Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Ruang Gelap

Sore ini, petang memendarkan cahayanya dengan baik. Lembayung senja tergambar sendu di barat langit. Bisingnya manusia menghantar matahari kembali ke tempat peristirahatan. Goresan semesta selalu membuat bungkam, berderit hingga ke detak jantung. Kau bilang, kau mencintai hitam dan putih. Kau anggap, hitam dan putih adalah keseimbangan. Tetapi bagaimana mungkin kau bisa dengan mudah mengganti kertas putih yang bernoda hitam, padahal kau masih memiliki ruang atas kertas putih di lain tempat. Kalau begitu, kau tidak mencintai keduanya, kau mencintai salah satu. Kau belum bisa seimbang. Sulit memang mencintai hitam di atas putih. Pepatah bilang, nila setitik rusak susu sebelanga nyatanya memang benar adanya. Setumpuk kebaikan seringkali terkubur oleh setitik keburukan. Rasanya manusia lupa dimana tempat salah. Parahnya, seluruh penjuru pintu terkadang tertutup olehnya. Ketahuilah, kau bukan hanya perlu mencari yang baik tetapi kau juga perlu menjadi baik. Sebab, tidak ada yang baik j...

Hujan di Ujung Senja

Sesungguhnya Semesta mengerti bagaimana menyampaikan isyarat. Aku selalu mencintai hujan di ujung senja, sebab setiap derai yang jatuh, jingganya mampu membuat lupa pada luka. Luka yang di buat oleh manusia, berpendar dengan baik bersama jingga di dalam sejuknya. Hujan di ujung senja selalu mengajarkan bahwa setiap yang jatuh, akan tetap jatuh walau diantaranya tidak selalu berharap. Setiap butir yang jatuh mengingatkan bahwa manusia seharusnya sadar bahwa setinggi apapun langit, pada akhirnya jika jatuh, ia juga akan sampai ke bumi, menyentuh tanah dan hilang terserap olehnya. Pada kenyataannya, hujan selalu bisa mengajarkan bahwa berbuat baik pada yang jahat sekalipun, Semesta tidak akan pernah lepas tangan untuk melindungi. Teduhnya hujan di ujung senja, mengingatkan aku pada pesan ayah, bahwa kamu tidak akan pernah bisa menuju puncakmu seorang diri, selain kamu membutuhkan Tuhanmu, kamu juga membutuhkan mereka yang akan mendoakanmu dengan baik. Maka, berbaik-baiklah pada orang...

Secangkir Teh di Bawah Rembulan

Setiap yang terjadi, pada dasarnya manusia hanya mampu menerima. Membujuk hatinya untuk berdamai pada kenyataan. Meski seringkali menyakitkan, waktu akan selalu menyembuhkan. Pada setiap cerita yang kau tulis, kau selalu mampu menentukan ingin seperti apa akhirnya. Namun pada setiap yang kau jalani, kau hanya mampu berjalan mengiringi waktu dan setiap waktu yang sudah kau langkahi, kau tidak akan pernah mampu mengulang, apalagi mengembalikan. Di bawah rembulan, aku bersama secangkir teh menikmati setiap tegukan yang tidak akan pernah membawamu kembali pada waktu yang sudah berputar sempurna. Bagaimana mungkin, aku mencintai setiap tegukan di bawah cahayanya. Tapi kini, setiap tegukan itu aku hanya bisa rasakan untukku sendiri. Kau akan selalu berjalan pada kebahagiaan lain di luar sana. Tidak ada hal yang paling membahagiakan selain menikmati secangkir teh di bawah rembulan, meski pada akhirnya kau juga tidak akan kembali. Memaksakan kehendak hanya akan bisa menyakiti diri sendi...