulah dia.” Brenda mengiyakan.
Sepanjang perjalanan Brenda dan ferdy terus membahas tentang aku.

**
        Suara klakson mobil terdengar dari arah depan rumahku. “Siapa sih?” gumamku.
Aku singkap sedikit kain jendela di ruang tamu, terlihat mobil hitam milik Ferdy, “Wah tuh anak beneran jemput gue!” batinku, kemudian langsung bergegas mengambil tas dan menghampiri Ferdy yang menunggu di dalam mobil.
“Siap, Tuan Putri?” sapanya ketika aku sudah mengenakan sabuk pengaman mobilnya.
“Oke!” tak banyak kata yang aku keluarkan.
        Ferdy memutar lagu-lagu kenangan dulu ketika aku dan dia menjalin kasih, waaah sangat romantis, dalam memori otaku terlintas kisah beberapa tahun silam, kisah indah bersamanya yang sempat musnah karena terpisah jarak dan waktu. Aku tak banyak bicara ketika Ferdy mencoba memutar ingatanku kembali mengenang kisah indah dulu kala. Jujur sih, aku speechless di hadapannya. Aku mencoba menutupinya.
“Nanti malam temenin gue mau nggak?” Ferdy menekan tombol volume ke arah minus.
“Kemana?” tanyaku.
“Jalan, kemana kek, bete tahu!”
“Boleh deh” aku tak bisa membohongi perasaanku.
        Suasana saat itu memang sangat mengingatknku akan beberapa tahun lalu bersamanya. Namun entahlah, apakah dia juga merasakannya. Hanya Tuhan yang tahu.

**

        Tidak terasa waktu terus berlalu, sudah sekitar seminggu Ferdy bekerjasama denganku. Banyak kisah yang telah kita lalui meski seminggu itu bukan waktu yang cukup lama, tidak terkecuali Brenda. Hari-hariku selalu dipenuhi dengan kisah Ferdy dan Brenda berselimut aku di dalamnya.
“Nggak nyangka aku bisa merasakan keindahan yang dulu sempat hilang dalam hidup aku.” ujar Ferdy menatap langit malam bertaburan bintang terang.
“Aku juga, setelah beberapa tahun kita pisah, nyatanya aku masih sayang kamu.” menghampiri Ferdy dan berdiri di sampingnya.
        Angin malam itu berhembus lembut. Tangan Ferdy merangkul pundakku, mendekatkan tubuhku di tubuhnya. Menatap langit malam yang sangat indah. Mengenang memori di masa lalu, begitu terasa. Cahaya bintang turut menerangi kebahagiaanku malam itu. Seseorang yang dulu pernah ada dalam hidupku, sempat lenyap, kini hadir kembali mengisi ruang kosong dihatiku. Ingin rasanya malam itu tidak berlalu cepat.
        Keindahan itu sedikit terganggu saat Ibu Winda meneleponku, “Halo, Dokter Callista?” suara panik Ibu Winda terdengar.
“Ya, ada apa Ibu Winda?” melepaskan rangkulan Ferdy dan menjauh darinya sesaat.
“Ardi, Dok. Ardi..” tangisan Ibu Winda pecah.
“Ada apa, Bu? Ibu tenang, Bu.. Tenang..” aku mencoba menenangkan.
“Kelakuan Ardi semakin parah, Dok. Hampir setiap hari dia memecahkan barang seisi rumah yang ada dekat darinya. Bantu saya, Dok. Kapan dokter bisa kembali kesini?” Ibu Winda tetap menangis.
“Oke, Bu. Besok saya akan kesana untuk melihat keadaan Ardi. Ibu Winda tenang saja, nggak usah panik. Pastikan Ardi tetap dalam keadaan tenang.”
        Ferdy menghampiriku dan menanyakan perihal yang terjadi. Aku pun mengajaknya untuk mengantarkan aku pulang dan menceritakan semua tentang Arditama pada Ferdy sepanjang perjalanan.
“Jadi besok kamu mau ke Bandung?” tanya Ferdy.
“Iya, Fer. Kasihan mereka, sepertinya memang butuh aku.”
“Berapa hari?” tanya Ferdy datar.
Sepertinya Ferdy kurang suka jika aku harus pergi jauh, “Entahlah, Fer. Tolong ngerti aku ya?” pintaku padanya. Ferdy diam tak menggubris apapun.
        Sampai di rumah, aku memasukkan keperluanku ke dalam koper yang akan aku bawa esok ke Bandung, rumah Arditama Suryadinanta, putra tunggal Winda Suryadinanta, pengusaha sukses di bidang perhotelan. Di sisi lain, aku teringat sikap Ferdy tadi saat di perjalanan tadi, “Sepertinya Ferdy tidak suka kalau aku harus berada jauh darinya, terlihat dari tatapan matanya tadi” batinku bergumam. “Ah biarlah, aku yakin dia pasti bisa mengerti dan menjaga kesetiaannya.” mencoba menenangkan diri.

**

“Kamu yakin, Ta?” tanya Ferdy seperti tak yakin padaku.
“Yakin lah, emang aku baru kali ini aja apa?” jawabku sambil memasukkan koperku ke dalam bagasi mobil.
        Ferdy membuntutiku mengecek mobilku. Perjalanan yang akan aku tempuh kurang lebih sekitar 2 jam, jadi aku wajib memeriksa keadaan kendaraanku supaya aku tetap selamat sampai tujuan.
“Selesai!” menghembuskan nafas dan tersenyum menatap Ferdy.
Ferdy menatapku dengan tatapan datar namun tajam.
“Aku berangkat ya, sayang.” mengecup kedua pipi Ferdy.
“Hati-hati. Jaga diri disana baik-baik ya?” jawab Ferdy memegang kedua pipiku dan mencium keningku.
        Aku pacu kendaraanku dengan kecepatan standar meninggalkan Ferdy. Di tengah perjalanan, kecepatan aku perlambat karena handphoneku berdering.
“Hallo, Ta. Lo udah on the way?” suara Brenda seperti orang yang baru bangun tidur.
“Udah, neng… Baru bangun lo ya?”
“Hehee iya, ya udah be careful ya, say.” Brenda menutup telepon.
        Sudah setengah perjalanan aku tempuh. Jalan yang biasa aku lewati ternyata ditutup karena ada demo masyarakat. “Huh!” batinku mengeluh, aku tidak tahu jalan mana yang harus aku lewati selain jalan itu. Aku berpikir sejenak dan membuka sedikit kaca jendela mobilku.
“Mbak, mau kemana?” tanya seseorang yang berada di mobil sebelah mobilku.
“Jakarta Pusat, Mas.” jawabku pada seorang pria yang bersama temannya membawa mobil.
“Ikutin saya aja, Mbak. Saya juga menuju sana kok.” pria itu menawarkan.
Aku hanya memberi jawaban mengangguk memberi tanda aku setuju mengikutinya, tanpa pikir panjang aku mengikuti arah mobil itu. Mobil itu mengajakku melewati jalan yang sama sekali belum pernah aku lewati. Perasaanku mulai tidak karuan.
        Di tengah perjalanan, sisi jalan penuh dengan semak-semak belantara. Sunyi. Tak ada kendaraan lain yang lalu lalang di jalan itu. Entah apa yang akan terjadi padaku, aku mulai hilang konsentrasi. Pikiranku melayang memikirkan hal-hal yang akan menimpaku. Sementara mobil kijang itu tetap melaju di depanku. Tak beberapa lama, benar saja dengan apa yang aku pikirkan, mobil kijang itu berhenti di tengah jalan hutan sunyi. Jantungku berdegup kencang kala dua orang pria dari dalam mobil itu berjalan menghampiri mobilku dan memaksaku keluar dari mobil.
“Keluar!!” pemuda berbaju hitam menggedor-gedor kaca mobilku dengan cukup keras, sementara pemuda yang satunya mengarahkan pisau dari hadapan mobilku dengan maksud menyuruhku untuk keluar dari mobil.
        Tak banyak yang bisa aku perbuat, tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, aku menurutinya. Pemuda pemegang pisau itu mengarahkan pisau ke arah leherku dan mendekap aku dari belakang. Pemuda berbaju hitam mengacak-acak seluruh isi mobilku. Entah apa yang diambil olehnya, aku sudah pasrah. Setelah dia puas menggeledah seisi mobilku, mereka mencoba menggodaku.
“Cantik juga nih cewek.” katanya sambil mencolek daguku.
Aku mencoba menghindar dan temannya tetap mendekap aku dari belakang yang membuatku tak bisa bergerak. Mereka mencoba melakukan tindak asusila padaku, namun beruntung belum sampai aku diperlakukan keji olehnya, seorang malaikat tak bersayap datang membantuku.
        Pemuda itu membawa kayu cukup besar dan memukul ke arah punggung pemuda yang mendekapku. Pemuda berbaju hitam mencoba membela temannya dengan mencoba menghajar malaikat tak bersayap itu. Namun benarlah apa kata pepatah, kebaikanlah yang akan selalu berada diatas kejahatan. Hitam tidak akan pernah kalah oleh putih. Kedua pemuda itu berlalu meninggalkan tempat itu. Aku yang langsung mengecek keadaan dalam mobilku bersyukur karena tidak ada yang hilang, kedua pemuda itu terlalu bodoh untuk menggeledah seisi mobilku.
“Hei tunggu!” teriakku pada malaikat tak bersayap itu ketika dia berjalan meninggalkanku.
Dia menoleh ke arahku, “Kayak kenal deh” pikirku.
Aku menghampirinya. Ternyata, “Noval?” terkejut ketika sudah berada di hadapannya.
“Loh, Mbak Callista?” Noval sama sepertiku.
“Oh kamu, Val. Makasih banget ya, aku nggak tahu gimana nasib aku kalau seandainya nggak ada kamu.” ujarku menunduk merasa sangat berterima kasih padanya.
“Lain kali hati-hati ya, Mbak? Daerah sini memang rawan banget.” nasihat Noval dengan membawa topi anyaman seperti seorang petani dari sawah.
        Noval mengajakku mampir di sebuah warung kecil. Noval memberikan aku segelas teh hangat, “Diminum, Mbak biar nggak shock.”
“makasih, Val.” menerimanya dan meminumnya sedikit demi sedikit.
“Mbak mau kemana? Kok lewat sini?” tanya Noval yang duduk di sebelahku.
“Saya mau ke Jakarta Pusat, tadi jalan yang biasa saya lewatin itu diblokade karena ada demonstran. Terus saya diajak sama dua pemuda tadi, karena saya nggak tahu jalan mana lagi, tanpa pikir panjang saya terima ajakannya.” menengguk teh hangat pemberian Noval.
“Yah, Mbak, hari gini mah jangan gampang percaya atuh sama orang yang baru dikenal. Bahaya. Untung teh saya kebetulan tadi lewat situ, kalau nggak mah kasihan atuh Mbak Callista.” Uujar Noval dengan logat Sunda.
“Iya, Val. Saya terima kasih banget sama kamu. Oh ya, kok kamu ada di tempat itu?” tanyaku.
“Saya tadi abis dari sawah, Mbak. Ada kerjaan suruh ngurus sawah tetangga, ya lumayanlah duitnya bisa dikumpulin buat tabungan.” cengir Noval.
“Oh ya, saya juga mau terima kasih sama Mbak sudah menolong Tamara.” lanjut Noval.
Sedikit tersentak, “Tolong? Tolong apa?”
“Ah si, Mbak teh pura-pura nggak tahu nih.” Noval menyenggol lenganku.
“Serius!” aku memastikan.
“Mbak Callista kan yang bayarin biaya ujian adik saya, Tamara?”
“Loh? Tahu dari mana kamu?”
“Tuh kaaaan!” Noval tertawa geli.
Aku ikut tertawa mendengar celotehannya.
“Noval pekerja keras, pantang menyerah dengan keadaannya yang serba kekurangan. Memang benar dia malaikat bersayap” hatiku bergumam dan tertawa pelan.
“Ya udah atuh, Mbak. Mau saya antar sampai jalan raya? Bisi Mbak kenapa-kenapa lagi.”
“Hah? Bisi?” tanyaku bingung.
Noval tertawa, “Aih lupa saya, bisi itu artinya takut, Mbak.”
“Oooh” kataku sambil tersenyum. “Lah terus kalau kamu nganterin saya ke jalan raya, kamu baliknya gimana?” tanyaku.
“Mbak anterin saya lagi kesini.” candanya yang sukses membuatku bertanya-tanya. “Ya nggaklah, Mbak Callista cantik. Gampang itu mah!” Noval mendahului.

**

        Sampailah tujuan pada malam hari. Hujan deras yang membasahi Kota Bandung membuat suasana seolah sunyi dan dingin.
“Dokter Callista, masuk, Dok.” Mbak Rina mempersilakan.
“Ibu maaf saya kemalaman, tadi ada tragedi di jalan.” ceritaku.
        Aku dan Bu Winda berbincang-bincang tak lama di ruang tamu. Mbak Rina dengan baik hati menyiapkan teh hangat untukku dan sepotong roti yang diletakkannya di atas meja ruang tamu itu.
“Saya mau ke kamar dulu ya, Bu? Setelah itu saya mau mengecek keadaannya Ardi.”
“Oh iya, Dok. Maaf saya merepotkan dokter.” ucap Bu Winda.
“Ah ibu kayak baru kenal saya sehari saja.” aku bergegas menuju kamar merapikan koper dan diri.
        Membuka perlahan gagang pintu kamar Arditama. Terlihat Arditama sedang berbaring di tempat tidurnya. Aku menghampirinya, “Semoga keadaan kamu segera kembali semula aja ya, Tuan Ardi.” senyumku menatap wajah manisnya dan merapikan selimutnya. Aku membiarkannya beristirahat dalam balutan malam yang dingin hingga menusuk tulang rusuk. Aku menutup jendela yang mungkin lupa ditutup oleh Ibu Winda atau Mbak Rina. Pandanganku terhenti kala aku menatap sejuk tetesan air hujan yang jatuh dari atap luar kamar Ardi yang jatuh tepat di kolam ikan hias peliharaannya. Pemandangan itu cukup indah, hiasan lampu warna-warni yang mengelilingi sekitar kolam ikan itu menambah estetika pandangan mata. Ardi memang sangat memeliharanya. “Kasihan sekali ikan-ikan itu, mungkin setiap harinya selalu dimanja oleh Tuan Ardi, namun semenjak kejadian itu, mungkin ikan-ikan itu merasa kesepian juga.” batinku berkata sembari menatap ikan-ikan hias yang berenang mengelilingi kolam panjang itu.

**

“Hallo, Tuan Arditama Suryadinanta. Selamat pagi.” sapaku dengan membawa segelas susu dan sepiring roti bakar.
Meletakkan sarapan paginya, “Gimana tidurnya semalam? Nyenyak, kan?” melipat selimut yang masih menutupi tubuhnya dan membantunya untuk duduk.
Ardi hanya diam. “Dimakan ya sarapannya?” menyuapi Ardi roti bakar buatanku.
“Maaf  ya kalau rasanya agak aneh, tadi saya coba bikin sendiri nih, spesial deh buat kamu.” cengirku.
“Waah, Den Ardi kok nurut ya sama Dokter Callista?” celoteh Mbak Rina yang meletakkan bingkai foto di meja kamar Ardi.
Dahi Ardi mengerut ketika Mbak Rina meledeknya, namun sayang hanya aku yang bisa membaca wajah Ardi. “Hebat! Arditama mengalami kemajuan. Terima kasih, Tuhan.” kataku dalam hati.
“Apa ini, Mbak?” tanyaku pada Mbak Rina yang merapikan bingkai-bingkai foto di meja Ardi.
“Ini loh, Dok kemarin itu waktu Den Ardi ditinggal dokter, bingkai ini dibanting sama Den Ardi.” cerita Mbak Rina.
Aku tak mengerti maksudnya, namun ya sudahlah.
        Mbak Rina kembali meninggalkan kamar Ardi. “Kamu nggak mau latihan jalan?” tanyaku sambil membantu Ardi menenggak susu. “Kalau kamu mau belajar jalan, aku bantuin yuk!” senyumku mengajak.
Aku sangat yakin pada Ardi yang telah banyak mengalami kemajuan. Tak hentinya aku bersyukur pada Tuhan karena dalam waktu hampir 3 bulan ini aku merawatnya tidaklah sia-sia. Mungkin hanya aku yang mampu melihat kemajuan detail Ardi karen Ibu Winda sendiri terlalu sibuk dengan perusahaan hotelnya dan hanya mampu merawat Ardi semampunya dia.
        Aku membantu Ardi menempatkan dia di kursi roda, aku tahu keinginan dia setiap pagi, menikmati matahari di balik jendela kamarnya.
“Matahari itu cerah banget ya? Bersinar megah tanpa pamrih. Cahayanya menghangatkan. Memperindah suasana pagi, berpadu indah dengan embun yang padahal berletak jauh darinya. Keajaiban Tuhan yang takkan pernah ternilai harganya. Betapa berharganya menikmati hangatnya pagi ini.” membuka jendela kamar Ardi satu per satu.
“Ikan-ikan kamu sudah menunggu kamu tuh, rupanya dia kesepian berbulan-bulan tanpa sentuhan kamu. Tiap malam, sebenarnya dia berdoa atas kesembuhan kamu, ikan-ikan itu sebenarnya punya perasaan juga namun hanya beberapa orang saja yang mengerti, aku rasa kamu jauh lebih mengerti. Aku rasa, setiap malam ikan itu nangis, ya dia nangis karena kangen sama sentuhan lembut kamu, kangen dimanja sama kamu. Lihat deh, airnya keruh banget, karena cuma kamu kan yang mampu mengganti airnya dengan benar dan sangat sempurna.” menatap kolam ikan yang sudah ditumbuhi lumut hijau.
        Aku meninggalkan Arditama dan ingin menyegarkan pikiranku di taman belakang rumah mewah itu.
“Loh, Bu Winda? Nggak kerja?” ketika aku melihat Bu Winda juga sedang menikmati pemandangan hijau dengan secangkir kopi yang dipegangnya.
“Dokter? Belum, Dok. Nanti agak siangan.”
“Bagaimana, Dok keadaan Ardi? Ada perkembangan?” lanjut Bu Winda.
“Sejauh ini dalam pandangan saya, perkembangannya cukup baik, Ardi sudah mau makan, sudah mampu merespon kata-kata dengan baik meski belum sempurna, tapi saya yakin dalam beberapa waktu ke depan, Ardi bisa sembuh kok, Bu.” ceritaku mengenai Arditama.
“Syukurlah, Dok. Saya sangat senang mendengarnya. Memang kami butuh dokter seperti Dokter Callista.” puji Bu Winda padaku.
“Ya kita banyak berdoa aja deh Bu semoga Tuhan mempercepat keadaan ini.”

**

“Anginnya kencang sekali. Saya tutup ya jendelanya? Airnya masuk ke dalam nih.” menutup jendela kamar Ardi.
Sore itu hujan memang disertai angin yang sangat kencang. Air hujan membasahi kaca jendela kamar Ardi dan embun menutupi pandangan bening kaca itu. Aku mengelapnya agar Ardi tetap bisa melihat pandangan luar.
        Tiba-tiba, aku teringat Ferdy. Aku berniat ke kamarku untuk menghubungi Ferdy dan menghubungi Brenda untuk mengecek keadaan disana. Namn ketika aku ingin meninggalkan Ardi, Ardi menahan langkahku dengan menggenggam pergelangan tanganku sesaat aku berada di sebelahnya. Aku kaget dan menatap wajahnya, aku memposisikan diriku duduk berlutut menghadapnya, “Arditama?” dengan senyum bahagia.
“Te..ri..ma.. ka..sih..” ucap Ardi terbata-bata.
“Ardi, ini yang aku harapkan dari kamu. Ardi, saya yakin secepatnya kamu pasti kembali kekeadaan awal kamu. Saya yakin!” memegang teguh bahu Ardi.
        Dalam perjalanan menuju kamarku, ingatanku akan Ferdy tiba-tiba buyar karena kebahagiaanku melihat perkembangan Ardi seperti tadi. Hingga aku lupa apa yang mau aku lakukan tadi semenjak di kamar Ardi sebelum Ardi tunjukkan kehebatannya. Menuju kamar, aku senyum-senyum membayangkan Ardi, hati kecilku semakin yakin bahwa secepatnya seorang Arditama Suryadinanta akan kembali kekeadaan awalnya.
        Sampai kamar, aku mengambil handphoneku yang masih tersimpan rapi dalam tasku. Membuka kontak, mencari nama Ferdy dan aku segera menghubunginya.
“Hallooo” suara wanita yang tak asing ditelingaku.
Aku terdiam sejenak mencoba mengenali suara itu, “Brenda?” teringat suaranya yang sudah tidak asing lagi ditelingaku.
“Eh.. Callista.. Hmm..” Brenda terdengar gugup.
“Ferdy kemana? Kok lo yang angkat?” tanyaku bingung.
“Hmm.. ini.. ehm.. tadi.. hmm.. Ferdy lagi keluar, hapenya ketinggalan, ya hapenya ketinggalan.” suara Brenda panik.
“Gitu ya?” dalam batin aku merasa ada sesuatu yang ganjil.
“Ya udah, nanti kalo Ferdynya datang, suruh dia hubungin gue.”
“Oke.”
        Duduk termenung di atas kasur, memikirkan ada sesuatu yang ganjil terjadi pada seseorang yang jauh disana. “Tumben Ferdy hapenya ketinggalan? Kok bisa Brenda yang angkat? Ferdy nggak pernah ngizinin hapenya dipegang sama oranglain karena menurutnya itu privasi? Ya aku ingat Ferdy seperti itu. Aneh?” pikiranku dipenuhi tanda tanya besar.
“Aku aja nggak pernah megang hapenya dia selama pacaran. Kok Brenda?” pikiran negatif terus menyelimuti otakku. Aku mencoba membuang jauh-jauh pikiran negatif itu dalam benakku, “Nggak, aku nggak boleh negative thinking sama Ferdy juga Brenda. Brenda sahabat aku sejak lama, dia nggak mungkin mengkhianatiku, apalagi menikam punggungku. Nggak, nggak mungkin!” mencoba mempositifkan pikiranku. Namun tak bisa ku pungkiri, pikiran itu kembali saja hadir dalam benakku yang membuat konsentrasiku tertuju pada mereka, “Aaaaaa, sudahlah! Tidak mungkin itu terjadi! Aku percaya Ferdy, juga Brenda!” aku kuatkan pikiranku.

**

        Dalam malam, aku merenung memikirkan tentang apa yang aku pikirkan tadi sore. Sungguh, pikiran itu terus bersarang dibenakku. Mencoba membuang segala pikiran negatifku namun tetap saja aku tak sanggup, perasaanku terlalu kuat untuk memunculkan kembali pikiran itu.
        Ku posisikan diriku di balik jendela kamar, ku buka tirai yang menutupi jendela itu. Aku rasa, angin malam itu cukup menyejukkan yang membuat hasratku membuka jendela itu. Ya benar, angin menyentuh kulitku dengan lembut. Bintang tak menampakkan kehadirannya malam itu, bulan pun entah pergi kemana. Langit malam itu sangat sepi dan tidak bercahaya. Angin yang semula menyentuhku dengan lembut, kelamaan justru menusuk. Aku sudahi kegalauanku malam itu dan menutup kembali jendela beserta tirai yang mempercantiknya.
        Menidurkan diriku di atas kasur bermotifkan paduan garis-garis unik berwarna-warni dengan paduan warna yang cukup menarik pandangan mata. Aku mencoba memejamkan mata, namun apalah daya, aku tak bisa mengistirahatkannya. Tubuh ini berulang kali berputar ke kanan atau pun ke kiri, namun tak kunjung padam mata ini. Cahaya kamar saat itu padahal sudah aku matikan yang akhirnya aku nyalakan kembali karena aku tidak bisa tidur.
Disaat itu, terlintas Ardi dalam pikiranku. Hasratku terlalu besar untuk melihatnya di kamarnya, “Ardi belum tidur” terlintas kalimat itu dalam benakku. Aku pun memutuskan untuk melihatnya di kamar elegan itu.
        Suasana rumah sudah sangat sepi, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ruang tamu yang aku lewati juga sudah tidak nampak pencahayaannya yang menandakan ada orang di tempat itu. Sesampainya, “Ah benar saja” batinku berucap. Terlihat Ardi sedang menatap langit-langit atap kamarnya, namun ketika aku mendekatinya, “Kamu nangis? Kenapa?” aku yang langsung duduk di sebelahnya mengusap air mata yang terlanjur di wajahnya. Mungkin dia teringat akan masa lalunya yang kelam. Aku membantu dirinya untuk posisi duduk.
“Masa lalu itu memang ada, tapi bukan untuk dibayangkan yang menjadikan kamu larut kembali di dalamnya. Masa lalu ada untuk dikenang indah dalam buku harianmu. Ya, memang terkadang semua seolah muncul kembali, namun semua hanya untuk mengingatkan kalau dia memang pernah ada di hidupmu yang membuatmu pernah berarti bersama kenangan itu. Kamu harus tegar, Ardi. Terlalu banyak orang di luar sana yang sayang kamu dan mengharapkanmu kembali bersamanya.” air mata Ardi mengalir bening, diam tanpa berkata-kata, menatap lurus searah letak jam.
        Malam semakin larut, jam yang terpajang manis di meja kamar Ardi sudah mengarah pada angka 12.
“Sudah tengah malam, kamu harus istirahat ya?” membantunya kembali dalam posisi berbaring.
“Malam, Tuan Arditama Suryadinanta.” memakaikan selimut menutupi sebagian tubuhnya.

**

“Kemana Ferdy sampai sekarang belum juga menghubungiku?” pikirku ketika melihat hapeku tak ada tanda apa-apa dari Ferdy.
Aku mencoba menghubunginya kembali, “Hallo” terdengar suara Ferdy.
“Ferdy..” sapaku pertama.
“Siapa?” pertanyaan yang membuatku terkejut.
“Siapa? Kamu tanya siapa? Kamu nggak nyimpen nomor aku, Fer?”
“Oh.. Callista.. Maaf sayang, aku lupa kayaknya nomor kamu udah aku save tapi kok nggak ada ya?” Ferdy balik tanya.
Aku diam sejenak. “Hallo sayang, kamu apa kabar disana?” tanya Ferdy lembut membuyarkan lamunanku.
“Eh.. Baik kok, aku baik, kamu gimana disana?” tanya balikku pada Ferdy.
“Baik juga kok, jaga diri kamu baik-baik disana ya sayang. Kangen kamu.” suaranya manja.
Membuka tirai jendela, menikmati matahari pagi yang menghangatkan, “Kemarin kok Brenda yang angkat?” tanyaku langsung menjurus pada persoalan kemarin sore.
“Hah.. Itu.. Hmm.. Itu.. Itu aku lagi keluar, terus hapenya ketinggalan di ruangannya Brenda.” jawab Ferdy gugup seperti menyembunyikan sesuatu dariku.
“Aneh!” dalam hatiku.
        Ferdy menyudahi perbincangan itu dengan alasan dia ingin menyelesaikan tugasnya di tempat pusat rehabilitasi. Kembali, aku merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ferdy, juga Brenda. Perasaanku terlalu kuat untuk merasakannya.
“Ah, mungkin aku harus menyegarkan pikiranku” pikirku segera ke dapur untuk membuat secangkir teh hangat.
Mengambil cangkir dari rak, “Dokter Callista mau saya buatkan teh hangat?” Mbak Rina menawarkan.
“Oh nggak usah, Mbak. Saya buat sendiri aja.” menolak tawarannya yang memang sudah terlanjur aku menuangkan gula ke dalam cangkir itu.
“Oh ya sudah, Dok.” Mbak Rina meninggslkan.
        Membawa cangkir itu dengan beralaskan piring kecil, aku berniat menuju taman belakang. Sangat indah rumah itu, pemandangannya sungguh luar biasa. Sejuk, hijau, rumah itu penuh kedamaian. Angin segar terasa sangat mudah didapat. Menikmati teh hangat sedikit demi sedikit, aroma khas teh itu menambah resep kesegaran pikiranku.
“Dokter?” panggil Bu Winda yang sudah ada di belakangku.
Memutar tubuhku menghadapnya. “Saya mau bicara sebentar, dokter bisa?” tanya Bu Winda serius.
“Silakan, Bu.” meletakkan cangkir itu ke atas meja.
Duduk di kursi kecil panjang taman, “Begini, Dok. Saya ada tugas harus keluar negeri, saya mau menitipkan Ardi pada dokter. Yaa, saya sih sekitar 2 bulan bertugas di Dubai. Dokter Callista sanggup?”
Aku diam, merenung sejenak. “Saya juga sebenarnya tidak mau, Dok karena saya ingat keadaan Ardi. Tapi ini benar-benar tugas mendesak yang tidak bisa saya alihkan. Saya harap dokter sanggup.” sementara aku yang masih merenung menatap rerumputan yang tersebar luas di taman itu.
“Iya, Bu. Saya sanggup kok.” senyumku pada Bu Winda.
“Benar, Dokter?” Bu Winda memperjelas. Aku mengangguk menandakan aku menerima permintaannya.
“Terima kasih dokter. Saya sangat berterima kasih pada dokter, beruntung sekali saya bertemu dengan orang sebaik Dokter Callista. Terima kasih dokter.” Bu Winda menggenggam tanganku bahagia.
“Nggak usah berlebihan, Bu. Saya disini kan sudah hampr 4 bulan, saya sudah menganggap keluarga ini menjadi bagian dari hidup saya juga kok. Selama saya bisa membantu, saya akan bantu semaksimal mungkin.” Bu Winda memasang wajah haru di hadapanku.

**

        Terlihat Bu Winda sudah rapi dengan kopernya, “Mama berangkat dulu sayang” Bu Winda mengecup kening anak tunggalnya itu, Arditama Suryadinanta. Tak berbeda dengan sebelumnya, Ardi hanya menatap lurus dengan pandangan yang tak menggubris apapun. Aku yang berdiri di belakang kursi roda Ardi sambil memegang kursi roda itu tersenyum melihat keharuan Bu Winda yang akan melepas anaknya sekitar 2 bulan bersamaku.
“Dokter, saya titip anak saya ya?” mengusap sebutir air mata yang menetes di pipinya.
Tersenyum, “Iya, Bu Winda hati-hati ya. Semoga cepat selesai.” jawabku.
Bu Winda memasuki mobilnya ditemani supirnya yang akan mengantarkannya ke bandara.
        Momen mengharukan itu perlahan lenyap, aku mendorong kembali kursi roda Ardi ke kamarnya. “Makan dulu ya, Di?” aku menawarkan makanan yang sudah disiapkan Mbak Rina sejak pagi sebelum mamanya berangkat. Ardi menggeleng, “Kenapa?” tanyaku. “Makan dong. Oh ya, abis ini kita main ke taman yuk? Mau ya?” Ardi diam. Aku yakin dia sangat ingin ke tempat itu. “Oke, tapi kamu harus makan dulu.” aku menyuapinya hingga makanan itu habis.
Kini, Ardi sudah mulai sedikit berubah, dia sudah mulai mau mendengarkan perintahku. Dia sudah sehat, tinggal beberapa tahap yang harus aku lalui untuk kesembuhan totalnya.
“Berarti, kalau Ardi sembuh, aku akan meninggalkannya?” tanya hatiku, termenung. Tak beberapa lama, aku tersadar dari lamunanku ketika Mbak Rina memanggilku, “Dokter Callista, makanannya sudah saya siapkan di meja makan.”
“Oh iya, Mbak, terima kasih ya?” jawabku yang baru tersadar dari lamunanku.
Aku melanjutkan menyuapi Ardi, “Beruntung sekali orang yang menjadi pasangan hidup kamu nantinya” meletakkan sendok di atas piring dan berdiri di samping Ardi yang sedang menatap ke arah kolam hias miliknya.
“Layaknya bulan yang tak pernah lelah menemani bintang bersinar, layaknya matahari yang tak pernah mengeluh memanjakan alam dengan kehangatannya, dan layaknya air yang tak pernah jenuh turun bersama dikala hujan. Andai kamu sadar, karena saya yakin kamu kamu mengerti tentang semua yang aku katakan, perasaanku terlalu kuat mengatakan hal itu, entah mengapa, mungkin kamu sudah menjadi bagiannya.” aku yang hanyut akan kata-kataku sendiri. “Hm.. Maaf, Tuan.” aku tersadar. “Suapan terakhir, Tuan Ardi.” lanjutku.
        Terlalu panjang waktu yang harus dilaluinya dalam danau keterpurukan. Cinta memang penuh misteri, terkadang keindahan terselip di dalamnya dan muncul di akhir cerita. Namun terkadang keindahan itu muncul di permukaan yang akhirnya tenggelam bersama luka teramat perih, goresan belati yang teramat tajam menyulitkan seseorang bangkit dan berdiri berjuang untuk menghapusnya. Ya, goresan itu memang tak mudah untuk dihilangkan, sulit, bahkan terlalu sulit, terlebih jika itu bersumber dari seseorang yang sudah menjadi setengah nyawa kehidupan bersamanya. Namun, bukankah Tuhan menciptakan luka untuk menguatkan kita? Membuat kita menjadi lebih tegar? Menjadi lebih sabar? Menjadi lebih ikhlas menerima keadaan, tersulit sekalipun? Semua tergantung pribadi yang menjalaninya.
        Taman itu tak cukup indah bagi seseorang yang sedang tenggelam dalam danau kepedihan, semua terasa biasa saja karena mereka tidak merasakannya, tidak merasakannya dengan hati. “Saya harap, kamu senang tempat ini.” menepi ke sebuah tempat seperti gardu dengan hamparan ilalang tinggi dihadapnya.
“Angin disini sejuk, semoga pikiran kamu bisa tenang terbawa hembusan semilir angin yang mengalun lembut. Kamu bisa rasakan, Ardi?” tanyaku.
Ardi menutup matanya, mencoba merasakan hembusan angin yang menyentuh kulitnya, Ardi menghayati setiap sentuhan angin yang menerpa kulitnya. Begitu dalam dia mengharapkan.
“Menurut saya, angin mampu menyegarkan pikiran dan membawa pikiran saya selalu ke dalam kotak positif, karena saya percaya dikala angin itu berhembus, bersamaan dengan pikiran negatif saya, mereka akan melayang jauh dan kembali dengan sebuah angin positif. Angin berhembus apa adanya, seperti seseorang yang mencintai tulus apa adanya otomatis akan membawanya ke dalam kotak positif.” aku juga merasakan hembusan angin itu.
        Suasana sekejap hening, “Seperti kamu yang tulus bersamaku.” Suara itu terdengar seketika dan lenyap entah kemana, aku tersentak menoleh ke arah Arditama memastikan apakah benar suara itu bersumber darinya. “Ardi?” tanyaku dengan wajah berbinar menampakkan kebahagiaan.
“Layaknya angin yang berhembus tulus apa adanya, kamu adalah angin.”
Aku menghampiri, aku benar-benar tersentak, entah apa yang harus aku rasakan saat itu, kata-kata itu terucap dari bibir seorang Arditama.
“Aku? Angin? Tapi aku bukan angin yang mudah berlalu begitu saja.” balasku dengan tersenyum.
        Hanya beberapa kata yang dapat diucapkan olehnya, meski dengan tatapan yang datar. Ardi mulai membuka suaranya, selangkah lagi aku mampu mengembalikannya. “Oh Tuhan..” entah apa yang harus aku rasakan saat kata-kata terucap dalam batinku. Benar saja apa yang aku rasakan saat in, Ardi mengerti semua kalimat yang aku lontarkan, hanya saja dia masih terlalu dalam tenggelam dalam masa lalu kelamnya. Mungkin angin membawa jiwanya melayang, kembali ke permukaan, siap mencari kebahagiaan yang telah lama terpendam.

**

        Kembali, malam itu Bandung diguyur hujan lebat, terkadang cahaya kilat membentuk goresan di langit.
“Hujannya deras, kilatnya dahsyat, tutup ya?” menarik kain coklat yang menyingkap di jendela.
Ardi diam, tidak seperti tadi di taman. Aku membiarkan, mungkin tak ada kata yang ingin diucapkannya.
“Selamat malam, Arditama.” sapaku sambil menutup pintu kamarnya.
        Entah perasaan apa yang harus aku rasakan kala itu. Bahagia, aku mampu mengembalikan Ardi kekeadaan semula tanpa sepengetahuan mamanya. Sedih, ya aku sedih karena aku harus pergi meninggalkannya. Seketika aku teringat akan Ferdy, “Ferdy” batinku. Aku mengambil hapeku, dan mengirimkan SMS ke nomor Ferdy.
Aku merindukanmu, sayang
Tak beberapa lama, hapeku menerima balasan dari pesan singkat yang bersumber dari nomor Ferdy
Aku pun merindukanmu selalu, sayang
Aku dan Ferdy akhirnya berbalas pesan singkat.
Aku tahu aku tak pernah ada di sampingmu yang bisa selalu bersamamu, menemanimu. Tapi sungguh, aku mengharapkan itu secepatnya

Jangan khawatir sayang. Aku disini menantimu. Sudah malam, kamu tidur ya?

Kenapa kamu menyuruhku tidur? Kita baru beberapa menit berbalas SMS. Aku masih kangen kamu, Ferdy

Tapi ini sudah malam, sayang. Kamu harus tidur.

Apa aku tidak boleh merindukanmu?

Bukan begitu sayang, percayalah aku menyayangimu dimanapun kamu berada

Bolehkah aku tidak tidur untuk malam ini?

Kenapa? Aku rasa tak cukup baik untukmu.

Aku takut..

Takut kenapa, sayang?

Aku takut kalau aku tidur, aku tak bisa lagi mencintaimu di esok hari atau aku takut kamu akan berhenti mencintaiku

Kenapa kamu bicara begitu?

Setiap malam, aku selalu terpikirkan tentang kita, tentang kisah kita yang terpisah ruang dan waktu, tentang apa yang kamu lakukan disana, jauh dari jangkauanku

Sayang, kita memang terpisah ruang dan waktu, namun percayalah aku mencintaimu dimanapun kamu berada. Aku akan berhenti mencintaimu seiring nafasku berhenti

Sungguh? Apakah kau yakin menuliskan semua itu? Bukan sekedar kumpulan kata?

Percayalah sayang, itu semua tertulis melalui perantara tangan dan jariku yang bersumber dari dalam hatiku

Tapi aku belum yakin, dan aku mau kamu selalu yakinkan aku

Sayaaang, tidurlah. Banyak kegiatan yang harus kamu kerjakan esok.

Kamu belum bisa penuhi keinginanku?

Aku sanggup penuhi segala keinginanmu. Tidur ya sayang, selamat malam

Simbol titik dua bintang yang sama-sama ada di SMS itu mengakhiri obrolan aku dan Ferdy di pesan itu. Aku percaya dengan semua yang dikatakan Ferdy dalam pesan itu, namun tak bisa ku pungkiri, perasaan meragu kerapkali aku rasakan. Tak sadar, aku terlelap dalam letihnya menentukan segala perasaanku.

**

“Dokter Callista.. Dok..” teriak Mbak Rina.
Aku yang sedang membuatkan coklat hangat sedikit terperangah mendengar teriakan Mbak Rina, “Ada apa, Mbak?” sahutku.
Aku menghampiri arah suara. “Dokter, itu Den Ardi tumben ada di kebun belakang?”
Ya Tuhaaan.. Aku kira ada apa Mbak Rina berteriak seperti melihat sesuatu yang menakjubkan. “Itu aku yang bawa, Mbak. Memang kenapa ya?” tanyaku dengan segelas coklat hangat ditanganku.
“Ya ampun, saya kira Den Ardi bisa bawa kursi rodanya sendiri ke kebun. Saya udah senang aja tuh ngelihatnya.” cerita Mbak Rina mengelus dadanya.
        Aku menghampiri Ardi membawakan segelas coklat hangat untuknya, “Ini coklat hangat buatan saya loh. Cobain deh!” pintaku pada Ardi.
Mungkin coklat itu masih terlalu panas, Ardi terlihat sedikit menahan rasa panas dibibirnya. Bibirnya yang merah berubah menjadi coklat, membuatnya terlihat lucu, “Yah kayak anak kecil deh!” candaku sambil mengelap bibirnya yang berubah warna coklat dengan selembar tissue. Aku letakkan segelas coklat itu dengan maksud agar Ardi bisa menikmatinya dengan lezat kalau coklat itu memang sudah benar-benar hangat.
Aku memainkan air di kolam yang berisi ikan hias milik Ardi, menepuk-nepuk airnya, memberi makan ikannya, “Lihat deh! Ikan ini senang tuh dewanya udah bisa nengokin ke rumahnya lagi.” aku masih asyik memainkannya.
“Seandainya saya bisa membaca bahasa mereka, mungkin saya akan melihat mereka seperti layaknya anak balita yang diberi hadiah oleh orang tuanya. Sangat senang, melompat-lompat kegirangan. Bagi mereka, kamu adalah kebahagiaan terbesarnya. Karena disini, cuma kamu yang dianggapnya paling mengerti mereka. Iya nggak?” memberi makan ikan, bicara dengan ikan-ikan di kolam itu.
        Kemajuan Ardi sudah semakin nampak ketika dia mulai memerhatikan ikan-ikan di kolam itu ketika aku mencoba mengajak berinteraksi dengannya.
“Nanti kalau kamu udah kembali kekeadaan semula, kita bersihin kolam ini bareng-bareng yuk?” ajakku masih menepuk-nepuk air di kolam itu.
“Aku nggak mau bersihin sendiri kolam ini, nanti kalau ada apa-apa sama ikan-ikan kamu, aku nggak tahu gimana harus tanggungjawabnya? Aku nggak pernah memelihara hewan soalnya” cengir aku.
Senyum diwajah Ardi terukir meski hanya beberapa milimeter saja, namun aku bisa melihatnya.
        Setelah beberapa jam di kebun belakang rumah, aku membawanya kembali ke kamar untuk membantunya sarapan. Seperti biasa, aku menempatkan di posisi favoritnya. Ketika aku menyuapinya, aku biasa mengajaknya berbincang meski tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Namun, setelah selesai sarapan, aku bergegas untuk ke kamarku. Tiba-tiba, aku menatap matanya dalam, menghayati setiap bentuk diwajahnya, Ardi menggenggam tanganku, seolah menahanku pergi.
“Bawa aku ke taman bunga!” pinta Ardi dengan tatapan tajam pula menatap mataku.
Aku mengangguk, tak lama aku tersadar dari lamunanku akan sikap Ardi, “Siap, Tuan Arditama!” sikap hormat dihadapannya.

**

        Tak henti-hentinya batinku berucap syukur karena kemajuan yang dimunculkan Ardi begitu nampak. Semakin tak karuan perasaan yang aku rasakan, “Tuhaaan.. Tolong jaga hati ini. Ingatkan aku sudah ada yang menantiku disana.” gumamku dalam hati.
Ardi menunjuk ke tempat yang begitu indah, salah satu tempat favoritku ketika disana. Hamparan bunga bermekaran warna-warni, rerumputan tumbuh hijau mengelilingi, suasana hening menambah keindahan tempat itu. Aku membawanya kesana, Ardi menatap setiap bunga yang menghampar di taman itu.
“Rerumputan itu sebenarnya kesepian, tak ada suara, tak ada langkah, hening tak bergetar. Tapi mereka masih bisa tumbuh hijau, sangat indah. Karena bunga-bunga itulah sebenarnya yang menjadi teman dalam sepinya rerumputan itu. Bayangkan jika tak ada bunga warna-warni itu, semua datar, pasti.” tatapan Ardi menghayati setiap rerumputan dan bunga-bunga di taman itu. Aku yang mendengarkan, mencoba menerjemahkan setiap kata yang terlontar dari bibirnya. “Oh Tuhaaan.. Ardi juga suka puisi” batinku.
“Karena Tuhan tak akan menciptakan tanpa pasangannya, Tuhan tahu mereka pasti kesepian jika mereka sendiri. Untuk itu, Tuhan mengirimkan bunga-bunga indah itu untuk tumbuh menemani rerumputan itu. Serasi, warnanya berpadu indah.”
“Rerumputan itu segar sekali, seperti tak pernah kekeringan” masih dengan sikap awal Ardi.
“Kata siapa? Rerumputan itu pernah kekeringan kok, disaat mereka tak ada yang menghiraukan, disaat ada orang yang ingin merusaknya, tapi disisi lain ada orang yang sayang padanya hingga mereka rela meawatnya sampai rumput itu kembali tumbuh karena nggak selamanya mereka bisa terus tumbuh terus tumbuh, mereka juga harus mengalami penyegaran kembali, tapi hebat ya? Mereka bisa tumbuh kembali dengan segar.” menghela nafasku. “Kita juga gitu kok” lanjutku disela-sela nafasku.
        Ketika Ardi sudah puas dengan pemandangan di tempat itu, aku mengajaknya berkeliling kembali mengitari taman itu. Disela perjalanan, terlihat sepasang kekasih saling merangkul, bercanda, pemandangan yang sangat indah, tapi “Sepertinya aku kenal orang itu?” aku fokuskan pandanganku pada mereka yang berada sekitar 5 meter dariku. Aku mencoba mendekatinya, namun ketika aku sudah hampir dekat dengan mereka, “Oh My God! Itu kan Ferdy sama Brenda! Iya bukan sih?” aku memastikan apakah benar semua yang aku lihat.
        Jantungku berdegup kencang secara tiba-tiba, aku tak mengerti dengan apa yang telah aku lihat. Mereka tidak melihatku yang berada di belakangnya. Kembali aku dekati mereka, dan ternyata penglihatanku masih cukup baik, mereka Ferdy dan Brenda.
“Kalian?” aku menghampiri mereka ketika mereka sedang asyik berduaan, sementara Ardi aku tinggal sejenak.
“Callista?” Ferdy sangat terkejut ketika melihatku yang sudah dihadapannya. Wajah Brenda panik, memerah, tak berani menatapku.
“Oh jadi ini yang kalian lakukan di belakang aku?” mataku mulai berkaca.
“Aku bisa jelasin semuanya, sayang.” Ferdy memegang kedua bahuku mencoba meyakinkan aku.
“Brenda?” mataku semakin berkaca.
“Ta.. Gue bisa..”
“Nggak ada yang harus dijelasin lagi!” memotong pembicaraan Brenda.
Air mataku berhasil mengalir diwajahku. “Sayang.. Aku bisa jelasin, tolong dengar penjelasan aku, aku mohon sayang!” Ferdy mencoba membujukku.
“Lupakan semuanya! Terima kasih buat semua yang udah kalian kasih ke aku. Mungkin inilah saatnya aku merasakan goresan belati tajam yang biasa dirasakan pasienku, ternyata memang lebih dari sekedar sakit.” aku tak mampu menahan air mataku.
“Callista.. Gue minta maaf. Gue nggak ada maksud kok buat nyakitin lo.” ujar Brenda.
Tertawa menyeringai, “Terus apa kalau bukan buat nyakitin gue? Lo mau bilang kalau ini alur cinta yang mengalir apa adanya? Silakan, Bren! Gue ikhlas kok!”
“Sayang..” Ferdy masih mencoba ingin membujukku.
“Jangan pernah hubungi aku lagi. Anggap kita nggak pernah kenal, dan gue akan belajar buat menghapus semua kenangan gue sama kalian.” aku berlalu meninggalkannya, kembali menghampiri Ardi.
Ferdy dan Brenda terus berteriak memanggilku yang sudah semakin kabur dalam pandangan mereka, disela perjalananku meninggalkannya, aku kuatkan hati dan ku usap air mataku, seraya aku berkata, “Semoga kalian bahagia” dengan getir hati aku ucapkan, menahan segenap air mataku yang tak dapat ku tampung dalam kelopak mataku.
        Aku mendorong kursi roda Ardi menuju parkiran dan membawanya pulang. Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa diam, teringat kisah pedih di taman bunga itu, taman bunga yang selalu memberikan kesan indah tiap kali aku mengunjunginya namun kali ini berbeda, aku seperti tertusuk jutaan duri mawar yang tumbuh indah di taman itu. Ardi yang menatapku menangis, sepertinya mengerti tentang apa yang aku rasakan saat itu.
“Menangislah jika itu membuat bebanmu sedikit berkurang. Tak banyak memang yang dapat dilakukan oleh seseorang yang sedang terluka.”
Seketika aku menghentikan mobilku di pinggir jalan, pandanganku buram karena air mata yang terus mengalir.
“Tapi kamu sendiri kan yang bilang kalau luka itu diciptakan Tuhan untuk membuat kita lebih tegar, lebih ikhlas, dan lebih sabar menerima segala masalah apapun tersulit sekalipun?” Ardi tersenyum menatapku yang terus berlinangan air mata. Tak bisa ku hentikan air mataku, bukan hanya karena duri yang ku dapat di taman bunga itu, melainkan sikap Ardi yang entah mengapa menambah deras air mataku untuk mengalir. Setelah aku rasa aku tenang, aku lanjutkan perjalanan pulangku. Berharap kenangan itu tidak ku bwa pulang, namun apalah daya, kenangan itu terus berputar dalam benakku, mengudara dalam bayangku, membuatku merasakan kepedihan yang teramat dalam. Aku mencoba tegar menghadapinya, aku mencoba sabar menjalaninya dan aku mencoba ikhlas menerimanya. Meski sulit untuk ku lalui, namun aku percaya, Tuhan selalu bersamaku bersama orang-orang menyayangiku tanpa syarat. Sepintas, aku teringat semua pesan singkat yang baru beberapa ini dikirimnya untukku yang berhasil membuatku yakin padanya. Entahlah, semua hanya sekedar kata-kata.

**

        Terlalu pedih untukku menahan luka terkhianati, terlebih luka yang berdasar pada persahabatan. Mungkin belum saatnya untukku merasakan segala ketulusan kasih sayang tak bersyarat. Mereka melihatku cukup tegar untuk menjalani semua, namun mereka tak pernah mengerti bagaimana keadaan dalam ketika aku terluka. Aku memang bukan malaikat, malaikat yang sempurna yang tak bisa terluka. Aku manusia, manusia teramat biasa, dimana ketika aku luka, aku menangis. Ketika aku tersakiti, aku menangis. Ketika aku terkhianati, emosionalku memuncak. Aku tak mampu menutupi apalagi menghindari. Inilah aku, aku apa adanya.
“Ternyata kamu tidak setegar apa yang aku bayangkan ketika lidahmu menari dihadapanku, menyusun setiap bait kata indah. Apa semua itu hanya kata-kata?” Ardi yang tiba-tiba hadir di kamarku.
Mengusap air mataku yang tak kunjung henti teringat kejadian terpedih di taman bunga tadi, “Ardi?” dengan suara lemah, menahan sayatan luka dihati.
“Usap air matamu! Untuk apa kamu menangisi orang yang sudah menyakitimu? Apa dengan menangis seperti ini dia bisa merasakan apa yang kamu rasakan? Kalau nyatanya dia sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya? Sungguh kamu orang yang merugi!” kata-kata yang terlontar dari bibir Ardi terlalu tajam yang akhirnya menyadarkanku.
        Aku termenung memahami setiap kata yang baru saja terlontar dari bibirnya Ardi. Ya, kini aku mulai mengerti, memang tak sepantasnya aku menangisi orang yang tak pernah mengeluarkan air matanya untukku. Disini aku menangis, tapi disana mereka sedang tertawa bahagia di atas penderitaanku. Sungguh, Ardi jauh lebih hebat nyatanya dariku, semua diluar bayanganku tentangnya.
“Terima kasih.” mencoba menahan air mataku yang terlalu sulit aku tahan kehadirannya.
Ardi tersenyum melihatku menghapus air mataku dan menarik nafas mencoba menahan lukaku.
“Sudah malam, saya antar ke kamar?” tanyaku.
Ardi masih menatapku dengan senyum termanisnya, “Kalau kamu mau, boleh kok” Ardi mencoba menghiburku.

**

        Langit pagi itu seolah turut merasakan apa yang sedang aku rasakan.
“Yah, pagi-pagi udah hujan. Nggak bagus banget sih.” gerutu Mbak Rina karena sulit mengeringkan pakaian.
Aku yang sedang menikmati tetesan air hujan yang jatuh dari atap rumah, tidak menghiraukan ucapan yang terlontar oleh Mbak Rina.
“Den Ardi? Den Ardi?” Mbak Rina kaget ketika melihat Ardi membawa kursi rodanya menuju kebun belakang rumah.
Aku yang mendengar kehisterisan Mbak Rina, sontak menoleh ke sumber peristiwa.
“Hai, Mbak.” sapa Ardi pada Mbak Rina. Mbak Rina yang masih terkejut dengan kehadiran Ardi, terus memandangi Ardi sampai tiba akhirnya Ardi menghampiriku.
Aku hanya mampu tertawa pelan melihat tingkah Mbak Rina yang menurutku terlalu berlebihan.
        Ardi menatap langit yang tidak terlalu cerah. “Hm.. Gara-gara kamu nih!” candanya.
“Ah, bisa aja!” kataku malu-malu.
“Kapan ya mama pulang?” tanyanya sembari tetap menatap langit.
“Oh ya, semalam Bu Winda nelpon saya, katanya beliau pulang diundur 2 minggu lagi, ada proyek tambahan disana.” ceritaku menyampaikan amanat mamanya.
“Huh! Lama!” Ardi mengeluh
“Kangen juga kan?” kataku bermaksud meledeknya.
“Iya. Oh iya, bantu aku belajar jalan ya?” pintanya.
“Yakin, Tuan?” kataku menatapnya penuh antusias.
“Ya, saya yakin saya mampu berdiri tegar!” katanya kokoh. “Tidak seperti kamu!” lanjutnya bercanda.
Aku hanya tersenyum malu, “Yee, siapa ya yang galau berbulan-bulan?” tawaku pecah ketika melihat Ardi speechless.
“Tapi aku maunya di taman bunga, gimana?” ajak Ardi seolah menantang.
“Taman bunga?”
“Kenapa? Takut ya?” tawa Ardi.
“Nggak! Oke kita kesana, kapan maunya kamu, saya siap!” tantang aku.

**

        Sore itu langit terlihat begitu indah, namun aku tak begitu merasakan keindahannya.
“Hmm.. 2 minggu berlalu. Akhirnya kamu bisa buka mulut juga ya?” kataku sambil menatap langit dari balik jendela kamar Ardi.
Posisi Ardi saat itu sama seperti dulu sekitar 4 bulan yang lalu. “Maksud kamu?” katanya penasaran.
“Hehe nggak apa-apa kok” malu-malu.
“Oh iya, tadi Bu Winda telepon aku katanya beliau kehabisan tiket pesawat dan baru bisa pulang seminggu lagi.”
“Ah diundur mulu!” Ardi merengut.
“Yaaah dasar anak mama, kangen ya sama mama minta dininaboboin?” godaku.
Mata Ardi membesar menatapku, “Ih nggak lucu!”
“Yeee ngambek deeeh, tambah imut ya kalau lagi ngambek?” aku masih meledeknya.
Ardi diam masih menatapku tajam.
        Ah tatapan itu terlalu tajam untukku, entah menusuk jantungku atau tidak, aku suka tatapan itu.
“Kapan nih mau belajar jalan?” mencoba mengalihkan pembicaraan semula dan sedikit menutupi salah tingkahku karena tatapannya.
“Besok?” lantang Ardi.
“Wah semangat banget, Tuan?” senyum menggoda.
“Bodo ah!” Ardi mulai sensi menanggapi candaanku.
        Langit sore memudar, cahaya bulan dan bintang datang menerangi malam itu. Terkadang aku merasakan hidup ini lebih dari sekedar indah ketika aku mengingat Arditama, namun tak jua aku merasakan hidup ini terlalu kusam saat aku teringat akan Ferdy dan Brenda.
Duduk di kebun belakang, menekuk kedua kakiku dan memeluknya, “Tuhaaan.. Entah dengan siapa aku mampu berbagi seluruh hatiku, ingin aku luapkan semua keluh kesah mengenai kegelisahanku. Mungkin hanya Tuhan yang mampu menjadi tempatku bersandar. Bulan itu indah, Tuhan. Seandainya kau berikan aku sayap untuk terbang, aku akan terbang kesana Tuhan.” menunjuk bulan yang sedang bersinar terang.
“Aku terlalu rapuh Tuhan jika aku mengingat kisah kelamku, aku nggak pernah tahu dosa apa yang sudah aku lakukan pada mereka, seolah mereka tak punya hati, seolah mereka tak sadar akan kehadiranku saat mereka tega menggores luka dalam di hatiku. Aku tak habis pikir, Tuhan.” mataku mulai berkaca-kaca.
        Tiba-tiba, “Lalu kamu anggap aku ini patung?” suara Ardi yang sudah ada di belakangku.
Mengusap air mataku yang belum sempat jatuh diwajahku, “Ardi?” aku beranjak berdiri dan menatap Ardi sedikit kaget.
“Bulan itu sudah punya teman, bintang. Kalau kamu curhat sama dia, kasihan dong bintangnya? Kamu bilang kamu nggak punya sayap?” tanya Ardi sambil menatap langit indah malam itu.
Aku tak mampu berkata, hanya mampu menunjukkan mimik wajah penuh tanda tanya.
“Ya, Tuhan memang tidak menciptakan kamu sayap untuk terbang ke langit sana, tapi percayalah sebenarnya Tuhan menciptakan kamu sayap untuk sampai dihadapanku, bertemu denganku, dan….” Ardi menghentikan.
“Dan apa?” tanyaku.
“Sudahlah. Intinya kamu diciptakan Tuhan sebagai malaikat tanpa sayap” Ardi tersenyu manis.
“Oh Tuhaaan, apa maksud semua ini? Akankah hatiku yang terlalu besar menaruh harapan pada setiap pikiranku yang terlintas ketika mengingatnya? Akankah semua ini benar terjadi tentang semua yang aku rasakan?” tersenyum dalam lamunanku.
“Dokter? Dokter Callista?” panggil Ardi mencoba menyadarkanku.
“Hah iya, kenapa?” aku tersadar dari lamunanku.
“Kok ngelamun sih?”
“Eh, nggak kok. Sudah, saya antar ke kamar ya? Petirnya seram nih.”
        Ya, tiba-tiba petir datang dan gemuruh saling bersahutan hebat. Angin pun berhembus dengan kecepatan yang lebih besar dari sebelumnya. Aku mendorong kursi roda Ardi menuju kamarnya dan menutup pintu kebun belakang rumah.

**

        Tak berapa lama setelah aku kembali ke kamar dari kamar Ardi, hujan terus begitu derasnya. Suara tetesan yang terdengar jatuh di lantai balkon, saling bersahutan mengisi malam itu.
        Aku baringkan tubuhku di atas kasur setelah penat akan hari ini. Menatap langit atap kamar, sudut demi sudut. Aku belum berniat mematikan lampu kamarku. Aku mengambil handphone yang ku letakkan di meja sebelah tempat tidurku. Membuka pesan yang bersumber dari Ferdy,. Dahulu, ya pesannya dahulu yang berhasil membuatku percaya akan kata-katanya.
        Aku baca dan terus membaca, sampai tak terasa air mata ini kembali mengalir bersamaan dengan air hujan yang turun. Aku tak mampu menahan air mataku yang sudah ku coba tahan dalam kelopak mataku. Aku usap, namun air mata deras tak mampu ku bendung, aku terlalu lamban untuk menghapus air mataku yang berebut untuk turun membasahi wajah ini.
        Semua kenangan akan ferdy seolah kembali terputar dalam memoriku. Seperti sebuah film yang menayangkan aktris dan aktor protagonis dan antagonis, akulah aktris protagonis yang mungkin kerapkali tersakiti oleh aktor dan aktris antagonis. Mencoba menghapus semua kenangan itu, namun apalah daya, semua tak semudah tentang apa yang aku pikirkan selama ini. Semua terasa begitu sulit untuk ku lenyapkan, lenyapkan bayang-bayang menyakitkan, mengiris hati, menusuk jantungku.
        Memajamkan mata pun terasa begitu lemah, selalu terjadi penolakan ketika aku mencoba membawa diriku ke alam bawah sadar. Pikiran nonfiktif itu terus muncul dalam benakku, mengisi malam-malamku hingga akhirnya aku tak jua tertidur padahal waktu sudah dini hari.

**

        Lagu d’Masiv dihandphoneku berdering sekitar pukul 6 pagi.
“Hallo..” sapaku ditelepon itu masih dengan suara khas orang bangun tidur.
“Hallo, Dokter. Ini saya Bu Winda.”
“Oh Ibu, iya Bu ada apa?” segera menyegarkan diri.
“Hari ini saya kembali ke Jakarta, Dok. Dokter Callista masih di rumah?” Bu Winda memastikan.
“Masih kok, Bu. Ibu sudah di bandara?”
“Iya saya sudah di bandara, pemberangkatan ke Jakarta sekitar jam 7, Dok.”
“Oh iya, Bu. Hati-hati, Bu.”
“Terima kasih, Dok. Nanti saya mau tahu bagaimana perkembangan Arditama ya, Dok?”
“Siap, Bu!”
        Setelah telepon itu mati, aku bergegas untuk bersih-bersih diri.
“Selamat pagi, Ardi.” membawa segelas susu coklat dan sepotong roti untuk sarapan pagi Ardi.
Ardi sudah ada pada posisi seperti biasanya dan tersenyum menjawab sapaanku.
“Sarapan pagi untuk lelaki hebat seperti Arditama Suryadinanta” kataku mencairkan suasana pagi itu.
Kembali, Ardi tersenyum menyeringai.
“Mama kapan pulang?” tanya Ardi serius.
“Mau tahu banget ya?” candaku.
“Serius, Dokter!” Ardi menegaskan.
“Beliau sudah ada di bandara dan pemberangkatan ke Jakarta sekitar jam 7, ya kemungkinan beliau sampai Bandung sekitar jam 1 siang, Tuan.”
“Mama sudah tahu keadaanku saat ini?” tatapannya lurus ke depan tertuju pada pohon cemara yang ada persis di depan jendelanya dekat dengan kolam kesayangannya.
“Hm.. Belum. Saya belum memberitahunya, kata beliau nanti saja saat beliau sudah sampai rumah.”
Ardi tertawa pelan.
“Kok ketawa?” tanyaku bingung.
“Lucu aja” masih tertawa.
“Oh ya?” aku memerhatikan diri dan sekitar. “Why?”
“Serius banget jawabnya. Bahasanya kayak bahasa yang dipakai sama anggota DPR saat rapat paripurna.” tawa Ardi pecah.
Aku pun ikut tertawa melihat Ardi.
Entah mengapa, saat aku melihatnya bahagia, seolah kebahagiaan itu turut hadir dalam hidupku, dan aku tak pernah mengerti apa maksud semua itu.
        Suasana saat itu memang terlihat kaku saat sebelum Ardi mencairkannya. Ya, aku terbawa suasana Ardi yang memintaku untuk serius.
“Katanya mau latihan jalan? Kapan nih?” tanyaku.
“Wih! Pengin banget ya ke taman bunga itu lagi?” goda Ardi.
“Mulai ya!” aku sedikit kesal.
“Bercanda, Dokter cantik” Ardi kembali tertawa menggodaku. “Nanti saja, aku mau mama ikut ke taman bunga juga membantu aku latihan jalan.” lanjutnya.
“Oke, Tuan!” menunjukkan ibu jariku ke hadapannya.

**

        Setelah aku merapikan bekas sarapan Ardi yang kebetulan saat itu Mbak Rina tidak ada di rumah karena anaknya di kampung sedang sakit jadi aku yang mengendalikan rumah saat itu. Sudah lama aku tidak nonton film, aku mencoba mengajak Ardi menonton DVD di ruang tengah.
“Nonton yuk, Di?” ajakku.
“Dimana?”
“Di ruang tengah aja, malas keluar rumah nih, mendung juga.”
“Ayo!”
Aku mendorong kursi rodanya menuju ruang tengah. Di tengah perjalanan menuju ruang tengah, “Pengin buru-buru mama pulang. Nanti kamu jangan kasih tahu mama dulu ya tentang keadaan aku sekarang, aku mau bikin surprise buat mama.” pintanya.
“Hmm.. Malas ah, kata mama aku, aku nggak boleh bohong tuh, gimana dong?” candaku.
“Ih ngeselin deh!” Ardi terlihat jengkel.
Tawaku pecah melihatnya jengkel, “Iya, Tuan Arditama. Saya siap laksanakan perintah tuan!” jawabku tegas.
Ardi tersenyum.
Aku sibuk mencari film yang akan ditonton dikumpulan DVD milik keluarga itu. Koleksinya cukup banyak, semua terurut rapi berdasarkan tahun film itu muncul.
“Banyak banget, Di? Suka nonton juga?” tanyaku masih sibuk memilih DVD.
“Papa sama mama, dari dulu memang udah suka banget sama film, apapun itu. Makanya mereka rajin banget ngoleksi DVDnya. Katanya sih semua film nggak seru kalau nontonnya cuma sekali. Mama yang paling sering beli DVDnya, sampai penjaga tokonya selalu calling mama kalau ada film baru.” cerita Ardi sambil menyalakan televisi dan aku masih sibuk memilih DVD yang memang sangat banyak.
“Tapi semenjak papa meninggal, DVD itu rasanya usang. Nggak pernah lagi ada yang nyentuh. Mama, mama terlalu sibuk sama pekerjaannya. Aku, aku tidak terlalu hobi menonton film.” lanjutnya.

**

        Saat aku sedang sibuk memilih, tiba-tiba remote tv yang dipegang Ardi jatuh ke lantai yang membuatku terhenti dari pencarian dan tertuju pada Ardi.
Ardi terlihat shock saat melihat tayangan berita di televisi saat itu. Aku menghampiri Ardi dan memastikan perihal yang tengah terjadi pada dirinya.
“Kenapa, Ardi?” tanyaku bingung ketika melihat wajahnya shock dihadapan televisi.
Ardi meneteskan air mata, wajahnya terlihat begitu tegang. Saat aku lihat berita itu, berita itu tentang kecelakaan pesawat.
“Itu pesawat yang selalu mama pakai kalau keluar negeri. Ya, itu pesawat mama. Mama pasti ada di dalamnya. Sekarang sudah jam keberangkatannya.” Ardi panik.
“Ya Tuhan.. Cobaan apa lagi yang harus dihadapi lelaki ini?” hati kecilku berkata.
“Ardi sabar Ardi. Berdoa saja semoga mama baik-baik saja.” aku mencoba menenangkan. Namun tetap saja Ardi masih panik dan tegang memikirkan keadaan mamanya.
“Nggak, mama pasti ada disitu. Iya mama disitu.” Mengusap wajah tegangnya.
“Ardi, sabaaaar” mengelus bahu Ardi.
        Suasana saat itu memang sangat genting sekali. Ardi tak hentinya memerhatikan setiap perkembangan dari berita kecelakaan pesawat yang diduga mamanya ada di dalam pesawat itu. Ardi tak mau beranjak dari depan tv menunggu perkembangan berita. Aku pun menemaninya dengan terus mencoba menenangkannya.
        Beberapa jam kemudian, telepon rumah berbunyi. Dengan langkah yang agak cepat, aku menghampiri telepon itu.
“Hallo, selamat siang.” suara tegas terdengar sangat formal.
“Selamat siang.”
“Benar ini rumah Winda Suryadinanta?”
“Iya, benar. Dengan siapa saya bicara?”
“Saya dari pihak kepolisian, Bu. Ingin memberitahu tentang daftar korban kecelakaan pesawat, saat ini korban sudah ditemukan semua dan sudah berada di rumah sakit.”
Aku tercengang mendengar berita itu, “Ya, baik. Saya segera kesana, Pak. Terima kasih.”
        Sungguh, aku tak tahu apa yang harus aku katakan pada Ardi tentang berita ini. Aku mencoba merangkai kata untuk mengatakan berita ini padanya, namun pikiranku seketika buyar hilang konsentrasi saat aku melihat Ardi yang sedari tadi tak beranjak dari hadapan tv.
“Tuhan, bagaimana? Apa yang harus katakan?” gumamku dalam hati.
Dengan langkah gontai aku menghampiri Ardi. Pikiran Ardi tertuju pada berita itu hingga dia tak menghiraukan apa yang sedang terjadi disekitarnya, tepatnya telepon yang baru saja aku terima.
Aku duduk bertekuk lutut dihadapannya, dengan tatapanku aku menatap wajahnya yang terlihat begitu pedih menerima semua cobaan yang kian terjadi pada hidupnya. Aku tak punya hati untuk melihatnya menangis lagi, terpuruk lagi dalam kesedihan teramat dalam.
“Ardi..” menggenggam tangannya.
Ardi menatapku penuh tanda tanya dan ketegangan. Wajahnya menyimpan begitu banyak kesedihan yang sedang dia coba untuk tidak memunculkannya.
Tanpa banyak kata, akhirnya aku membawanya ke rumah sakit tempat para korban kecelakaan pesawat itu dikumpulkan untuk diambil oleh pihak keluarganya.
“Terlalu sulit bagiku mengikhlaskan seseorang yang menjadi sandaranku selama ini” ucap Ardi seiring aku mengendarai mobil dalam ketidakberdayaanku berkata-kata.
Aku yang benar-benar kehabisan kata saat itu, tak tahu apa yang harus aku ucapkan padanya. Rasanya tak tega mengungkap semua langsung dari bibirku, bebannya terlalu berat.
“Mama.. Ya Tuhan!” menghentakkan kepalanya ke sandaran kursi mobil.
Seolah teringat akan sosok mamanya yang selama ini menjadi kekuatan tersendiri dalam hidupnya. Ardi pun manusia, air matanya mengalir deras diwajahnya. Aku mencoba untuk tetap memfokuskan pada mobil yang sedang aku kendalikan.
        Suasana rumah sakit itu sudah sangat ramai dipenuhi para keluarga korban kecelakaan pesawat. Suasana duka menyelimuti rumah sakit besar di Bandung itu. Ardi, Ardi dengan lemah mencoba mencari jasad mamanya dengan air mata yang tak dapat disembunyikan lagi. Aku yang juga seolah merasakan apa yang sedang dirasakan, terus mencari wajah Bu Winda.
“Mamaaaa!” teriak Ardi ketika melihat tubuh mamanya terbujur kaku berlumuran darah.
Aku yang juga melihatnya, tak habis pikir semua akan terjadi seperti ini.
“Ardi..” mencoba menenangkan Ardi dengan mengusap punggung belakangnya. Aku pun tak tahu harus berkata apa, Ardi begitu terpukul dan sangat lemah menyimpan semua air matanya.
        Rumah Keluarga Suryadinanta ramai sekali, bukan karena kebahagiaan yang menjadi motifnya namun karena duka yang teramat dalam. Keluarga besarnya datang melihat sosok terakhir bagian dari Keluarga Suryadinanta itu, Nyonya Winda Suryadinanta yang kini telah terbujur kaku menghadap Sang Pencipta.
        Karangan bunga lengkap dengan kata-kata turut berduka hadir menghiasi setiap bagian rumah itu. Sebagian orang sibuk mengurus keperluan persemayaman jenazah. Ardi hanya bisa diam dan tetap tak bisa memendam air matanya yang kian mengalir setiap dia mengingat kenangan bersama orang terkasihinya.
“Sabar ya, Ardi. Saya yakin kamu tetap bisa tegar. Mama sudah bahagia di surga terindah-Nya, kalau kamu nangis terus nanti mama juga sedih. Percayalah, Di. Tugas kamu sekarang ini adalah mewujudkan keinginan mama yang belum kamu sempurnakan.” kataku memotivasi.
Kembali seperti awal, Ardi tak mau membuka suara dan terus menenggelamkan diri pada keterpurukannya yang kedua kali.
“Saya pikir, seharusnya kamu sudah mampu lebih tegar karena kamu mengalami ini bukan untuk yang pertama kali, bukan? Dan sama-sama orang yang kamu amat sayangi dan sangat berarti dalam hidup kamu? Ayo, Ardi! Kamu jangan menenggelamkan dirimu terlalu jauh dalam keterpurukan. Kamu harus bangkit, Ardi! Bangkit!”
“Memang semua terasa sulit, tapi kamu harus bisa dan yakin bisa!”
Terkadang, seseorang harus disadari oleh kata-kata yang seolah kita tak pernah merasakannya, karena dengan begitu kemungkinan dia akan tersadar dan terus memikirkan apa yang sudah terucap yang baginya terlalu sulit diterima.
        Ardi tetap terdiam, menatap kosong orang-orang yang lalu lalang di rumahnya. Begitu banyak keluarga besarnya yang mencoba memberi semangat namun tetap tak dihiraukannya.
“Dokter, tolong titip Ardi ya?” kata salah satu keluarganya dengan nada suara terisak.
Aku mengangguk. Hatiku tak karuan menghadapinya, entah cobaan apa lagi yang sedang dan harus dijalani oleh keluarga ini, terutama Ardi. Baru saja dia mencoba muncul ke permukaan dalam laut kepedihan, kini dia harus kembali tenggelam dalam laut dalam itu. “Tuhan beri selalu dirinya ketegaran” kalimat dalam hembusan nafasku.

**

        Hari berlalu, Ardi kembali sikap semula ketika dia ditinggal orang yang teramat berarti dalam hidupnya, calon pendamping hidupnya yang sangat diharapkan dan pusat kebahagiaannya.
        Kini, kembali dia kehilangan semuanya, seolah mimpinya terhenti sampai disini.
“Ardi, makan dulu ya? Seharian kamu belum makan” sepiring nasi goreng seafood kesukaannya yang aku harapkan mampu memunculkan selera makannya.
Namun, harapan tinggallah harapan, Ardi tak ada selera makan sama sekali, saat ku mencoba menyuapkan sesendok nasi menuju mulutnya, terkunci rapat bibir atas dan bawahnya.
“Hidup ini kejam! Tak pernahkah Tuhan mendengar doaku? Doa yang selalu ku pinta, hanya sebuah kebahagiaan. Tidakkah Tuhan mendengar? Apa dosaku hingga kepedihan menimpaku berturut seperti ini?” setetes air mata mengalir di pipi kanannya.
“Bukan, tak sepantasnya kamu bicara seperti itu. Tuhan Maha Mendengar, Tuhan mendengar semua doamu. Dan kamu tahu alasan Tuhan yang menurutmu tak memberimu kebahagiaan saat ini?” duduk di pinggir kasur menghadap jendela. “Tuhan sedang menyiapkan berjuta kebahagiaan yang akan diberikan padamu nanti jika menurutNya sudah tiba pada waktunya” lanjutku.
Senyum menyeringai, “Ya, setelah aku menyusul mama? Bukan begitu?” kesedihan terdalam tetap terpancar di wajahnya.
“Ssht! Tidakkah kau sadar sebenarnya kamulah yang menenggelamkan dirimu sendiri dalam kepedihan? Bukankah setiap orang pasti kembali pada-Nya? Dan bukankah kita diciptakan Tuhan memang sudah pada resiko akan menerima kehilangan, sekalipun orang yang sangat berharga?” tegasku.
“Kemana kebahagiaan itu? Kebahagiaan yang sangat menjadi harapanku, justru semua lenyap, musnah, tak tersisa. Segitu beratkah cobaan yang harus aku jalani?” Ardi sangat putus asa.
“Tak selamanya manusia dalam lingkar kebahagiaan, ada kalanya dia merasakan kesedihan, terdalam sekalipun seperti apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi, cobalah kamu buka pikiran positifmu, buka pikiranmu secara luas. Hidup ini saling berdampingan, Ardi. Janganlah kamu melihat sesuatu hanya dari satu sisi, itu nggak akan membuatmu mengerti tentang arti kehidupan itu tersendiri”
Ardi diam terpaku, tak lagi membalas kata-kataku, mungkin dia sedang mencerna apa yang telah aku sampaikan dalam otaknya.
        Ardi terlalu rapuh, dan tak mampu menutupinya. Aku pun tersadar, tak mudah memang membuat diri tegar dihadapan orang lain, terlebih mengikhlaskan orang yang selama ini menjadi pusat kebahagiaannya dan menjadi sandaran hidupnya.
“Mama.. Maafin Ardi, Mama. Maafin. Maafin.” dalam tangis Arditama yang selalu terucap kata maaf.
“Bukan kata maaf yang saat ini dibutuhkan mama, tapi doa dan perwujudan rasa sayang kamu sama mama.”
“Wujudkanlah mimpi mamamu yang diharapkannya dari kamu” lanjutku.
“Sudah malam, tidur ya?” melihat ke arah jam yang terpajang rapi di meja kamarnya.

**

        Detik terus berputar, menit berlalu, jam berganti seiring hari terus berganti. Bayangan akan kenangan bersama orang-orang terindah dalam hidup memang tak mudah bahkan terasa sulit terhapuskan. Namun, Ardi sudah terlihat sedikit mencoba mengikhlaskan segala yang telah hilang dan telah terjadi dalam hidupnya.
“Kapan nih mau ke taman bunga? Bosan banget nunggu berbulan-bulan kamu ngajak ke taman bunga” bibirku sedikit merengut.
Ardi tersenyum melihat wajahku yang sedikit tertekuk, “Sekarang, mau?” ajaknya.
“Hmm..” memainkan bola mataku.
“Yah takut, cemeeeeeeen!” menunjukkan ibu jari terbaliknya ke hadapanku.
“Ih enak aja, ayo!” aku menantang.
        Taman Bunga, tempat yang sempat memunculkan tulisan kelam dalam buku cerita kehidupanku beberapa bulan lalu. Tempat yang memunculkan keputusasaan bersarang dalam diriku. Tempat yang menyadarkanku bahwa tak semua yang berkilau itu indah. Tempat yang juga mengajarkanku arti sebuah kesetiaan.
        Ku hembuskan nafasku, ku nikmati setiap desahan angin yang berhembus saat itu. Seakan membuang semua penat, kesedihan, dan kegelisahan yang akhir-akhir ini bersarang di jiwaku. Tempat itu sangat indah bagi orang mampu merasakannya, bukan hanya keindahan yang tampak namun ada sisi lain keindahan yang diberikan tempat itu.
        Ardi sangat bersemangat untuk melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit, meski masih sering jatuh, namun semangatnya tak menyurutkan langkahnya untuk kembali bangkit. Di atas rerumputan yang masih basah akan embun pagi menyejukkan, Ardi langkahkan kakinya sejengkal demi jengkal. Aku yang sangat mengharapkan  langkahnya mampu lebih banyak lagi, menuntunnya mengarahkan kakinya menujuku. Satu langkah, dua langkah, hingga akhirnya beberapa belas langkah mampu dilaluinya, Ardi terjatuh dalam pelukanku. Wajahnya tepat di samping telingaku, dan yang aku kagetkan adalah ketika bisikkan itu sampai melalui telingaku, “Aku sayang kamu”
Ya, suara itu berasal dari Ardi. Aku menatapnya kemudian, menatap dalam matanya, merasakan kesungguhan kata yang baru saja terucap lembut di bibirnya, hampir tak menyadarkanku.
Jatuh terlalu jauh dalam awal kebahagiaan saat itu, Ardi jatuh tersungkur di atas rerumputan. Namun dia memposisikan dirinya duduk menekuk lututnya. Aku yang masih speechless mendengar kata yang baru saja diucapkan, menemaninya duduk tepat disebelahnya.
“Indah banget!” katanya menatap hamparan bunga teratai yang tumbuh mekar di atas kolam tak begitu luas.
Aku tersenyum mengiyakan.
“Tuhan memang sedang menciptakan kebahagiaan untukku, namun entahlah akankah nyata atau semu kebahagiaan itu untukku”
“Tuhan tak pernah menciptakan kebahagiaan semu, Ardi”
“Yaa, aku percaya. Kebahagiaan nyata hidupku sudah ada depan mataku”
“Maksud kamu?” tanyaku menatapnya dengan tanda tanya besar.
“Kamu!” senyum Ardi masih memerhatikan bunga teratai itu.
“Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti” mendadak aku berharap sesuatu yang sempat ada dalam benakku.
“Kamu adalah tempatku bersandar saat ini. Tak pernah terpikirkan bagaimana jika aku harus kehilanganmu juga dan aku tak pernah mau memikirkan itu.”
“So?” tanyaku efektif.
“Will you be mine?” Ardi menatap mataku tajam, melebihi tajamnya belati.
“Are you serious?” masih ragu.
“Aku nggak akan mengatakan itu jika aku nggak serius. Cinta itu misterius, dan butuh keseriusan.” memutar kembali wajahnya memerhatikan bunga tertatai.
Aku memikirkan semuanya, namun tak bisa ku pungkiri, dialah yang kini menjadi sumber kebahagiaanku.
“May I be your mine?” tanyaku memegang lengannya dan menatapnya.
Ardi kembali menatapku tajam, “Sangat sangat sangat aku izinkan” senyum manisnya terpancar dalam wajah kebahagiaan.
Aku tersenyum malu, masih tidak percaya tentang semua yang terjadi.
“Tapi..”
“Tapi apa?” kataku dengan jantungku masih berdegup kencang.
“Kamu nggak malu? Kamu nggak takut bahagia pacaran sama aku, aku yang nggak bisa jalan, aku yang lemah, aku yang..”
Sebelum Ardi meneruskan pembicaraannya, aku menghentikannya dengan menggenggam kedua tangannya, “Kebahagiaan sejati sesungguhnya hadir ketika cinta merasuk jiwa tanpa sebuah syarat. Ketika aku bahagia dekatmu, ketika aku nyaman bersamamu, ketika aku gelisah melihatmu menangis, ketika aku takut jauh darimu, dan ketika semua mengalir bening layaknya air yang mengalir di lembah pegunungan.” kata-kata itu mengalun lembut dari bibirku.
Ardi menatapku penuh makna, senyum wajahnya terukir begitu indah. Itulah senyuman terindah yang pernah ku nikmati darinya.
“Cinta tak bersyarat, semoga selamanya seperti ini. Aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu dan tak perlu kau tahu” merapikan rambutku yang hampir menutupi sebelah wajahku.
Aku mengecup pipi kanannya.

**

        Kini hari-hariku bersemi bersamanya. Kebahagiaan itu kian muncul mewarnai hariku juga dirinya. Pernah tersakiti, tak menutup hatiku untuk kembali membukanya untuk orang yang tulus menyayangiku. Pelajaran lalu cukup berharga bagiku, mengajarkanku tentang sebuah arti ketegaran, kesabaran, dan keikhlasan.
        Berbulan-bulan, hampir setahun Ardi berteman sepi dengan kursi rodanya yang selalu menemaninya, kini kembali hidupnya berwarna. Perhotelan yang dahulu dikelola oleh mamanya ketika masih ada, kini diambil alih oleh Tuan Arditama Suryadinanta. Kini hidupnya kembali bersinar, kursi roda itu tak akan dibuangnya, menjadi saksi bisu cerita tentang aku dan dia.
“Sayang, bagus nggak?” menyerahkan sebuah kertas berwarna biru muda berpadu hijau ke hadapanku.
“Apa ini?” membuka perlahan.
Ardi tersenyum menatapku.
Dalam kertas itu tertera,

Arditama Radika Suryadinanta

&

Callista Noventia Pramudhana

“Ah, ini?” kebahagiaan tak dapat ku sembunyikan dari mimik wajahku setelah tahu itu adalah wedding invitation.
“Ya, will you marry me?” membuka kotak merah berisi cincin manis.
“Yes, I will honey” air mata haru mengalir diwajahku.
        Berniat menjalin silaturahmi, aku tak memutuskan untuk tidak mengundang Ferdy dan Brenda.

        Resepsi pernikahanku dengannya berjalan dengan lancar.
“Congrats ya?” kata Ferdy dihadapanku.
“Thank you. Brenda mana?” aku mencari-cari keberadaannya yang tak bersama Ferdy.
Ferdy menaikkan bahunya, kemudian menuju Ardi, dan berjabat tangan dengannya, “Jangan sia-siain wanita sebaik dia, Bro” menepuk bahu Ardi.
“Penyesalan memang selalu datang terakhir. Kini gue ngerasain semua itu. Pelajaran deh buat gue, jangan pernah sia-siain orang yang saat ini ada dihati” Ferdy berlalu meninggalkan pelaminan.

~ Tamat ~















Cinta tulus tanpa syarat seperti kupasan kulit kacang yang bersatu namun dipisahkan oleh kupasan tangan manusia karena biji kacang akan dimakan, namun kulit yang berpisah itu tak meminta syarat agar dipersatukan kembali walaupun terluka

~ Jodi Setiawan ~

















SINOPSIS

“Coba kamu lihat burung-burung itu!” tunjukku pada sekumpulan burung-burung yang akan pulang ke sarangnya. “Mereka tampak bahagia walau sebenarnya diantara mereka ada yang sedang sedih, entah apa yang mereka rasakan, mereka tetap bisa terbang tinggi, berkumpul bersama hingga petang ini.” menatap langit.
Langit kian gelap, matahari tampak bergulir menuju peraduannya. Rintik hujan kembali turun, aku membawa Ardi kembali ke mobil untuk segera pulang. Secepat mungkin aku mendorong kursi rodanya itu, takut hujan akan semakin deras dan membasahi tubuhnya. Sampai di mobil, aku mengusap wajahnya yang terkena rintikkan air hujan. Perlahan aku usap, memakaikan jaket ke tubuhnya karena cuaca sangat dingin kala itu.

Komentar

dwi sekti handayani mengatakan…
hihi :) nice adhel :D