Terima kasih kepada Tuhan yang selalu memberiku imajinasi dalam menulis
novel ini
Ku persembahkan dengan cinta untuk ibu dan ayahku serta
sahabatku tercinta sebagai hadiah terakhir selama masa-masa indah SMA,
~ Dian Utami
~ Novi Dwi Setiani
~ Rizka Wulan Sari
~ Ervina Nito Haryani
~ Hanna Chairunnisa
~ Novianti Ekaningsih
Juga seseorang yang jauh disana yang tak pernah hentinya
memberi motivasiku dalam menulis, Gantar Historia Anandari Muliahara
Kehidupan layaknya air yang mengalir
Tenang, sejuk, damai namun tak pernah diam
Suatu saat nanti,
air itu akan berhenti pada tempat yang sudah disiapkan
tak perlu banyak menuntut menjalani hidup serba istimewa
jalani apa adanya
karena kebahagiaan hidup adalah disaat kita mampu menerima segala
sesuatu apa adanya dan tetap menjalaninya dengan hati yang damai
~ Adhelita Audina Pradanti ~
KALA CINTA BERNUANSA BENING
Oleh: Adhelita Audina Pradanti
Air hujan yang mengalir begitu deras teramat sangat
menenangkan. Gemericik air yang mengalun lembut ditelinga, membuatku hanyut
dalam kedamaiannya. Tetes demi tetes air mengalir seirama. Lamunanku buyar
seketika pintu ruang praktikku terketuk, “Silakan masuk.” Jawabku sembari aku
menatap arah suara itu berbunyi.
“Ada pasien, Dok.” kata
suster yang mengantarkan data ke ruang praktikku.
“Oke.” jawabku sambil
melihat data pasien tersebut.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita setengah baya dengan
seorang pemuda berkursi roda masuk ke ruang praktikku. Mungkin aku sudah
terbiasa dengan fenomena wajah seperti yang ku lihat saat itu. Mereka duduk di
hadapanku. Ternyata wanita setengah baya itu adalah ibu seorang pemuda yang
bersamanya, pemuda itu terlihat diam dalam tatapan kosong yang terus menatap ke
bawah, jiwanya memang ada, namun seperti tak berpenghuni.
“Ada yang bisa saya
bantu, Bu?” tanyaku.
“Dok, tolong saya, ini
anak saya, dia mengalami gangguan mental sejak beberapa minggu lalu.” ujar Ibu
Winda.
“Hm, sebabnya apa, Bu?”
tanyaku sambil memeriksa kondisi Arditama Suryadinanta.
Pemuda itu mengelak ketika aku mencoba menyentuhnya,
memastikan keadaannya.
Ibu Winda beranjak dari
tempat duduknya, menceritakan masa kelam sebab anak tunggalnya menderita
gangguan mental.
“Ardi ditinggal pergi
tunangannya, Dok. Ya, ditinggal pergi untuk selamanya, peristiwa kecelakaan
maut itu merenggut nyawa Novita, tunangannya Ardi. Ardi begitu terpukul
mengalami kejadian itu, padahal dalam jangka waktu sebulan mereka akan melakukan
resepsi pernikahan. Ardi sangat berharap pada Novita, Ardi begitu mencintainya,
begitupun dengan Novita.” cerita Ibu Winda, berdiri menatap rintik sisa hujan
dari pepohonan yang ada di depan jendela ruang praktikku.
Aku berdiri di belakangnya mendengar dan mencoba menangkap
setiap kejadian yang diceritakan Ibu Winda.
Lanjutnya, “Kecelakaan
maut itu turut merenggut kebahagiaan Ardi, saya nggak tahu, Dok apa yang harus
saya lakukan. Ardi adalah pewaris tunggal perusahaan kami, mereka adalah
satu-satunya harapan kami. Tapi kalau dia begini, bagaimana bisa, Dok?” air
mata Ibu Winda mengalir tak tertahankan, berbalik menghampiriku dan Ardi.
Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan setelah
mendengar dan mengerti setiap kejadian yang diceritakan Ibu Winda.
“Memanglah, tak mudah
menerima kenyataan pahit seperti yang dialami Ardi ini, namun setiap masalah
selalu ada hikmah yang terpendam kok, Bu.” Kataku sambil mengelus pundak Ardi,
kini Ardi mulai beradaptasi denganku meski terkadang ia sedikit berontak ketika
aku sentuh.
“Tolong saya, Dok.” harap
Ibu Winda.
“Iya, Bu. Saya akan
membantu sebisa saya.” jawabku tersenyum.
Pemuda seperti Ardi sangat disayangkan memiliki mental yang
tidak terlalu kuat, sehingga ia larut dalam kesedihannya yang membuat mentalnya
sedikit terganggu karena bayangannya dimasa lampau.
“Saya punya tempat
rehabilitasi, Bu. Kalau Ibu bersedia, saya akan tempatkan Ardi disana agar saya
bisa memantau keadaannya. Bagaimana?” tanyaku pada Ibu Winda.
Ibu Winda terlihat diam, memikirkan penawaranku yang mungkin
terasa berat untuk diterima seorang Ibu Winda yang teramat sayang pada
Arditama.
“Apa nggak bisa dokter
aja yang ke rumah saya setiap hari? Saya akan bayar semau dokter, tenang saja. Untuk
sementara, dokter saya sewa dulu ya untuk menangani permasalahan anak saya ini,
Dok. Saya mohon, Dok” Ibu Winda terlalu berharap.
Sejenak aku memikirkan tentang keputusan apa yang akan aku
ambil. Ibu Winda terus memohon dan memohon kepadaku.
“Dok, apa dokter butuh
kamar untuk menginap di rumah saya selama terapi kejiwaan anak saya? Takut
dokter lelah bolak-balik. Saya mohon dokter.” Ibu Winda keras berharap.
Akhirnya, aku mantapkan hatiku untuk menerima tawarannya Ibu
Winda. Bukan karena materi aku menerimanya, melainkan aku sangat tidak punya
hati melihat keadaan Ardi dan Ibu Winda. Pemuda seperti Ardi seharusnya hidup
bahagia dengan apa yang dia punya saat ini.
“Iya, Bu. Saya coba
untuk menerima tawaran yang Ibu tawarkan.” kataku sambil tersenyum dan mengelus
pundak Ardi, lagi.
**
Ku baringkan tubuhku di atas kasur bermotif mickey yang
tertata rapi di kamarku. Tatapanku terfokus pada atap-atap langit kamar.
Membayangkan apa saja yang akan aku alami disana ketika aku menjadi psikolog
pribadinya Ardi.
Dinginnya malam itu begitu menusuk aku rasakan. Pikiranku
terus tertuju pada sosok Ardi tadi yang sangat menggugah hatiku untuk
megembalikannya kekeadaan awal. Sejujurnya aku masih belum yakin dengan
keputusan yang telah aku sampaikan pada Ibu Winda. Namun, jauh di dalam hati
kecil, aku sangat ingin mengembalikan Ardi pada sosok dia semula.
Hingga malam semakin larut, tak terasa aku tertidur pulas.
“Hei dokter cantik,
minum dulu nih teh hangatnya.”
“Makasih
sayang, kok belum tidur sih?”
“Mau
nemenin kamu dulu ah, tidur yuk, udah malam nih, lanjutin besok aja nulisnya”
Bukan
aku yang mencarimu, bukan kamu yang mencari aku, cinta yang mempertemukan dua
hati yang berbeda ini. Handphone yang ku letakkan di meja kamar berdering.
Dengan mata yang masih setengah terbuka, aku mengambil telepon itu dan melihat
siapa yang tega malam-malam mengganggu tidurku.
“Halo..”
aku yang masih sangat ngantuk.
“Halo,
Dokter Callista ya? Maaf ganggu dokter, ini saya Ibu Winda.” Jawab seseorang
diseberang sana.
Aku
langsung memposisikan diriku untuk duduk, “Oh iya Ibu Winda, ada apa?”
“Saya
cuma mau memastikan aja dokter benar yakin kan menerima tawaran saya?”
Sejenak
aku terdiam, pikiranku kembali melayang pada hal yang aku pikirkan sebelum
tidur tadi.
“Dok..
Dokter Callista, mau kan tolongin saya? Tolong Ardi?” panggil Ibu Winda.
“Hm iya iya, Bu”
Obrolan itu tertutup ketika Ibu Winda
mendapat keyakinan atas keputusanku.
Tapi
apa maksud dari mimpiku tadi ya? Haha mungkin aku memang sudah butuh seorang
pendamping hidup untuk umurku yang semakin membesar. “Tapi kok, kenapa Ardi
yang jadi suamiku dimimpi itu?” gumamku dalam hati. “Hmm mungkin karena aku
kepikiran Ardi sedari tadi.”
**
“Makan
dong, sayang.”
Ardi
hanya diam, menggeleng, tanpa sepatah kata, menatap jendela kamarnya dengan
pemandangan taman rumahnya yang begitu damai.
“Minum
dulu susunya” Bu Winda menyuguhkan.
Praaang!
Gelas itu ditampik oleh Ardi yang memang terkadang suka hilang kendali dan tak
jarang Bu Winda hanya bisa meneteskan air matanya dikala Ardi sedang hilang
kendali menahan emosi dirinya.
“Mbak
Rina.. Mbak..” panggil Bu Winda pada pembantunya.
Mbak Rina yang segera berlari membawa diri ke kamar Ardi
menghampiri sang majikan.
“Tolong bersihin, Mbak”
“Iya
baik, Bu.” Mbak Rina mengambil perlahan serpihan-serpihan gelas kaca yang
berserakan di kamar Ardi. “Den Ardi, cepat sembuh dong, saya nggak tega ngeliat
Den Ardi terus kaya gini.” sambil membersihkan kamar Ardi dari pecahan gelas
kaca dan air susu yang tadi ditampik Ardi, “Den Ardi biasanya ceria, hampir
nggak pernah murung, ayo dong Den sembuh, Mbak Rina kangen sama candaannya Den
Ardi yang renyah.” Mbak Rina mencoba mengajak bicara Ardi dan Ardi tetap pada
posisi semula.
Ibu Winda yang sedang memberi makan
ikan-ikan hias peliharaannya Ardi, tak dapat menahan tetesan air matanya. Ibu
Winda duduk di jembatan kolam ikan hias milik Ardi dengan tatap kekosongan
memikirkan keadaan Ardi. Ricikkan air yang tenang, ikan berenang kesana kemari
mungkin menjadi hiburan tersendiri bagi Bu Winda yang kini sangat merasa
kesepian yang mendalam. Biasanya, Ardi dan dan Novita yang menemaninya,
bersenda gurau, mendengar celotehan renyah Ardi, mendengar curhatan Novita.
Kini seolah semua lenyap tak tersisa bersama kenangan yang teramat indah untuk
seorang Ardi begitu juga Ibu Winda.
“Ya Tuhan, mengapa semua terasa begitu berat? Kepada siapa
aku harus membuang semua beban perasaanku? Kini aku merasa aku sudah tidak
punya siapa-siapa untuk berbagi cerita, kebahagiaanku seolah semua terkubur
dalam bersama luka yang dialami anak tunggal yang teramat aku sayang. Harapanku
musnah bersama cerita yang dialami Ardi. Tuhan, Ardi alaha kekuatanku hidup.”
Batin Bu Winda berucap bersama tetesan air mata yang mengalir lembut diwajah
cantiknya.
**
Aku mengambil handphone dari dalam tas,
dan mencari kontak Ibu Winda.
“Halo
Bu Winda?” sapaku.
“Iya,
dok?”
“Maaf,
Bu saya ke rumah ibu agak telat, ada urusan yang harus saya selesaikan hari
ini. Nggak apa-apa kan, Bu?” tanyaku.
“Oh
iya, dokter nggak apa-apa kok. Saya tunggu ya, dokter.”
Sesegera mungkin aku langsung
menyelesaikan urusanku dan langsung menuju rumah Bu Winda.
Mengambil selembar kartu nama dari dalam
dompet, mengendalikan mobilku menuju rumah alamat rumah Bu Winda yang tertera
dikartu nama itu.
“Assalamualaikum”
menekan tombol bel rumah mewah itu.
Beberapa
menit kemudian, suara pintu terbuka, aku membalikkan tubuhku menatap ke arah suara
itu, “Cari siapa, Non?” tanya Mba Rina.
“Bu
Winda ada?”
“Oh
ada, sebentar ya saya panggilkan.” Mba Rina berlari pelan menuju kolam ikan di
belakang rumahnya.
Aku tertuju pada sebuah kaca jendala
yang bersebrangan dengan depan pintu tempatku berdiri, dari kejauhan terlihat
Ardi yang duduk di sebuah kursi roda menatap kosong rumput-rumput hijau yang
terlihat di sekeliling rumahnya. “Kasihan sekali.” hatiku bergumam. “Mungkin
Tuhan sedang menguji kesabaran keluarga ini.”
“Dokter
Callista, silakan masuk, Dok.”
“Oh
iya terima kasih Ibu.”
Ibu Winda langsung mengajak aku ke ruang
dimana Ardi terpaku tanpa asa.
“Begitulah
keadaannya. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik. Entah apa yang
harus saya lakukan, saya tak bisa berbuat banyak padanya.” cerita Bu Winda
tanpa pengharapan.
”Semoga
saya bisa membantu ya, Bu? Ibu sabar saja, semua masalah pasti ada solusinya
kok.” merangkul pinggang Bu Winda, mencoba menenangkan.
Bu Winda menghela napasnya perlahan
seolah melepas segala beban yang dirasakannya meski hanya sedikit.
“Ayo
dokter saya tunjukkan ruang kamar yang akan dokter pakai selama berada di rumah
saya” ajak Bu Winda.
Sampai disebuah ruang yang sangat rapi dan sangat nyaman.
“Makasih,
Bu Winda.” Meletakkan koper milikku di samping tempat tidur.
Bu Winda memberiku waktu untuk istirahat
dan membereskan koper milikku karena aku pun tidak tahu sampai kapan aku akan
berada disini. Sampai Ardi pulih, pastinya.
**
“Bu
Winda, sendirian aja nih?” sapaku sembari duduk di kursi sebelahnya.
“Yaa
beginilah, Dok.” Menatapku, tersenyum penuh luka.
“Saya
mau ke kamar Ardi dulu ya, Bu?”
“Silakan,
Dok.”
Menyusuri beberapa ruangan di rumah yang
terbilang teramat besar untuk penghuni berjumlah 3 orang itu.
“Apa
kabar, Ardi?” sapaku begitu memasuki kamarnya.
Seperti
biasa, tanpa sepatah kata Ardi terus pada sikap semulanya.
Aku
menghampirinya, aku yakin sebenarnya dia ingin menjawab pertanyaanku, namun
kepedihan yang dialaminya seolah menutup semua sarafnya untuk bekerja.
“Manusia
layaknya tidak terlalu larut dalam kesedihan, seperti air yang terus mengalir
dalam haluannya, bening dan menyegarkan.” membuka kain bening yang menutupi
jendela kamarnya. Cahaya matahari memancar langsung ke wajah Ardi. Ardi
mengernyitkan dahi dan matanya terlihat menyipit menolak pancaran hangat itu.
“Lihatlah
matahari itu, bersinar dengan tegasnya. Memancarkan kehangatannya. Walau
beberapa sebagian orang tak mengharapkan kehadirannya, matahari tetap bersinar
dengan lantang.”
Ardi tetap tak menghiraukan semua perkataanku, tapi aku yakin
dia mengerti apa yang aku bicarakan, dalam hati kecilku, aku merasa dia tidak
mengalami gangguan mental, namun dia hanya terlalu larut dan jatuh dalam luka
yang teramat dalam dan sulit untuk bangkit kembali.
“Dokter,
ini sarapan buat Den Ardi, kalau dokter mau sarapan, ada di bawah, sudah
ditunggu nyonya.” kata Mba Rina sambil meletakkan setangkup roti dan segelas
susu ke meja kamar Ardi.
“Iya
makasih, Mba. Bilang Ibu Winda duluan aja.” pintaku.
Mba Rina berlalu meninggalkan kamar
Ardi.
“Dimakan
dulu ya?” aku mengambilkan piring berisi roti itu untuknya.
Ardi
menggeleng. “Minum susu mau?” tanyaku, dan Ardi memberikan jawaban yang sama.
“Terus
kamu maunya apa? Nggak lapar?” tanyaku meski aku tahu jawaban dia.
Kembali ku letakkan makanan itu di atas
meja.
“Kamu
mau jalan-jalan keluar ya?” reflek pertanyaan itu terucap seketika aku menatap
matanya dan kali ini jawaban yang diberikannya pun berbeda. Dia mengangguk, dan
itu tandanya dia mau.
“Yuk!”
aku langsung memutar kursi rodanya dan membawanya keluar.
Aku
membawanya ke halaman rumah, mengajaknya menikmati rerumputan hijau dengan
embun-embun pagi menyejukkan. Kemudian aku membawanya ke taman dekat rumahnya,
menikmati panorama indah syarat akan kedamaian.
“Seharusnya,
kalau kamu ngerasa bosan, kamu kesini aja, sendirian kan lebih enak, tanpa
harus ajak mama. Coba lihat bunga mawar warna-warni itu, indah banget kan?
Mereka saling bermekaran, mencerahkan tempat indah ini, mewarnai kegiatan pengunjung
disini setiap harinya. Saya ingin, ingin sekali menjadi seperti itu, kamu juga
pastinya. Iya, kan?” ujarku menatap bunga itu.
Ardi menangis, memejamkan matanya, air
matanya mengalir. Entah apa yang sedang dia rasakan, aku pun tak mengerti.
“Kamu
kenapa?” mengusap air mata yang mengalir dipipinya.
Aku
membawanya pulang setelah kurang lebih berada setengah jam di tempat itu.
Mungkin ada kenangan tersendiri tentang Ardi dan masa lalunya atau memang dia
merasakan setiap bait kata yang terucap dibibirku tadi, entahlah.
Sepanjang jalan, aku mencoba memasangkan
earphone ditelinganya dan ku perdengarkan musik-musik instrument yang sangat
lembut didengar. Berharap bisa menenangkan jiwa dan pikirannya, sedikit
mengubur dalam kepedihannya yang teramat mendalam. Ku biarkan dia menikmati
setiap alunan musik yang didengarnya sembari terus aku membawanya pulang.
Sesampainya di rumah, aku letakkan dia
di tempat favoritnya, dibalik jendela, menatap ke arah halaman belakang
rumahnya yang asri, penuh nuansa kesejukkan. Aku tinggalkan sejenak dia di
kamar itu tanpa melepas earphone yang ku pasang tadi ditelinganya.
**
“Darimana
aja, Dokter?” tanya Bu Winda yang sedang duduk di sofa di ruang tv.
“Ngajak
jalan-jalan Ardi, kayaknya dia jenuh, butuh udara luar.” ceritaku.
“Yah kalau
saya bisa ngajak jalan-jalan setiap hari juga pasti saya lakuin, Dok. Tapi saya
juga kan harus kerja, intinya sih ya buat dia juga sih.” ujar Ibu Winda dan aku
hanya tersenyum.
“Dokter
sarapan dulu sana, belum sarapan kan?” Bu Winda mempersilakan.
Ketika aku hendak menuju meja makan,
mataku tertuju pada sebuah bingkai foto yang tertata rapi di lemari yang
letaknya tidak jauh dari meja makan, ya tepatnya di samping piano. Aku
memperhatikan detail foto-foto yang terpajang rapi di lemari itu. Tiba-tiba Bu
Winda menghampiriku yang sedang serius memperhatikan setiap potret dalam
bingkai tersebut.
“Itu
foto keluarga besar saya, Dok.” ucap Bu Winda menunjuk bingkai paling besar di
lemari itu.
Aku
mengangguk, turut memperhatikan arah tangan telunjuk Bu Winda, “Oh iya, kalau
boleh tahu, bapaknya Ardi kemana, Bu? Dari kemarin saya belum pernah melihat?”
tanyaku sambil tetap melihat potret demi potret bingkai yang terpajang di
lemari itu.
“Ayahnya
Ardi sudah meninggal sejak 2 tahun lalu, serangan jantung yang dideritanya
merenggut nyawanya diumur 50 tahun.” cerita Bu Winda penuh tatapan kosong.
“Hm,
maaf Ibu, saya minta maaf banget, saya nggak tahu.” terkejut mendengar cerita
itu.
“Nggak
apa-apa kok, Dok. Itulah alasan saya, saya nggak menyetujui penawaran dokter
lalu untuk membawa Ardi ke pusat rehabilitasi milik Dokter Callista. Mengusap
setetes air mata yang mengalir dipipinya, “Rumah ini sudah sangat sepi, kalau
Ardi dibawa ke tempat itu, bagaimana dengan saya, Dok? Saya semakin tidak punya
tujuan hidup dan.. semakin saya tidak punya kekuatan untuk tetap berdiri. Ada
Dokter Callista disini saja saya sudah merasa mampu untuk bangkit lagi.”
senyumnya tergambar diwajahnya, meski sebenarnya terlalu banyak luka yang
terpendam.
“Iya,
Bu. Badai pasti berlalu, yakinlah. Semampu saya, saya akan coba jalani ini,
membantu Ibu yang sudah saya anggap seperti keluarga saya.” mengelus punggung
Bu Winda dengan lembut.
“Terima
kasih, Dokter. Saya yakin kok pasti dokter bisa. Hati dokter penuh ketulusan.”
senyum Bu Winda.
“Ah Ibu
bisa aja deh.” aku malu-malu.
Aku melanjutkan tujuan utamaku untuk
sarapan yang sempat tertunda karena mengajak Ardi keluar dan terfokus pada
setiap potret kenangan Ibu Winda.
**
Siang itu panas matahari begitu terik
membakar bumi. Teringat akan Ardi yang sedari pagi belum makan, aku
melangkahkan kaki menghampirinya di kamar bernuansa coklat muda nan elegan.
“Hei
Ardi.. Betah banget sih diam disini terus?” sapaku sambil membawakan makanan
untuk Ardi.
Duduk
di pinggir tempat tidur, “Karena tadi saya sudah ajak kamu jalan-jalan,
sekarang kamu makan, ya?” mengangkat sesendok bubur ayam kesukaannya.
Ardi menghindarkan mulutnya dari arah
sendok yang aku suguhkan. Meletakkan sendok ke atas piring, “Kali ini aja,
please. Terima yang aku suguhkan, aku mohon.” pintaku dengan penuh harap.
Tanpa
berkutik, Ardi tetap tak menghiraukan. Aku terus mencoba, “Arditama
Suryadinanta, makan ya?” dengan senyum yang melengkung dibibirku. Tetap, dia
menolak apa yang aku berikan.
Aku beranjak dari sisinya. Kembali mataku
tertuju pada sebuah bingkai foto yang tergelatak di atas tempat tidur bermotif
garis zig-zag. Aku hampiri dan aku mengambilnya yang tergeletak terbalik di
atas tempat tidur itu.
“Oooh”
kepalaku reflek mengangguk dan melihat Ardi. Tak lama, hanya beberapa menit
saja aku pandangi potret masa lalu seorang Arditama bersama tunangannya yang
teramat disayangnya itu. Tak mau menambah kesedihan yang dialami, aku
meletakkan kembali potret itu di atas kasur, posisi awal bingkai itu ada.
Matahari yang begitu terik memancar
tepat ke arah jendela kamar Arditama. Aku segera melepas ikatan kain itu. Jendela
itu tertutup, pemandangan luar pun tak lagi terlihat, hanya motif-motif kain
coklat muda padu dengan dinding kamar elegan itu.
“Saya
pernah berpikir, andai saya bisa memilih, saya ingin rintik hujan yang terus
membasahi bumi ini. Namun, sejenak saya terpikirkan kembali, andai itu terjadi,
bumi ini bahkan dunia ini pasti sangat monoton, setiap saat hujan, setiap saat
air yang yang ditemui. Kemana-mana pasti butuh jas hujan atau payung.”
Berdiri di sebelah kursi roda Ardi, menatap motif-motif kain
yang terpasang di jendela kamar elegan itu, “Seperti itulah hidup, tak
selamanya harus bahagia, kadangkala kita harus juga merasakan sakit, bahkan
yang terdalam sekalipun. Namun jangan pernah jadikan semua itu alasan untuk
kita terus tenggelam dalam keterpurukan. Kalau luka yang kita alami sebenarnya
mampu membuat kita menjadi manusia yang lebih tegar dan sabar, bukankah itu
baik? Dan bukankah Tuhan memang menciptakannya dengan tujuan seperti itu?” ku
genggam kedua tanganku, ku hembuskan nafasku perlahan. Berharap Ardi mengerti
semua yang aku katakan dan mampu mengembalikan dirinya kekeadaan semula. Karena
sebenarnya hanya dia yang mampu mengembalikan keadaannya sendiri, aku hanyalah
mediasi proses pemulihannya.
**
“Ya,
Des? Ada apa?” memasangkan telepon ke telinga sebelah kiriku.
“Nggak
apa-apa. Pengin tahu aja keadaan lo.” suara Dessy yang lembut terdengar merdu.
“Kabar
gue baik nih, Des. Lo gimana? Senang nggak disana?”
“Gue
juga baik kok, Ta. Ketemuan yuk?” tawa pelan Dessy terdengar samar.
“Hah?
Lo udah balik?” kataku terkejut.
Berjalan
ke arah beranda kamar, “Baru aja sampai Jakarta, mau langsung ke Bandung,
kangen nih gue sama lo.”
“Sama,
Des. Gue juga. Nanti gue kabarin lagi deh ya?” kataku senang.
“Wah,
sibuk ya Ibu Dokter Callista?” canda Dessy.
Sejenak teringat masa-masa SMA bersama
Dessy. Sejak umur 13 tahun aku sudah mengenal Dessy, dialah sahabat terbaikku.
Hingga umur kami mencapai 25 tahun, hubungan itu tetap terjaga.
Menenggak
teh hangat dari secangkir gelas, memikirkan kapan waktu yang yang tepat untukku
bertemu dengan sahabat lamaku, karena disini aku juga bertugas menjaga anak
tunggal Ibu Winda Suryadinanta.
“Tidak
mungkin aku membawa Ardi ikut bertemu dengan Dessy.” gumamku dalam hati.
Aku menghampiri Bu Winda untuk meminta
izin keluar, walau bagaimanapun juga, aku tamu di rumah mewah itu, jadi
kemana-mana aku harus izin pada sang empunya rumah. “Mba Rin, Bu Winda dimana?”
tanyaku pada pembantu rumah itu yang sedang sibuk membersihkan perabotan rumah
dari debu.
“Biasanya
sih di taman, Dok.”
Segera aku menghampirinya. Terlihat Bu
Winda sedang memberi makan ikan hias peliharaan Ardi.
“Wah,
Ibu rajin ya?” sapaku mencairkan suasana.
“Eh,
Dokter. Iya nih, ikan-ikan ini punya Ardi. Ardi sayang banget sama ikan-ikan
ini. Namun semenjak dia begitu, ikan ini nggak ada yang ngurus lagi.”
ceritanya, melemparkan makanan ikan ke kolam.
“Bu,
saya mau minta izin keluar besok pagi, kemungkinan sampai siang, sahabat lama
saya yang baru pulang dari Jepang, sekarang sudah disini. Boleh kan, Bu?”
“Ya,
boleh dong, Dok. Santai aja.” senyum Bu Wina, mengizinkan.
“Terima
kasih, Bu. Boleh saya bantu kasih makannya?” tawarku.
Bu
Winda memberikan makanan ikan itu padaku.
**
“Lo
dimana, Ta?” terdengar suara Dessy dispeaker handphone.
“Iya
ini gue lagi on the way, sayang. Sabar dikit kenapa?” jawabku tetap konsentrasi
pada kemudi mobil yang aku bawa.
Pagi itu sedikit mendung, entah mau
hujan atau tidak, tapi awan pagi saat itu sangat gelap. Embun di kaca mobil
mengganggu pemandanganku, aku turunkan kecepatan mobil yang aku bawa. Ternyata,
hujan turun sedikit demi sedikit, angin berhembus cukup kencang, terlihat
pepohonan di pinggir jalan mengayun kencang mengikuti arah angin itu. Semakin
pandanganku sedikit terganggu pada embun dan air hujan yang menghalangi kaca
mobilku.
Terdengar suara gaduh di samping
mobilku.
“Oh My
God!” gumamku dalam hati. Segera aku pinggirkan mobilku, dan aku ambil payung
yang memang sudah tersedia selalu di kursi belakang mobilku.
“Ya
ampun, kita ke dokter ya, Dik? Maafin kakak, Dik.” terlihat gadis perempuan
berseragam putih merah tergeletak jatuh di pinggir jalan bersama dengan sepeda
mininya. Jas hujan hijau yang dikenanya melindungi seragamnya dari guyuran air
hujan yang deras.
“Aku
nggak apa-apa kok, Kak.” katanya sambil berusaha mengambil sepedanya kembali.
“Kakak
anterin aja ya? Ayo, masukkin sepedanya ke mobil kakak!” ajakku sembari
membantunya memasukkan sepeda ke dalam bagasi mobilku.
Aku sangat merasa bersalah pada gadis
kecil itu. Hujan deras, angin kencang tak menghalangi gadis kecil itu untuk
tetap menuntut ilmu.
“Tadi
aku cuma kecipratan kubangan air pas mobil kakak lewat di sebelah aku, terus
airnya masuk ke mata aku, pas aku lagi ngucek mata aku, mata aku buram, eh aku
jatuh deh.” cerita anak itu polos sambil membuka seisi tasnya. Mungkin
memastikan basah atau tidak barang seisi tasnya.
“Oooh..
Tapi kamu baik-baik aja kan, Dik?” aku memastikan.
“Iya,
Kak.” senyumnya.
“Oh
iya, kamu sekolah dimana, Dik? Tunjukkin ya jalannya?”
“Oke,
Kak!” menunjukkan ibu jari gadis kecil itu.
Beruntung, hujan dan angin sudah mereda.
Beruntung pula gadis kecil itu baik-baik saja.
“Callista,
lumutan nih gue! Lama banget sih lo?” protes Dessy.
“Iya,
Dessy sayang, sabar ya? Sebentar lagi sampai nih.” rayuku menenangkan hati
Dessy yang sudah sangat kesal menungguku hampir 2 jam.
Terlihat Dessy sedang menikmati kopi
favoritnya ala Café Starbucks. Aku masih ingat, tak lain dan tak bukan, itu
pasti Cappucinno Latte yang sedang ada di hadapannya.
“Sorry,
honey. Tadi ada tragedi sedikit, hehe.” cipika-cipiki.
“Hadeuh,
abis 2 cangkir nih gue, Ta!” protes Dessy lagi.
Seorang pelayan café itu menghampiri
mejaku, memberikan buku menu ke meja tempat aku dan Dessy ada.
“Eh lo
gimana disana? Kangen banget gue sama lo, Dess!” aku memulai.
“Yaah,
enak nggak enak lah, Ta. Disana gue jarang banget makan nasi, ya ampun
benar-benar susah banget buat nyari beras. Makanya begitu sampai Bandung
kemarin gue langsung makan nasi goreng 2 piring, boooo!” ceritanya disertai
tawanya yang terbahak.
Aku yang mendengarnya juga tak habis
pikir kalau Dessy sampai segitunya. “Kasihan banget sih lo, Dess. Bawa padi
dong dari sini, hahaha” candaku.
“Gila,
lo!” kata Dessy menenggak minuman dicangkirnya.
Pelayan café datang membawa pesanan aku
dan Dessy. “Makasih, Mba.” Menggeser pesanan Dessy mendekat padanya.
“Lo
gimana disini? Sibuk banget kayaknya, Bu Dokter?” ledek Dessy.
“Ah lo
bisa aja, Dess. Gue lagi disewa buat pemulihan orang nih, Dess.” ujarku.
“Hah?
Maksudnya gimana, Ta?” sambil memotong strawberry cake.
“Iya,
jadi ibu itu punya anak, anaknya lumpuh, mentalnya juga sedikit terganggu, tapi
kalo menurut gue dia Cuma frustasi tingkat tinggi aja sih gara-gara ditinggal
mati tunangannya, kecelakaan.” ceritaku.
“Lah
terus pusat rehabilitasi milik lo gimana tuh?” tanya Dessy serius.
Menyuap tiramisu cake, “Ya itu mah kan ada orang-orang
kepercayaan gue yang gue suruh buat bantu gue ngurus juga, jadi gue ngecek aja
sih paling kalo sempat, nah yang gue tinggalin sementara tuh jadwal praktik gue
di rumah sakit.”
“Jadi
lo menginap gitu di rumah dia? Berapa lama?” tanya Dessy.
“Yap.
Entahlah, Dess. Sampai dia kembali kekeadaan semula pastinya. Nyokapnya kasihan
banget, Dess. Gue nggak tega ngelihat nyokapnya, sumpah deh!”
“Gila
lo, Ta. Berubah banget ya?” celetuk Dessy.
“Maksud
lo?” dahiku mengernyit.
“Ya
dulu kan lo cuek banget, Ta. Benar-benar bukan jiwa lo yang sekarang deh.”
cerita Dessy mengingat masa SMA.
“Yee
kacrut!” mengacak-acak poninya Dessy yang membuat wajahnya terlihat begitu
imut.
Sekitar lebih dari 3 jam kami
bernostalgia. Aku memutuskan untuk pulang.
Saat
aku kendarai mobil, aku melihat selembar kertas dibawah kursi mobil tempat
gadis kecil duduk tadi.
“Apa
nih?” batinku.
Tertera
biodata siswa di kertas itu. Sepertinya penting, aku langsung mengarahkan
mobilku ke alamat yang tertera di kertas itu.
**
Rumah yang sederhana, bahkan teramat
sederhana berdiri setengah rapuh di daerah yang sangat sunyi. Penerangan pun mungkin
sangat minim sekali. Aku langkahkan kaki menuju rumah mungil itu, memperhatikan
sekeliling rumah tersebut. Alas tanah pun menjadi lantai rumah itu, tanpa
keramik, ya.
“Benar
ini rumah Tamara Devina?” membuka lembaran kertas yang masih rapi ku pegang.
Seorang
pria berada di depan pintu rumahnya menatapku penuh tanda tanya, “Iya, itu adik
saya. Mba siapa ya?” tanya pria itu.
“Oh,
saya Callista.” menjulurkan tanganku. “Saya Noval, Mba.” jawabnya.
“Silakan
masuk dulu, Mba. Maaf begini keadaannya.” Noval merendah.
Memasuki ruangan yang memang hanya ada
satu ruang dalam rumah itu, beralaskan tikar, dan aku duduk bersila
menceritakan semua kejadian yang aku alami bersama adiknya, Tamara. Segelas air
putih tersedia di hadapanku. “Diminum, Mba. Maaf cuma ada ini aja.”
“Iya
terima kasih.”
“Pasti
si Mara bingung deh nyariin biodata ini.” gumam Noval pelan.
“Iya,
saya juga baru lihat beberapa jam kemudian. Penting banget ya biodata itu?”
tanyaku.
“Biodata
ini untuk pengajuan siswa tidak mampu di sekolahnya Mara, Mba. Kalau tidak
menggunakan biodata ini, Mara harus melunasi administrasi sekolahnya, kalau
tidak dia tidak bisa ikut ujian, Mba.” ceritanya sambil memandangi selembar
kertas itu.
“Oh
ya? Mara pulang jam berapa? Kalau begitu saya antar saja ya ke sekolahnya?”
mengambil kunci mobil dari dalam tasku.
“Ah,
nggak usah, Mba. Sebentar lagi Mara pulang kok. Mungkin besok masih bisa.”
ujarnya.
Benar saja, beberapa menit kemudian,
suara sepeda berhenti di depan rumah itu. Langkah kaki terdengar mendekat, “Assalamualaikum.”
suara gadis kecil, imut.
“Waalaikumsalam.”
“Abang,
biodata Mara hilang. Mara nggak boleh ikut ujian.” rengek Mara pada abangnya.
“Kata
siapa hilang? Ada nih.” Noval menunjukkan selembar kertas pada Mara yang duduk
di sebelahnya.
“Eh kakak
yang tadi.” kata Mara setelah sadar melihatku.
“Hei”
senyum.
Wajah Tamara tampak tetap terlihat sedih
meski dia sudah tahu biodatanya tidak hilang.
“Percuma,
Bang. Hari ini hari terakhir, mau nggak mau Mara harus melunasi administrasi
kalau mau ikut ujian. Gimana ya, Bang?” wajah Mara tampak bingung.
“Hm,
nanti kita ke sekolah aja. Kakak yang bertanggung jawab deh, Mar.”
“Wah
nggak usah, Mba. Biar ini saya aja yang urus. Makasih banget loh Mba udah
ngembaliin biodata ini.” tolak Noval.
Dalam hati aku sangat merasa bersalah.
Kasihan sekali mereka harus melunasi administrasi yang menyangkut masa depan
Tamara, sedangkan biaya untuk makan sehari-hari pun sangat sulit.
Tamara
sepulang sekolah harus membantu abangnya mengurus ternak orang lain, dan upah yang
diberikannya sangat tidak sebanding dengan keringat yang harus mereka
keluarkan.
Mereka memang hanya tinggal berdua.
Orang tua mereka pergi merantau sejak 5 tahun yang lalu, namun sampai sekarang
mereka tidak pernah tahu bagaimana kabar orang tua mereka, bahkan mereka pun
tidak tahu entah kemana orang tua mereka pergi. Noval cerita banyak denganku
selama menunggu Tamara pulang sekolah.
“Ya
sudah, saya pamit dulu ya?” kataku.
“Iya,
Mba. Hati-hati di jalan ya? Terima kasih banyak sekali lagi.” senyum Noval
terhias diwajahnya.
“Daaa
kakak..” teriak gadis kecil itu setelah aku hampir sampai di depan pintu
mobilku. Aku melambaikan tangan padanya.
Di dalam mobil, pikiranku tak habis
pikir pada keadaan kakak beradik itu. Hebat sekali mereka, mampu hidup berdua
dengan segala keterbatasan. Pikiranku langsung tertuju pada sekolah Tamara,
hari itu juga aku langsung menuju sekolahnya Tamara untuk menghapus sedikit
rasa bersalahku.
“Ada
yang bisa saya bantu, Mba?” sapa hangat Tata Usaha sekolah itu.
“Saya
mau melunasi biaya administrasi atas nama Tamara Devina, Bu. Murid kelas 6.”
“Sebentar
ya, Mba saya cari dulu datanya.” terlihat wanita itu memperhatikan setiap deret
nama siswa yang tertera di layar komputer.
“Oh
ya, ada. Tamara Devina, siswa kelas 6A.” wanita itu memutar tubuhnya kembali
menghadapku.
Wanita itu menyebutkan nominal yang
harus dibayar, dan aku mengeluarkan sejumlah uang yang dimintanya.
“Kalau
ada yang nanya, jangan beri tahu identitas saya ya, Bu?” pintaku setelah
melengkapi data bukti pelunasan.
“Loh?
Memang kenapa?” wanita itu heran.
“Tolong
ya, Bu. Jangan diberitahu.” Menyerahkan kertas dan bolpoin pada wanita itu.
Wanita
itu hanya mengangguk, “Oh iya, Bu. Terima kasih.” berdiri, berjabat tangan.
“Sama-sama.”
**
Tubuhnya tertunduk di sebuah ruang tunggu sekolah itu.
Kakinya seperti bergemetar, mengharapkan sesuatu.
“Mas,
silakan!” seorang pegawai sekolah mempersilakan Noval untuk masuk ke ruang tata
usaha.
Noval melangkahkan kakinya menuju ruang
itu dengan penuh harap. Menarik kursi, duduk menunjukkan selembar kertas ke
hadapan pegawai tata usaha, “Bu, tolong adik saya, apa biodata ini sudah tidak
berlaku hari ini?” Noval menyerahkan selembar kertas bertuliskan biodata Tamara
Devina.
Wanita
itu memperhatikan biodata yang tertera di selembar kertas itu, “Sepertinya
kemarin sudah lunas atas nama Tamara Devina.” Mengernyitkan dahi.
“Maksud
ibu?” tanya Noval bingung.
“Sebentar,
Mas.” wanita itu memastikan mengecek data di komputer.
Noval tetap tidak mengerti dan hanya
memperhatikan kesibukan wanita itu mencari data di komputernya.
“Iya,
Mas. Atas nama Tamara Devina sudah lunas administrasi.” jelas wanita itu.
“Loh?
Siapa ya, Bu yang melunasinya?” mata Noval terbelalak ketika tahu administrasi
adiknya sudah dilunasi.
“Maaf,
Mas. Ini privasi sekolah, kami tidak berhak mempublikasikannya.” wanita itu
menjelaskan.
“Oh ya
sudah, Bu. Terima kasih.” mengulurkan tangan pada wanita itu.
“Sama-sama,
Mas.” menjabat tangan Noval seraya tersenyum.
Noval melangkahkan kaki keluar dari
ruangan itu. Pikirannya terus berputar menerka-nerka siapa dermawan yang
melunasi administrasi adiknya itu tanpa sepengetahuannya. Hingga saat sampai
rumah, pikirannya terbesit pada sosok wanita muda yang kemarin mengunjunginya.
“Mba, Callista?” pikirnya.
“Ya,
itu pasti Mba Callista yang melunasinya.” hatinya yakin pada terkaannya.
**
Sore itu hujan deras kembali membasahi
bumi. Mendamaikan, juga menyejukkan suasana.
“Arditama,
bagaimana keadaanmu? Ini susu manisnya diminum dulu ya?” membawakan segelas
susu vanilla kesukaannya.
Prang!
“Ya Tuhan!” gelas itu hancur berserakan di lantai kamar elegan itu dengan air
susu yang mengalir ke segala arah.
“Mba
Rina..” teriakku.
Dengan
langkah agak berlari, Mba Rina menghampiri sumber suara yang memanggil namanya.
“Ada apa, Dok?” tanyanya. “Ya ampun, Den Arga.” setelah melihat ke arah lantai
kamar Ardi sembari membersihkan kamar itu.
“Tenang,
Ardi.” memijat lembut kedua bahunya.
Duduk
bertekuk lutut di hadapan Ardi, “Aku tahu kamu bosan. Maaf ya seharian ini saya
sibuk dengan urusan saya. Untuk menebus dosa saya sama kamu hari ini, kamu mau
ya ikut saya?” senyum terukir di wajahku.
Tanpa pikir lama, aku membawa Ardi masuk
ke dalam mobil. Aku tahu, Ardi pasti suka tempat itu.
“Mba,
Bu Winda belum pulang?” tanyaku pada Mba Rina saat berpapasan di dekat tangga
rumah mewah itu.
“Belum,
Dok. Ibu biasanya pulang malam, ada yang bisa saya bantu, Dok?”
“Oh,
nanti kalau Ibu pulang, tolong sampaikan aja sama dia, aku sama Ardi mau
keluar. Ardi bosan di rumah terus. Ok, Mba?” kataku yang kemudian berlari kecil
menuju mobil, Ardi sudah menunggu.
Tatapan Ardi tak berubah, tetap pada
satu titik di hadapannya. Aku yang kerap kali melirik ke arahnya, entah mau
bicara apa. Namun aku selalu tersadar, Ardi pasti bisa kembali pada keadaan
semula. Pasti bisa! Begitu optimisnya aku.
“Kamu
itu harusnya mendengarkan lagu-lagu instrumen lembut kaya gini nih.” menekan
tombol on pada DVD mobilku.
“Saya
juga suka kok lagu-lagu instrumen kaya gini. Tenang, menyegarkan pikiran dikala
saya lagi suntuk atau pusing sama segala urusan saya.
Biarlah aku seperti bicara dengan
patung, tanpa tanggapan, hal biasa. Tapi aku yakin pada sosok yang satu ini,
dia mendengar tentang semua apa yang aku bicarakan sejak awal. Namun entahlah,
apa yang membuatnya sampai sekarang tak mau membuka mulut dan menggerakkan
lidahnya.
“Kamu
pasti suka tempat itu. Tempat itu indah, jauh sekali dari keramaian. Sabar ya?
Macet nih!” menatap Ardi sesaat.
**
Mendorong kursi roda Ardi memasuki
tempat bernuansa kedamaian itu. Tampak awal, pemandangan hijau nan asri.
Bunga-bunga bermekaran indah. Pepohonan tumbuh segar. Air mancur menari
beriringan. Semilir angin meniup pepohonan ke segala arah mengikuti arah angin
itu berhembus.
“Kuasa
Tuhan begitu indah. Tidak banyak orang yang tahu tempat ini.” memandang
keseluruhan dengan penuh kekaguman.
“Saya
yakin, kamu pasti suka, kan?” berbalik arah menghadap Ardi yang terus diam
tanpa kata.
Membawanya berkeliling di tempat itu,
menik mati setiap keindahan yang terselip di tempat itu. Sampai di suatu
pinggir danau, aku menghentikan langkahku di kursi yang tersedia di pinggir
danau itu.
“Ardi,
sebenarnya sangat terasa indah jika kamu dapat menikmati keindahan panorama
tempat ini setiap saat. Semua bisa kamu lakukan kalau kamu sembuh, dan
seharusnya kamu punya tekad untuk mengembalikan keadaanmu seperti dulu. Masa
lalu sebaiknya hanya dijadikan pelajaran, tidak untuk menjadikan kita tenggelam
ke dalamnya.” ucapku mencoba memotivasi Ardi.
Meski Ardi tetap tak menggubris semua pembicaraanku, aku tak
pernah bosan memotivasinya agar dia bisa kembali seperti semula. Karena
sesungguhnya, hanya dia yang mampu mengubah dirinya.
“Saya
sering ke tempat ini, sendiri. Betapa indahnya menikmati tempat seperti ini
sendirian, tak ada gangguan, suasana terasa sangat hening. Waktu berjam-jam
bisa saya habiskan di tempat ini seorang diri. Tak ada kata kesepian dalam
hidup saya, karena saya merasa saya tak sendiri.” ceritaku sambil menatap
langit yang kian memudar.
“Coba
kamu lihat burung-burung itu!” tunjukku pada sekumpulan burung-burung yang akan
pulang ke sarangnya. “Mereka tampak bahagia walau sebenarnya diantara mereka
ada yang sedang sedih, entah apa yang mereka rasakan, mereka tetap bisa terbang
tinggi, berkumpul bersama hingga petang ini.” menatap langit.
Langit kian gelap, matahari tampak
bergulir menuju peraduannya. Rintik hujan kembali turun, aku membawa Ardi
kembali ke mobil untuk segera pulang. Secepat mungkin aku mendorong kursi
rodanya itu, takut hujan akan semakin deras dan membasahi tubuhnya. Sampai di
mobil, aku mengusap wajahnya yang terkena rintikkan air hujan. Perlahan aku
usap, memakaikan jaket ke tubuhnya karena cuaca sangat dingin kala itu.
**
“Bu
Winda, boleh saya bicara sebentar?” berdiri di depan pintu ruang kerja Bu
Winda.
“Oh
iya, Dok. Tunggu di kebun belakang ya?” pintanya.
Aku langkahkan kakiku menuju tempat
favorit Bu Winda. Beberapa menit kemudian, “Ada apa, Dokter Callista?” tanya Ibu
Winda dari belakangku.
Memutar
tubuhku, menghadap Ibu Winda, “Hmm.. Saya harus meninggalkan tempat ini untuk
beberapa minggu ke depan, Bu. Ada tugas yang harus saya selesaikan.” jelasku
dengan kedua tangan yang ku genggam. Perasaan tidak enak pada Bu Winda
bersarang di hatiku.
“Beberapa
minggu? Kalau saya boleh tahu, tugas apa ya, Dok?” tanya Bu Winda.
“Iya,
Bu. Entah 2 atau 3 minggu ke depan. Pusat rehabilitasi punya saya sedang
membutuhkan saya untuk menangani beberapa pasien disana, saya juga butuh tenaga
baru untuk dipekerjakan disana. Tadi bawahan saya menelpon saya, mereka sangat
membutuhkan saya. Saya mohon maaf, Bu. Tidak ada jalan lain selain saya yang
harus turun tangan langsung.”
Melepaskan
kacamatanya dan meletakkan di atas meja kecil di sebelahnya, “Yaaa, walau berat
rasanya, mau gimana lagi? Tugas dokter tidak hanya disini, saya izinkan. Tapi
saya sangat berharap dokter mau kembali lagi kesini untuk kembali membantu saya
mengurus Ardi. Bagaimana?” dengan senyuman yang terlihat tersimpan beribu makna
di dalamnya.
“Terima
kasih, Bu.” membalas senyumnya.
Aku pergi meninggalkan Bu Winda di kebun
belakang. Ibu Winda tidak beranjak dari tempatnya. Terlihat dia sedang memberi
makan ikan-ikan hias di kolam, tatapannya kosong memerhatikan ikan-ikan yang
saling berebut mendapatkan makanan. Hatinya tak karuan memikirkan apa yang
harus dia lakukan saat Dokter Callista meninggalkannya. Semenjak Dokter
Callista itu hadir, perasaannya sedikit tenang, karena Ibu Winda meyakini
Dokter Callista mampu mengembalikan keadaan anak tunggalnya, Ardi. Namun mau
tak mau, Bu Winda tetap harus sedikit merelakan kepergian Dokter Callista untuk
beberapa minggu ke depan.
Aku melangkahkan kaki menuju kamar Ardi,
aku belum cerita padanya kalau aku harus meninggalkannya beberapa minggu ke
depan.
“Arditama,
sedang apa kau disana?” mencoba mencairkan suasana.
“Sudah
malam, kok belum ditutup sih?” sambil menyingkap kain jendela yang teruntai.
Membawa
Ardi ke tampat tidur, “Ardi, besok saya harus pergi untuk beberapa minggu ke depan.
Saya berharap, kamu bisa lebih baik dari ini. Ada tugas yang harus saya
selesaikan. Kamu baik-baik ya disini. Semoga cepat sembuh.” memasangkan selimut
ke seluruh tubuhnya. “Malam Tuan Ardi” sapaku lembut dan tersenyum.
**
Tanganku menggenggam koper. Ibu Winda,
Arditama, dan Mba Rina ternyata sudah menungguku di ruang tamu rumah mewah itu.
Mereka serentak berdiri ketika melihatku hadir membawa koper menghampiri
mereka.
“Dokter
Callista..” Ibu Winda memelukku.
“Kalau
tugas saya selesai, saya kembali kesini kok, Bu.” menenangkan Bu Winda.
“Dokter
sudah saya anggap seperti anak saya sendiri.” teruntai kalimat itu dari bibir
Ibu Winda, sambil mengusap air matanya yang mengalir lembut di wajah cantiknya.
“Terima
kasih, Ibu.” senyumku.
Ardi tak menatap ke arahku, dia menatap
ke arah televisi di ruang yang tidak berada jauh dari tempatnya berada.
“Ardi,
cepat sembuh ya?” kataku sebelum meninggalkannya.
Dalam hati, sebenarnya berat langkahku
meninggalkannya. Entah mengapa perasaanku begitu yakin bahwa Ardi pun terlalu
sulit menerima kenyataan ini, ya aku memang pergi untuk kembali, namun waktu 2
sampai 3 minggu mungkin bukan waktu yang cepat untuk berpisah.
Setelah berpamitan pada penghuni rumah
itu, aku bergegas meninggalkan mereka semua. Mungkin mereka yang baru aku kenal
sebulan lalu, sudah seperti keluargaku sendiri. Aku sudah menganggap mereka
bagian dari hidupku.
Arditama Suryadinanta, aku berharap
bahkan sangat berharap atas kesembuhannya. Semaksimal mungkin aku merawatnya
dengan tulusnya hati, berharap dia mampu kembali kekeadaan semula. Kuat hati
ini untuk melihatnya kembali tersenyum, ceria, bergerak aktif, dan menjadi
sosok pria terhebat dalam keluarganya. Meski sebelumnya aku tak pernah melihat
kebahagiaannya, namun aku turut merasakan dengan apa yang sudah diceritakan Ibu
Winda semua tentang Ardi. Ardi yang menjadi harapan dalam keluarga itu semenjak
ayahnya pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.
**
Melesat mobilku menuju tempat pusat
rehabilitasi yang ada di Jakarta. Dalam mobil, terdengar lagu instrumen lembut,
mengingatkanku sosok Arditama Suryadinanta. Aku lirikkan mataku ke kursi
sebelah, mencoba mengingat wajah Ardi kala aku ajak dia ke taman terindah itu.
Sekitar 2 jam perjalanan, akhirnya aku
sampai tujuan. Aku parkirkan mobilku dan bergegas menuju ruang asistenku.
Sebelum sampai pada ruangannya, ternyata asistenku, Brenda, sudah menungguku di
lobby utama.
“Hei,
Bren. Gimana?” tanyaku yang sedikit kelelahan karena harus melangkahkan kakiku
dengan cepat.
“Duh,
kita nggak punya tenaga baru dibidang psikiater, Ta. Gue aja bingung harus
gimana, makanya gue suruh lo kesini.” cerita Brenda sambil berjalan menelusuri
lorong-lorong pusat rehabilitasi itu.
“Hmm..
Lo udah cari via online?”
“Udah,
Ta. Udah gue ubek-ubek tuh semua website yang berhubungan, tetap aja susah!”
Brenda panik.
Sampai di ruanganku, aku meletakkan
tasku ke atas meja.
“Terus
gimana dong, Ta? Lo aja punya kesibukan sendiri, kasihan pasien-pasien disini.”
tanya Brenda. “Andai aja mereka pada nggak dikirim ke luar daerah, nggak
sesulit ini deh.” Brenda menundukkan wajahnya, menempelkan telapak tangan
kananya ke dahinya.
“Sudahlah,
Brenda. Jangan panik gitu. Semua bisa teratasi kok.” aku menenangkan.
“So?”
“Oh
iya, gue baru inget deh, gue punya teman kuliah dulu, deket sih sama gue, coba
gue hubungin dulu nomornya.” mengambil handphone dari dalam tasku, mencari
kontak yang aku maksud pada Brenda.
Beberapa menit kemudian.
“Halo,
Ferdy?” sapaku ditelepon itu.
“Ya,
ada apa, Ta?” sapanya kembali.
“Hah,
ternyata dia masih menyimpan nomorku?” gumamku dalam hati berselimuti hati yang
cukup bahagia.
“Hari
ini lo sibuk nggak? Hmm.. Bisa ketemu?” ajakku sedikit gugup. Yaaa, mungkin
karena sudah lama tidak bertemu dan jarang sekali kontak dengannya.
“Kebetulan
nggak, dan lo sangat tepat! Ketemu dimana nih?” tanyanya.
Mataku
mengarah ke sudut kiri atas atap, “Di café J&Co Bread aja ya?”
“Hm,
oke gue tunggu disana.” Ferdy menyetujui.
“Sip,
thanks Fer sebelumnya.”
“Eh
Callista!” panggil Ferdy saat aku mau menutup telepon itu.
“Apa,
Fer? Lo nggak bisa?” tanyaku dengan nada sedikit kecewa.
“Lo
kangen ya sama gue?” terdengar tawanya yang renyah dikejauhan sana.
“Yah
dasar lo! Udah cepetan lo berangkat, gue mau jalan nih.” balasku dengan sedikit
menahan tawa.
Brenda yang sedari tadi memperhatikanku,
bingung menatapku. “Gimana, Ta?” tanyanya sambil mengikuti langkah kakiku.
“Lo
tunggu disini ya? Gue ada proyek buat ini juga kok pokoknya.” langkah kaki aku percepat
menuju parkiran.
Brenda terus mengikuti langkah kakiku
hingga parkiran, “Callista!”
“Udah
sayang, lo tunggu disini aja. Nanti gue kabarin lagi, oke?” membuka pintu mobil
dan melambaikan tangan padanya.
**
Mencari dimana Ferdy, duduk disebelah mana
dia, melingak-linguk ke segala penjuru tempat. Akhirnya terlihat seorang pria
berbaju biru, duduk di sebelah pojok tempat itu sedang menikmati guava juice.
Aku bergegas melangkahkan kakiku menghampirinya.
“Sorry
lama, agak macet.” menarik kursi dan duduk.
“No
problem laaah, sabar kok gue.” candanya yang hanya aku bisa balas dengan
senyuman yang terukir di wajahku.
Ferdy
menawarkan menu apa yang aku mau dan memesankan pada pelayan café itu, “Gue
butuh bantuan lo nih, Fer.”
“Apa?”
menghisap sedotan yang tercelup di dalam minumannya.
“Pusat
rehabilitasi gue butuh psikiater nih. Gue inget lo karena cuma lo yang masih
kontak sama gue walau sedikiiiiit banget, yang lain mah udah pada lenyap.
Makanya nih gue berharap sama lo.” celoteh aku.
“Loh
yang lama?” tanyanya dengan wajah yang menujukkan kebingungan.
“Psikiater
yang lama dikirim ke luar daerah semua. Makanya Brenda bingung banget itu. Gue
juga lagi ada proyek di Bandung nih, Fer.” ceritaku.
“Brenda?
Brenda sahabat lo yang dulu anak sastra Inggris itu?” mencoba mengingat
beberapa tahun silam.
“Haha
iya, masih ingat aja lo!”
“Waduh
itu anak kerja sama lo? Melenceng banget tuh dari jurusan awalnya.” tawa Ferdy.
“Yaa,
rezeki orang mah udah ada yang ngatur kali.”
Pelayan café itu datang membawakan
minuman pesananku dan meletakkan di atas meja, di hadapanku.
“Oke
gue bisa, gue juga lagi nggak terlalu sibuk sih. Kalau buat bantu lo mah, gue
bisain deh, Ta.” mengerlingkan sebelah matanya.
“Centil
lo!” tertawa meledeknya.
“Lo
nggak berubah ya?” senyum manisnya terukir.
“Maksud
lo?”
“Tetap
cantik, kayak dulu.” senyum jahil.
“Apaan
sih lo!” tawaku. “Besok bisa kan ke tempat pusat rehabilitasi gue?”
“Oke,
bisa diatur!” Ferdy menyetujui.
**
Mentari pagi menghangatkan bumi,
cahayanya indah memancarkan setiap sudut bumi. Tak terkecuali aku yang juga
turut menikmati keindahan pagi itu. Ditemani teh hangat dan roti aku menikmati
kuasa Tuhan yang begitu luar biasa indahnya. Udara segar yang tak banyak orang
dapat merasakan. Kicauan burung-burung yang hendak berkeliling mencari makan
pun menjadi sebuah fenomena yang amat mengagumkan. Betapa indahnya pagi ini.
Jam sudah membentuk sudut 90°, aku
bergegas mengambil handuk yang tergantung pada tempatnya. Ya, hari ini adalah
hari pertamanya Ferdy membantu tugasku di tempat pusat rehabilitasi. Janjinya
sih jam 10, “kita lihat siapa nanti yang ngaret!” batinku tertawa.
Jam 10 kurang 15 menit, aku segera
memarkirkan mobilku dan bergegas menuju ruang kerjaku, sedikit berlari membuat
napasku terengah. Ketika sampai di lobby utama menuju ruang kerjaku, ternyata,
“Ferdy?” mataku terbelalak menatapnya. Padahal dulu selagi masih kuliah, dia
yang paling sering telat sampai aku berpikir, jam yang dipakainya itu terbuat
dari karet.
“Yeee,
emang gue nggak bisa berubah!” Ferdy menjulurkan lidah.
“Gue
kira lo masih kayak dulu, yang gue sampai bosan kalau udah janjian sama lo.”
ledekku padanya. Berjalan menelusuri lorong tempat pusat rehabilitasi itu
sambil aku dan Ferdy memutar memori beberapa tahun silam.
Terlihat Brenda sedang sibuk merapikan
tumpukkan kertas-kertas di mejanya, “Gimana, Ta?” tanpa menatapku, Brenda
bertanya. Tak berapa lama, “Ferdy?” terkejut Brenda melihat aku bersama Ferdy.
Aku
hanya bisa tersenyum manis di hadapan Brenda yang masih memperlihatkan giginya
di hadapanku dan Ferdy.
“Cieeeeee..
Kayaknya bunga di taman mekar lagi tuh.” ledek Brenda sambil mengerlingkan
sebelah matanya.
“Iyalah,
bunga di taman emang mekar mulu, kan ada yang ngurusin tuh Pak Obong.”
merapikan meja kerjaku.
Ferdy
dan Brenda cengar-cengir melihatku, mungkin mereka sadar kala itu aku salah
tingkah.
“Oooh
jadi ini nih partner kerja lo?” masih dengan nada bicara meledek.
Aku
tak menjawabnya, melainkan diam tanpa kata.
“Duh,
jadi mendadak jutek gitu sih, neng.” lanjut Brenda.
Ferdy yang hanya diam, membaca buku-buku
psikologi yang tersimpan rapi di balik rak buku di ruang kerjaku hanya
tersenyum tiap kai mendengar Brenda meledekku. Aku dan Brenda memberi
pengarahan pada Ferdy tentang tugas yang harus dia kerjakan selama berada di
tempat pusat rehabilitasi itu.
**
Ferdy menjalankan tugas di hari
pertamanya dengan baik, tidak salah aku memilih menjadi partner aku di bidang
kesehatan ini. Aku langkahkan kakiku menuju parkiran tempat mobilku terparkir.
Sesaat kakiku melangkah diantara lorong-lorong menuju lobby utama, “Callista!”
Ferdy memanggilku dan setengah berari menghampiriku.
“Ya,
ada apa, Fer?” tanyaku bingung.
“Hmm..
Hmm..” terlihat Ferdy menggaruk-garuk kepala belakangnya.
“Apa,
fer? Udah malam nih.” pintaku, dengan tatapan padanya dengan wajah bingung.
Ferdy
masih saja gugup untuk mengutarakan apa yang mau diutarakannya.
“Hmm..
Besok aku jemput aja ya?” Ferdy malu-malu.
Menahan
tawa, “Aku?” tak mampu lagi aku menahan rasa ingin tertawa. “Jadi dari tadi
cuma mau ngomong itu?” aku berlalu meninggalkannya.
Brenda
yang sedari tadi mengintip di balik tiang lorong, tertawa geli melihat
percakapanku dengan Ferdy dan Brenda menghampiri Ferdy yang masih tersenyum
malu, mungkin karena tingkahnya tadi, sedangkan aku? Berlalu meninggalkannya.
Brenda masih dengan tawanya sampai di
hadapan Ferdy, “Callista nggak pernah berubah ya dari dulu?” menatap langkah
Callista yang kian memudar dari pandangan.
“Yaaa,
begitulah dia.” Brenda mengiyakan.
Sepanjang
perjalanan Brenda dan ferdy terus membahas tentang aku.
**
Suara klakson mobil terdengar dari arah
depan rumahku. “Siapa sih?” gumamku.
Aku
singkap sedikit kain jendela di ruang tamu, terlihat mobil hitam milik Ferdy,
“Wah tuh anak beneran jemput gue!” batinku, kemudian langsung bergegas
mengambil tas dan menghampiri Ferdy yang menunggu di dalam mobil.
“Siap,
Tuan Putri?” sapanya ketika aku sudah mengenakan sabuk pengaman mobilnya.
“Oke!”
tak banyak kata yang aku keluarkan.
Ferdy memutar lagu-lagu kenangan dulu
ketika aku dan dia menjalin kasih, waaah sangat romantis, dalam memori otaku
terlintas kisah beberapa tahun silam, kisah indah bersamanya yang sempat musnah
karena terpisah jarak dan waktu. Aku tak banyak bicara ketika Ferdy mencoba
memutar ingatanku kembali mengenang kisah indah dulu kala. Jujur sih, aku
speechless di hadapannya. Aku mencoba menutupinya.
“Nanti
malam temenin gue mau nggak?” Ferdy menekan tombol volume ke arah minus.
“Kemana?”
tanyaku.
“Jalan,
kemana kek, bete tahu!”
“Boleh
deh” aku tak bisa membohongi perasaanku.
Suasana saat itu memang sangat
mengingatknku akan beberapa tahun lalu bersamanya. Namun entahlah, apakah dia
juga merasakannya. Hanya Tuhan yang tahu.
**
Tidak terasa waktu terus berlalu, sudah
sekitar seminggu Ferdy bekerjasama denganku. Banyak kisah yang telah kita lalui
meski seminggu itu bukan waktu yang cukup lama, tidak terkecuali Brenda.
Hari-hariku selalu dipenuhi dengan kisah Ferdy dan Brenda berselimut aku di
dalamnya.
“Nggak
nyangka aku bisa merasakan keindahan yang dulu sempat hilang dalam hidup aku.”
ujar Ferdy menatap langit malam bertaburan bintang terang.
“Aku
juga, setelah beberapa tahun kita pisah, nyatanya aku masih sayang kamu.”
menghampiri Ferdy dan berdiri di sampingnya.
Angin malam itu berhembus lembut. Tangan
Ferdy merangkul pundakku, mendekatkan tubuhku di tubuhnya. Menatap langit malam
yang sangat indah. Mengenang memori di masa lalu, begitu terasa. Cahaya bintang
turut menerangi kebahagiaanku malam itu. Seseorang yang dulu pernah ada dalam
hidupku, sempat lenyap, kini hadir kembali mengisi ruang kosong dihatiku. Ingin
rasanya malam itu tidak berlalu cepat.
Keindahan itu sedikit terganggu saat Ibu
Winda meneleponku, “Halo, Dokter Callista?” suara panik Ibu Winda terdengar.
“Ya,
ada apa Ibu Winda?” melepaskan rangkulan Ferdy dan menjauh darinya sesaat.
“Ardi,
Dok. Ardi..” tangisan Ibu Winda pecah.
“Ada
apa, Bu? Ibu tenang, Bu.. Tenang..” aku mencoba menenangkan.
“Kelakuan
Ardi semakin parah, Dok. Hampir setiap hari dia memecahkan barang seisi rumah
yang ada dekat darinya. Bantu saya, Dok. Kapan dokter bisa kembali kesini?” Ibu
Winda tetap menangis.
“Oke,
Bu. Besok saya akan kesana untuk melihat keadaan Ardi. Ibu Winda tenang saja,
nggak usah panik. Pastikan Ardi tetap dalam keadaan tenang.”
Ferdy menghampiriku dan menanyakan
perihal yang terjadi. Aku pun mengajaknya untuk mengantarkan aku pulang dan
menceritakan semua tentang Arditama pada Ferdy sepanjang perjalanan.
“Jadi
besok kamu mau ke Bandung?” tanya Ferdy.
“Iya,
Fer. Kasihan mereka, sepertinya memang butuh aku.”
“Berapa
hari?” tanya Ferdy datar.
Sepertinya
Ferdy kurang suka jika aku harus pergi jauh, “Entahlah, Fer. Tolong ngerti aku
ya?” pintaku padanya. Ferdy diam tak menggubris apapun.
Sampai di rumah, aku memasukkan
keperluanku ke dalam koper yang akan aku bawa esok ke Bandung, rumah Arditama
Suryadinanta, putra tunggal Winda Suryadinanta, pengusaha sukses di bidang
perhotelan. Di sisi lain, aku teringat sikap Ferdy tadi saat di perjalanan
tadi, “Sepertinya Ferdy tidak suka kalau aku harus berada jauh darinya,
terlihat dari tatapan matanya tadi” batinku bergumam. “Ah biarlah, aku yakin
dia pasti bisa mengerti dan menjaga kesetiaannya.” mencoba menenangkan diri.
**
“Kamu yakin,
Ta?” tanya Ferdy seperti tak yakin padaku.
“Yakin
lah, emang aku baru kali ini aja apa?” jawabku sambil memasukkan koperku ke
dalam bagasi mobil.
Ferdy membuntutiku mengecek mobilku.
Perjalanan yang akan aku tempuh kurang lebih sekitar 2 jam, jadi aku wajib
memeriksa keadaan kendaraanku supaya aku tetap selamat sampai tujuan.
“Selesai!”
menghembuskan nafas dan tersenyum menatap Ferdy.
Ferdy
menatapku dengan tatapan datar namun tajam.
“Aku
berangkat ya, sayang.” mengecup kedua pipi Ferdy.
“Hati-hati.
Jaga diri disana baik-baik ya?” jawab Ferdy memegang kedua pipiku dan mencium
keningku.
Aku pacu kendaraanku dengan kecepatan
standar meninggalkan Ferdy. Di tengah perjalanan, kecepatan aku perlambat
karena handphoneku berdering.
“Hallo,
Ta. Lo udah on the way?” suara Brenda seperti orang yang baru bangun tidur.
“Udah,
neng… Baru bangun lo ya?”
“Hehee
iya, ya udah be careful ya, say.” Brenda menutup telepon.
Sudah setengah perjalanan aku tempuh.
Jalan yang biasa aku lewati ternyata ditutup karena ada demo masyarakat. “Huh!”
batinku mengeluh, aku tidak tahu jalan mana yang harus aku lewati selain jalan
itu. Aku berpikir sejenak dan membuka sedikit kaca jendela mobilku.
“Mbak,
mau kemana?” tanya seseorang yang berada di mobil sebelah mobilku.
“Jakarta
Pusat, Mas.” jawabku pada seorang pria yang bersama temannya membawa mobil.
“Ikutin
saya aja, Mbak. Saya juga menuju sana kok.” pria itu menawarkan.
Aku
hanya memberi jawaban mengangguk memberi tanda aku setuju mengikutinya, tanpa
pikir panjang aku mengikuti arah mobil itu. Mobil itu mengajakku melewati jalan
yang sama sekali belum pernah aku lewati. Perasaanku mulai tidak karuan.
Di tengah perjalanan, sisi jalan penuh
dengan semak-semak belantara. Sunyi. Tak ada kendaraan lain yang lalu lalang di
jalan itu. Entah apa yang akan terjadi padaku, aku mulai hilang konsentrasi.
Pikiranku melayang memikirkan hal-hal yang akan menimpaku. Sementara mobil
kijang itu tetap melaju di depanku. Tak beberapa lama, benar saja dengan apa
yang aku pikirkan, mobil kijang itu berhenti di tengah jalan hutan sunyi.
Jantungku berdegup kencang kala dua orang pria dari dalam mobil itu berjalan
menghampiri mobilku dan memaksaku keluar dari mobil.
“Keluar!!”
pemuda berbaju hitam menggedor-gedor kaca mobilku dengan cukup keras, sementara
pemuda yang satunya mengarahkan pisau dari hadapan mobilku dengan maksud
menyuruhku untuk keluar dari mobil.
Tak banyak yang bisa aku perbuat, tak
tahu lagi apa yang harus aku lakukan, aku menurutinya. Pemuda pemegang pisau
itu mengarahkan pisau ke arah leherku dan mendekap aku dari belakang. Pemuda
berbaju hitam mengacak-acak seluruh isi mobilku. Entah apa yang diambil
olehnya, aku sudah pasrah. Setelah dia puas menggeledah seisi mobilku, mereka
mencoba menggodaku.
“Cantik
juga nih cewek.” katanya sambil mencolek daguku.
Aku
mencoba menghindar dan temannya tetap mendekap aku dari belakang yang membuatku
tak bisa bergerak. Mereka mencoba melakukan tindak asusila padaku, namun
beruntung belum sampai aku diperlakukan keji olehnya, seorang malaikat tak
bersayap datang membantuku.
Pemuda itu membawa kayu cukup besar dan
memukul ke arah punggung pemuda yang mendekapku. Pemuda berbaju hitam mencoba
membela temannya dengan mencoba menghajar malaikat tak bersayap itu. Namun
benarlah apa kata pepatah, kebaikanlah yang akan selalu berada diatas
kejahatan. Hitam tidak akan pernah kalah oleh putih. Kedua pemuda itu berlalu
meninggalkan tempat itu. Aku yang langsung mengecek keadaan dalam mobilku
bersyukur karena tidak ada yang hilang, kedua pemuda itu terlalu bodoh untuk
menggeledah seisi mobilku.
“Hei
tunggu!” teriakku pada malaikat tak bersayap itu ketika dia berjalan
meninggalkanku.
Dia
menoleh ke arahku, “Kayak kenal deh” pikirku.
Aku
menghampirinya. Ternyata, “Noval?” terkejut ketika sudah berada di hadapannya.
“Loh,
Mbak Callista?” Noval sama sepertiku.
“Oh
kamu, Val. Makasih banget ya, aku nggak tahu gimana nasib aku kalau seandainya
nggak ada kamu.” ujarku menunduk merasa sangat berterima kasih padanya.
“Lain
kali hati-hati ya, Mbak? Daerah sini memang rawan banget.” nasihat Noval dengan
membawa topi anyaman seperti seorang petani dari sawah.
Noval mengajakku mampir di sebuah warung
kecil. Noval memberikan aku segelas teh hangat, “Diminum, Mbak biar nggak
shock.”
“makasih,
Val.” menerimanya dan meminumnya sedikit demi sedikit.
“Mbak
mau kemana? Kok lewat sini?” tanya Noval yang duduk di sebelahku.
“Saya
mau ke Jakarta Pusat, tadi jalan yang biasa saya lewatin itu diblokade karena
ada demonstran. Terus saya diajak sama dua pemuda tadi, karena saya nggak tahu
jalan mana lagi, tanpa pikir panjang saya terima ajakannya.” menengguk teh
hangat pemberian Noval.
“Yah,
Mbak, hari gini mah jangan gampang percaya atuh sama orang yang baru dikenal.
Bahaya. Untung teh saya kebetulan tadi lewat situ, kalau nggak mah kasihan atuh
Mbak Callista.” Uujar Noval dengan logat Sunda.
“Iya,
Val. Saya terima kasih banget sama kamu. Oh ya, kok kamu ada di tempat itu?” tanyaku.
“Saya
tadi abis dari sawah, Mbak. Ada kerjaan suruh ngurus sawah tetangga, ya
lumayanlah duitnya bisa dikumpulin buat tabungan.” cengir Noval.
“Oh
ya, saya juga mau terima kasih sama Mbak sudah menolong Tamara.” lanjut Noval.
Sedikit
tersentak, “Tolong? Tolong apa?”
“Ah
si, Mbak teh pura-pura nggak tahu nih.” Noval menyenggol lenganku.
“Serius!”
aku memastikan.
“Mbak
Callista kan yang bayarin biaya ujian adik saya, Tamara?”
“Loh?
Tahu dari mana kamu?”
“Tuh
kaaaan!” Noval tertawa geli.
Aku ikut tertawa mendengar celotehannya.
“Noval
pekerja keras, pantang menyerah dengan keadaannya yang serba kekurangan. Memang
benar dia malaikat bersayap” hatiku bergumam dan tertawa pelan.
“Ya
udah atuh, Mbak. Mau saya antar sampai jalan raya? Bisi Mbak kenapa-kenapa
lagi.”
“Hah?
Bisi?” tanyaku bingung.
Noval
tertawa, “Aih lupa saya, bisi itu artinya takut, Mbak.”
“Oooh”
kataku sambil tersenyum. “Lah terus kalau kamu nganterin saya ke jalan raya,
kamu baliknya gimana?” tanyaku.
“Mbak
anterin saya lagi kesini.” candanya yang sukses membuatku bertanya-tanya. “Ya
nggaklah, Mbak Callista cantik. Gampang itu mah!” Noval mendahului.
**
Sampailah tujuan pada malam hari. Hujan
deras yang membasahi Kota Bandung membuat suasana seolah sunyi dan dingin.
“Dokter
Callista, masuk, Dok.” Mbak Rina mempersilakan.
“Ibu
maaf saya kemalaman, tadi ada tragedi di jalan.” ceritaku.
Aku dan Bu Winda berbincang-bincang tak
lama di ruang tamu. Mbak Rina dengan baik hati menyiapkan teh hangat untukku
dan sepotong roti yang diletakkannya di atas meja ruang tamu itu.
“Saya
mau ke kamar dulu ya, Bu? Setelah itu saya mau mengecek keadaannya Ardi.”
“Oh
iya, Dok. Maaf saya merepotkan dokter.” ucap Bu Winda.
“Ah
ibu kayak baru kenal saya sehari saja.” aku bergegas menuju kamar merapikan
koper dan diri.
Membuka perlahan gagang pintu kamar
Arditama. Terlihat Arditama sedang berbaring di tempat tidurnya. Aku
menghampirinya, “Semoga keadaan kamu segera kembali semula aja ya, Tuan Ardi.”
senyumku menatap wajah manisnya dan merapikan selimutnya. Aku membiarkannya
beristirahat dalam balutan malam yang dingin hingga menusuk tulang rusuk. Aku
menutup jendela yang mungkin lupa ditutup oleh Ibu Winda atau Mbak Rina.
Pandanganku terhenti kala aku menatap sejuk tetesan air hujan yang jatuh dari
atap luar kamar Ardi yang jatuh tepat di kolam ikan hias peliharaannya.
Pemandangan itu cukup indah, hiasan lampu warna-warni yang mengelilingi sekitar
kolam ikan itu menambah estetika pandangan mata. Ardi memang sangat
memeliharanya. “Kasihan sekali ikan-ikan itu, mungkin setiap harinya selalu
dimanja oleh Tuan Ardi, namun semenjak kejadian itu, mungkin ikan-ikan itu
merasa kesepian juga.” batinku berkata sembari menatap ikan-ikan hias yang
berenang mengelilingi kolam panjang itu.
**
“Hallo,
Tuan Arditama Suryadinanta. Selamat pagi.” sapaku dengan membawa segelas susu
dan sepiring roti bakar.
Meletakkan
sarapan paginya, “Gimana tidurnya semalam? Nyenyak, kan?” melipat selimut yang
masih menutupi tubuhnya dan membantunya untuk duduk.
Ardi
hanya diam. “Dimakan ya sarapannya?” menyuapi Ardi roti bakar buatanku.
“Maaf ya kalau rasanya agak aneh, tadi saya coba
bikin sendiri nih, spesial deh buat kamu.” cengirku.
“Waah,
Den Ardi kok nurut ya sama Dokter Callista?” celoteh Mbak Rina yang meletakkan
bingkai foto di meja kamar Ardi.
Dahi
Ardi mengerut ketika Mbak Rina meledeknya, namun sayang hanya aku yang bisa
membaca wajah Ardi. “Hebat! Arditama mengalami kemajuan. Terima kasih, Tuhan.”
kataku dalam hati.
“Apa
ini, Mbak?” tanyaku pada Mbak Rina yang merapikan bingkai-bingkai foto di meja
Ardi.
“Ini
loh, Dok kemarin itu waktu Den Ardi ditinggal dokter, bingkai ini dibanting
sama Den Ardi.” cerita Mbak Rina.
Aku
tak mengerti maksudnya, namun ya sudahlah.
Mbak Rina kembali meninggalkan kamar
Ardi. “Kamu nggak mau latihan jalan?” tanyaku sambil membantu Ardi menenggak
susu. “Kalau kamu mau belajar jalan, aku bantuin yuk!” senyumku mengajak.
Aku
sangat yakin pada Ardi yang telah banyak mengalami kemajuan. Tak hentinya aku
bersyukur pada Tuhan karena dalam waktu hampir 3 bulan ini aku merawatnya
tidaklah sia-sia. Mungkin hanya aku yang mampu melihat kemajuan detail Ardi
karen Ibu Winda sendiri terlalu sibuk dengan perusahaan hotelnya dan hanya
mampu merawat Ardi semampunya dia.
Aku membantu Ardi menempatkan dia di
kursi roda, aku tahu keinginan dia setiap pagi, menikmati matahari di balik
jendela kamarnya.
“Matahari
itu cerah banget ya? Bersinar megah tanpa pamrih. Cahayanya menghangatkan.
Memperindah suasana pagi, berpadu indah dengan embun yang padahal berletak jauh
darinya. Keajaiban Tuhan yang takkan pernah ternilai harganya. Betapa
berharganya menikmati hangatnya pagi ini.” membuka jendela kamar Ardi satu per
satu.
“Ikan-ikan
kamu sudah menunggu kamu tuh, rupanya dia kesepian berbulan-bulan tanpa
sentuhan kamu. Tiap malam, sebenarnya dia berdoa atas kesembuhan kamu,
ikan-ikan itu sebenarnya punya perasaan juga namun hanya beberapa orang saja
yang mengerti, aku rasa kamu jauh lebih mengerti. Aku rasa, setiap malam ikan
itu nangis, ya dia nangis karena kangen sama sentuhan lembut kamu, kangen
dimanja sama kamu. Lihat deh, airnya keruh banget, karena cuma kamu kan yang
mampu mengganti airnya dengan benar dan sangat sempurna.” menatap kolam ikan
yang sudah ditumbuhi lumut hijau.
Aku meninggalkan Arditama dan ingin
menyegarkan pikiranku di taman belakang rumah mewah itu.
“Loh,
Bu Winda? Nggak kerja?” ketika aku melihat Bu Winda juga sedang menikmati
pemandangan hijau dengan secangkir kopi yang dipegangnya.
“Dokter?
Belum, Dok. Nanti agak siangan.”
“Bagaimana,
Dok keadaan Ardi? Ada perkembangan?” lanjut Bu Winda.
“Sejauh
ini dalam pandangan saya, perkembangannya cukup baik, Ardi sudah mau makan,
sudah mampu merespon kata-kata dengan baik meski belum sempurna, tapi saya
yakin dalam beberapa waktu ke depan, Ardi bisa sembuh kok, Bu.” ceritaku
mengenai Arditama.
“Syukurlah,
Dok. Saya sangat senang mendengarnya. Memang kami butuh dokter seperti Dokter
Callista.” puji Bu Winda padaku.
“Ya
kita banyak berdoa aja deh Bu semoga Tuhan mempercepat keadaan ini.”
**
“Anginnya
kencang sekali. Saya tutup ya jendelanya? Airnya masuk ke dalam nih.” menutup
jendela kamar Ardi.
Sore
itu hujan memang disertai angin yang sangat kencang. Air hujan membasahi kaca
jendela kamar Ardi dan embun menutupi pandangan bening kaca itu. Aku
mengelapnya agar Ardi tetap bisa melihat pandangan luar.
Tiba-tiba, aku teringat Ferdy. Aku
berniat ke kamarku untuk menghubungi Ferdy dan menghubungi Brenda untuk
mengecek keadaan disana. Namn ketika aku ingin meninggalkan Ardi, Ardi menahan
langkahku dengan menggenggam pergelangan tanganku sesaat aku berada di
sebelahnya. Aku kaget dan menatap wajahnya, aku memposisikan diriku duduk
berlutut menghadapnya, “Arditama?” dengan senyum bahagia.
“Te..ri..ma..
ka..sih..” ucap Ardi terbata-bata.
“Ardi,
ini yang aku harapkan dari kamu. Ardi, saya yakin secepatnya kamu pasti kembali
kekeadaan awal kamu. Saya yakin!” memegang teguh bahu Ardi.
Dalam perjalanan menuju kamarku,
ingatanku akan Ferdy tiba-tiba buyar karena kebahagiaanku melihat perkembangan
Ardi seperti tadi. Hingga aku lupa apa yang mau aku lakukan tadi semenjak di
kamar Ardi sebelum Ardi tunjukkan kehebatannya. Menuju kamar, aku senyum-senyum
membayangkan Ardi, hati kecilku semakin yakin bahwa secepatnya seorang Arditama
Suryadinanta akan kembali kekeadaan awalnya.
Sampai kamar, aku mengambil handphoneku
yang masih tersimpan rapi dalam tasku. Membuka kontak, mencari nama Ferdy dan
aku segera menghubunginya.
“Hallooo”
suara wanita yang tak asing ditelingaku.
Aku
terdiam sejenak mencoba mengenali suara itu, “Brenda?” teringat suaranya yang
sudah tidak asing lagi ditelingaku.
“Eh..
Callista.. Hmm..” Brenda terdengar gugup.
“Ferdy
kemana? Kok lo yang angkat?” tanyaku bingung.
“Hmm..
ini.. ehm.. tadi.. hmm.. Ferdy lagi keluar, hapenya ketinggalan, ya hapenya
ketinggalan.” suara Brenda panik.
“Gitu
ya?” dalam batin aku merasa ada sesuatu yang ganjil.
“Ya
udah, nanti kalo Ferdynya datang, suruh dia hubungin gue.”
“Oke.”
Duduk termenung di atas kasur,
memikirkan ada sesuatu yang ganjil terjadi pada seseorang yang jauh disana. “Tumben
Ferdy hapenya ketinggalan? Kok bisa Brenda yang angkat? Ferdy nggak pernah
ngizinin hapenya dipegang sama oranglain karena menurutnya itu privasi? Ya aku
ingat Ferdy seperti itu. Aneh?” pikiranku dipenuhi tanda tanya besar.
“Aku
aja nggak pernah megang hapenya dia selama pacaran. Kok Brenda?” pikiran
negatif terus menyelimuti otakku. Aku mencoba membuang jauh-jauh pikiran
negatif itu dalam benakku, “Nggak, aku nggak boleh negative thinking sama Ferdy
juga Brenda. Brenda sahabat aku sejak lama, dia nggak mungkin mengkhianatiku,
apalagi menikam punggungku. Nggak, nggak mungkin!” mencoba mempositifkan
pikiranku. Namun tak bisa ku pungkiri, pikiran itu kembali saja hadir dalam
benakku yang membuat konsentrasiku tertuju pada mereka, “Aaaaaa, sudahlah!
Tidak mungkin itu terjadi! Aku percaya Ferdy, juga Brenda!” aku kuatkan pikiranku.
**
Dalam malam, aku merenung memikirkan
tentang apa yang aku pikirkan tadi sore. Sungguh, pikiran itu terus bersarang
dibenakku. Mencoba membuang segala pikiran negatifku namun tetap saja aku tak
sanggup, perasaanku terlalu kuat untuk memunculkan kembali pikiran itu.
Ku posisikan diriku di balik jendela
kamar, ku buka tirai yang menutupi jendela itu. Aku rasa, angin malam itu cukup
menyejukkan yang membuat hasratku membuka jendela itu. Ya benar, angin
menyentuh kulitku dengan lembut. Bintang tak menampakkan kehadirannya malam
itu, bulan pun entah pergi kemana. Langit malam itu sangat sepi dan tidak
bercahaya. Angin yang semula menyentuhku dengan lembut, kelamaan justru
menusuk. Aku sudahi kegalauanku malam itu dan menutup kembali jendela beserta
tirai yang mempercantiknya.
Menidurkan diriku di atas kasur
bermotifkan paduan garis-garis unik berwarna-warni dengan paduan warna yang
cukup menarik pandangan mata. Aku mencoba memejamkan mata, namun apalah daya,
aku tak bisa mengistirahatkannya. Tubuh ini berulang kali berputar ke kanan
atau pun ke kiri, namun tak kunjung padam mata ini. Cahaya kamar saat itu
padahal sudah aku matikan yang akhirnya aku nyalakan kembali karena aku tidak
bisa tidur.
Disaat
itu, terlintas Ardi dalam pikiranku. Hasratku terlalu besar untuk melihatnya di
kamarnya, “Ardi belum tidur” terlintas kalimat itu dalam benakku. Aku pun
memutuskan untuk melihatnya di kamar elegan itu.
Suasana rumah sudah sangat sepi, jam
sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ruang tamu yang aku lewati juga sudah tidak
nampak pencahayaannya yang menandakan ada orang di tempat itu. Sesampainya, “Ah
benar saja” batinku berucap. Terlihat Ardi sedang menatap langit-langit atap
kamarnya, namun ketika aku mendekatinya, “Kamu nangis? Kenapa?” aku yang
langsung duduk di sebelahnya mengusap air mata yang terlanjur di wajahnya.
Mungkin dia teringat akan masa lalunya yang kelam. Aku membantu dirinya untuk
posisi duduk.
“Masa
lalu itu memang ada, tapi bukan untuk dibayangkan yang menjadikan kamu larut
kembali di dalamnya. Masa lalu ada untuk dikenang indah dalam buku harianmu.
Ya, memang terkadang semua seolah muncul kembali, namun semua hanya untuk
mengingatkan kalau dia memang pernah ada di hidupmu yang membuatmu pernah
berarti bersama kenangan itu. Kamu harus tegar, Ardi. Terlalu banyak orang di
luar sana yang sayang kamu dan mengharapkanmu kembali bersamanya.” air mata
Ardi mengalir bening, diam tanpa berkata-kata, menatap lurus searah letak jam.
Malam semakin larut, jam yang terpajang
manis di meja kamar Ardi sudah mengarah pada angka 12.
“Sudah
tengah malam, kamu harus istirahat ya?” membantunya kembali dalam posisi
berbaring.
“Malam,
Tuan Arditama Suryadinanta.” memakaikan selimut menutupi sebagian tubuhnya.
**
“Kemana
Ferdy sampai sekarang belum juga menghubungiku?” pikirku ketika melihat hapeku
tak ada tanda apa-apa dari Ferdy.
Aku
mencoba menghubunginya kembali, “Hallo” terdengar suara Ferdy.
“Ferdy..”
sapaku pertama.
“Siapa?”
pertanyaan yang membuatku terkejut.
“Siapa?
Kamu tanya siapa? Kamu nggak nyimpen nomor aku, Fer?”
“Oh..
Callista.. Maaf sayang, aku lupa kayaknya nomor kamu udah aku save tapi kok
nggak ada ya?” Ferdy balik tanya.
Aku
diam sejenak. “Hallo sayang, kamu apa kabar disana?” tanya Ferdy lembut
membuyarkan lamunanku.
“Eh..
Baik kok, aku baik, kamu gimana disana?” tanya balikku pada Ferdy.
“Baik
juga kok, jaga diri kamu baik-baik disana ya sayang. Kangen kamu.” suaranya
manja.
Membuka
tirai jendela, menikmati matahari pagi yang menghangatkan, “Kemarin kok Brenda
yang angkat?” tanyaku langsung menjurus pada persoalan kemarin sore.
“Hah..
Itu.. Hmm.. Itu.. Itu aku lagi keluar, terus hapenya ketinggalan di ruangannya
Brenda.” jawab Ferdy gugup seperti menyembunyikan sesuatu dariku.
“Aneh!”
dalam hatiku.
Ferdy menyudahi perbincangan itu dengan
alasan dia ingin menyelesaikan tugasnya di tempat pusat rehabilitasi. Kembali,
aku merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ferdy, juga Brenda.
Perasaanku terlalu kuat untuk merasakannya.
“Ah,
mungkin aku harus menyegarkan pikiranku” pikirku segera ke dapur untuk membuat
secangkir teh hangat.
Mengambil
cangkir dari rak, “Dokter Callista mau saya buatkan teh hangat?” Mbak Rina
menawarkan.
“Oh
nggak usah, Mbak. Saya buat sendiri aja.” menolak tawarannya yang memang sudah
terlanjur aku menuangkan gula ke dalam cangkir itu.
“Oh ya
sudah, Dok.” Mbak Rina meninggslkan.
Membawa cangkir itu dengan beralaskan
piring kecil, aku berniat menuju taman belakang. Sangat indah rumah itu,
pemandangannya sungguh luar biasa. Sejuk, hijau, rumah itu penuh kedamaian.
Angin segar terasa sangat mudah didapat. Menikmati teh hangat sedikit demi
sedikit, aroma khas teh itu menambah resep kesegaran pikiranku.
“Dokter?”
panggil Bu Winda yang sudah ada di belakangku.
Memutar
tubuhku menghadapnya. “Saya mau bicara sebentar, dokter bisa?” tanya Bu Winda
serius.
“Silakan,
Bu.” meletakkan cangkir itu ke atas meja.
Duduk
di kursi kecil panjang taman, “Begini, Dok. Saya ada tugas harus keluar negeri,
saya mau menitipkan Ardi pada dokter. Yaa, saya sih sekitar 2 bulan bertugas di
Dubai. Dokter Callista sanggup?”
Aku
diam, merenung sejenak. “Saya juga sebenarnya tidak mau, Dok karena saya ingat
keadaan Ardi. Tapi ini benar-benar tugas mendesak yang tidak bisa saya alihkan.
Saya harap dokter sanggup.” sementara aku yang masih merenung menatap
rerumputan yang tersebar luas di taman itu.
“Iya,
Bu. Saya sanggup kok.” senyumku pada Bu Winda.
“Benar,
Dokter?” Bu Winda memperjelas. Aku mengangguk menandakan aku menerima permintaannya.
“Terima
kasih dokter. Saya sangat berterima kasih pada dokter, beruntung sekali saya
bertemu dengan orang sebaik Dokter Callista. Terima kasih dokter.” Bu Winda
menggenggam tanganku bahagia.
“Nggak
usah berlebihan, Bu. Saya disini kan sudah hampr 4 bulan, saya sudah menganggap
keluarga ini menjadi bagian dari hidup saya juga kok. Selama saya bisa
membantu, saya akan bantu semaksimal mungkin.” Bu Winda memasang wajah haru di
hadapanku.
**
Terlihat Bu Winda sudah rapi dengan
kopernya, “Mama berangkat dulu sayang” Bu Winda mengecup kening anak tunggalnya
itu, Arditama Suryadinanta. Tak berbeda dengan sebelumnya, Ardi hanya menatap
lurus dengan pandangan yang tak menggubris apapun. Aku yang berdiri di belakang
kursi roda Ardi sambil memegang kursi roda itu tersenyum melihat keharuan Bu
Winda yang akan melepas anaknya sekitar 2 bulan bersamaku.
“Dokter,
saya titip anak saya ya?” mengusap sebutir air mata yang menetes di pipinya.
Tersenyum,
“Iya, Bu Winda hati-hati ya. Semoga cepat selesai.” jawabku.
Bu
Winda memasuki mobilnya ditemani supirnya yang akan mengantarkannya ke bandara.
Momen mengharukan itu perlahan lenyap,
aku mendorong kembali kursi roda Ardi ke kamarnya. “Makan dulu ya, Di?” aku
menawarkan makanan yang sudah disiapkan Mbak Rina sejak pagi sebelum mamanya
berangkat. Ardi menggeleng, “Kenapa?” tanyaku. “Makan dong. Oh ya, abis ini
kita main ke taman yuk? Mau ya?” Ardi diam. Aku yakin dia sangat ingin ke
tempat itu. “Oke, tapi kamu harus makan dulu.” aku menyuapinya hingga makanan
itu habis.
Kini,
Ardi sudah mulai sedikit berubah, dia sudah mulai mau mendengarkan perintahku.
Dia sudah sehat, tinggal beberapa tahap yang harus aku lalui untuk kesembuhan
totalnya.
“Berarti,
kalau Ardi sembuh, aku akan meninggalkannya?” tanya hatiku, termenung. Tak
beberapa lama, aku tersadar dari lamunanku ketika Mbak Rina memanggilku,
“Dokter Callista, makanannya sudah saya siapkan di meja makan.”
“Oh
iya, Mbak, terima kasih ya?” jawabku yang baru tersadar dari lamunanku.
Aku
melanjutkan menyuapi Ardi, “Beruntung sekali orang yang menjadi pasangan hidup
kamu nantinya” meletakkan sendok di atas piring dan berdiri di samping Ardi
yang sedang menatap ke arah kolam hias miliknya.
“Layaknya
bulan yang tak pernah lelah menemani bintang bersinar, layaknya matahari yang
tak pernah mengeluh memanjakan alam dengan kehangatannya, dan layaknya air yang
tak pernah jenuh turun bersama dikala hujan. Andai kamu sadar, karena saya
yakin kamu kamu mengerti tentang semua yang aku katakan, perasaanku terlalu
kuat mengatakan hal itu, entah mengapa, mungkin kamu sudah menjadi bagiannya.”
aku yang hanyut akan kata-kataku sendiri. “Hm.. Maaf, Tuan.” aku tersadar.
“Suapan terakhir, Tuan Ardi.” lanjutku.
Terlalu panjang waktu yang harus
dilaluinya dalam danau keterpurukan. Cinta memang penuh misteri, terkadang
keindahan terselip di dalamnya dan muncul di akhir cerita. Namun terkadang
keindahan itu muncul di permukaan yang akhirnya tenggelam bersama luka teramat
perih, goresan belati yang teramat tajam menyulitkan seseorang bangkit dan
berdiri berjuang untuk menghapusnya. Ya, goresan itu memang tak mudah untuk
dihilangkan, sulit, bahkan terlalu sulit, terlebih jika itu bersumber dari
seseorang yang sudah menjadi setengah nyawa kehidupan bersamanya. Namun,
bukankah Tuhan menciptakan luka untuk menguatkan kita? Membuat kita menjadi
lebih tegar? Menjadi lebih sabar? Menjadi lebih ikhlas menerima keadaan,
tersulit sekalipun? Semua tergantung pribadi yang menjalaninya.
Taman itu tak cukup indah bagi seseorang
yang sedang tenggelam dalam danau kepedihan, semua terasa biasa saja karena
mereka tidak merasakannya, tidak merasakannya dengan hati. “Saya harap, kamu
senang tempat ini.” menepi ke sebuah tempat seperti gardu dengan hamparan
ilalang tinggi dihadapnya.
“Angin
disini sejuk, semoga pikiran kamu bisa tenang terbawa hembusan semilir angin
yang mengalun lembut. Kamu bisa rasakan, Ardi?” tanyaku.
Ardi
menutup matanya, mencoba merasakan hembusan angin yang menyentuh kulitnya, Ardi
menghayati setiap sentuhan angin yang menerpa kulitnya. Begitu dalam dia
mengharapkan.
“Menurut
saya, angin mampu menyegarkan pikiran dan membawa pikiran saya selalu ke dalam
kotak positif, karena saya percaya dikala angin itu berhembus, bersamaan dengan
pikiran negatif saya, mereka akan melayang jauh dan kembali dengan sebuah angin
positif. Angin berhembus apa adanya, seperti seseorang yang mencintai tulus apa
adanya otomatis akan membawanya ke dalam kotak positif.” aku juga merasakan
hembusan angin itu.
Suasana sekejap hening, “Seperti kamu
yang tulus bersamaku.” Suara itu terdengar seketika dan lenyap entah kemana,
aku tersentak menoleh ke arah Arditama memastikan apakah benar suara itu
bersumber darinya. “Ardi?” tanyaku dengan wajah berbinar menampakkan
kebahagiaan.
“Layaknya
angin yang berhembus tulus apa adanya, kamu adalah angin.”
Aku
menghampiri, aku benar-benar tersentak, entah apa yang harus aku rasakan saat
itu, kata-kata itu terucap dari bibir seorang Arditama.
“Aku?
Angin? Tapi aku bukan angin yang mudah berlalu begitu saja.” balasku dengan tersenyum.
Hanya beberapa kata yang dapat diucapkan
olehnya, meski dengan tatapan yang datar. Ardi mulai membuka suaranya,
selangkah lagi aku mampu mengembalikannya. “Oh Tuhan..” entah apa yang harus
aku rasakan saat kata-kata terucap dalam batinku. Benar saja apa yang aku
rasakan saat in, Ardi mengerti semua kalimat yang aku lontarkan, hanya saja dia
masih terlalu dalam tenggelam dalam masa lalu kelamnya. Mungkin angin membawa
jiwanya melayang, kembali ke permukaan, siap mencari kebahagiaan yang telah
lama terpendam.
**
Kembali, malam itu Bandung diguyur hujan
lebat, terkadang cahaya kilat membentuk goresan di langit.
“Hujannya
deras, kilatnya dahsyat, tutup ya?” menarik kain coklat yang menyingkap di
jendela.
Ardi
diam, tidak seperti tadi di taman. Aku membiarkan, mungkin tak ada kata yang
ingin diucapkannya.
“Selamat
malam, Arditama.” sapaku sambil menutup pintu kamarnya.
Entah perasaan apa yang harus aku
rasakan kala itu. Bahagia, aku mampu mengembalikan Ardi kekeadaan semula tanpa
sepengetahuan mamanya. Sedih, ya aku sedih karena aku harus pergi
meninggalkannya. Seketika aku teringat akan Ferdy, “Ferdy” batinku. Aku
mengambil hapeku, dan mengirimkan SMS ke nomor Ferdy.
Aku
merindukanmu, sayang
Tak
beberapa lama, hapeku menerima balasan dari pesan singkat yang bersumber dari
nomor Ferdy
Aku
pun merindukanmu selalu, sayang
Aku
dan Ferdy akhirnya berbalas pesan singkat.
Aku tahu aku tak pernah ada di sampingmu yang bisa
selalu bersamamu, menemanimu. Tapi sungguh, aku mengharapkan itu secepatnya
Jangan khawatir sayang. Aku disini menantimu. Sudah
malam, kamu tidur ya?
Kenapa kamu menyuruhku tidur? Kita baru beberapa menit
berbalas SMS. Aku masih kangen kamu, Ferdy
Tapi
ini sudah malam, sayang. Kamu harus tidur.
Apa
aku tidak boleh merindukanmu?
Bukan begitu sayang, percayalah aku menyayangimu
dimanapun kamu berada
Bolehkah
aku tidak tidur untuk malam ini?
Kenapa?
Aku rasa tak cukup baik untukmu.
Aku
takut..
Takut
kenapa, sayang?
Aku takut kalau aku tidur, aku tak bisa lagi
mencintaimu di esok hari atau aku takut kamu akan berhenti mencintaiku
Kenapa
kamu bicara begitu?
Setiap malam, aku selalu terpikirkan tentang kita,
tentang kisah kita yang terpisah ruang dan waktu, tentang apa yang kamu lakukan
disana, jauh dari jangkauanku
Sayang, kita memang terpisah ruang dan waktu, namun
percayalah aku mencintaimu dimanapun kamu berada. Aku akan berhenti mencintaimu
seiring nafasku berhenti
Sungguh? Apakah kau yakin menuliskan semua itu? Bukan
sekedar kumpulan kata?
Percayalah sayang, itu semua tertulis melalui perantara
tangan dan jariku yang bersumber dari dalam hatiku
Tapi
aku belum yakin, dan aku mau kamu selalu yakinkan aku
Sayaaang,
tidurlah. Banyak kegiatan yang harus kamu kerjakan esok.
Kamu
belum bisa penuhi keinginanku?
Aku
sanggup penuhi segala keinginanmu. Tidur ya sayang, selamat malam
Simbol
titik dua bintang yang sama-sama ada di SMS itu mengakhiri obrolan aku dan
Ferdy di pesan itu. Aku percaya dengan semua yang dikatakan Ferdy dalam pesan
itu, namun tak bisa ku pungkiri, perasaan meragu kerapkali aku rasakan. Tak
sadar, aku terlelap dalam letihnya menentukan segala perasaanku.
**
“Dokter
Callista.. Dok..” teriak Mbak Rina.
Aku
yang sedang membuatkan coklat hangat sedikit terperangah mendengar teriakan
Mbak Rina, “Ada apa, Mbak?” sahutku.
Aku
menghampiri arah suara. “Dokter, itu Den Ardi tumben ada di kebun belakang?”
Ya
Tuhaaan.. Aku kira ada apa Mbak Rina berteriak seperti melihat sesuatu yang
menakjubkan. “Itu aku yang bawa, Mbak. Memang kenapa ya?” tanyaku dengan
segelas coklat hangat ditanganku.
“Ya
ampun, saya kira Den Ardi bisa bawa kursi rodanya sendiri ke kebun. Saya udah
senang aja tuh ngelihatnya.” cerita Mbak Rina mengelus dadanya.
Aku menghampiri Ardi membawakan segelas
coklat hangat untuknya, “Ini coklat hangat buatan saya loh. Cobain deh!”
pintaku pada Ardi.
Mungkin
coklat itu masih terlalu panas, Ardi terlihat sedikit menahan rasa panas
dibibirnya. Bibirnya yang merah berubah menjadi coklat, membuatnya terlihat
lucu, “Yah kayak anak kecil deh!” candaku sambil mengelap bibirnya yang berubah
warna coklat dengan selembar tissue. Aku letakkan segelas coklat itu dengan
maksud agar Ardi bisa menikmatinya dengan lezat kalau coklat itu memang sudah
benar-benar hangat.
Aku
memainkan air di kolam yang berisi ikan hias milik Ardi, menepuk-nepuk airnya,
memberi makan ikannya, “Lihat deh! Ikan ini senang tuh dewanya udah bisa
nengokin ke rumahnya lagi.” aku masih asyik memainkannya.
“Seandainya
saya bisa membaca bahasa mereka, mungkin saya akan melihat mereka seperti
layaknya anak balita yang diberi hadiah oleh orang tuanya. Sangat senang,
melompat-lompat kegirangan. Bagi mereka, kamu adalah kebahagiaan terbesarnya.
Karena disini, cuma kamu yang dianggapnya paling mengerti mereka. Iya nggak?”
memberi makan ikan, bicara dengan ikan-ikan di kolam itu.
Kemajuan Ardi sudah semakin nampak
ketika dia mulai memerhatikan ikan-ikan di kolam itu ketika aku mencoba
mengajak berinteraksi dengannya.
“Nanti
kalau kamu udah kembali kekeadaan semula, kita bersihin kolam ini bareng-bareng
yuk?” ajakku masih menepuk-nepuk air di kolam itu.
“Aku
nggak mau bersihin sendiri kolam ini, nanti kalau ada apa-apa sama ikan-ikan
kamu, aku nggak tahu gimana harus tanggungjawabnya? Aku nggak pernah memelihara
hewan soalnya” cengir aku.
Senyum
diwajah Ardi terukir meski hanya beberapa milimeter saja, namun aku bisa
melihatnya.
Setelah beberapa jam di kebun belakang
rumah, aku membawanya kembali ke kamar untuk membantunya sarapan. Seperti
biasa, aku menempatkan di posisi favoritnya. Ketika aku menyuapinya, aku biasa
mengajaknya berbincang meski tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Namun,
setelah selesai sarapan, aku bergegas untuk ke kamarku. Tiba-tiba, aku menatap
matanya dalam, menghayati setiap bentuk diwajahnya, Ardi menggenggam tanganku,
seolah menahanku pergi.
“Bawa
aku ke taman bunga!” pinta Ardi dengan tatapan tajam pula menatap mataku.
Aku
mengangguk, tak lama aku tersadar dari lamunanku akan sikap Ardi, “Siap, Tuan
Arditama!” sikap hormat dihadapannya.
**
Tak henti-hentinya batinku berucap
syukur karena kemajuan yang dimunculkan Ardi begitu nampak. Semakin tak karuan
perasaan yang aku rasakan, “Tuhaaan.. Tolong jaga hati ini. Ingatkan aku sudah
ada yang menantiku disana.” gumamku dalam hati.
Ardi
menunjuk ke tempat yang begitu indah, salah satu tempat favoritku ketika
disana. Hamparan bunga bermekaran warna-warni, rerumputan tumbuh hijau
mengelilingi, suasana hening menambah keindahan tempat itu. Aku membawanya
kesana, Ardi menatap setiap bunga yang menghampar di taman itu.
“Rerumputan
itu sebenarnya kesepian, tak ada suara, tak ada langkah, hening tak bergetar.
Tapi mereka masih bisa tumbuh hijau, sangat indah. Karena bunga-bunga itulah
sebenarnya yang menjadi teman dalam sepinya rerumputan itu. Bayangkan jika tak
ada bunga warna-warni itu, semua datar, pasti.” tatapan Ardi menghayati setiap
rerumputan dan bunga-bunga di taman itu. Aku yang mendengarkan, mencoba
menerjemahkan setiap kata yang terlontar dari bibirnya. “Oh Tuhaaan.. Ardi juga
suka puisi” batinku.
“Karena
Tuhan tak akan menciptakan tanpa pasangannya, Tuhan tahu mereka pasti kesepian
jika mereka sendiri. Untuk itu, Tuhan mengirimkan bunga-bunga indah itu untuk
tumbuh menemani rerumputan itu. Serasi, warnanya berpadu indah.”
“Rerumputan
itu segar sekali, seperti tak pernah kekeringan” masih dengan sikap awal Ardi.
“Kata
siapa? Rerumputan itu pernah kekeringan kok, disaat mereka tak ada yang
menghiraukan, disaat ada orang yang ingin merusaknya, tapi disisi lain ada
orang yang sayang padanya hingga mereka rela meawatnya sampai rumput itu
kembali tumbuh karena nggak selamanya mereka bisa terus tumbuh terus tumbuh,
mereka juga harus mengalami penyegaran kembali, tapi hebat ya? Mereka bisa
tumbuh kembali dengan segar.” menghela nafasku. “Kita juga gitu kok” lanjutku
disela-sela nafasku.
Ketika Ardi sudah puas dengan
pemandangan di tempat itu, aku mengajaknya berkeliling kembali mengitari taman
itu. Disela perjalanan, terlihat sepasang kekasih saling merangkul, bercanda,
pemandangan yang sangat indah, tapi “Sepertinya aku kenal orang itu?” aku
fokuskan pandanganku pada mereka yang berada sekitar 5 meter dariku. Aku
mencoba mendekatinya, namun ketika aku sudah hampir dekat dengan mereka, “Oh My
God! Itu kan Ferdy sama Brenda! Iya bukan sih?” aku memastikan apakah benar
semua yang aku lihat.
Jantungku berdegup kencang secara
tiba-tiba, aku tak mengerti dengan apa yang telah aku lihat. Mereka tidak
melihatku yang berada di belakangnya. Kembali aku dekati mereka, dan ternyata
penglihatanku masih cukup baik, mereka Ferdy dan Brenda.
“Kalian?”
aku menghampiri mereka ketika mereka sedang asyik berduaan, sementara Ardi aku
tinggal sejenak.
“Callista?”
Ferdy sangat terkejut ketika melihatku yang sudah dihadapannya. Wajah Brenda
panik, memerah, tak berani menatapku.
“Oh
jadi ini yang kalian lakukan di belakang aku?” mataku mulai berkaca.
“Aku
bisa jelasin semuanya, sayang.” Ferdy memegang kedua bahuku mencoba meyakinkan
aku.
“Brenda?”
mataku semakin berkaca.
“Ta..
Gue bisa..”
“Nggak
ada yang harus dijelasin lagi!” memotong pembicaraan Brenda.
Air
mataku berhasil mengalir diwajahku. “Sayang.. Aku bisa jelasin, tolong dengar
penjelasan aku, aku mohon sayang!” Ferdy mencoba membujukku.
“Lupakan
semuanya! Terima kasih buat semua yang udah kalian kasih ke aku. Mungkin inilah
saatnya aku merasakan goresan belati tajam yang biasa dirasakan pasienku,
ternyata memang lebih dari sekedar sakit.” aku tak mampu menahan air mataku.
“Callista..
Gue minta maaf. Gue nggak ada maksud kok buat nyakitin lo.” ujar Brenda.
Tertawa
menyeringai, “Terus apa kalau bukan buat nyakitin gue? Lo mau bilang kalau ini
alur cinta yang mengalir apa adanya? Silakan, Bren! Gue ikhlas kok!”
“Sayang..”
Ferdy masih mencoba ingin membujukku.
“Jangan
pernah hubungi aku lagi. Anggap kita nggak pernah kenal, dan gue akan belajar
buat menghapus semua kenangan gue sama kalian.” aku berlalu meninggalkannya,
kembali menghampiri Ardi.
Ferdy
dan Brenda terus berteriak memanggilku yang sudah semakin kabur dalam pandangan
mereka, disela perjalananku meninggalkannya, aku kuatkan hati dan ku usap air
mataku, seraya aku berkata, “Semoga kalian bahagia” dengan getir hati aku
ucapkan, menahan segenap air mataku yang tak dapat ku tampung dalam kelopak
mataku.
Aku mendorong kursi roda Ardi menuju
parkiran dan membawanya pulang. Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa diam,
teringat kisah pedih di taman bunga itu, taman bunga yang selalu memberikan
kesan indah tiap kali aku mengunjunginya namun kali ini berbeda, aku seperti
tertusuk jutaan duri mawar yang tumbuh indah di taman itu. Ardi yang menatapku
menangis, sepertinya mengerti tentang apa yang aku rasakan saat itu.
“Menangislah
jika itu membuat bebanmu sedikit berkurang. Tak banyak memang yang dapat
dilakukan oleh seseorang yang sedang terluka.”
Seketika
aku menghentikan mobilku di pinggir jalan, pandanganku buram karena air mata
yang terus mengalir.
“Tapi
kamu sendiri kan yang bilang kalau luka itu diciptakan Tuhan untuk membuat kita
lebih tegar, lebih ikhlas, dan lebih sabar menerima segala masalah apapun
tersulit sekalipun?” Ardi tersenyum menatapku yang terus berlinangan air mata. Tak
bisa ku hentikan air mataku, bukan hanya karena duri yang ku dapat di taman
bunga itu, melainkan sikap Ardi yang entah mengapa menambah deras air mataku
untuk mengalir. Setelah aku rasa aku tenang, aku lanjutkan perjalanan pulangku.
Berharap kenangan itu tidak ku bwa pulang, namun apalah daya, kenangan itu
terus berputar dalam benakku, mengudara dalam bayangku, membuatku merasakan
kepedihan yang teramat dalam. Aku mencoba tegar menghadapinya, aku mencoba
sabar menjalaninya dan aku mencoba ikhlas menerimanya. Meski sulit untuk ku
lalui, namun aku percaya, Tuhan selalu bersamaku bersama orang-orang
menyayangiku tanpa syarat. Sepintas, aku teringat semua pesan singkat yang baru
beberapa ini dikirimnya untukku yang berhasil membuatku yakin padanya. Entahlah,
semua hanya sekedar kata-kata.
**
Terlalu pedih untukku menahan luka
terkhianati, terlebih luka yang berdasar pada persahabatan. Mungkin belum
saatnya untukku merasakan segala ketulusan kasih sayang tak bersyarat. Mereka
melihatku cukup tegar untuk menjalani semua, namun mereka tak pernah mengerti
bagaimana keadaan dalam ketika aku terluka. Aku memang bukan malaikat, malaikat
yang sempurna yang tak bisa terluka. Aku manusia, manusia teramat biasa, dimana
ketika aku luka, aku menangis. Ketika aku tersakiti, aku menangis. Ketika aku
terkhianati, emosionalku memuncak. Aku tak mampu menutupi apalagi menghindari.
Inilah aku, aku apa adanya.
“Ternyata
kamu tidak setegar apa yang aku bayangkan ketika lidahmu menari dihadapanku,
menyusun setiap bait kata indah. Apa semua itu hanya kata-kata?” Ardi yang
tiba-tiba hadir di kamarku.
Mengusap
air mataku yang tak kunjung henti teringat kejadian terpedih di taman bunga
tadi, “Ardi?” dengan suara lemah, menahan sayatan luka dihati.
“Usap
air matamu! Untuk apa kamu menangisi orang yang sudah menyakitimu? Apa dengan
menangis seperti ini dia bisa merasakan apa yang kamu rasakan? Kalau nyatanya
dia sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya? Sungguh kamu orang yang
merugi!” kata-kata yang terlontar dari bibir Ardi terlalu tajam yang akhirnya
menyadarkanku.
Aku termenung memahami setiap kata yang
baru saja terlontar dari bibirnya Ardi. Ya, kini aku mulai mengerti, memang tak
sepantasnya aku menangisi orang yang tak pernah mengeluarkan air matanya
untukku. Disini aku menangis, tapi disana mereka sedang tertawa bahagia di atas
penderitaanku. Sungguh, Ardi jauh lebih hebat nyatanya dariku, semua diluar
bayanganku tentangnya.
“Terima
kasih.” mencoba menahan air mataku yang terlalu sulit aku tahan kehadirannya.
Ardi
tersenyum melihatku menghapus air mataku dan menarik nafas mencoba menahan
lukaku.
“Sudah
malam, saya antar ke kamar?” tanyaku.
Ardi
masih menatapku dengan senyum termanisnya, “Kalau kamu mau, boleh kok” Ardi
mencoba menghiburku.
**
Langit pagi itu seolah turut merasakan
apa yang sedang aku rasakan.
“Yah,
pagi-pagi udah hujan. Nggak bagus banget sih.” gerutu Mbak Rina karena sulit
mengeringkan pakaian.
Aku
yang sedang menikmati tetesan air hujan yang jatuh dari atap rumah, tidak menghiraukan
ucapan yang terlontar oleh Mbak Rina.
“Den
Ardi? Den Ardi?” Mbak Rina kaget ketika melihat Ardi membawa kursi rodanya
menuju kebun belakang rumah.
Aku
yang mendengar kehisterisan Mbak Rina, sontak menoleh ke sumber peristiwa.
“Hai,
Mbak.” sapa Ardi pada Mbak Rina. Mbak Rina yang masih terkejut dengan kehadiran
Ardi, terus memandangi Ardi sampai tiba akhirnya Ardi menghampiriku.
Aku
hanya mampu tertawa pelan melihat tingkah Mbak Rina yang menurutku terlalu
berlebihan.
Ardi menatap langit yang tidak terlalu
cerah. “Hm.. Gara-gara kamu nih!” candanya.
“Ah,
bisa aja!” kataku malu-malu.
“Kapan
ya mama pulang?” tanyanya sembari tetap menatap langit.
“Oh
ya, semalam Bu Winda nelpon saya, katanya beliau pulang diundur 2 minggu lagi,
ada proyek tambahan disana.” ceritaku menyampaikan amanat mamanya.
“Huh! Lama!” Ardi mengeluh
“Kangen
juga kan?” kataku bermaksud meledeknya.
“Iya.
Oh iya, bantu aku belajar jalan ya?” pintanya.
“Yakin,
Tuan?” kataku menatapnya penuh antusias.
“Ya,
saya yakin saya mampu berdiri tegar!” katanya kokoh. “Tidak seperti kamu!”
lanjutnya bercanda.
Aku
hanya tersenyum malu, “Yee, siapa ya yang galau berbulan-bulan?” tawaku pecah
ketika melihat Ardi speechless.
“Tapi
aku maunya di taman bunga, gimana?” ajak Ardi seolah menantang.
“Taman
bunga?”
“Kenapa?
Takut ya?” tawa Ardi.
“Nggak!
Oke kita kesana, kapan maunya kamu, saya siap!” tantang aku.
**
Sore itu langit terlihat begitu indah,
namun aku tak begitu merasakan keindahannya.
“Hmm..
2 minggu berlalu. Akhirnya kamu bisa buka mulut juga ya?” kataku sambil menatap
langit dari balik jendela kamar Ardi.
Posisi
Ardi saat itu sama seperti dulu sekitar 4 bulan yang lalu. “Maksud kamu?”
katanya penasaran.
“Hehe
nggak apa-apa kok” malu-malu.
“Oh
iya, tadi Bu Winda telepon aku katanya beliau kehabisan tiket pesawat dan baru
bisa pulang seminggu lagi.”
“Ah
diundur mulu!” Ardi merengut.
“Yaaah
dasar anak mama, kangen ya sama mama minta dininaboboin?” godaku.
Mata
Ardi membesar menatapku, “Ih nggak lucu!”
“Yeee
ngambek deeeh, tambah imut ya kalau lagi ngambek?” aku masih meledeknya.
Ardi
diam masih menatapku tajam.
Ah tatapan itu terlalu tajam untukku,
entah menusuk jantungku atau tidak, aku suka tatapan itu.
“Kapan
nih mau belajar jalan?” mencoba mengalihkan pembicaraan semula dan sedikit
menutupi salah tingkahku karena tatapannya.
“Besok?”
lantang Ardi.
“Wah
semangat banget, Tuan?” senyum menggoda.
“Bodo
ah!” Ardi mulai sensi menanggapi candaanku.
Langit sore memudar, cahaya bulan dan
bintang datang menerangi malam itu. Terkadang aku merasakan hidup ini lebih
dari sekedar indah ketika aku mengingat Arditama, namun tak jua aku merasakan
hidup ini terlalu kusam saat aku teringat akan Ferdy dan Brenda.
Duduk
di kebun belakang, menekuk kedua kakiku dan memeluknya, “Tuhaaan.. Entah dengan
siapa aku mampu berbagi seluruh hatiku, ingin aku luapkan semua keluh kesah
mengenai kegelisahanku. Mungkin hanya Tuhan yang mampu menjadi tempatku
bersandar. Bulan itu indah, Tuhan. Seandainya kau berikan aku sayap untuk
terbang, aku akan terbang kesana Tuhan.” menunjuk bulan yang sedang bersinar
terang.
“Aku
terlalu rapuh Tuhan jika aku mengingat kisah kelamku, aku nggak pernah tahu
dosa apa yang sudah aku lakukan pada mereka, seolah mereka tak punya hati,
seolah mereka tak sadar akan kehadiranku saat mereka tega menggores luka dalam
di hatiku. Aku tak habis pikir, Tuhan.” mataku mulai berkaca-kaca.
Tiba-tiba, “Lalu kamu anggap aku ini
patung?” suara Ardi yang sudah ada di belakangku.
Mengusap
air mataku yang belum sempat jatuh diwajahku, “Ardi?” aku beranjak berdiri dan
menatap Ardi sedikit kaget.
“Bulan
itu sudah punya teman, bintang. Kalau kamu curhat sama dia, kasihan dong
bintangnya? Kamu bilang kamu nggak punya sayap?” tanya Ardi sambil menatap
langit indah malam itu.
Aku
tak mampu berkata, hanya mampu menunjukkan mimik wajah penuh tanda tanya.
“Ya,
Tuhan memang tidak menciptakan kamu sayap untuk terbang ke langit sana, tapi
percayalah sebenarnya Tuhan menciptakan kamu sayap untuk sampai dihadapanku,
bertemu denganku, dan….” Ardi menghentikan.
“Dan
apa?” tanyaku.
“Sudahlah.
Intinya kamu diciptakan Tuhan sebagai malaikat tanpa sayap” Ardi tersenyu
manis.
“Oh
Tuhaaan, apa maksud semua ini? Akankah hatiku yang terlalu besar menaruh
harapan pada setiap pikiranku yang terlintas ketika mengingatnya? Akankah semua
ini benar terjadi tentang semua yang aku rasakan?” tersenyum dalam lamunanku.
“Dokter?
Dokter Callista?” panggil Ardi mencoba menyadarkanku.
“Hah
iya, kenapa?” aku tersadar dari lamunanku.
“Kok
ngelamun sih?”
“Eh,
nggak kok. Sudah, saya antar ke kamar ya? Petirnya seram nih.”
Ya, tiba-tiba petir datang dan gemuruh
saling bersahutan hebat. Angin pun berhembus dengan kecepatan yang lebih besar
dari sebelumnya. Aku mendorong kursi roda Ardi menuju kamarnya dan menutup
pintu kebun belakang rumah.
**
Tak berapa lama setelah aku kembali ke
kamar dari kamar Ardi, hujan terus begitu derasnya. Suara tetesan yang
terdengar jatuh di lantai balkon, saling bersahutan mengisi malam itu.
Aku baringkan tubuhku di atas kasur
setelah penat akan hari ini. Menatap langit atap kamar, sudut demi sudut. Aku
belum berniat mematikan lampu kamarku. Aku mengambil handphone yang ku letakkan
di meja sebelah tempat tidurku. Membuka pesan yang bersumber dari Ferdy,.
Dahulu, ya pesannya dahulu yang berhasil membuatku percaya akan kata-katanya.
Aku baca dan terus membaca, sampai tak
terasa air mata ini kembali mengalir bersamaan dengan air hujan yang turun. Aku
tak mampu menahan air mataku yang sudah ku coba tahan dalam kelopak mataku. Aku
usap, namun air mata deras tak mampu ku bendung, aku terlalu lamban untuk
menghapus air mataku yang berebut untuk turun membasahi wajah ini.
Semua kenangan akan ferdy seolah kembali
terputar dalam memoriku. Seperti sebuah film yang menayangkan aktris dan aktor
protagonis dan antagonis, akulah aktris protagonis yang mungkin kerapkali
tersakiti oleh aktor dan aktris antagonis. Mencoba menghapus semua kenangan
itu, namun apalah daya, semua tak semudah tentang apa yang aku pikirkan selama
ini. Semua terasa begitu sulit untuk ku lenyapkan, lenyapkan bayang-bayang
menyakitkan, mengiris hati, menusuk jantungku.
Memajamkan mata pun terasa begitu lemah,
selalu terjadi penolakan ketika aku mencoba membawa diriku ke alam bawah sadar.
Pikiran nonfiktif itu terus muncul dalam benakku, mengisi malam-malamku hingga
akhirnya aku tak jua tertidur padahal waktu sudah dini hari.
**
Lagu d’Masiv dihandphoneku berdering
sekitar pukul 6 pagi.
“Hallo..”
sapaku ditelepon itu masih dengan suara khas orang bangun tidur.
“Hallo,
Dokter. Ini saya Bu Winda.”
“Oh
Ibu, iya Bu ada apa?” segera menyegarkan diri.
“Hari
ini saya kembali ke Jakarta, Dok. Dokter Callista masih di rumah?” Bu Winda
memastikan.
“Masih
kok, Bu. Ibu sudah di bandara?”
“Iya
saya sudah di bandara, pemberangkatan ke Jakarta sekitar jam 7, Dok.”
“Oh
iya, Bu. Hati-hati, Bu.”
“Terima
kasih, Dok. Nanti saya mau tahu bagaimana perkembangan Arditama ya, Dok?”
“Siap,
Bu!”
Setelah telepon itu mati, aku bergegas
untuk bersih-bersih diri.
“Selamat
pagi, Ardi.” membawa segelas susu coklat dan sepotong roti untuk sarapan pagi
Ardi.
Ardi
sudah ada pada posisi seperti biasanya dan tersenyum menjawab sapaanku.
“Sarapan
pagi untuk lelaki hebat seperti Arditama Suryadinanta” kataku mencairkan
suasana pagi itu.
Kembali,
Ardi tersenyum menyeringai.
“Mama
kapan pulang?” tanya Ardi serius.
“Mau
tahu banget ya?” candaku.
“Serius,
Dokter!” Ardi menegaskan.
“Beliau
sudah ada di bandara dan pemberangkatan ke Jakarta sekitar jam 7, ya
kemungkinan beliau sampai Bandung sekitar jam 1 siang, Tuan.”
“Mama
sudah tahu keadaanku saat ini?” tatapannya lurus ke depan tertuju pada pohon
cemara yang ada persis di depan jendelanya dekat dengan kolam kesayangannya.
“Hm..
Belum. Saya belum memberitahunya, kata beliau nanti saja saat beliau sudah
sampai rumah.”
Ardi
tertawa pelan.
“Kok
ketawa?” tanyaku bingung.
“Lucu
aja” masih tertawa.
“Oh
ya?” aku memerhatikan diri dan sekitar. “Why?”
“Serius
banget jawabnya. Bahasanya kayak bahasa yang dipakai sama anggota DPR saat
rapat paripurna.” tawa Ardi pecah.
Aku
pun ikut tertawa melihat Ardi.
Entah
mengapa, saat aku melihatnya bahagia, seolah kebahagiaan itu turut hadir dalam
hidupku, dan aku tak pernah mengerti apa maksud semua itu.
Suasana saat itu memang terlihat kaku
saat sebelum Ardi mencairkannya. Ya, aku terbawa suasana Ardi yang memintaku
untuk serius.
“Katanya
mau latihan jalan? Kapan nih?” tanyaku.
“Wih!
Pengin banget ya ke taman bunga itu lagi?” goda Ardi.
“Mulai
ya!” aku sedikit kesal.
“Bercanda,
Dokter cantik” Ardi kembali tertawa menggodaku. “Nanti saja, aku mau mama ikut
ke taman bunga juga membantu aku latihan jalan.” lanjutnya.
“Oke,
Tuan!” menunjukkan ibu jariku ke hadapannya.
**
Setelah aku merapikan bekas sarapan Ardi
yang kebetulan saat itu Mbak Rina tidak ada di rumah karena anaknya di kampung
sedang sakit jadi aku yang mengendalikan rumah saat itu. Sudah lama aku tidak
nonton film, aku mencoba mengajak Ardi menonton DVD di ruang tengah.
“Nonton
yuk, Di?” ajakku.
“Dimana?”
“Di
ruang tengah aja, malas keluar rumah nih, mendung juga.”
“Ayo!”
Aku
mendorong kursi rodanya menuju ruang tengah. Di tengah perjalanan menuju ruang
tengah, “Pengin buru-buru mama pulang. Nanti kamu jangan kasih tahu mama dulu
ya tentang keadaan aku sekarang, aku mau bikin surprise buat mama.” pintanya.
“Hmm..
Malas ah, kata mama aku, aku nggak boleh bohong tuh, gimana dong?” candaku.
“Ih
ngeselin deh!” Ardi terlihat jengkel.
Tawaku
pecah melihatnya jengkel, “Iya, Tuan Arditama. Saya siap laksanakan perintah
tuan!” jawabku tegas.
Ardi
tersenyum.
Aku
sibuk mencari film yang akan ditonton dikumpulan DVD milik keluarga itu.
Koleksinya cukup banyak, semua terurut rapi berdasarkan tahun film itu muncul.
“Banyak
banget, Di? Suka nonton juga?” tanyaku masih sibuk memilih DVD.
“Papa
sama mama, dari dulu memang udah suka banget sama film, apapun itu. Makanya
mereka rajin banget ngoleksi DVDnya. Katanya sih semua film nggak seru kalau
nontonnya cuma sekali. Mama yang paling sering beli DVDnya, sampai penjaga
tokonya selalu calling mama kalau ada film baru.” cerita Ardi sambil menyalakan
televisi dan aku masih sibuk memilih DVD yang memang sangat banyak.
“Tapi
semenjak papa meninggal, DVD itu rasanya usang. Nggak pernah lagi ada yang
nyentuh. Mama, mama terlalu sibuk sama pekerjaannya. Aku, aku tidak terlalu
hobi menonton film.” lanjutnya.
**
Saat aku sedang sibuk memilih, tiba-tiba
remote tv yang dipegang Ardi jatuh ke lantai yang membuatku terhenti dari
pencarian dan tertuju pada Ardi.
Ardi
terlihat shock saat melihat tayangan berita di televisi saat itu. Aku
menghampiri Ardi dan memastikan perihal yang tengah terjadi pada dirinya.
“Kenapa,
Ardi?” tanyaku bingung ketika melihat wajahnya shock dihadapan televisi.
Ardi
meneteskan air mata, wajahnya terlihat begitu tegang. Saat aku lihat berita
itu, berita itu tentang kecelakaan pesawat.
“Itu
pesawat yang selalu mama pakai kalau keluar negeri. Ya, itu pesawat mama. Mama
pasti ada di dalamnya. Sekarang sudah jam keberangkatannya.” Ardi panik.
“Ya
Tuhan.. Cobaan apa lagi yang harus dihadapi lelaki ini?” hati kecilku berkata.
“Ardi
sabar Ardi. Berdoa saja semoga mama baik-baik saja.” aku mencoba menenangkan.
Namun tetap saja Ardi masih panik dan tegang memikirkan keadaan mamanya.
“Nggak,
mama pasti ada disitu. Iya mama disitu.” Mengusap wajah tegangnya.
“Ardi,
sabaaaar” mengelus bahu Ardi.
Suasana saat itu memang sangat genting
sekali. Ardi tak hentinya memerhatikan setiap perkembangan dari berita
kecelakaan pesawat yang diduga mamanya ada di dalam pesawat itu. Ardi tak mau
beranjak dari depan tv menunggu perkembangan berita. Aku pun menemaninya dengan
terus mencoba menenangkannya.
Beberapa jam kemudian, telepon rumah berbunyi. Dengan langkah yang agak cepat, aku menghampiri telepon itu.
Beberapa jam kemudian, telepon rumah berbunyi. Dengan langkah yang agak cepat, aku menghampiri telepon itu.
“Hallo,
selamat siang.” suara tegas terdengar sangat formal.
“Selamat
siang.”
“Benar
ini rumah Winda Suryadinanta?”
“Iya,
benar. Dengan siapa saya bicara?”
“Saya
dari pihak kepolisian, Bu. Ingin memberitahu tentang daftar korban kecelakaan
pesawat, saat ini korban sudah ditemukan semua dan sudah berada di rumah
sakit.”
Aku
tercengang mendengar berita itu, “Ya, baik. Saya segera kesana, Pak. Terima
kasih.”
Sungguh, aku tak tahu apa yang harus aku
katakan pada Ardi tentang berita ini. Aku mencoba merangkai kata untuk
mengatakan berita ini padanya, namun pikiranku seketika buyar hilang
konsentrasi saat aku melihat Ardi yang sedari tadi tak beranjak dari hadapan
tv.
“Tuhan,
bagaimana? Apa yang harus katakan?” gumamku dalam hati.
Dengan
langkah gontai aku menghampiri Ardi. Pikiran Ardi tertuju pada berita itu
hingga dia tak menghiraukan apa yang sedang terjadi disekitarnya, tepatnya
telepon yang baru saja aku terima.
Aku
duduk bertekuk lutut dihadapannya, dengan tatapanku aku menatap wajahnya yang
terlihat begitu pedih menerima semua cobaan yang kian terjadi pada hidupnya.
Aku tak punya hati untuk melihatnya menangis lagi, terpuruk lagi dalam
kesedihan teramat dalam.
“Ardi..”
menggenggam tangannya.
Ardi
menatapku penuh tanda tanya dan ketegangan. Wajahnya menyimpan begitu banyak
kesedihan yang sedang dia coba untuk tidak memunculkannya.
Tanpa banyak kata, akhirnya aku membawanya ke rumah sakit
tempat para korban kecelakaan pesawat itu dikumpulkan untuk diambil oleh pihak
keluarganya.
“Terlalu sulit bagiku mengikhlaskan seseorang yang menjadi
sandaranku selama ini” ucap Ardi seiring aku mengendarai mobil dalam
ketidakberdayaanku berkata-kata.
Aku
yang benar-benar kehabisan kata saat itu, tak tahu apa yang harus aku ucapkan
padanya. Rasanya tak tega mengungkap semua langsung dari bibirku, bebannya
terlalu berat.
“Mama..
Ya Tuhan!” menghentakkan kepalanya ke sandaran kursi mobil.
Seolah
teringat akan sosok mamanya yang selama ini menjadi kekuatan tersendiri dalam
hidupnya. Ardi pun manusia, air matanya mengalir deras diwajahnya. Aku mencoba
untuk tetap memfokuskan pada mobil yang sedang aku kendalikan.
Suasana rumah sakit itu sudah sangat
ramai dipenuhi para keluarga korban kecelakaan pesawat. Suasana duka
menyelimuti rumah sakit besar di Bandung itu. Ardi, Ardi dengan lemah mencoba
mencari jasad mamanya dengan air mata yang tak dapat disembunyikan lagi. Aku
yang juga seolah merasakan apa yang sedang dirasakan, terus mencari wajah Bu
Winda.
“Mamaaaa!”
teriak Ardi ketika melihat tubuh mamanya terbujur kaku berlumuran darah.
Aku
yang juga melihatnya, tak habis pikir semua akan terjadi seperti ini.
“Ardi..”
mencoba menenangkan Ardi dengan mengusap punggung belakangnya. Aku pun tak tahu
harus berkata apa, Ardi begitu terpukul dan sangat lemah menyimpan semua air
matanya.
Rumah Keluarga Suryadinanta ramai
sekali, bukan karena kebahagiaan yang menjadi motifnya namun karena duka yang
teramat dalam. Keluarga besarnya datang melihat sosok terakhir bagian dari
Keluarga Suryadinanta itu, Nyonya Winda Suryadinanta yang kini telah terbujur
kaku menghadap Sang Pencipta.
Karangan bunga lengkap dengan kata-kata
turut berduka hadir menghiasi setiap bagian rumah itu. Sebagian orang sibuk
mengurus keperluan persemayaman jenazah. Ardi hanya bisa diam dan tetap tak
bisa memendam air matanya yang kian mengalir setiap dia mengingat kenangan
bersama orang terkasihinya.
“Sabar
ya, Ardi. Saya yakin kamu tetap bisa tegar. Mama sudah bahagia di surga
terindah-Nya, kalau kamu nangis terus nanti mama juga sedih. Percayalah, Di.
Tugas kamu sekarang ini adalah mewujudkan keinginan mama yang belum kamu
sempurnakan.” kataku memotivasi.
Kembali
seperti awal, Ardi tak mau membuka suara dan terus menenggelamkan diri pada
keterpurukannya yang kedua kali.
“Saya
pikir, seharusnya kamu sudah mampu lebih tegar karena kamu mengalami ini bukan
untuk yang pertama kali, bukan? Dan sama-sama orang yang kamu amat sayangi dan
sangat berarti dalam hidup kamu? Ayo, Ardi! Kamu jangan menenggelamkan dirimu
terlalu jauh dalam keterpurukan. Kamu harus bangkit, Ardi! Bangkit!”
“Memang
semua terasa sulit, tapi kamu harus bisa dan yakin bisa!”
Terkadang,
seseorang harus disadari oleh kata-kata yang seolah kita tak pernah
merasakannya, karena dengan begitu kemungkinan dia akan tersadar dan terus memikirkan
apa yang sudah terucap yang baginya terlalu sulit diterima.
Ardi tetap terdiam, menatap kosong
orang-orang yang lalu lalang di rumahnya. Begitu banyak keluarga besarnya yang
mencoba memberi semangat namun tetap tak dihiraukannya.
“Dokter,
tolong titip Ardi ya?” kata salah satu keluarganya dengan nada suara terisak.
Aku mengangguk. Hatiku tak karuan menghadapinya, entah cobaan
apa lagi yang sedang dan harus dijalani oleh keluarga ini, terutama Ardi. Baru
saja dia mencoba muncul ke permukaan dalam laut kepedihan, kini dia harus
kembali tenggelam dalam laut dalam itu. “Tuhan beri selalu dirinya ketegaran”
kalimat dalam hembusan nafasku.
**
Hari berlalu, Ardi kembali sikap semula
ketika dia ditinggal orang yang teramat berarti dalam hidupnya, calon
pendamping hidupnya yang sangat diharapkan dan pusat kebahagiaannya.
Kini, kembali dia kehilangan semuanya,
seolah mimpinya terhenti sampai disini.
“Ardi,
makan dulu ya? Seharian kamu belum makan” sepiring nasi goreng seafood
kesukaannya yang aku harapkan mampu memunculkan selera makannya.
Namun, harapan tinggallah harapan, Ardi tak ada selera makan
sama sekali, saat ku mencoba menyuapkan sesendok nasi menuju mulutnya, terkunci
rapat bibir atas dan bawahnya.
“Hidup
ini kejam! Tak pernahkah Tuhan mendengar doaku? Doa yang selalu ku pinta, hanya
sebuah kebahagiaan. Tidakkah Tuhan mendengar? Apa dosaku hingga kepedihan
menimpaku berturut seperti ini?” setetes air mata mengalir di pipi kanannya.
“Bukan,
tak sepantasnya kamu bicara seperti itu. Tuhan Maha Mendengar, Tuhan mendengar
semua doamu. Dan kamu tahu alasan Tuhan yang menurutmu tak memberimu
kebahagiaan saat ini?” duduk di pinggir kasur menghadap jendela. “Tuhan sedang
menyiapkan berjuta kebahagiaan yang akan diberikan padamu nanti jika menurutNya
sudah tiba pada waktunya” lanjutku.
Senyum
menyeringai, “Ya, setelah aku menyusul mama? Bukan begitu?” kesedihan terdalam
tetap terpancar di wajahnya.
“Ssht!
Tidakkah kau sadar sebenarnya kamulah yang menenggelamkan dirimu sendiri dalam
kepedihan? Bukankah setiap orang pasti kembali pada-Nya? Dan bukankah kita
diciptakan Tuhan memang sudah pada resiko akan menerima kehilangan, sekalipun
orang yang sangat berharga?” tegasku.
“Kemana
kebahagiaan itu? Kebahagiaan yang sangat menjadi harapanku, justru semua lenyap,
musnah, tak tersisa. Segitu beratkah cobaan yang harus aku jalani?” Ardi sangat
putus asa.
“Tak
selamanya manusia dalam lingkar kebahagiaan, ada kalanya dia merasakan
kesedihan, terdalam sekalipun seperti apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi,
cobalah kamu buka pikiran positifmu, buka pikiranmu secara luas. Hidup ini
saling berdampingan, Ardi. Janganlah kamu melihat sesuatu hanya dari satu sisi,
itu nggak akan membuatmu mengerti tentang arti kehidupan itu tersendiri”
Ardi
diam terpaku, tak lagi membalas kata-kataku, mungkin dia sedang mencerna apa
yang telah aku sampaikan dalam otaknya.
Ardi terlalu rapuh, dan tak mampu
menutupinya. Aku pun tersadar, tak mudah memang membuat diri tegar dihadapan
orang lain, terlebih mengikhlaskan orang yang selama ini menjadi pusat
kebahagiaannya dan menjadi sandaran hidupnya.
“Mama..
Maafin Ardi, Mama. Maafin. Maafin.” dalam tangis Arditama yang selalu terucap
kata maaf.
“Bukan
kata maaf yang saat ini dibutuhkan mama, tapi doa dan perwujudan rasa sayang
kamu sama mama.”
“Wujudkanlah
mimpi mamamu yang diharapkannya dari kamu” lanjutku.
“Sudah
malam, tidur ya?” melihat ke arah jam yang terpajang rapi di meja kamarnya.
**
Detik terus berputar, menit berlalu, jam
berganti seiring hari terus berganti. Bayangan akan kenangan bersama
orang-orang terindah dalam hidup memang tak mudah bahkan terasa sulit
terhapuskan. Namun, Ardi sudah terlihat sedikit mencoba mengikhlaskan segala
yang telah hilang dan telah terjadi dalam hidupnya.
“Kapan
nih mau ke taman bunga? Bosan banget nunggu berbulan-bulan kamu ngajak ke taman
bunga” bibirku sedikit merengut.
Ardi
tersenyum melihat wajahku yang sedikit tertekuk, “Sekarang, mau?” ajaknya.
“Hmm..”
memainkan bola mataku.
“Yah
takut, cemeeeeeeen!” menunjukkan ibu jari terbaliknya ke hadapanku.
“Ih
enak aja, ayo!” aku menantang.
Taman Bunga, tempat yang sempat
memunculkan tulisan kelam dalam buku cerita kehidupanku beberapa bulan lalu.
Tempat yang memunculkan keputusasaan bersarang dalam diriku. Tempat yang
menyadarkanku bahwa tak semua yang berkilau itu indah. Tempat yang juga
mengajarkanku arti sebuah kesetiaan.
Ku hembuskan nafasku, ku nikmati setiap
desahan angin yang berhembus saat itu. Seakan membuang semua penat, kesedihan,
dan kegelisahan yang akhir-akhir ini bersarang di jiwaku. Tempat itu sangat
indah bagi orang mampu merasakannya, bukan hanya keindahan yang tampak namun
ada sisi lain keindahan yang diberikan tempat itu.
Ardi sangat bersemangat untuk
melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit, meski masih sering jatuh, namun semangatnya
tak menyurutkan langkahnya untuk kembali bangkit. Di atas rerumputan yang masih
basah akan embun pagi menyejukkan, Ardi langkahkan kakinya sejengkal demi
jengkal. Aku yang sangat mengharapkan
langkahnya mampu lebih banyak lagi, menuntunnya mengarahkan kakinya
menujuku. Satu langkah, dua langkah, hingga akhirnya beberapa belas langkah
mampu dilaluinya, Ardi terjatuh dalam pelukanku. Wajahnya tepat di samping
telingaku, dan yang aku kagetkan adalah ketika bisikkan itu sampai melalui
telingaku, “Aku sayang kamu”
Ya, suara itu berasal dari Ardi. Aku menatapnya kemudian,
menatap dalam matanya, merasakan kesungguhan kata yang baru saja terucap lembut
di bibirnya, hampir tak menyadarkanku.
Jatuh
terlalu jauh dalam awal kebahagiaan saat itu, Ardi jatuh tersungkur di atas
rerumputan. Namun dia memposisikan dirinya duduk menekuk lututnya. Aku yang
masih speechless mendengar kata yang baru saja diucapkan, menemaninya duduk
tepat disebelahnya.
“Indah
banget!” katanya menatap hamparan bunga teratai yang tumbuh mekar di atas kolam
tak begitu luas.
Aku
tersenyum mengiyakan.
“Tuhan
memang sedang menciptakan kebahagiaan untukku, namun entahlah akankah nyata
atau semu kebahagiaan itu untukku”
“Tuhan
tak pernah menciptakan kebahagiaan semu, Ardi”
“Yaa,
aku percaya. Kebahagiaan nyata hidupku sudah ada depan mataku”
“Maksud
kamu?” tanyaku menatapnya dengan tanda tanya besar.
“Kamu!”
senyum Ardi masih memerhatikan bunga teratai itu.
“Maksud
kamu apa? Aku nggak ngerti” mendadak aku berharap sesuatu yang sempat ada dalam
benakku.
“Kamu
adalah tempatku bersandar saat ini. Tak pernah terpikirkan bagaimana jika aku
harus kehilanganmu juga dan aku tak pernah mau memikirkan itu.”
“So?”
tanyaku efektif.
“Will
you be mine?” Ardi menatap mataku tajam, melebihi tajamnya belati.
“Are
you serious?” masih ragu.
“Aku
nggak akan mengatakan itu jika aku nggak serius. Cinta itu misterius, dan butuh
keseriusan.” memutar kembali wajahnya memerhatikan bunga tertatai.
Aku
memikirkan semuanya, namun tak bisa ku pungkiri, dialah yang kini menjadi
sumber kebahagiaanku.
“May I
be your mine?” tanyaku memegang lengannya dan menatapnya.
Ardi
kembali menatapku tajam, “Sangat sangat sangat aku izinkan” senyum manisnya
terpancar dalam wajah kebahagiaan.
Aku
tersenyum malu, masih tidak percaya tentang semua yang terjadi.
“Tapi..”
“Tapi
apa?” kataku dengan jantungku masih berdegup kencang.
“Kamu
nggak malu? Kamu nggak takut bahagia pacaran sama aku, aku yang nggak bisa
jalan, aku yang lemah, aku yang..”
Sebelum
Ardi meneruskan pembicaraannya, aku menghentikannya dengan menggenggam kedua
tangannya, “Kebahagiaan sejati sesungguhnya hadir ketika cinta merasuk jiwa
tanpa sebuah syarat. Ketika aku bahagia dekatmu, ketika aku nyaman bersamamu,
ketika aku gelisah melihatmu menangis, ketika aku takut jauh darimu, dan ketika
semua mengalir bening layaknya air yang mengalir di lembah pegunungan.”
kata-kata itu mengalun lembut dari bibirku.
Ardi menatapku penuh makna, senyum wajahnya terukir begitu
indah. Itulah senyuman terindah yang pernah ku nikmati darinya.
“Cinta
tak bersyarat, semoga selamanya seperti ini. Aku menyayangimu lebih dari yang
kau tahu dan tak perlu kau tahu” merapikan rambutku yang hampir menutupi
sebelah wajahku.
Aku
mengecup pipi kanannya.
**
Kini hari-hariku bersemi bersamanya.
Kebahagiaan itu kian muncul mewarnai hariku juga dirinya. Pernah tersakiti, tak
menutup hatiku untuk kembali membukanya untuk orang yang tulus menyayangiku.
Pelajaran lalu cukup berharga bagiku, mengajarkanku tentang sebuah arti
ketegaran, kesabaran, dan keikhlasan.
Berbulan-bulan, hampir setahun Ardi
berteman sepi dengan kursi rodanya yang selalu menemaninya, kini kembali
hidupnya berwarna. Perhotelan yang dahulu dikelola oleh mamanya ketika masih
ada, kini diambil alih oleh Tuan Arditama Suryadinanta. Kini hidupnya kembali
bersinar, kursi roda itu tak akan dibuangnya, menjadi saksi bisu cerita tentang
aku dan dia.
“Sayang,
bagus nggak?” menyerahkan sebuah kertas berwarna biru muda berpadu hijau ke
hadapanku.
“Apa
ini?” membuka perlahan.
Ardi
tersenyum menatapku.
Dalam kertas
itu tertera,
Arditama Radika Suryadinanta
&
Callista Noventia Pramudhana
“Ah,
ini?” kebahagiaan tak dapat ku sembunyikan dari mimik wajahku setelah tahu itu
adalah wedding invitation.
“Ya,
will you marry me?” membuka kotak merah berisi cincin manis.
“Yes,
I will honey” air mata haru mengalir diwajahku.
Berniat menjalin silaturahmi, aku tak
memutuskan untuk tidak mengundang Ferdy dan Brenda.
Resepsi pernikahanku dengannya berjalan
dengan lancar.
“Congrats
ya?” kata Ferdy dihadapanku.
“Thank
you. Brenda mana?” aku mencari-cari keberadaannya yang tak bersama Ferdy.
Ferdy
menaikkan bahunya, kemudian menuju Ardi, dan berjabat tangan dengannya, “Jangan
sia-siain wanita sebaik dia, Bro” menepuk bahu Ardi.
“Penyesalan
memang selalu datang terakhir. Kini gue ngerasain semua itu. Pelajaran deh buat
gue, jangan pernah sia-siain orang yang saat ini ada dihati” Ferdy berlalu
meninggalkan pelaminan.
~ Tamat ~
Cinta tulus tanpa syarat seperti kupasan kulit kacang yang
bersatu namun dipisahkan oleh kupasan tangan manusia karena biji kacang akan
dimakan, namun kulit yang berpisah itu tak meminta syarat agar dipersatukan
kembali walaupun terluka
~ Jodi Setiawan ~
SINOPSIS
“Coba kamu lihat burung-burung itu!” tunjukku pada sekumpulan
burung-burung yang akan pulang ke sarangnya. “Mereka tampak bahagia walau
sebenarnya diantara mereka ada yang sedang sedih, entah apa yang mereka
rasakan, mereka tetap bisa terbang tinggi, berkumpul bersama hingga petang
ini.” menatap langit.
Langit kian gelap, matahari tampak bergulir menuju
peraduannya. Rintik hujan kembali turun, aku membawa Ardi kembali ke mobil
untuk segera pulang. Secepat mungkin aku mendorong kursi rodanya itu, takut
hujan akan semakin deras dan membasahi tubuhnya. Sampai di mobil, aku mengusap
wajahnya yang terkena rintikkan air hujan. Perlahan aku usap, memakaikan jaket
ke tubuhnya karena cuaca sangat dingin kala itu.
Komentar