Seketika kemelut langit gelap menutup apa yang disebutnya sebagai cahaya. Menyapu jingga di senja, menelan pahit-pahit air kemarau. Mencoba berdamai pada takdir, menikmati setiap jengkal kehidupan. Semesta tahu kapan perahu ini akan berlabuh, Semesta juga tahu kemana air akan bermuara. Mencoba menerima setiap detik nafas dalam damai. Menghela hingga hilang semua luka. Menjadi sebaik-baik manusia pada Tuhannya, menyerahkan seluruh hanya padaNya, sekalipun dirinya sendiri. Mendoakan segala harapan, mengusahakan segala impian dan menerima pemberianNya apapun yang dikehendaki. Bagaimana membentuk ikhlas ? Hujan tidak pernah bertanya kenapa ia harus jatuh ke bumi dan daun yang gugur pun tidak pernah membenci angin yang menjatuhkannya. Mereka seolah lebih paham bahwa apa yang terjadi padanya adalah yang terbaik untuknya meski semua yang terjadi sama sekali bukan keinginannya. Pantaskah manusia mengolok-olok takdir ? sementara logikanya tidak akan sampai menembus batas. Sesombong itu...
bukan aku menyerah atas semua yang telah aku perjuangkan selama ini.. tapi, ketika cinta itu menuju rumahnya maka ia akan pulang dengan atau tanpa harapan