BERJUANG
DI ALAM RAYA
OLEH:
ADHELITA AUDINA PRADANTI
“Tak
mudah untuk berjuang di alam raya seluas ini, apalagi dengan keadaanku yang
seperti ini” begitulah yang terucap dari bibir seorang tunanetra yang duduk di
sebelahku.
Sekitar
jam 3 sore, selepas kuliah seperti biasanya aku menunggu bus di halte dekat
kampusku. Sebelumnya memang sudah terpaku seorang lelaki berumur sekitar 25
tahunan yang entah menunggu apa, aku juga tak mengerti.
Langit
sore sudah mendung sekali saat itu, perasaanku pun was-was akan turunnya hujan.
Sendiri, bus jurusan rumahku lumayan lama.
Aku
mengeluarkan sebuah buku untuk menemaniku menunggu. Ketika aku sampai di lembar
kedua buku yang aku baca, tiba-tiba lelaki di sebelahku memulai pembicaraan
“Nunggu apa?” begitu katanya memulai pembicaraan. Mungkin dia sedang mengecek
apakah yang duduk di sebelahnya adalah seorang pria atau wanita.
“Bus, Mas. Mas sendiri nunggu apa?”
tanyaku balik sambil memerhatikan tongkat usang yang dibawanya.
“Saya sih nggak nunggu apa-apa, Mbak.”
jawabnya santai dengan tawa pelan yang menyelinginya.
Keadaan
hening sesaat, hingga kembali dia yang memulai pembicaraan “Terkadang hidup ini
begitu singkat bagi mereka yang penuh dengan kesempurnaan” ucapnya yang sontak
membuatku menutup buku yang sedang ku baca ke lembar berikutnya.
“Tapi kan memang nggak pernah ada yang
sempurna, Mas?” aku mencoba menyanggah atas apa yang diucapkannya.
Lelaki itu mencoba
membenahi tongkatnya dan seraya kembali berkata “Ya memang tidak ada yang
sempurna dimata Tuhan, tapi sempurna untuk dimata dunia itu banyak kok, Mbak.”
Katanya dengan penuh keyakinan. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, namun aku
begitu tertarik dengan gaya pemikirannya yang membuatku sangat penasaran.
Aku masih terpaku
memerhatikannya, biarlah dia tidak tahu ini kalau aku perhatikan. Aku terpaku,
otakku berputar begitu cepat mencoba mendeskripsikannya.
“Asal Mas darimana?” tiba-tiba pertanyaan
itu terlontar begitu saja dari mulutku. “Saya dari Sidoarjo, Mbak” jawabnya
santai. Cukup kaget ternyata lelaki itu seorang perantau, “Sendiri disini?”
tanyaku lagi penasaran. Dengan senyum yang perlahan terhias diwajahnya, “Iya,
Mbak saya sendiri disini. Saya sudah nggak punya siapa dan apa-apa lagi. Yaaa..
dengan keadaan saya yang seperti ini, terlalu banyak orang yang merendahkan
saya. Entah apa yang ada dipikiran mereka, mereka menganggap saya terlalu
hina.” jelasnya dengan posisi duduknya yang tidak berubah, sama halnya
denganku.
Sungguh,
aku masih penasaran dengan lelaki ini, lelaki ini beda, aku merasakan aura yang
lain yang dipancarkan dari lelaki ini. “Terus gimana caranya Mas bisa bertahan
hidup sementara Mas nggak punya pekerjaan?”
Tarikan dan hembusan napasnya begitu
lembut, “Itulah, Mbak arti perjuangan saya di alam raya ini. Sekuat saya, saya
harus mampu bertahan hidup dalam luasnya semesta ini, megahnya dunia ini, meski
segalanya fana tapi semua penuh dengan kenyataan hidup yang walau bagaimanapun
harus saya terjang.”
Aku asyik menyerap kata-katanya yang
penuh dengan kebijaksanaan. “Memang, memang banyak yang menganggap mustahil
dengan apa yang saya lakukan saat ini, seorang tunanetra mampu hidup seorang
diri di tengah dunia yang kejamnya semakin tak tertahankan.” lanjutnya.
Dengan hati-hati, saya memberanikan diri
mengeluarkan kata, “Termasuk saya, Mas. Sulit sekali percaya itu semua.”
Dengan
santai dia menjawab, “Sebenarnya, saya nggak sendiri, Mbak. Saya masih punya
Tuhan yang selalu mendekap saya kapanpun saya butuh. Tuhan menciptakan saya
dengan keadaan seperti ini juga kan ada maksud lain, Tuhan selalu punya cerita
indah untuk setiap umatNya kok, Mbak. Saya nggak pernah khawatir dengan hidup
saya, selama saya masih menanam nama Tuhan dalam hati saya.”
Cetar!!
Pikiranku bagai tersambar sebuah kilat yang teramat dahsyat. Sungguh, lelaki
ini luar biasa, di tengah keadaannya yang sangat tidak memungkinkan untuk hidup
sebatang kara dalam kejam dunia yang siap menghantamnya, dia tidak pernah
menyalahkan keadaan bahkan tak pernah sedikit pun menyalahkan Sang Pencipta.
Sedangkan aku, aku yang dengan kehidupan jauh diatasnya, seringkali lupa untuk
bersyukur untuk segala nikmat yang telah Tuhan berikan. Benar-benar, lelaki ini
seolah malaikat yang Tuhan kirimkan untuk segera menyadarkanku bahwa hidup ini
bukan hanya sekedar mencari kebahagiaan dunia, bukan hanya sekedar
mengkhawatirkan bagaimana keadaan di masa depan, tapi dilain itu, hidup adalah
bersyukur karena Sang Maha Pemberi Nikmat sesungguhnya sudah merangkai skenario
yang tak bisa lagi diubah bagaimanapun itu.
Tak
sadarkan waktu, lelaki itu akhirnya berkata bahwa hari sudah semakin gelap. Aku
bergegas menyadarkan sepenuhnya diriku, “Ah iya. Saya yakin, suatu saat nanti
akan turun keajaiban Tuhan untuk Mas. Saya pamit dulu,Mas. Hati-hati ya”
kataku.
“Keajaiban Tuhan nggak perlu ditunggu,
Mbak. Bagaimana kerasnya usaha saya untuk tetap berjuanglah yang akan menjemput
keajaiban itu. Hati-hati juga, Mbak.”
Semua
kata-katanya bersarang tepat dipikiranku. Gaya bicaranya yang membuatku terpaku
tak mampu menoleh untuk tidak memerhatikannya masih terngiang menemani
langkahku menuju bus jurusan rumahku. Bahkan di dalam bus pun aku lebih banyak
melamun mencoba menerjemahkan setiap bait kata bijak yang terukir dibibirnya
tadi. “Subhanallah! Luar biasa ciptaanMu!” begitu yang terlintas dalam benakku
setiap mengingat lelaki yang ku temui di halte tadi.
Komentar