Langsung ke konten utama

SESUNGGUHNYA INDAH


SESUNGGUHNYA INDAH
Oleh: Adhelita Audina Pradanti

     Setelah kegagalan itu, memang berat untuk mengikhlaskan segala sesuatu yang bukan menjadi keinginan. Tak dapat ku pungkiri hati terus saja bergejolak seolah menentang tentang apa yang telah tergariskan. Menjalaninya? Cukup berat, karena hati seolah melawan arus air yang mengalir.
     Dalam hidup ini, aku terus berusaha untuk menerima segala yang sudah Tuhan gariskan untuk segala kisahku. Tapi, sulit itu tetap saja tak kunjung lenyap dalam hati.
     Perlahan.. ku coba menjalaninya dengan ikhlas, semua memang tidak semudah membalikkan telapak tangan atau sekedar menuliskannya dalam selembar kertas dan berbait-bait kata.
     Bagaimana rasanya menjalani sesuatu yang bukan menjadi keinginan? Sulit? Pasti. Karena sebenarnya keihklasanlah yang menjadi kunci segalanya. Percaya atau tidak, disaat hati mampu mengikhlaskan segala sesuatu yang memang itu menjadi keinginan bahkan sangat, tapi ternyata Tuhan tak pernah menghendakinya, sesungguhnya disitulah keajaiban yang akan menghampiri. Bicara fakta, mungkin banyak orang diluar yang pernah mengalaminya, bahkan sebelum ini pun aku pernah mengalaminya, dan itu sangatlah indah.
     Kini.. aku sedang memulai hariku untuk belajar, belajar tentang ikhlas, ikhlas untuk sesuatu yang memang bukan untukku meski sekuat hatiku menginginkan itu, namun kini aku harus belajar.
Layaknya belajar, aku tak pernah bisa untuk berdiri sendiri, tanpa ada genggaman yang menguatkanku, tanpa ada tubuh hangat yang memelukku kala aku mulai lupa akan pembelajaranku.
     Dan perlahan.. aku akan mengerti bahwa terkadang Tuhan tidak memberikan apa yang menjadi inginku karena Tuhan sedang merangkai cerita indah untuk hidup yang harus aku lalui.
     Perlahan, keindahan itu akan muncul seiring berjalannya waktu, seiring sinar mentari menghangatkan serta seiring hujan yang membasahi gersangnya bumi.


~ terkadang Tuhan tidak memberikan apa yang menjadi keinginanmu, tapi percayalah bahwa Tuhan punya rencana lain yang jauh lebih indah ~


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...