INTERDIMENSIONAL
Perbedaan itu terkadang memang menyakitkan. Terkadang aku tak sanggup menerima semua cercaan mereka, namun dibalik semua kerapuhanku, aku merasakan ketegaran tersendiri saat bersamanya.
Semua berawal saat aku merasakan kesepian yang teramat mendalam. Aku merasa seperti tak ada siapapun dalam kehidupan yang ku jalani. Hampa, sungguh sangat hampa. Bukan aku tak biasa merasakan rasa yang seperti ini, namun entah mengapa ini berbeda dari biasanya. Aku ingin meluapkan semua yang aku rasakan, berbagi cerita, namun semua objek yang ku butuhkan kosong.
Aku berjalan mengelilingi sekitar halaman rumah yang akhirnya aku memutuskan untuk berdiam diri disebuah ayunan kayu biasa aku menghabiskan waktu sepiku di tempat itu. Menatap setiap bunga-bunga indah yang tumbuh disekeliling pekarangan rumah. Sesekali menatap langit, menikmati indahnya bulan dan bintang yang berdampingan. Malam itu, angin berhembus juga tidak seperti biasanya, merasuk hingga ke tulang rusukku.
Ku sandarkan tubuhku pada ayunan kayu itu. Dingin, namun aku masih ingin menikmati keindahan malam itu yang ku rasa tidak seperti biasanya. Ah, angin kian menusuk tubuhku, kelamaan aku pun tak sanggup melanjutkan kenikmatanku malam itu.
Saat aku bergegas meninggalkan tempat itu. Ayunan kayu itu bergerak perlahan tak henti-hentinya. Ya, lebih cepat dari yang aku tumpangi tadi. Bagaimana mungkin ayunan itu bisa bergerak lebih cepat saat aku tumpangi tadi. Angin ? Ah, aku rasa irrasional. Anginnya tak sekencang itu sehingga bisa menggerakkan ayunan kayu bergerak melambai sekencang itu. Aku perhatikan, hingga akhirnya aku mendekat kembali ke arah ayunan kayu itu. Perlahan ayunan kayu itu berhenti dan begitu tersentaknya aku ketika di dalam ayunan itu muncul sesosok pria.
“Kamu siapa?” kataku kaget
Dia hanya diam, menatapku tajam. Aku sedikit takut. Wajahnya pucat pasi, dingin, tatapannya tajam dan tampan.
“Kamu siapa?” tanyaku lagi dengan mimik wajah yang menunjukkan ketakutan.
“Kamu nggak usah takut. Aku nggak jahat kok” jawabnya perlahan.
“Iya tapi kamu siapa? Tiba-tiba kok ada disini?” tanyaku lagi dengan keadaan masih seperti semula, ketakutan.
“Sebenarnya dari tadi aku udah ada disini, aku tahu kok apa yang lagi kamu rasain” jelasnya.
Aku bingung, namun rasa takutku perlahan menghilang dan aku memberanikan diri duduk di hadapannya.
Dia masih diam, dengan tatapan yang kosong dan wajah yang teramat pucat. Tak ku lihat ada aliran darah di dalam tubuhnya. Dia seperti mengetahui semua yang ada pada diriku, semua yang sedang aku rasakan dan semua yang aku pikirkan. Saat aku mulai tenang duduk di hadapannya, dia memulai pembicaraan.
“Aku sudah mengenal kamu sejak beberapa hari lalu, kamu selalu kesepian. Hidup kamu begitu monoton, tak ada warna. Kusam.” katanya.
Aku hanya bisa mengangguk menatap dia dan berusaha mengenali dirinya melalui matanya. Sulit, matanya sulit terbaca. Tak seperti manusia biasa lainnya yang sedikitnya memancarkan arti pancaran mata tersendiri, dan aku pikir dia bukan sekedar manusia biasa atau memang bukan manusia.
Lamunanku dibuyarkan olehnya, dan..
“Iya, aku memang bukan manusia biasa, bahkan aku bukan manusia. Aku berasal dari dimensi lain. Dan mungkin kamu tidak akan pernah percaya” jelasnya yang seketika membuatku teramat kaget. Dia tahu semua yang aku pikirkan.
“Ah?” terbelalak mataku menatapnya.
Dia hanya tertawa pelan sembari menatap pepohonan sekeliling halaman, sesekali menatapku, “Tenang aja, aku benar-benar nggak ada maksud jahat sama kamu.” katanya dengan wajah serius.
“Hmm, terus tujuan kamu di…?” tanyaku yang langsung dipotong oleh jawabannya.
“Aku disini cuma pengin nemenin kamu. Dulu, waktu aku masih satu dimensi sama kamu, aku merasakan hal yang sama kayak kamu. Sendiri, sepi, hampa” jawabnya sembari berjalan meninggalkan ayunan kayu menyusuri halaman rumahku.
Aku mengikutinya dan berusaha memahami semua yang diceritakannya.
“Emang kenapa kamu bisa seperti ini?” tanyaku sedikit terbata.
Membalikkan badan, tersenyum padaku, dan melanjutkan perjalanannya, “Kamu yakin mau tahu?”
“Hmm yaa kalau boleh” kataku sembari menatapnya dari belakang.
Dia berhenti di depan hamparan pohon bunga-bunga nan indah. Menatap satu per satu bunga yang pesona indahnya tak tertandingi di malam itu. Keheningan malam begitu terasa ketika dia mulai menceritakan semua yang telah dialaminya.
“Aku, aku anak pertama dan aku adalah anak satu-satunya dari orang tuaku yang super sibuk. Aku jarang, bahkan hampir tidak pernah berkumpul bersama keluargaku. Aku selalu merasa kesepian dikala malam tiba. Saat itu, aku tak punya siapa-siapa untukku jadikan tempat berbagi segala ceritaku. Hingga sampai diujung batas, aku tak sanggup, dan aku mulai mencoba keluar menyusuri dunia malam” beralih pandangan dan tempat sembari menatapku dan terus bercerita.
Aku mendekatinya, berdiri disampingnya dan terus mendengarkan ceritanya.
“Aku tak pernah menyangka kalau akhirnya aku terjebak ke dalam dunia malam, dunia yang begitu gelap, sangat gelap dan andai waktu bisa ku putar, aku takkan pernah sudi menyusurinya. Aku jatuh dalam lubang yang teramat dalam, hingga akhirnya aku mengidap AIDS. Berbulan-bulan aku dirawat di rumah sakit sampai aku harus tinggal di sebuah tempat berkumpulnya para penderita AIDS, ya rumah rehabilitasi. Orang tuaku baru mengetahui kejadian ini setelah sekitar 2 bulan sesudahnya. Hingga sampai detik-detik terakhir, aku dirawat oleh seorang suster pribadiku di rumah. Tubuhku habis tergerogoti penyakit, dan hingga sampailah pada kehidupan terakhirku. Malaikat sudah menjemputku, dan Tuhan telah menungguku.” jelasnya yang kemudian menghampiriku.
Aku yang sedari tadi mendengarkan cukup teriris hati, begitu ironis kisah hidup yang dijalaninya. Lamunanku kembali dibuyarkan olehnya.
“Hei, kok ngelamun?” melambaikan tangannya di hadapan wajahku.
“Eh, iya, nggak apa-apa.” kataku yang bingung mau jawab apa.
Pikiranku masih berkecamuk. Masih tak percaya kalau aku sedang berhadapan dengan sesosok yang tidak biasanya, dimensi lain. Berbeda .
Kembali dia menduduki ayunan kayu itu, menggerakkannya perlahan. Aku berdiri disampingnya, tetap mendengarkan cerita hidupnya.
“Aku menyesal, dan aku tak tenang” katanya dengan mata sedikit berkaca.
“Kenapa?” tanyaku dengan posisi tanganku melipat menahan dinginnya angin malam yang kian menusuk.
“Ah sudahlah, itu hanya masa laluku saja. Masa lalu yang takkan pernah bisa ku ulang lagi, apalagi ku perbaiki” jawabnya dengan penuh kepasrahan.
“Hm okay!”
“Sudah malam, tidur ya?” suruhnya.
Aku hanya mengangguk dan meninggalkannya menuju kamarku.
Saat aku telah sampai kamar, jendela kamarku belum ditutup dan aku menghampiri ke arah jendela untuk menutupnya. Kebetulan jendela kamarku menghadap persis ke arah halaman dan ayunan kayu itu. Radit masih ada di ayunan kayu itu, ia melambaikan tangan dan senyum padaku. Manis sekali senyumannya, sungguh indah parasnya, membuatku terpana akan dirinya. Tersadar, aku membalas semua sapaan yang diberikannya.
Ku baringkan tubuhku di atas kasur bermotif keluarga disney dipenuhi boneka-boneka lucu. Lampu kamar yang redup. Aku menatap langit-langit kamar yang berhiasan burung origami dan lampu-lampu bintang. Terpikir akan Radit dalam memoriku. Aku sungguh tak menyangka aku harus mengalami hal seperti ini. Radit bukan sosok yang menakutkan, Radit sosok yang lembut. Entah mengapa, pikiran itu tak bisa luput dari bayanganku. Tak terasa, mata terpejam.
Malam itu, aku bermimpi. Radit mengajakku ke sebuah tempat, tempat yang teramat indah, indah sekali.
Cerah, sejuk dan nyaman. Banyak pepohonan rindang, pohon buah dengan buahnya yang sungguh sangat lebat, sungai bening mengalir deras, burung-burung cantik beterbangan, berkicauan merdu. Alangkah indah tempat itu. Aku terhanyut dalam keindahan itu. Tempat yang tak pernah ku temui dimanapun.
“Chika, surga itu indah ya? Ini adalah harapan terakhirku, tapi entahlah. Aku harap, suatu saat nanti kamu tinggal disini” kata Radit dalam mimpiku.
Alarm handphone yang ku letakkan di meja berdering menunjukkan pukul setengah enam. Aku bergegas bangun dan mandi karena jam masuk di sekolah tinggal satu jam lagi. Mama yang dari tadi sudah ramai dengan suaranya yang menyuruhku untuk segera sarapan karena semua sudah berkumpul di meja makan. Semakin ku percepat persiapanku dan segera menuju meja makan karena mama sudah semakin ramai.
“Lama ya kamu? Papa udah telat tuh!” celoteh mama.
“Iya maaf, tadi aku sakit perut, jadi agak lama di kamar mandinya, hehe” tawaku.
“Ya sudah cepat sarapan” suruh mama.
Aku mengambil selembar roti yang sudah diolesi selai coklat oleh mama, sembari berdiri aku menenggak segelas susu meskipun tak sampai habis. Setelahnya, aku menarik tangan mama dan mencium tangan lembut itu.
“Mama aku berangkat” kataku sambil berlalu menghampiri papa yang sudah menunggu di garasi mobil.
Seperti biasanya, papa mengantar aku sampai sekolah.
“Belajar yang rajin ya, sayang?” kata papa sambil mencium pipi kanan dan kiriku.
“Oke papa, hati-hati di jalan” kataku
Ku jejaki gerbang sekolah. Saat ku mulai memasuki lorong sekolahku, aku melihat Radit di hadapanku. Aku percepat langkahku untuk memastikan apakah benar dia berada disana. Saat sampai di tempat aku melihat Radit, ternyata dia tak ada. Tidak aku hiraukan, aku melanjutkan langkahku menuju ruang kelasku.
Ya, seperti biasanya, sejak dahulu aku memang sulit bersosialisasi. Tak punya teman, selalu aku rasakan di setiap perjalanan sekolahku. Sendiri itu sudah biasa bagiku. Hingga sampai saat ini aku masih belum dapatkan seorang yang mau menemaniku berbagi cerita denganku. Mereka menganggap aku aneh, itu seringkali aku dengar bahkan terkadang sebagian dari mereka mengungkapkannya langsung di hadapanku. Dalam hati sebenarnya aku menangis, karena sekarang aku sudah remaja. Aku ingin seperti yang lainnya, punya banyak teman dan bisa berbagi cerita.
Itu semua bisa ku rasakan sekali seumur hidupku dan tak berlangsung lama. Seorang sahabat yang menyayangiku apa adanya dan kini dia sudah tak ada. Dialah yang menemaniku saat yang lain menjauh. Aku berpikir bahwa dia adalah utusan Tuhan yang dikirim untukku. Namun kini, dia sudah tak ada. Kecelakaan maut merenggut nyawanya.
Di dalam ruang kelas yang dingin, dimana setiap anak duduk berpasangan, terkecuali aku. Aku duduk sendiri diurutan meja nomor dua baris kedua. Seperti itulah keadaan aku saat sekolah, sejak dahulu sebelum bertemu sahabatku dan sesudah kehilangannya.
Sesaat aku sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru piket, Radit muncul di kursi kosong sebelahku. Tersentak aku kaget. Teman-teman melihatku aneh, tak sedikit dari mereka mencibirku. Namun tak pernah ku hiraukan mereka. Radit hanya tersenyum menatapku.
“Ngapain ada disini?” bisikku.
“Mau nemenin kamu. Aku kasihan sama kamu, sendirian” jawabnya sambil tersenyum menatapku.
“Oh jadi dari tadi kamu ngikutin aku ya?” bisikku lagi.
Radit hanya tersenyum dan tertawa pelan.
“Sudah sana, jangan ganggu aku dulu!” perintahku masih dengan bisikkan.
Semenjak itu, Radit sudah tak pernah mengikuti langkahku. Dia hanya ada ketika aku membutuhkannya. Seringkali saat aku sedang menyendiri di ayunan kayu rumahku.
Malam itu kembali hadir. Kesepian kembali menghinggapi diriku. Seperti sudah menjadi kegiatan rutinku, aku pergi menuju ayunan kayu itu. Berniat cerita tentang semua yang aku rasakan pada Radit. Sejujurnya, Radit yang kini mampu memahamiku dan hanya dia yang mampu mendengarkan semua keluh kesahku. Aku juga nyaman berada dekatnya, aku tak merasakan kalau dia bukan dari sebangsa manusia meski kenyataannya seperti itu.
Malam itu aku bercerita dengannya sampai larut. Tak terasa, aku terlalu asyik membagi kisahku bersamanya. Rasa sepiku seakan hilang saat aku kenal dia. Bagaimana mungkin seseorang yang paling memahamimu berasal dari dimensi lain? Tapi itulah yang aku rasakan.
“Aku sayang kamu, Radit” ungkapku saat menatap matanya.
“Chika sadar!” respon Radit sambil melambaikan tangannya ke hadapanku saat aku menatapnya.
“Aku sadar” jawabku.
Tiba-tiba Radit meninggalkan ayunan kayu dan berjalan menyusuri halaman. Dengan wajah penuh kebimbangan, Radit menjejaki langkahnya sedikit demi sedikit di sekeliling halaman.
“Aku nggak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Aku nyaman saat aku dekat kamu. Kamu yang paling mengerti aku. Meskipun kamu berasal dari dimensi lain, aku nggak pernah merasakan semuanya saat aku berada dekatmu. Kamu adalah yang aku butuhkan saat ini” jelasku yang mengiringi langkahnya di belakangnya.
“Aku nggak mau merusak hidup kamu” ungkap Radit.
“Bagaimana caranya kamu merusak hidup aku sedangkan aku bahagia saat bersama kamu?” tanyaku bingung.
Angin malam kian menusuk. Suasana bertambah dingin.
“Suatu saat nanti, bisa saja aku merusak hidup kamu. Dan aku nggak mau itu terjadi. Tolong mengerti, Chika!” Radit menggenggam tanganku.
Dingin tangannya membuatku membisu, tak mampu berkutik. Tatapan matanya yang tajam seolah menembus dalam mataku. Kaku, aku tak mampu berbuat apa-apa.
“Sudah malam, tidur sana!” perintah Radit.
“Tapi…aku takut..aku takut..” kataku terbata-bata.
“Jangan takut, aku masih disini selama kamu masih butuh aku” jawabnya sebelum kata-kataku habis.
Aku sudah terbiasa dengannya ketika dia mulai membaca apa yang ada dipikiranku. Aku pun menuruti perintahnya. Aku meninggalkannya dan seperti biasa dia selalu melambaikan tangan disertai senyum manis yang terukir diwajahnya saat aku menutup jendela kamarku.
Kembali aku menjalani kegiatanku seperti biasanya. Saat di sekolah, aku langsung menuju perpustakaan karena ada buku yang ingin aku pinjam. Lorong demi lorong setiap rak buku aku lalui, di lorong paling pojok akhirnya aku menemukan buku yang aku cari. Aku ambil buku itu dan bergegas aku menuju meja administrasi untuk pendataan. Saat aku berjalan keluar lorong rak buku itu, seorang lelaki menabrakku. Aku pun terjatuh.
“Eh maaf, nggak sengaja” katanya sambil berusaha menolongku untuk berdiri.
“Iya iya nggak apa-apa kok” sambil merapikan seragamku dan berlalu meninggalkannya.
Pria itu memperhatikanku saat aku berlalu meninggalkannya. Dua temannya yang menyadarkannya.
“Pandangan pertama, awal aku berjumpa” ejek temannya menyanyikan lagu pandangan pertama karya Slank itu sambil berjoget-joget meledek Reza.
“Apa sih lo!” Reza memukul ringan bahu temannya itu.
Sampainya di kantin, aku bertemu lagi dengan mereka. Dari kejauhan, aku merasakan seperti ada orang yang memperhatikan aku. Ternyata, Reza sedang memperhatikan aku. Mulai risih, aku meninggalkan tempat itu.
“Woy! Ngeliatin apa lo?” tanya teman-temannya.
“Gue ngerasa ada sesuatu yang beda sama cewek tadi. Dia siapa ya?” tanya Reza masih dengan tatapan semula.
“Hahaha.. Jatuh cinta berjuta rasanya” ledek temannya lagi dan menenggak jus mangga milik Reza.
“Sialan lo!” kata Reza menarik minuman miliknya.
“Kejar, Bro!” kata temannya.
“Gue bakal cari tahu siapa cewek itu” ucap Reza dan meninggalkan kantin.
Sementara teman-temannya cukup dibuat heran dengan tingkahnya hari itu dan membiarkannya pergi.
Hari kian berlalu, pertemuanku dengan cowok anak IPS itu semakin sering. Dia mulai mencoba untuk mendekatiku. Tak jarang, dia menghampiri hingga ke rumahku. Entah tahu dari mana alamat rumahku, nyatanya seperti itu.
“Permisi, ini rumah Chika?” katanya setelah dibukakan pintu oleh Mbak Inah.
“Oh iya benar, temannya Non Chika ya?” tanya Mbak Inah.
Rama mengangguk mengiyakan pertanyaan Mbak Inah.
“Masuk, Mas. Duduk dulu. Saya panggilin Non Chikanya dulu.” Kata Mbak Inah langsung menuju kamarku.
“Non, ada temannya nunggu di ruang tamu” celoteh Mbak Inah di depan pintu kamarku sambil mengetuk pintu.
Aku bergegas menuju pintu dan membuka pintu. Heran, tak biasanya ada temanku yang main ke rumah.
“Siapa, Mbak?” tanyaku ada Mbak Inah.
“Cowok, Non. Mbak Inah lupa nanya siapa namanya” jawab Mbak Inah sambil meringis tertawa garuk-garuk kepala.
Mbak Inah kembali ke dapur dan aku yang penasaran dengan orang itu segera menghampiri ke ruang tamu. Terlihat dari jauh, sesosok pria yang sudah tak asing sedang duduk di kursi tamu mengepal kedua tangannya sesekali menengok ke kanan dan ke kiri.
“Chika” katanya sesaat aku menghampirinya.
“Ra..Rama?” kataku agak kaget bercampur heran melihatnya.
Rama hanya tersenyum.
“Ngapain? Kok tumben sih?” tanyaku sembari memposisikan diri duduk di kursi menghadapnya.
“Mau main aja kok. Ganggu ya?” tanya Rama.
Mulailah obrolan ringan aku dengan Rama. Rama cukup menyenangkan. Disela-sela obrolan, ada candaannya yang terkadang garing dan ada pula yang memang lucu.
Aku mulai dekat dengannya. Radit pun tahu akan hal ini dan dia senang.
“Aku senang sekarang kamu udah nggak kesepian lagi” ungkap Radit saat sedang berada di ayunan kayu.
“Aku senang sekarang kamu udah nggak kesepian lagi” ungkap Radit saat sedang berada di ayunan kayu.
“Tapi bukan berarti kamu mau ninggalin aku kan?” tanyaku.
Radit hanya tersenyum dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku membiarkannya pembicaraan itu dialihkan.
“Rama baik kok. Kelihatannya dia tulus sama kamu” ujar Radit sembari menatapku dalam.
“Maksud kamu?” alis ku berkerut.
“Yaa, dia cowok yang baik. Kalau suatu saat nanti dia mengungkapkan perasaannya ke kamu, jangan pernah kamu bohongi hati kamu ya?” celoteh Radit menasihati.
Malam itu dipenuhi oleh nasihat-nasihat Radit untukku. Aku hanya mendengarkan dan membayangkan apa yang dibicarakannya. Sudah tak heran lagi kalau Radit tahu apa yang kini dan akan aku alami.
Tiba saatnya, Rama mulai mengajakku jalan. Aku bingung, akankah aku terima ajakannya atau aku tolak? Saat aku bimbang dengan keputusanku, Radit datang berada persis di sebelahku dan berbisik di telingaku.
“Terima saja ajakannya. Kamu pasti terkagum-kagum” bisiknya.
“Haa? Maksud kamu apa, Dit? Ada apa?” tanyaku sembari memutar tubuhku mencari Radit yang tiba-tiba menghilang.
Akhirnya aku memutuskan untuk menuruti bisikkannya Radit.
Dibalik sosoknya yang humoris, ternyata Rama tipe cowok yang teramat romantis. Rama mengajakku ke sebuah taman kota yang indahnya luar biasa. Cukup jauh memang jarak dari rumahku ke taman kota itu. Sesampainya di depan gerbang taman kota itu, Rama meminta aku memakai tutup mata yang diberinya. Aku menurutinya.
“Rama, jangan macam-macam ya? Kamu mau bawa aku kemana sih?” tanyaku sambil memegang erat tangan Rama, mengikuti jejak langkah Rama meski terbata.
“Ikutin aku aja” jawabnya.
Rama menghentikan langkahnya. Aku pikir sudah sampai. Ternyata benar, Rama memintaku membuka tutup mataku. Perlahan ku buka tutup mata itu. Betapa terkejutnya aku ketika aku lihat dihadapanku susunan kelopak bunga membentuk kata “Ready To Love You”. Aku tak menyangka Rama sudah menyiapkan kejutan yang benar-benar membuatku tersentak. Dihiasi lilin-lin kecil membentuk hati dan diiringi lagu-lagu klasik dari dawai biola, membuat suasana terasa sangat romantis.
Aku hampir saja terhanyut dalam suasana itu. Namun aku tersadar saat ku lihat Radit berdiri di tengah danau yang saat itu persis aku menghadapnya.
Seketika aku sadar, Rama mengungkapkan semua yang dia rasa padaku. Seketika itu pula aku teringat akan ucapan Radit yang menyatakan pendapatnya tentang Rama. Tak secepat itu pula aku mengambil keputusan, aku meminta waktu pada Rama untuk memikirkannya. Rama mempersilakan.
Aku menceritakan semuanya pada Radit yang aku yakini dia sudah tahu semuanya. Aku bimbang dengan semua yang aku rasa, aku menyayangi Radit yang mempunyai sisi lain denganku. Namun di sisi lain, aku menghargai apa yang dirasakan oleh Rama.
“Semuanya serahkan pada hatimu, yakinkan hatimu untuk menentukan segalanya.” kata Radit bijak.
“Tapi…”
“Jangan bohongi hati kamu, jika kamu yakin dia adalah cinta sejati kamu, tangkap dia sebelum kamu menyesal selamanya. Aku, jangan pikirkan aku. Walau bagaimana pun, ak nggak akan terus bisa selalu menemani kamu… disini!” potong Radit atas perkataanku sebelumnya.
Aku termangu dalam sepi, dalam gelapnya malam nan indah, menyejukkan. Tak pernah terpikirkan olehku akan terjadi kisah seperti ini. Aku belum pernah merasakan apa yang aku rasa pada Radit sebelumnya, aku mencintainya dalam dimensi yang berbeda.
Dalam waktu tujuh hari, ternyata aku belum bisa menentukan semua pilihanku. Ini terlalu sulit bagiku. Kala itu, aku merasakan sesuatu yang teramat beda dari biasanya, entah mengapa aku merasakan amat sunyi, teramat sepi. Bukan, bukan kesunyian seperti biasa yang selalu aku rasakan, ini berbeda. Seketika aku langsung teringat akan Radit.
Malam pun tiba, tak seperti biasanya saat aku berniat menuju ayunan kayu di halaman rumahku Radit sudah berada disana. Tapi ini tidak, Radit tak ada. Menunggu, dua jam terlewati, Radit tak kunjung muncul. Perasaanku semakin tidak enak, gelisah dan resah menyelimutiku.
“Chika..” sapa Radit yang tiba-tiba muncul dibalik pohon matahari di halaman rumahku.
“Radit.. Kamu kemana aja?” kataku yang langsung menghampirinya.
“Chika, mungkin disinilah akhir semuanya. Kamu tak akan lagi kesepian, aku tahu akan apa yang kamu rasa dan semua perasaanmu”
“Maksud kamu apa Radit? Jangan bilang kamu bakal pergi ninggalin aku!” kira ku pada Radit.
“Maafkan aku, Chika. Ini yang terbaik. Bahagialah, Chika.” Salam terakhir Radit.
Tak terasa air mata menetes begitu deras. Radit meninggalkan semua cerita bersama. Mencoba membuka lembaran baru, itulah yang kini aku coba langkahkan.
Komentar