Langsung ke konten utama

Postingan

BATAS ANTARA TAKDIR DAN IKHLAS

Seketika kemelut langit gelap menutup apa yang disebutnya sebagai cahaya. Menyapu jingga di senja, menelan pahit-pahit air kemarau. Mencoba berdamai pada takdir, menikmati setiap jengkal kehidupan. Semesta tahu kapan perahu ini akan berlabuh, Semesta juga tahu kemana air akan bermuara. Mencoba menerima setiap detik nafas dalam damai. Menghela hingga hilang semua luka. Menjadi sebaik-baik manusia pada Tuhannya, menyerahkan seluruh hanya padaNya, sekalipun dirinya sendiri. Mendoakan segala harapan, mengusahakan segala impian dan menerima pemberianNya apapun yang dikehendaki. Bagaimana membentuk ikhlas ? Hujan tidak pernah bertanya kenapa ia harus jatuh ke bumi dan daun yang gugur pun tidak pernah membenci angin yang menjatuhkannya. Mereka seolah lebih paham bahwa apa yang terjadi padanya adalah yang terbaik untuknya meski semua yang terjadi sama sekali bukan keinginannya. Pantaskah manusia mengolok-olok takdir ? sementara logikanya tidak akan sampai menembus batas. Sesombong itu...
Postingan terbaru

Ruang Gelap

Sore ini, petang memendarkan cahayanya dengan baik. Lembayung senja tergambar sendu di barat langit. Bisingnya manusia menghantar matahari kembali ke tempat peristirahatan. Goresan semesta selalu membuat bungkam, berderit hingga ke detak jantung. Kau bilang, kau mencintai hitam dan putih. Kau anggap, hitam dan putih adalah keseimbangan. Tetapi bagaimana mungkin kau bisa dengan mudah mengganti kertas putih yang bernoda hitam, padahal kau masih memiliki ruang atas kertas putih di lain tempat. Kalau begitu, kau tidak mencintai keduanya, kau mencintai salah satu. Kau belum bisa seimbang. Sulit memang mencintai hitam di atas putih. Pepatah bilang, nila setitik rusak susu sebelanga nyatanya memang benar adanya. Setumpuk kebaikan seringkali terkubur oleh setitik keburukan. Rasanya manusia lupa dimana tempat salah. Parahnya, seluruh penjuru pintu terkadang tertutup olehnya. Ketahuilah, kau bukan hanya perlu mencari yang baik tetapi kau juga perlu menjadi baik. Sebab, tidak ada yang baik j...

Hujan di Ujung Senja

Sesungguhnya Semesta mengerti bagaimana menyampaikan isyarat. Aku selalu mencintai hujan di ujung senja, sebab setiap derai yang jatuh, jingganya mampu membuat lupa pada luka. Luka yang di buat oleh manusia, berpendar dengan baik bersama jingga di dalam sejuknya. Hujan di ujung senja selalu mengajarkan bahwa setiap yang jatuh, akan tetap jatuh walau diantaranya tidak selalu berharap. Setiap butir yang jatuh mengingatkan bahwa manusia seharusnya sadar bahwa setinggi apapun langit, pada akhirnya jika jatuh, ia juga akan sampai ke bumi, menyentuh tanah dan hilang terserap olehnya. Pada kenyataannya, hujan selalu bisa mengajarkan bahwa berbuat baik pada yang jahat sekalipun, Semesta tidak akan pernah lepas tangan untuk melindungi. Teduhnya hujan di ujung senja, mengingatkan aku pada pesan ayah, bahwa kamu tidak akan pernah bisa menuju puncakmu seorang diri, selain kamu membutuhkan Tuhanmu, kamu juga membutuhkan mereka yang akan mendoakanmu dengan baik. Maka, berbaik-baiklah pada orang...

Secangkir Teh di Bawah Rembulan

Setiap yang terjadi, pada dasarnya manusia hanya mampu menerima. Membujuk hatinya untuk berdamai pada kenyataan. Meski seringkali menyakitkan, waktu akan selalu menyembuhkan. Pada setiap cerita yang kau tulis, kau selalu mampu menentukan ingin seperti apa akhirnya. Namun pada setiap yang kau jalani, kau hanya mampu berjalan mengiringi waktu dan setiap waktu yang sudah kau langkahi, kau tidak akan pernah mampu mengulang, apalagi mengembalikan. Di bawah rembulan, aku bersama secangkir teh menikmati setiap tegukan yang tidak akan pernah membawamu kembali pada waktu yang sudah berputar sempurna. Bagaimana mungkin, aku mencintai setiap tegukan di bawah cahayanya. Tapi kini, setiap tegukan itu aku hanya bisa rasakan untukku sendiri. Kau akan selalu berjalan pada kebahagiaan lain di luar sana. Tidak ada hal yang paling membahagiakan selain menikmati secangkir teh di bawah rembulan, meski pada akhirnya kau juga tidak akan kembali. Memaksakan kehendak hanya akan bisa menyakiti diri sendi...

HUJAN DI LANGIT ABU-ABU

Ada hujan yang tak kunjung reda pada Desember ini. Hujan di langit abu-abu itu membawa kenyataan yang seolah menawarkan semburat sendu untuk segera reda. Pelangi yang sewaktu-waktu melengkung, tepat sekali pada jejak-jejak yang pernah dilewati, menyadarkan bahwa pelangi ada tidak untuk selamanya, tapi juga tidak pergi untuk selamanya. Semesta memeluk rindu pada setiap perubahan itu, air hujan yang jatuh, langit yang menjingga, serta pelangi yang terukir. Berbagai bentuk perubahan itu semesta memeluknya dengan hangat, dalam pelukan matahari yang dinanti. Semesta paham bahwa setiap perubahan yang terjadi, pada akhirnya semua akan kembali pada semesta. Pada jejak kakinya yang basah, ternyata masih berbekas langkahnya. Ternyata, Tuhan tidak benar-benar menghapusnya. Kerap suara langkahnya masih sayup terdengar, gerak tubuhnya masih tergambar, gemericik air yang jatuh di payungnya masih juga meninggalkan sisa. Hujan benar-benar mengembalikan semuanya. Semua yang sebenarnya tidak hilang,...

MENCARI - MENEMUKAN - MEMPERTAHANKAN

Kini, usiaku sudah berjalan 22 tahun. Bagi kebanyakan mereka berkata bahwa aku sudah berkepala dua, sudah bukan lagi balita, anak-anak atau bahkan ABG, melainkan mereka menganggapku sudah dewasa, ya dewasa, seharusnya aku sadar bahwa bukan usiaku saja yang seharusnya bertambah tapi pemikiranku juga seharusnya bisa bertambah, bertambah dewasa dalam menyikapi apapun, semua tentang kehidupanku. Hari ini, aku disadarkan oleh seseorang yang membuatku mengerti arti dari mencari – menemukan – mempertahankan. Aku sadar, dalam perjalananku mencari seseorang yang sedari dulu ku harapkan mampu membimbing langkahku, aku tidak pernah merasa bahwa itu adalah hal yang mudah. Aku harus melewati dingin malam, terik matahari, angin badai sampai ombak yang hampir meruntuhkan tubuhku sendiri. Tapi Tuhan baik, sangat baik, Dia tak pernah menanamkan keputusasaan dalam diriku untuk tetap mencari, mencari dan mencari. Meski tidak kuperlihatkan caraku mencari, tapi semesta tahu apa yang aku butuhkan. Iya, ak...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...