Langsung ke konten utama

TERNYATA.. MUARAKU DISINI


TERNYATA.. MUARAKU DISINI
Oleh: Adhelita Audina Pradanti

          Detak waktu terasa semakin keras menelusup ke dalam rongga-rongga telinga gadis berambut panjang yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Mata semakin sulit tertutup, menunggu ucapan-ucapan manis dihari bahagianya. Tak jarang, senyum kecil terukir indah membayangkan tentang kejutan apa yang akan diberikannya untuk tahun ini.
          Tiap jam berlalu, menit bergulir, dan detik pun semakin cepat bergulir berpindah dari angka satu menuju angka lain. Rasa gelisah mulai hadir menemani dini hari itu, mata semakin enggan tertutup, otak semakin kuat berputar, entah apa yang terjadi pada Ferdy, kata-katanya tak kunjung sampai, padahal berjam-jam dia menunggunya. Velisha coba untuk membuang semua kegelisahan itu dan berharap tak ada sesuatu yang terjadi, melainkan semua akan baik-baik saja.
          “Velishaaaaa, happy birthday yaaaa. Semoga apa yang lo mau bisa tercapai, semuanyaaa” Revita tiba-tiba datang dan memeluk sahabatnya. Tapi tak seperti biasanya, Velisha terlihat datar dan tak menanggapi kerusuhan yang dilakukan Revita. Revita yang melihatnya beda pun sedikit ganjil, “Lo kenapa eh? Muka galau banget gitu?”
Lagi, Velisha hanya diam, terpaku menatap apa yang ada dihadapannya, mungkin matanya seperti memperhatikan sesuatu tapi tidak pikirannya. “Helloooooo, lo kesambet apa gimana sih, Neng?” ledek Revita sambil melambaikan tangannya di hadapan wajah Velisha. Barulah, saat itu Velisha seolah nyawanya telah merasuk lagi ke dalam raganya. “Kenapa, Rev?” tanya Velisha yang seperti orang baru tersadarkan dari pingsannya.
“Gila lo ya, dari tadi gue disini lo nanya gue kenapa? Ada apa sih?” tatap Revita pada Velisha.
Velisha menggeleng. “Masalah apa sama Ferdy?” celetuk Revita langsung pada pointnya.
          Revita dan Velisha bersahabat memang sejak lama, jadi tidak aneh kalau Revita dan Velisha sudah saling mengerti dan terlalu sering tebakan-tebakan antarmereka selalu benar.
“Ferdy nggak ada kabar sampe sekarang, Rev” wajah Velisha kembali lesu.
“Lo udah coba hubungin dia?”
“Berkali-kali. Tapi nggak ada jawaban juga. Kemarin dia tuh selah kaya nyari-nyari masalah gitu sama gue, nggak ngerti deh gue juga” hembusan napas Velisha, pelan.
“Oh mungkin dia lagi nyiapin surprise buat lo, Vel. Iya surprise, biasalaaah cowok mah suka modus-modus gimanaaaa gitu” tawa Revita. Revita seolah hatam benar mengenai hal seperti itu, padahal untuk jatuh cinta saja sepertinya belum pernah.
          Tak beberapa lama, Ferdy datang menghampiri Velisha dan Revita yang sedang duduk di taman belakang kampus mereka. “Sht.. sht.. Ferdy tuh !” bisik Revita pada Velisha.
Ferdy duduk di sebelah Velisha yang masih terdiam dan menekuk bibir indahnya.
“Jalan yuuuuk, traktir traktir gitu kek” pinta Revita pada Ferdy. Namun, suasana yang semula terlihat berwarna seketika padam.
“Gue mau ngomong berdua sama Velisha” ucapan ferdy yang sontak membuat Revita tanpa berpikir panjang lagi meninggalkan mereka berdua.
          Seperti sebuat bongkahan es batu suasana kala itu, Ferdy belum mau memulai kata-katanya. Sampai akhirnya.. “Kamu ingat hari ini hari apa?” tanya Velisha tanpa ingin menatap kekasihnya itu. “Selamat ulang tahun ya” begitu dinginnya Ferdy kala itu.
“Ada yang mau aku omongin” Ferdy tajam.
“Silakan” Velisha menjawab dingin.
“Aku nggak bisa ngelanjutin hubungan ini” sebuah kalimat yang membuat Velisha seolah tertusuk berbagai duri tajam nan besar-besar. Sontak Velisha menatap mata Ferdy tajam.
“Maksud kamu, putus?” mata Velisha mulai berkaca.
“Maafin aku, aku benar-benar nggak bisa ngelanjutin semua ini. Aku mau sendiri dulu ya” kerasnya permintaan Ferdy yang membuat Velisha tak mampu lagi berbuat apa-apa.
          Air mata tak mampu lagi tertahankan jatuh berlinang mengairi wajah Velisha. Terlalu sulit bagi Velisha mempertahankan hubungan itu, tapi kjni semua seolah tak berarti lagi, dan mau tak mau Velisha harus merelakan segalanya. Segalanya seolah lenyap entah kemana, hilang tak berbekas. Cahaya pudar, tak lagi bercahaya.
          Hari semakin berlalu, waktu terus berputar, hingga tahun kian berganti. Velisha tak pernah bisa membuka hatinya kembali setelah kejadian itu. Entah seberapa kuat dia mencoba belajar untuk membuka hatinya, tetap saja seolah semuanya terbelenggu.
          Hingga suatu ketika, semua merubah kembali kehidupannya. Di tepi telaga yang penuh kenangan, Ferdy menghampirinya kembali setelah sekian lama menghilang tanpa jejak.
“Ferdy..” Velisha terkejut melihat kehadirannya disana.
“Tadi aku ke rumah, kata mama kamu lagi disini” jelas Ferdy.
“Untuk apa?”
          Ferdy berjalan mengelilingi telaga indah itu. Tampilan depan danau dengan air yang begitu bening, hamparan rerumputan luas dihiasi bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, angin yang berhembus pun mampu melarikan diri untuk terbang bersama keindahan itu. Velisha mengikuti Ferdy.
“Terlalu sulit bagiku untuk menentang apa yang sebenarnya bukan kehendakku. Mungkin aku memilih tidak dengan hati, melainkan dengan egoku. Itu sulit, bahkan sangat sulit” ungkap Ferdy yang membuat Velisha penuh dengan pertanyaan. “Lalu, kenapa sekarang kamu kembali? Kamu tahu, kamu sudah menghancurkan usahaku, detik ini!”
Ferdy membalikkan tubuhnya mendekati Velisha. “Aku terlalu mencintai diriku, karenanya aku takkan membiarkannya terluka karena merindukanmu”
“Kamu jahat banget ya?” Velisha menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
“Aku layaknya air yang mengalir entah kemana, mencari muara untuk tempat ku beristirahat sejenak. Semuanya sudah ku lalui, berbagai batu besar sudah ku hantam dengan kekuatan yang aku punya, terkadang keruh air itu, aku mencoba menjernihkannya kembali” Ferdy menatap luasnya telaga indah itu.
“Dan disini.. aku seperti lilin yang hampir leleh. Sumbuku semakin mengecil, bahkan untuk dipaksakan menyala pun mungkin tak lagi terang. Lelehan itu, mengeras.” Balas Velisha.
“Tapi kini, seolah aliran ku terhenti, aku menemukan muaraku, tempat terindah yang mampu menyegarkan kembali air itu. Tempat yang mungkin terlalu sedikit kemungkinan untuk air itu dapat keruh.”
“Dan kini.. Aku seperti sebuah lilin baru, tegak, lurus, bersumbu panjang, dan siap bercahaya”
“Ternyata.. Muaraku disini, sayang” kata Ferdy sambil menunjuk hati Velisha.


~ ketika kau memang harus melepaskan, lepaskanlah. Jika memang dia untukmu, dia akan kembali untukmu ~


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...