Seketika kemelut langit gelap menutup apa yang disebutnya sebagai cahaya. Menyapu jingga di senja, menelan pahit-pahit air kemarau. Mencoba berdamai pada takdir, menikmati setiap jengkal kehidupan. Semesta tahu kapan perahu ini akan berlabuh, Semesta juga tahu kemana air akan bermuara. Mencoba menerima setiap detik nafas dalam damai. Menghela hingga hilang semua luka. Menjadi sebaik-baik manusia pada Tuhannya, menyerahkan seluruh hanya padaNya, sekalipun dirinya sendiri. Mendoakan segala harapan, mengusahakan segala impian dan menerima pemberianNya apapun yang dikehendaki. Bagaimana membentuk ikhlas ? Hujan tidak pernah bertanya kenapa ia harus jatuh ke bumi dan daun yang gugur pun tidak pernah membenci angin yang menjatuhkannya. Mereka seolah lebih paham bahwa apa yang terjadi padanya adalah yang terbaik untuknya meski semua yang terjadi sama sekali bukan keinginannya. Pantaskah manusia mengolok-olok takdir ? sementara logikanya tidak akan sampai menembus batas. Sesombong itu...
Sore ini, petang memendarkan cahayanya dengan baik. Lembayung senja tergambar sendu di barat langit. Bisingnya manusia menghantar matahari kembali ke tempat peristirahatan. Goresan semesta selalu membuat bungkam, berderit hingga ke detak jantung. Kau bilang, kau mencintai hitam dan putih. Kau anggap, hitam dan putih adalah keseimbangan. Tetapi bagaimana mungkin kau bisa dengan mudah mengganti kertas putih yang bernoda hitam, padahal kau masih memiliki ruang atas kertas putih di lain tempat. Kalau begitu, kau tidak mencintai keduanya, kau mencintai salah satu. Kau belum bisa seimbang. Sulit memang mencintai hitam di atas putih. Pepatah bilang, nila setitik rusak susu sebelanga nyatanya memang benar adanya. Setumpuk kebaikan seringkali terkubur oleh setitik keburukan. Rasanya manusia lupa dimana tempat salah. Parahnya, seluruh penjuru pintu terkadang tertutup olehnya. Ketahuilah, kau bukan hanya perlu mencari yang baik tetapi kau juga perlu menjadi baik. Sebab, tidak ada yang baik j...