Langsung ke konten utama

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA


MAKALAH BAHASA INDONESIA
PENTINGNYA BAHASA
FUNGSI BAHASA
ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA
 







Disusun Oleh:
1.    Adhelita Audina Pradanti
2.  Fuji Rahayu
3.  Siti Fatimah
4.  Rommeil Genzano


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR
S-1 FARMASI
2012 - 2013
DAFTAR ISI

1.      Halaman Judul            …………………………………………………………………….1
2.      Daftar Isi         …………………………………………………………………………….2
3.      Kata Pengantar           …………………………………………………………………….3
4.      Bab 1 Pendahuluan
A.    Latar Belakang Masalah   …………………………………………………………..4-5
B.     Perumusan Masalah          …………………………………………………………….5
C.     Pemecahan Masalah          …………………………………………………………….5
D.    Tujuan Penulisan   …………………………………………………………………….6
E.     Manfaat Penulisan            …………………………………………………………………….6
5.      Bab 2 Pembahasan
1.      Pentingnya Bahasa            …………………………………………………………….7
2.      Fungsi Bahasa       …………………………………………………………………..7-8
3.      Pentingnya Aspek-Aspek Keterampilan Berbahasa         …………………………..8-9
4.      Aspek Keterampilan Berbahasa dalam Membaca …………………………9-10
5.      Aspek Keterampilan Berbahasa dalam Menulis   ………………………………..10-11
6.      Aspek Keterampilan Berbahasa dalam Mendengarkan    ………………………..11-12
7.      Aspek Keterampilan Berbahasa dalam Berbicara ....……………………………..12-13
8.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aspek Keterampilan Berbahasa       ………..13-14
9.      Permasalahan Masyarakat dalam Menulis            ………………………………. 14-17
10.  Hubungan Aspek-Aspek Keterampilan Berbahasa           ………………………..18-20
6.      Bab 3 Penutup
A.    Kesimpulan           ……………………………………………………………………21
B.     Saran         ……………………………………………………………………………21
C.     Daftar Pustaka      ……………………………………………………………………22





KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
            Kami menyusun makalah ini untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing bidang studi Bahasa Indonesia. Dalam makalah ini kami membahas tentang penting bahasa, fungsi bahasa, dan aspek-aspek keterampilan berbahasa.
            Kami mencoba menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya. Makalah ini memang masih belum sempurna. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikannya dalam hal pembuatan makalah selanjutnya.
            Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua.


Bogor,  28 September 2012
Penyusun














BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Arus globalisasi berdampak pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam era globalisasi, bangsa Indonesia harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas. Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan IPTEK itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan IPTEK itu.
Aspek keterampilan berbahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari dan  untuk melahirkan generasi cerdas, kritis, dan beretika. Aspek keterampilan berbahasa meliputi menulis, membaca, mendengarkan, dan berbicara. Setiap aspek keterampilan berbahasa tersebut tidak terlepas dari kemampuan aspek kebahasaan. Kemampuan aspek keterampilan berbahasa merupakan sarana pendukung kemampuan berpikir, belajar, dan menerapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pada kenyataannya, diantara keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut masyarakat cenderung mengalami kesulitan dalam menerapkan aspek menulis. Hal tersebut disebabkan oleh pengetahuan masyarakat yang cenderung kurang dalam menuangkan apa yang ada dalam pikirannya untuk dijadikan sebuah tulisan.
Aspek keterampilan berbahasa yakni membaca seringkali menjadi permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat. Banyak masyarakat yang sudah tidak lagi membiasakan budaya membaca. Terlihat dari keseharian mereka baik di dalam rumah maupun di luar rumah yang lebih mendominasi komunikasi modern dibandingkan dengan buku-buku.
Dalam aspek berbicara juga sering mengalami masalah, yakni masyarakat yang sudah tidak lagi mengacu pada kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka cenderung terpengaruh oleh dunia luar atau pergaulan mereka di lingkungannya masing-masing.
Oleh karena itu, penulisan ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengenali aspek-aspek keterampilan berbahasa Indonesia sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi para pelajar Indonesia.

B.     Perumusan Masalah
1.      Apa pentingnya bahasa?
2.      Apa fungsi bahasa?
3.      Apa pentingnya aspek keterampilan berbahasa Indonesia?
4.      Apa yang dimaksud dengan aspek keterampilan membaca?
5.      Apa yang dimaksud dengan aspek keterampilan menulis?
6.      Apa yang dimaksud dengan aspek keterampilan mendengarkan?
7.      Apa yang dimaksud dengan aspek keterampilan berbicara?
8.      Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi aspek-aspek keterampilan berbahasa Indonesia?
9.      Mengapa masyarakat cenderung sulit dalam aspek menulis?
10.  Bagaimana hubungan antara aspek-aspek keterampilan berbahasa Indonesia?

C.    Pemecahan Masalah
1.      Pentingnya Bahasa
2.      Fungsi-Fungsi Bahasa
3.      Pentingnya Aspek Keterampilan Berbahasa
4.      Aspek Keterampilan Berbahasa dalam Membaca
5.      Aspek Keterampilan Berbahasa dalam Menulis
6.      Aspek Keterampilan Berbahasa dalam Mendengarkan
7.      Aspek Keterampilan Berbahasa dalam Berbicara
8.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aspek Keterampilan Berbahasa Indonesia
9.      Permasalahan Masyarakat dalam Menulis
10.  Hubungan Aspek-Aspek Keterampilan Berbahasa Indonesia



D.    Tujuan Penulisan
1.      Menjabarkan tentang pentingnya bahasa
2.      Membuka wawasan masyarakat mengenai fungsi bahasa
3.      Memberikan informasi mengenai pentingnya aspek keterampilan berbahasa Indonesia
4.      Memberikan informasi tentang aspek-aspek keterampilan berbahasa Indonesia
5.      Memaparkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi aspek-aspek keterampilan berbahasa Indonesia
6.      Membantu masyarakat dalam pengetahuannya tentang menulis
7.      Menginformasikan tentang keterkaitan antar aspek keterampilan berbahasa Indonesia

E.     Manfaat Penulisan
1.      Masyarakat mengetahui pentingnya bahasa dalam kehidupan sehari-hari
2.      Masyarakat mengetahui tentang fungsi-fungsi bahasa
3.      Masyarakat mengetahui pentingnya aspek keterampilan berbahasa Indonesia
4.      Masyarakat mengetahui tentang berbagai macam aspek keterampilan berbahasa Indonesia
5.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi aspek-aspek keterampilan berbahasa Indonesia
6.      Menambah wawasan masyarakat dalam pengetahuan tentang menulis
7.      Masyarakat mengerti tentang keterkaitan antar aspek keterampilan berbahasa Indonesia










BAB 2
PEMBAHASAN

1.      Pentingnya Bahasa
Bahasa adalah salah satu komponen yang paling penting dalam kehidupan manusia. Dalam bentuk tulisan, bahasa menyimpan pengetahuan dari satu generasi ke generasi lain. Sedangkan dalam bentuk lisan, bahasa berperan dalam mengarahkan tingkah laku manusia sehari-hari dalam berhubungan dengan orang lain.

2.      Fungsi Bahasa
Mencermati keadaan dan perkembangan dewasa ini, semakin terasakan betapa besar fungsi dan peran bahasa dalam kehidupan manusia. Tanpa bahasa kehidupan manusia terasa hampa dan tidak berarti. Melalui peran bahasa, manusia dapat menjadikan dirinya menjadi manusia berbudi pekerti, berilmu, dan bermartabat tinggi. Berdasarkan semua ini, dapat disimpulkan fungsi bahasa yaitu:
1.      Bahasa sebagai alat komunikasi
Melalui Bahasa, manusia dapat berhubungan dan berinteraksi dengan alam sekitarnya, terutama sesama manusia sebagai makhluk sosial. Manusia dapat memikirkan, mengelola dan memberdayakan segala potensi untuk kepentingan kehidupan umat manusia menuju kesejahteraan adil dan makmur. Manusia dalam berkomunikasi tentu harus memperhatikan dan menerapkan berbagai etika sehingga terwujud masyarakat yang madani selamat dunia dan  akhirat. Bahasa sebagai alat komunikasi berpotensi untuk dijadikan sebagai sarana untuk mencapai suatu keberhasilan dan kesuksesan hidup manusia, [1]
baik sebagai insan akademis maupun sebagai warga masyarakat. Penggunaan bahasa yang tepat menjadikan seseorang dalam memperlancar segala urusan. Melalui bahasa yang baik, maka lawan komunikasi dapat memberikan respon yang positif. Akhirnya, dapat dipahami apa maksud dan tujuannya.
2.      Bahasa sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri
Sebagai alat ekspresi diri, bahasa merupakan sarana untuk mengungkapkan segala sesuatu yang ada dalam diri seseorang, baik berbentuk perasaan, pikiran, gagasan, dan keinginan yang dimilikinya. Begitu juga digunakan untuk menyatakan dan memperkenalkan keberadaan diri seseorang kepada orang lain dalam berbagai tempat dan situasi.

3.      Pentingnya Aspek Keterampilan Berbahasa Indonesia
Dapat dibayangkan apabila kita tidak memiliki kemampuan berbahasa. Kita tidak dapat mengungkapkan pikiran, tidak dapat mengekspresikan perasaan, dan tidak dapat melaporkan fakta-fakta yang kita amati. Di pihak lain, kita tidak dapat memahami pikiran, perasaan, gagasan, dan fakta yang disampaikan oleh orang lain kepada kita.
Jangankan tidak memiliki kemampuan, kita pun akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi apabila keterampilan berbahasa yang kita miliki tergolong rendah. Begitu juga pengetahuan dan kebudayaan tidak akan dapat disampaikan dengan sempurna, bahkan tidak akan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya apabila kita tidak dapat memperoleh pengetahuan yang disampaikan para pakar apabila kita tidak memiliki keterampilan membaca yang memadai.
Banyak contoh lain yang menunjukkan betapa pentingnya keterampilan berbahasa dalam kehidupan. Bagi seorang menajer misalnya, keterampilan berbicara memegang peran penting. Ia hanya bisa mengelola karyawan di departemen atau organisasi yang dipimpinnya apabila ia memilki keterampilan berbicara. Kepemimpinannya akan berhasil bila didukung pula oleh keterampilan mendengarkan, membaca, dan juga menulis yang berkaitan dengan profesinya. Sebaliknya, jabatan sebagai seorang manajer tidak akan pernah dapat diraih apabila yang bersangkutan tidak dapat meyakinkan otoritas yang berkaitan melalui keterampilannya berbicara dan menulis.


4.      Aspek Keterampilan Berbahasa Indonesia dalam Membaca
Membaca merupakan kegiatan menerjemahkan simbol-simbol tulis ke dalam bunyi. Kegiatan yang baru sampai pada penerjemahan terhadap simbol-simbol tulis menunjukkan bahwa membaca belum sampai pada kegiatan pemerolehan makna dari apa yang dibaca. Kegiatan membaca semacam itu baru sampai pada tahap belajar membaca.
Membaca merupakan kegiatan yang melibatkan fisik dan psikis yang oleh Anderson disebut sebagai proses recording dan decoding. Melalui recording, pembaca mengasosiasikan lambang-lambang bunyi beserta kombinasinya dengan bunyi-bunyi. Dengan proses itu rangkaian tulisan yang dibacanya berubah menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata, kelompok kata, dan kalimat yang bermakna.
Keterampilan-keterampilan mikro yang terkait dengan proses membaca yang harus dimiliki oleh pembicara adalah;
1. Mengenal sistem tulisan yang digunakan
2. Mengenal kosakata
3. Menentukan kata-kata kunci yang mengindentifikasikan topik dan gagasan utama
4. Menentukan makna kata-kata
5. Mengenal kelas kata gramatikal, kata benda, kata sifat, dan sebagainya
6. Menentukan konstituen-konstituen dalam kalimat, seperti subjek, predikat, objek,
    dan preposisi
7. Menyimpulkan situasi, tujuan-tujuan, dan partisipasi
8. Membedakan ide utama dan detail-detail disajikan[2]
9. Menggunakan strategi membaca yang berbeda terhadap tujuan-tujuan membaca    
    yang berbeda, seperti skimming untuk mencari ide-ide utama atau melakukan studi
    secara mendalam

5.      Aspek Keterampilan Berbahasa dalam Menulis
Menulis adalah proses komunikasi berupa penyampaian pesan secara tertulis kepada pihak lain yang melibatkan penulis sebagai penyampai pesan dan pembaca sebagai penerima pesan.
Berikut ini keterampilan-keterampilan mikro yang diperlukan dalam menulis, yakni:
1. Menggunakan ortografi dengan benar, termasuk di sini penggunaan ejaan
2. Memilih kata yang tepat
3. Menggunakan bentuk kata dengan benar
4. Mengurutkan kata-kata dengan benar
5. Menggunakan struktur kalimat yang tepat dan jelas bagi pembaca
6. Memilih jenis tulisan yang tepat sesuai dengan pembaca yang dituju
7. Mengupayakan ide-ide atau informasi utama, didukung secara jelas oleh ide-ide
   atau informasi tambahan
8. Mengupayakan terciptanya paragraf dan keseluruhan tulisan koheren sehingga
    pembaca mudah mengikuti jalan pikiran atau informasi yang disajikan
9. Membuat dugaan seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki oleh sasaran
    pembaca mengenai subjek yang ditulis dan membuat asumsi mengenai hal-hal
    yang belum mereka ketahui dan penting untuk ditulis

» Proses Menulis:
1. Tahap pramenulis: memilih topik, mengumpulkan bahan, menganalisis pembaca,  
    menentukan tujuan, memilih bentuk tulisan.
2. Tahap menulis draf: menulis draf kasar (buram), penekanannya pada masalah isi
3. Tahap merevisi: memperbaiki tulisan (perbaikan dari segi isi)
4. Tahap mengedit: memperbaiki aspek mekanik (penggunaan tanda baca, penulisan kata,
    penggunaan huruf besar)
5. Tahap publikasi: menyampaikan tulisan kepada pembaca dalam bentuk diterbitkan,
    dibacakan, atau dipajang di papan pajangan.

» Strategi Menulis:
• Sebelum Menulis: aktivitas yang bisa dilakukan mengamati, meneliti, mengalami, brainstorming, membuat daftar, membaca, memetakan, menonton, membuat kerangka.
• Tahap Menulis : mengembangan tulisan menjadi draf awal dengan memperhatikan pilihan kata sesuai dengan audience, tujuan, dan bentuk tulisan.
• Tahap Pascamenulis : Merevisi dan publikasi, menyempurnakan tulisan, menuliskan kembali, membacakan, menerbitkan, memajang hasil tulisannya.

6.      Aspek Keterampilan Berbahasa dalam Mendengarkan
Mendengarkan adalah keterampilan memahami bahasa lisan yang bersifat reseftif. Dengan demikian berarti bukan sekedar mendengarkan bunyi-bunyi bahasa melainkan sekaligus memahaminya. Dalam bahasa pertama atau seringkali disebut sebagai bahasa ibu, kita memperoleh keterampilan mendengarkan melalui proses yang tidak kita sadari sehingga kita pun tidak menyadari begitu kompleksnya proses pemerolehan keterampilan mendengar tersebut. Berikut ini secara singkat disajikan deskripsi mengenai aspek-aspek yang terkait dalam upaya belajar memahami apa yang kita sajikan dalam bahasa kedua.
Ada dua jenis situasi dalam mendengarkan yaitu situasi mendengarkan secara interaktif dan situasi mendengarkan secara noninteraktif. Mendengarkan secara interaktif terjadi dalam percakapan tatap muka dan percakapan di telepon atau yang sejenis dengan itu. Dalam mendengarkan jenis ini kita secara bergantian melakukan aktivitas mendengarkan dan memperoleh penjelasan, meminta lawan bicara mengulang apa yang diucapkan olehnya atau mungkin memintanya berbicara agak lebih lambat. Kemudian contoh situasi-situasi mendengarkan noninteraktif, yaitu mendengarkan radio, TV, dan film, khotbah atau mendengarkan dalam acara-acara seremonial. Dalam situasi mendengarkan noninteraktif tersebut, kita tidak dapat meminta penjelsanan dari pembicara, tidak bisa meminta pembicaraan diperlambat.
Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan mikro yang terlibat ketika kita berupaya untuk memahami apa yang kita dengar, yaitu:
1.      Menyimpan/mengingat unsur bahasa yang didengar menggunakan daya ingat
jangka pendek (short term memory)
2.      Berupaya membedakan bunyi-bunyi yang yang membedakan arti dalam bahasa target
3.      Menyadari adanya bentuk-bentuk tekanan, nada, warna suara, dan intonasi
4.      Membedakan dan memahami arti dari kata-kata yang didengar
5.      Mengenal bentuk-bentuk kata yang khusus (typical word-order patterns)
6.      Mendeteksi kata-kata kunci yang mengidentifikasi topik dan gagasan
7.      Menebak makna dari konteks

7.      Aspek Keterampilan Berbahasa dalam Berbicara
Sehubungan dengan keterampilan berbicara, secara garis besar ada tiga jenis situasi berbcara, yaitu interaktif, semiaktif, dan noninteraktif. Situasi-situasi berbicara interaktif, misalnya percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat telepon yang memungkinkan adanya pergantian anatara berbicara dan mendengarkan, dan juga memungkinkan kita meminta klarifikasi, pengulangan atau kiat dapat memintal lawan berbicara, memperlambat tempo bicara dari lawan bicara. Kemudian ada pula situasi berbicara yang semiaktif, misalnya dalam berpidato di hadapan umum secara langsung. Dalam situasi ini, pendengar memang tidak dapat melakukan interupsi terhadap pembicaraan, namun pembicara dapat melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Beberapa situasi berbicara dapat dikatakan bersifat noninteraktif, misalnya berpidato melalui radio atau televisi.
Berikut ini beberapa keterampilan mikro yang harus dimiliki dalam berbicara, yaitu:
1.      Mengucapkan bunyi-bunyi yang berbeda secara jelas sehingga pendengar dapat membedakannya
2.      Menggunakan tekanan dan nada serta intonasi secara jelas dan tepat sehingga
pendengar dapat memahami apa yang diucapkan pembicara
3.      Menggunakan bentuk-bentuk kata, urutan kata, serta pilihan kata yang tepat
4.      Menggunakan register atau ragam bahasa yang sesuai terhadap situasi komunikasi termasuk sesuai ditinjau dari hubungan antar pembicara dan pendengar
5.       Berupaya agar kalimat-kalimat utama jelas bagi pendengar
6.      Berupaya mengemukakan ide-ide atau informasi tambahan guna menjelaskan ide-ide utama
7.       Berupaya agar wacana berpautan secara serasi sehingga pendengar mudah mengikuti pembicaraan

8.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aspek Keterampilan Berbahasa Indonesia
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli dapat simpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi aspek keterampilan berbahasa dalam mendengarkan diantaranya:
a.       Faktor fisik
b.      Faktor psikologis
c.       Faktor pengalaman
d.      Faktor sikap
e.       Faktor motivasi
f.      Faktor lingkungan
g.      Faktor peranan dalam masyarakat

»  Aneka permasalahan dalam mendengarkan:
1.      Memprasangkai pembicara
2.      Berpura-pura menaruh perhatian
3.      Kebingungan
4.      Pertimbangan yang prematur [3]
5.      Salah membuat catatan
6.      Hanya menyimak fakta-fakta
7.      Melamun
8.      Bereaksi secara emosional

9.      Permasalahan Masyarakat dalam Menulis
Rupanya menulis itu tidak semudah dengan apa yang dibayangkan. Banyak masyarakat yang mengalami kesulitan dalam kegiatan menulis, termasuk kaum mahasiswa yang dianggap sebagai kaum intelektual seringkali mengalami kesulitan dalam hal menulis. Akhirnya membuat sebagian masyarakat menjadi enggan untuk menulis. Padahal, menulis itu sangat penting peranannya dalam kehidupan bermasyarakat, karena tidak semua hal bisa diungkapkan langsung melainkan melalui tulisan. Kalau masyarakat bangsa ini tidak mampu menuliskan tentang pendapat yang ada dalam pikirannya, bagaimana bangsa ini bisa maju?
Beberapa masyarakat beranggapan bahwa kesulitan menulis itu adalah tidak adanya ide yang dapat dituangkan dalam tulisan sehingga mereka tidak tahu apa yang ingin ditulis. Setiap orang mempunyai cara berbeda dalam usahanya mencari ide. Setiap orang mempunyai sudut pandang dan solusi berbeda yang biasanya muncul sesuai dengan budaya kerja seseorang. Banyak dari kita yang beranggapan bahwa untuk menulis sebuah karya diperlukan sebuah ide yang muncul. Jika tidak ada ide yang muncul, kita tidak bisa menulis. Kadangkala orang sering menggantungkan idenya dengan kemunculan sebuah insight, pencerahan, atau ide yang muncul secara tiba-tiba ketika kita berhadapan dengan suatu hal. Pendapat tersebut tidak dapat dikatakan salah, namun ide bukanlah hal yang harus ditunggu kehadirannya melainkan kita harus berusaha menciptakannya, dengan kata lain kita harus berpikir kreatif dan jeli dalam memunculkan ide tersebut yang nantinya dapat dituangkan dalam bentuk tulisan yang dapat dinikmati oleh pembaca.
Berikut ini beberapa cara untuk memancing ide agar kita bisa membuat tulisan tanpa perlu merasa kesulitan dalam mencari ide:
1.                          Tingkatkan kepekaan diri terhadap peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar.
Lingkungan sekitar kita berpotensi sebagai tema tulisan. Banyak peristiwa yang terjadi dalam satu hari yang pastinya terkandung peristiwa unik yang dapat dijadikan bahan tulisan. Kita harus peka dan mau melihat segala peristiwa dari sudut pandang yang berbeda. Ini penting supaya kita mempunyai ide cemerlang yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain sebelumnya.
2.                          Ambil hikmah dan refleksikan setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita.
Setelah kita melihat sebuah hal, jangan hanya melihatnya selayang pandang saja, yaitu melihat lalu mengacuhkannya. Dalam setiap peristiwa pasti terkandung sebuah hikmah yang tidak setiap orang dapat mengungkapkannya. Tidak terkecuali sebuah musibah, pasti menyimpan hikmah yang dapat kita jadikan bahan refleksi. Refleksi yang kita tangkap dapat kita jadikan tulisan, entah berupa cerpen, puisi, novel, berita, artikel, skenario film, naskah pidato, bahan training, dan sebagainya. Semua bahan refleksi tersebut dapat dijadikan ide tulisan sesuai dengan minat kita.
3.                          Perbarui otak kita dengan vitamin otak yang segar.
Vitamin yang dimaksudkan disini bukanlah suplemen penguat memori dalam otak yang sering kita jumpai di televisi. Vitamin otak di sini adalah wawasan dan pengetahuan yang terus kita tambahkan dengan memanfaatkan berbagai sumber, seperti media massa, cetak maupun elektronik. Kita bisa mencari ide dengan membaca koran, majalah, mendengarkan radio, browsing berita di internet, menonton  televisi, dan sebagainya. Semua media di atas akan memudahkan kita dalam menambah pengetahuan. Kita tidak boleh terpaku untuk mencari berita yang berkaitan dengan bidang kita saja. Namun, kita juga perlu menambah wawasan di luar bidang kita. Bagaimanapun juga, tidak ada pengetahuan yang sia-sia. Semua hal yang kita ketahui bermanfaat bagi kita dan dapat mengasah pola pikir serta menambah intelektualitas kita sebagai makhluk intelektual.
4.                          Jangan buang ide yang muncul, catatlah, dan buat buku catatan inspirasi.
Setiap kali kita menemukan ide baru, janganlah dianggap remeh, atau membuangnya begitu saja. Catat dan buatlah sebuah buku inspirasi yang memuat semua ide tersebut. Jangan takut ide kita tidak relevan dengan tulisan yang ingin kita buat saat ini. Bisa jadi ide kita dapat digunakan dilain kesempatan dan kita tinggal memilah mana ide yang relevan atau mana yang mendukung tulisan berikutnya. Ada baiknya kita membawa sebuah buku catatan, kertas kecil, handphone, atau apa saja yang dapat digunakan sebagai media menulis. Setelah tercatat, kita bisa pindahkan dalam buku inspirasi yang kita buat.
5.                          Ketika melihat masalah muncul, berpikirlah kreatif.
Kreatif merupakan hal yang sering ditekankan oleh setiap orang dalam berpikir. Mengapa harus dengan cara kreatif? Karena dengan pola pikir yang sama seperti kebanyakan orang, mungkin kita tidak akan menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda yang membuat kita berbeda dari orang lain. Kreativitas yang tinggi merupakan nilai berharga yang wajib dimiliki oleh setiap penulis. Dengan berpikir kreatif, kita pun dituntut untuk terus mengasah kinerja otak serta membiasakan diri untuk tidak menunggu ide. Sebaliknya, kita harus mampu memunculkan ide setiap saat.
6.                          Tidak ada ide yang salah.
Kita perlu membangun sebuah konsep yang harus kita tanamkan dalam diri kita bahwa tidak ada ide yang salah. Kita harus berani mengungkapakan segala ide yang muncul. Kesalahan kita biasanya lebih karena takut mengungkap ide tersebut menjadi sebuah tulisan. Sehingga kita mempunyai banyak kekhawatiran yang tidak beralasan. Akibatnya kekhawatiran itu justru menghambat kita dalam menulis. Jadi, jangan pernah takut mengungkapakan sebuah ide. Karena setiap ide adalah hal yang berharga. Jangan sampai kita menyesal kalau kita tidak jadi mengungkapkan ide kita dan pada akhirnya orang lainlah yang sukses mengungkapkan ide yang ternyata mirip dengan punya kita.
7.                          Rekreasi atau refresh otak dengan hal-hal yang menyenangkan.
Jika kita lelah dan tubuh bekerja terlalu keras, ada baiknya kita rekreasi atau cari kegiatan yang bisa menyegarkan kembali tubuh maupun pikiran kita. Jika waktu kita terbatas, kita dapat melakukan hobi yang sudah lama ditinggalkan. Hal ini akan membantu menyegarkan tubuh dan pikiran sehingga kita dapat bekerja dengan suasana yang lebih bagus lagi. Selain melakukan hobi lama, kita juga dapat berkunjung ke rumah saudara atau teman sekedar melepaskan penat atau mencari inspirasi.
8.                          Terus asahlah otak dengan menulis kejadian sehari-hari.
Tidak memerlukan ide besar dalam menulis kejadian sehari-hari. Menuliskan kejadian sehari-hari akan membuat kita mampu menganalisis sebuah peristiwa dengan lebih baik. Dengan menulis, kita akan semakin terlatih dalam mengungkapkan ide ke dalam sebuah tulisan. Bisa jadi tulisan kita tentang peristiwa sehari-hari merupakan hal yang menarik untuk dikembangkan, sehingga kita tidak mengalami kesulitan lagi dalam mencari ide.
9.                          Berbicaralah dan berdiskusilah dengan orang lain.
Berbicara dan berdiskusilah dengan orang lain tentang berbagai topik. Ini akan membuka pikiran dan wawasan kita. Pertukaran ide melalui diskusi akan semakin memperkaya hasil analisis kita terhadap sebuah masalah. Dengan begitu, kita dapat dengan lebih mudah menemukan solusi atas suatu masalah, terlebih lagi jika kita sebelumnya kesulitan menemukan solusinya.





10.  Hubungan Aspek-Aspek Keterampilan Berbahasa Indonesia
Empat keterampilan berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis memiliki hubungan yang sangat erat meskipun masing–masing memiliki ciri tertentu. Karena ada hubungan yang sangat erat ini, pembelajaran dalam satu jenis keterampilan sering meningkatkan keterampilan yang lain.  Misalnya pembelajaran membaca, di samping meningkatkan keterampilan membaca dapat juga meningkatkan keterampilan menulis. Contoh lain belajar menemukan ide–ide pokok dalam menyimak juga meningkatkan kemampuan menemukan ide–ide pokok dalam membaca, karena kegiatan berpikir baik dalam memahami bahasa lisan maupun bahasa tertulis pada dasarnya sama
a.      Hubungan menyimak dan berbicara
Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung. Menyimak bersifat reseftif, sedangkan berbicara bersifat produktif. Misalnya komunikasi yang terjadi antar teman, antar penjual dan pembeli, atau dalam sebuah forum diskusi. Dalam hal ini  A berbicara dan B mendengarkan. Setelah itu giliran B yang berbicara dan A yang mendengarkan. Namun ada pula dalam suatu konteks bahwa komunikasi itu terjadi dalam situasi noninteraktif, yaitu suatu pihak saja yang berbicara dan pihak lain hanya mendengarkan. Misalnya khotbah di masjid, dimana penceramah menyampaikan ceramahnya, sedangkan yang lain hanya mendengarkan. Keterampilan menyimak merupakan kegiatan yang paling awal dilakukan oleh manusia bila dilihat dari pross pemerolehan bahasa. Secara berturut-turut pemerolehan keterampilan berbahasa itu pada umumnya dimulai dari menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Kegiatan menyimak diawali dengan mendengarkan dan pada akhirnya memahami apa yang disimak. Untuk memahami isi bahan simakan diperlukan suatu proses berikut: mendengarkan, mengidentifikasi, menginterpretasi atau menafsirkan, memahami, menilai, dan yang terakhir menanggapi apa yang disimak. Dalam hal ini menyimak memiliki tujuan yang berbeda-beda yaitu untuk: mendapatkan fakta, mengevaluasi fakta, mendapat inspirasi, menghibur diri, dan meningkatkan kemampuan berbicara.
Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbicara. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, telepon, tanya jawab, dan lain-lain. Tidak ada gunanya orang berbicara bila tidak ada orang yang menyimak, tidak mungkin orang menyimak bila tidak ada orang yang berbicara.
b.      Hubungan menyimak dan membaca
Menyimak dan membaca sama-sama merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat resesif. Menyimak berkaitan dengan penggunaan bahasa ragam lisan, sedangkan membaca merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Penyimak maupun pembaca melakukan aktivitas pengidentifikasian terhadap unsur-unsur bahasa yang berupa suara (menyimak) maupun berupa tulisan (membaca) yang selanjutnya diikuti dengan proses decoding guna memperoleh pesan yang berupa konsep, ide, atau informasi
c.       Hubungan menyimak dan menulis
Menulis dan menyimak merupakan aktivitas berbahasa, dimana keterampilan menyimak bersifat reseftif dan menulis adalah bersifat produktif. Antara menyimak dan menulis memiliki hubungan yang erat dari menyimak suatu ujaran atau informasi dapat menumbuhkan kreativitas untuk menulis hasil simakan yang diperoleh. Dan dituangkan dalam suatu karya tulis, baik itu cerpen, puisi , prosa, dan sebagainya.
d.      Hubungan membaca dan menulis
Membaca dan menulis merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Menulis adalah kegiatan berbahasa yang bersifat produktif sedangkan membaca adalah kegiatan yang bersifat reseftif. Seorang penulis menyampaikan gagasan, perasaan, atau informasi dalam bentuk tulisan. Sebaliknya seorang pembaca mecoba memahami gagasan, perasaan, atau informasi yang disajikan dalam bentuk tulisan.
e.       Hubungan menulis dan berbicara
Berbicara dan menulis merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat produktif. Berbicara merupakan kegiatan ragam lisan, sedangkan menulis merupakan kegiatan berbahasa ragam tulis. Menulis pada umumnya merupakan kegiatan berbahasa tak langsung, sedangkan berbicara merupakan kegiatan bahasa yang bersifat langsung. Berbicara pada hakikatnya merupakan suatu proses berkomunikasi yang dalam proses itu terjadi pemindahan pesan dari suatu pihak (komunikator) ke pihak lain (komunikan). Pesan yang akan disampaikan kepada komunikan lebih dahulu diubah ke dalam simbol-simbol yang dipahami oleh kedua belah pihak (Abd. Gafur, 6:2009). Aspek-aspek yang dinilai pada kegiatan berbicara terdiri atas aspek kebahasaan dan non kebahasaan.
Aspek kebahasaan terdiri atas ucapan atau lafal, tekanan kata, nada, dan irama persendian, kosakata atau ungkapan, dan variasi kalimat atau struktur kalimat.
Aspek nonkebahasaan terdiri atas: kelancaran, penguasaan materi, keberanian, keramahan, ketertiban, semangat, dan sifat.











BAB 3
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Betapa pentingnya aspek keterampilan berbahasa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, selain sebagai sarana pendukung komunikasi aspek-aspek keterampilan berbahasa Indonesia juga dapat dikatakan sebagai tombak keberhasilan kita dalam pendidikan berbahasa. Keempat aspek keterampilan berbahasa Indonesia, yakni mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara dapat disimpulkan sebagai suatu kesatuan yang saling memiliki hubungan erat dalam penginterpretasiannya. Hal tersebut tentunya tak luput dari faktor-faktor yang juga turut mempengaruhi keterampilan berbahasa Indonesia.
Permasalahan masyarakat dalam keterampilannya berbahasa sebenarnya sangat mudah diatasi selama individu itu sendiri mempunyai keinginan untuk terus belajar. Karena keberhasilan dalam pengaplikasian aspek keterampilan berbahasa Indonesia beberapa diantaranya adalah dengan terus berlatih secara rajin dan tekun.
Jadi, dengan adanya penulisan tentang aspek-aspek keterampilan berbahasa Indonesia ini diharapkan pembaca mau belajar dan menambah wawasannya mengenai keterampilannya dalam berbahasa Indonesia.

B.     Saran
1.       Menulis memang terkesan sulit, namun jika dalam diri masih terdapat usaha dan ketekunan dapat dipastikan kesulitan itu perlahan muncul
2.      Mengaplikasikan sedikit demi sedikit tentang aspek-aspek keterampilan berbahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat dikatakan sebagai masyarakat yang intelektual
3.      Faktor-faktor negatif yang dapat mempengaruhi aspek keterampilan berbahasa sesungguhnya dapat diminimalisir


C.    Daftar Pustaka
·         Ayathrohaedi(ed).1976.Senandung Ombak.Jakarta:Pustaka Jaya
·         Marjo,Y.S.2000.Surat-Surat Lengkap.Jakarta:Setia Kawan
·         Erlangga Akhdidah,Sabati.1991.Pembina Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.Jakarta:Erlangga


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...