LANGKAH PERLAHAN
Oleh: Adhelita Audina Pradanti
Matahari membakar hari dengan semangatnya.
Hari itu bersinar sangat cerah, lebih dari biasanya. Burung-burung berkicauan
merdu, semilir angin yang menerpa pepohonan menambah riuh suasana pagi itu. Aku
pun dengan semangatnya melangkahkan kaki untuk menyicil menyelesaikan segala
yang sudah aku mulai.
Hapeku bergetar, segera ku mengambilnya
dari dalam kantong almamaterku.
Dhel, nanti selesai kuliah
langsung ke bioskop aja. Gue tunggu disana sama Nida. Oke sayaaaang :*
Ternyata sms itu
dari sahabatku, Yeni.
“Waaah kebetulan
sekali hari ini aku hanya ada satu mata kuliah.” Ujarku dalam hati sembari
melangkahkan kakiku menuju ruang kelas. Aku balas smsnya Yeni untuk menyetujui
ajakannya.
Mata kuliah pun selesai, aku segera keluar
ruangan dan bergegas menyusul Yeni dan Nida yang sudah berada di tempat janjian
kami. Tak butuh waktu lama untukku menunggu angkot yang akan mengantarkanku
kesana. Tak beberapa kemudian, ada seorang pemuda yang membawa gitar kecil
bernyanyi di dekat pintu angkot yang aku naiki. Suara pemuda itu sangat bagus,
beda seperti pengamen-pengamen yang biasa aku dengar saat aku naik angkutan
umum. Aku sangat menikmati beberapa lagu yang dilantunkannya begitu indah,
hamper saja aku larut ke dalam suaranya yang begitu ramah di telinga.
“Halooooooo.. lama nggak nunggunya?”
kataku menyapa Yeni dan Nida yang menunggu di restoran tempat biasa aku makan
sebelum aku nonton bareng mereka. “Engga kok, tadi angkotnya cepet sih.” jelas
Yeni. Ternyata Yeni dan Nida sudah memesan tiket untuk kita bertiga. Film
Breaking Dawn II menjadi pilihan kami, sebenarnya Yeni dan Nida kurang suka
dengan film itu, tapi katanya untuk aku sih apa yang engga, gitu. Haha cukup
terharu.
Selesai nonton, Nida mengajak makan
(lagi). Heran memang, Nida mempunyai postur tubuh yang kecil namun porsi
makannya sangat mendustai keadaannya. Oke, akhirnya aku dan Yeni menuruti
kemauannya. Nida mengajak makan di pinggir jalan, entah apa yang sedang
dirasakannya, tumben sekali dia mengajak makan di pinggir jalan. Mungkin dia
ingin merasakan sesuatu yang beda.
Akhirnya kami makan di warung tenda
pinggir jalan. Nida sibuk memilah-milih makanan, Yeni sibuk membalas sms
pacarnya, dan.. perhatianku tiba-tiba tertuju pada seorang anak berseragam
putih-biru lengkap dengan jilbab putihnya yang berjalan agak tertatih, seperti
menahan sakit di kakinya. Dari kejauhan, aku lihat anak itu seperti habis jalan
dengan jarak yang teramat jauh. Sesekali dia berhenti, membenahi tasnya yang
kelihatannya sangat berat dan tentunya kelelahan, tubuhnya mungil.
Aku keluar dari warung tenda itu saat anak
itu mulai mendekat ke arahku. Aku perhatikannya langkah perlahannya, dia
menengok ke arahku dan tersenyum manis padaku. Ada rasa yang mendorongku untuk
menegur anak itu, “Dik!” panggil aku pada anak itu. “Iya, ada apa, Teh?” tanya
anak itu begitu lembutnya membalas sapaanku.
“Kaki kamu kenapa?”
tanyaku sambil memerhatikan kakinya yang terus dipeganginya.
“Oooh nggak apa-apa
kok, Teh. Cuma sakit aja jalan jauh.” Senyumnya terukir sambil membawa dirinya
duduk di trotoar jalan di bawah pohon rindang. Aku mengikutinya.
“Nama kamu siapa?”
aku yang masih memerhatikan keadaannya yang sangat lusuh.
“Siska, Teh. Nama
teteh siapa?” cukup terasa logat Sundanya.
“Delia..” dia
menganggukkan kepalanya. “Sekolah kamu jauh?”
“Jauh sekali, Teh.
Saya butuh waktu sekitar 2 jam untuk menempuh perjalanan menuju sekolah saya.”
Ceritanya sambil memijit kakinya perlahan.
“Kenapa kamu jalan?”
tanyaku masih penasaran.
“Saya nggak punya
ongkos, Teh. Jadi daripada saya tidak berangkat sama sekali, lebih baik saya
jalan kaki saja. Selama saya masih sanggup.” Ceritanya penuh antusias.
“Jadi, setiap hari
kamu jalan kaki?”
“Yaaa begitulah, Teh.
Terkadang saya juga sangat kelelahan, dan tak jarang pula saya sangat
mengharapkan ada seseorang yang mau mengantarkan saya pulang sehingga saya
tidak perlu jalan kaki. Tapi, itu terlalu jarang, Teh.” Ungkapnya dengan sangat
terbuka, seolah dia sangat percaya menceritakan segalanya denganku.
Aku menarik napas
perlahan, cukup terkesan dengan cerita yang diungkapkannya. “Rumah kamu dimana,
Sis?” tanyaku lagi. Siska menjelaskannya. Akhirnya, aku ajak Siska untuk makan terlebih
dahulu bersama Nida dan Yeni. Aku akan mengantarkannya pulang.
Yeni dan Nida heran, entah siapa yang aku
ajak saat itu, “Siapa, Del?” tanya Nida sambil menyendokkan makanan yang masih
rapi tersusun di piringnya. “Kenalin, Siska namanya.” Siska bersalaman dengan
Nida dan Yeni. Sikap Siska memang sangat santun sekali, sangat menghormati umur
diatasnya.
“Abis makan ini, gue
mau nganterin Siska dulu. Kalau kalian mau ikut gue, ayo! Kalau nggak, yaudah
nanti kalian duluan aja.” Aku menawarkan.
“Hmm.. Gue mau ikut
ah!” kata Nida tanpa pikir panjang, Yeni pun membuntuti.
Siska makan dengan snagat lahap, aku
membiarkannya memilih makanan yang dia mau. Selama dia makan, aku
memerhatikannya dan mengingat kembali cerita yang sudah terlontar tadi saat
duduk di trotoar jalan. Sangat memprihatinkan, anak dengan tubuh semungil itu
harus menempuh perjalanan 2 jam untuk menuju ke sekolahnya, dengan jalan kaki
pula. Berarti, dia harus berjuang di jalan selama 4 jam untuk bisa sampai di
sekolah dan kembali ke rumahnya.
Selesai makan, aku mengantarkan Siska
pulang. Di angkot, Siska bercerita banyak tentang hari-harinya yang berhasil
membuat hatiku terenyuh dan membuatku berjuang menahan air mataku.
“Semangat kamu hebat
banget ya, Siska.” Kataku bangga.
“Demi masa depanku,
Teh. Walau bagaimana pun juga, aku harus berjuang, toh manusia emang dituntut
untuk berjuang keras kalau mau masa depannya cerah kan?” sungguh, anak SMP
sekecil itu mampu mengungkapkan sebuah kata yang sangat bijaksana.
Sesampainya di rumah dia, ibunya menyambut
hangat kedatangan kami. Sepertinya ibunya Siska sudah terbiasa dengan
orang-orang yang pulang bersama Siska, mengerti bahwa tujuan orang tersebut
adalah mengantarkan anaknya pulang.
“Silakan masuk. Maaf
rumah kami terlalu kecil, jadi mungkin agak pengap.” Ibunya Siska merendah.
“Aaah nggak masalah
kok, Bu.” Kata Yeni sambil memerhatikan keadaan sekitar rumah yang bisa
dibilang sangat kumuh dan tidak layak untuk ditempati.
Aku memilih untuk berbincang dengan Siska,
aku masih ingin tahu banyak tentang perjuangannya. Sementara Nida dan Yeni
memilih untuk memerhatikan keadaan di sekeliling rumah Siska.
“Kamu kuat ya,
Siska?” kataku menghampiri Siska yang sedang duduk di kursi bambu depan
rumahnya.
“Dalam batinku,
kadang aku menyerah untuk sanggup melalui ini semua, Teh. Aku pernah merasakan
letih yang luar biasa mendera fisik dan batinku. Bahkan aku pernah marah pada
Tuhan karena ketidakadilan ini, Teh. Disaat yang lain mampu bersekolah dengan
segala kemudahan, tapi kenapa aku begitu sulit untuk menjalani semua ini.” Mata
Siska mulai berkaca-kaca.
“Tapi saat aku
melihat wajah ibu, wajah yang penuh dengan ketulusan dan keikhlasan, aku
langsung merasa bahwa tidak sepantasnya aku marah pada Tuhan. Apalagi saat aku
lihat ibu sedang shalat Tahajud. Aku percaya kok, rencana Tuhan selalu indah,
bagaimana pun itu prosesnya.” Siska benar-benar terbuka menceritakan semua
tentangnya.
Tuhan.. begitu indah hati seorang
perempuan mungil yang Kau ciptakan. Di tengah berbagai himpitan yang
menderanya, dia masih mampu melaluinya dengan hati yang kuat, meski terkadang
dia pun merasakan lelah yang teramat sangat menyiksanya. Namun, dia adalah
malaikat kecil yang Kau ciptakan untuk menyadarkan bahwa masih ada orang kecil
yang mampu berjuang meski segalanya tidak memungkinkan.
Tuhan.. kini aku sadar, semua yang
tertulis dalam lembar ceritaMu sebenarnya selalu indah, tinggal bagaimana aku
dalam mengolah alurnya. Tapi yang ada, terkadang aku tidak mampu mensyukuri
segala nikmat yang telah Kau limpahkan, bahkan sangat berlebih. Maafkan aku, Tuhan.
Komentar