DERITA TAK BERUJUNG
Hati
ini tercipta bukan untuk disakiti. Entah ini semua hanya rasa yang cuma aku
yang alami atau memang sengaja dia memainkannya. Telah lama aku mencoba
bersabar, mengikuti alur ceritamu. Namun mengertilah, aku hanya wanita yang
memiliki perasaan dan hati yang mudah rapuh. Tidakkah kau mengerti disini ku
menunggu kehadiranmu mengisi relung hati yang telah sekian lama kosong tak
terjamah. Namun mengapa kau acuh, membiarkan semua rasa yang ada di dalam
hatiku terus memudar. Tidakkah kau menghargai lagi arti sebuah ketulusanku,
atau tidakkah kau mengerti betapa rapuhnya aku disini meski aku terus mencoba
untuk tersenyum di dalam kesakitanku.
Ku
ambil handphone dan mulai ku menekan kontak pribadiku. Menunggu agak lama untuk
dia mengangkatnya.
“Halo” sapaku saat mulai terdengar suara jauh.
“Halo, ada apa sih?” katanya agak sinis.
“Maaf kalo aku ganggu kamu, aku kangen kamu, aku pengin
ketemu kamu, ada yang mau aku omongin” jawabku lembut.
“Ah, aku gak ada waktu, capek!” langsung menutup telepon
dariku.
Air
mata mengalun lembut membasahi pipiku. Tak kiranya dia akan seperti itu. Seolah
tak peduli pada semua. Aku tak berarti apa-apa dimatanya.
Malam
itu dingin, tulangku terasa kaku. Hujan yang mengguyur tak mampu basahi hati
ini. Selalu teringat akan sikapnya yang kian berubah hari demi hari. Aku lemah
dihadapnya, tak mampu berbuat banyak. Aku terlalu mencintainya, aku lelah untuk
bertahan namun terlalu sulit untuk ku lepas semuanya.
Mencoba
tegar, kuat untuk ku langkahkan hariku. Pagi itu aku ada jam di kampus. Kebetulan
hari ini aku hanya ada 2 jam mata kuliah. Dalam hati ku niatkan untuk menemui
Denny dan membicarakan tentang kelanjutan hubungan kami.
Mata
kuliah selesai, bergegas ku menuju tempat Denny mengekos. Entah saat itu apa
yang ku rasa, yang pasti aku hanya memikirkannya.
Sampailah aku disana.
Mengetuk pintu kamarnya, “Den..Denny” sembari melongok ke arah jendela kamarnya yang sedikit
terbuka.
Namun bukan Denny yang menjawab sapaanku, dan tak ku
lihat dan ku rasa di dalam kamarnya ada tanda-tanda kehidupan.
“Kak Denny barusan keluar kak, sekitar 15 menit lalu”
kata anak pemilik kos.
“Kamu tahu perginya kemana?” aku menghampirinya.
“Nggak kak, kak Denny tadi cuma bilang kalau dia mau keluar
sebentar” jawab anak yang headset selalu menempel di telinganya kerap kali aku bertemu
dengannya.
“Oh yaudah, makasih ya, Dik?” aku pun berlalu bergegas
menuju tempat biasa Denny ada.
Sepanjang
perjalanan, tatapan ku kosong. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi pada Denny.
Belakangan ini dia menjadi pribadi yang sangat tertutup padaku. Tak biasanya
yang selalu berbagi cerita apapun itu.
Tak
ku lihat Denny di sekeliling bukit yang nuansa hijaunya begitu terasa dan
sangat menyejukkan mata. Tak putus asa, aku tetap terus mengelilingi bukit yang
sepi itu. Dalam hati terus bertanya, dimana dia. Namun tak jua ku temukan
dirinya.
Lelah
ku mencarinya dan aku tak tahu lagi harus kemana, aku memutuskan untuk
menyudahi pencarian hari ini. Sungguh sangat tak tenang hati ini, tak ada nafsu
untuk melakukan apa-apa. Seharian penuh pun Denny tak juga ada kabar. Harus apa
dan bagaimanakah aku? Malam-malamku kini dipenuhi derai air mata. Aku merasa
bahwa dia sudah bosan dengan semua hubungan ini. Namun aku masih mencintainya.
Akhirnya,
waktu pun bicara dan mengijinkanku bertemu berdua dengannya.
“Maaf, dari kemarin aku sibuk!” katanya dengan sibuk
mengotak-atik laptopnya.
“Aku mau bicara serius” kataku dengan penuh keseriusan.
“Omongin aja lah, penting emang?” dengan nada
ketidakedulian dan tetap pada sikap awalnya.
“Serius! Tolong lihat aku dan sudahi dulu semua
kegiatanmu, kasih waktu sedikit aja untuk aku bicara! Aku mohon” nada penuh
harap dan melukiskan kerapuhan.
Denny
langsung menutup laptop dan membenahinya hingga kemudian dia menatapku.
“Kamu cuek banget sama aku belakangan ini, ada apa?” aku
memulai.
“Perasaan kamu aja kali”
“Nggak, kamu berubah, ada apa? Jujur sama aku!” mataku
mulai berkaca.
“Nggak ada apa-apa! Oh iya, aku mau ke toilet dulu sebentar”
Denny
meletakkan handphonenya di meja kafe tempat kami duduk. Aku mencoba sabar
menunggunya. Saat aku melihat penyanyi kafe yang sedang melantunkan nada indah
dalam setiap syair lagu, handphone Denny bergetar, aku melihatnya, SMS
diterima. Penasaran, aku membuka pesan itu.
Isi pesan itu membuatku berpikir negatif pada Denny.
Sayang, nanti sore jadi kan kamu anterin
aku?
Seperti itulah cuplikan sms yang aku baca. Namun, aku
mencoba berpikir positif meski semua sulit ku lakukan.
Tak
beberapa lama, Denny kembali. Aku melanjutkannya, dan aku mencoba mengetes dia
tentang SMS itu.
“Nanti sore temenin aku ke toko buku ya?” tatap mataku tajam menatap matanya.
“Yah maaf, aku nggak bisa. Ada keperluan lain, maaf ya?”
katanya dengan nada yang meyakinkan.
Namun,
aku melihat di sinar matanya ada sesuatu yang tersembunyi dibalik semua kata yang
telah dia lontarkan. Aku mencoba bersabar dan Denny meninggalkanku begitu saja
dengan alasan ingin bertemu dengan teman lamanya. Setengah percaya dan setengah
tidak percaya. Aku mencoba mengikutinya diam-diam.
Ah,
hari itu seolah gelap seketika. Aku melihat Denny menemui perempuan dan
perempuan itu aku kenal, sangat kenal. Aku berpikir, tadi dia bilang kalau dia
mau bertemu dengan teman lamanya, apa mungkin teman lamanya adalah sahabatku?
Aku terus berusaha, berusaha dan berusaha untuk berpikir positif tentangnya.
Aku
memutuskan untuk pulang dan meninggalkannya meski rasa penasaranku terus
bersarang.
Menikmati air hujan yang turun beirama, merasakan
kesejukkannya, duduk menatap langit dan aku tahu dalam pikiranku kosong. Oh
Tuhan, bantu aku mengatasi semua rasa yang sedang terjadi padaku.
Pagi
itu aku sedang kosong oleh jam kuliah. Aku memutuskan untuk mencari tahu
tentang semua rasa penasaranku sejak kemarin. Diam-diam aku mengikuti kemana
arah pergi Denny hari itu. Lagi-lagi Denny menemui perempuan itu, dan sengaja
semenjak kejadian itu aku memutuskan untuk tidak berkomunikasi dengan sahabatku
itu.
Menelusuri
jalan demi jalan, dengan taksi yang ku tumpangi hingga mungkin supir itu heran
mengikuti kemauanku. Biarlah, aku tak memedulikannya.
Ah tidak, dia menuju sebuah tempat yang tak ku sangka.
Hotel, ya aku tak salah dan yakin itu adalah hotel. Aku mencoba menahan semua
air mataku, pikiranku berkecamuk. Hatiku bertarung. Oh Tuhan, apa maksud semua ini?
Kembali,
aku tak mampu menahan semua rasa yang ku rasa saat itu dan kembali aku
memutuskan untuk meninggalkan semuanya.
Ku lepas semua perasaanku saat itu. Dalam kamar, yang ku
rasa sempit, bahkan teramat sempit. Mungkin semua karena tekanan perasaanku
yang kini sedang menghujam. Angin semilir menyentuh kulit begitu lembut, namun
semua itu tak dapat ku rasakan kenikmatannya. Hancur, hati ini hancur berkeping
dan mungkin berserakan. Rasanya, tak mampu ku maafkan semua kalau memang semua
yang ku pikirkan benar terjadi.
Aku
terlelap dalam tangisku, aku merasakan sesuatu yang sangat menusuk batin saat
aku mulai terbangun dari tidurku. Bahkan sempat ku merasa aku tak mau lagi
bangun dari tidurku.Tangisku tak henti saat aku teringat kembali kejadian itu.
Sungguh, mati rasa.
“Ocha, tunggu gue!” teriak Keisha memanggilku. Aku tetap
pada pandangan lurusku, sudah terlanjur sakit hatiku pada mereka yang tak
mengerti tentang semua perasaanku.
Sampai pada akhirnya Keisha mampu menarik lenganku dan
melihatku menangis.
“Lo kenapa?” katanya yang melihatku mengusap pipi.
“Udahlah, jangan ganggu gue lagi!” dengan sepenuh menahan
emosi.
“Maksud lo?” tanyanya yang memang belum mengetahui kalau
aku sebenarnya sudah mengetahui semua.
Aku berlalu
meninggalkannya tanpa sebuah kata. Keisha terus memanggilku dan mengejarku.
Hingga sampai pada suatu
ruangan, tempat aku biasa menuliskan segala rasa yang sedang ku alami.
“Ocha, oke gue bakal jelasin semua sama lo!” panggil
Keisha dengan nada seperti ingin menangis.
Aku pun menghentikan langkahku, duduk di kursi kecil nan
sederhana dengan tetesan air mata kepedihan.
Duduklah
Keisha menemaniku, terurai air mata tak tertahankan. Mengungkap segala yang
terjadi.
“Oke, gue bakal cerita semua ke lo, Cha!” mengusap air
mata yang mengalir di wajah cantik Keisha.
Aku yang tertunduk dengan semua air mataku, mencoba
mendengarkan semua cerita yang akan disampaikannya.
“Gue bingung, gue nggak tahu harus gimana lagi? Gue butuh
dana buat pengobatan nyokap gue juga buat biaya kuliah gue. Pikiran gue buntu,
Cha” ceritanya dengan air mata yang terus mengalir deras di wajahnya.
“Saat itu, Denny tahu semua masalah gue. Dia menawarkan
bantuan bersyarat. Saat itu pula, pikiran gue lagi buntu banget dan gue
menyetujui semuanya. Jangan lo kira gue nggak menderita dengan semua ini, gue
amat sangat menderita, Cha. Dan lo nggak tahu gimana rasanya semua itu.
Sekarang, gue cewek murahan! Semuanya udah gak gue miliki!” lanjutnya dengan
air mata yang kian mengalir, mengalir, dan mengalir deras.
Aku
tak mampu menyembunyikan semua kesedihanku. Aku tak mampu menatapnya. Namun ku
usahakan untuk menerima ceritanya.
“Kenapa lo nggak pernah cerita sama gue?” suaraku
terisak.
“Bukan gue nggak mau, tapi gue nggak enak selalu
ngerepotin lo, nyusahin lo terus, sumpah gue nggak enak sama lo, Cha! Gue tahu
lo pasti bakal ngasih dana buat bantu gue, tapi Cha, udah berjuta-juta dana
yang lo kasih untuk bantu gue, gue nggak enak sama lo juga keluarga lo. Gue
pengin bales semuanya, tapi gue nggak sanggup, Cha!” tatap Keisha penuh derita
Tetap,
aku tak sanggup menatapnya. Matanya yang penuh dengan kejujuran, ketulusan dan
kesedihan. Seolah aku turut merasakannya. Aku tak mampu meluapkan emosiku pada
dia, sahabat terbaik. Namun, di lain sisi aku sungguh sangat terluka mendengar
ceritanya terlebih tentang Denny yang tak berhati. Teganya dia merenggut
kehormatan wanita untuk sebuah bantuan.
Aku
mencba memeluk Keisha dengan segala ketulusanku menyayanginya sebagai seperti
bagian dari keluargaku. Aku tak mampu menyalahkannya, karena memang aku tahu
bahwa ibunya Keisha sedang mengalami penyakit yang tak kunjung sembuh dan itu
semakin parah. Keisha sudah tak punya ayah sejak ia berumur 17 tahun, ayahnya
lebih memilih wanita lain. Sungguh berat jalan hidup yang harus dilaluinya.
Tak
lama, aku meninggalkan Keisha dan berniat menemui Denny. Ku telusuri jalan
untuk menuju tempat kosnya. Hatiku bekecamuk tak tentu arah selama perjalanan,
air mata tetap tak mampu ku sembunyikan.
Sesampainya, aku langsung menuju kamarnya dan mengetuk
pintu kamarnya. Denny membuka pintu dan mencoba menyambutku, ah aku sudah tak
bisa luluh dengan semua itu.
“Aku mau ngomong serius sama kamu!” tegasku.
“Ngomong apa, sayang?” katanya sambil duduk di kursi
depan kamarnya.
“Aku udah tahu semua tentang kamu dan Keisha. Udah nggak
ada yang harus diperjelas lagi. Kamu merusak semua kepercayaanku!” kataku
dengan rasa yang amat tertekan.
“Sayang, aku minta maaf. Aku cuma niat bantuin dia aja.”
pembelaan diri.
“Membantu tak harus bersyarat!” bergegas meninggalkannya.
“Tapi..” katanya dengan wajah penuh penyesalan.
“Jangan pernah hubungin aku lagi, anggap kita nggak
pernah kenal. Terima kasih buat selama ini, semoga indah selamanya” lari
menyusuri lorong kamar yang sepi dan meninggalkan semua cerita indah
bersamanya.
Malam
kembali datang, mengisi hati yang terlalu rapuh berdiri. Ku tatap langit dengan
segala pesonanya. Namun mataku seolah tertutup awan gelap, dan aku tak mampu
menikmati keindahan itu. Rintik hujan mulai berjatuhan, melukiskan segala rasa
yang ada dalam hati. Kesedihan tak terjamah, derita yang kian merasuk. Dalam
hati, ku bertanya, “Oh Tuhan, sesulit inikah kehidupan? Begitu sakit ku rasa.
Maafkan aku Tuhan yang tak mampu menjaga semuanya” derai air mata semakin deras
membasahi wajah. Terlalu perih untuk ku rasakan semuanya.
Tersadar
dalam tangis, hidup harus tetap berjalan. Semua hanyalah badai yang telah
mencapai gilirannya untuk hadir dalam hidupku. Ya, hati memang berkata namun
tak mudah untuk hati menerima seuanya dengan ikhlas. Tak ku rasakan indahnya
pelangi saat ku terpuruk dalam kesakitan ini.
Andai bisa ku putar waktu, akan ku putar waktu kembali ke
masa lalu untuk ku perbaiki semuanya dan akan ku putar lebih cepat agar semua
kesakitan ini tak terjadi, namun semua hanyalah harapan, tak adil bila semua
seperti itu. Aku terus mencoba mengambil sisi positif dari semua kejadian yang
menerjang.
Meski
sulit, aku terus mencoba. Meski terkadang terjatuh, aku mencoba bangun dalam
keterpurukan itu. Semua tak terasa mudah. Hariku gelap, mengingat semua
tentangnya, tak mampu ku sembunyikan segala penyesalanku.
Hingga pada suatu ketika, aku bertemu kembali dengannya
dan dia masih mengenaliku. Mati rasa hatiku untuk menyambutnya,
“Membantu orang lain harus dengan segala ketulusan hati.
Tak harus bersyarat, jika berniat membantunya. Wanita adalah sesuatu yang
berharga yang sudah seharusnya kau menjaganya sebaik mungkin bukan untuk
dirusak. Kini kau merasakan perih yang belum sebanding dengan derita yang
dirasakan oleh wanita yang sudah kau rusak kehidupannya” kataku dan langsung
bergegas meninggalkannya.
Komentar