Langsung ke konten utama

UNTUKKU, TAK ADA ALASAN !


Kala pagi ku buka mata, ku kira semuanya runtuh
Apa yang hadir dalam pandangan alam bawah sadarku tak sepenuhnya nyata dalam realita cerita
Meski dia telah membendung dirinya untuk sejenak menjauh dari harapanku, atau mungkin selamanya
Tak bisa ku elakkan bahwa hati ini sebenarnya merintih
Menahan segala pedih
Terhentinya kisah yang terlalu sulit ku pertahankan dalam perjalanannya yang memilukan
Aku tak pernah tahu apa yang ada dalam benaknya
Ketika dia memutuskan untuk meninggalkan bayangannya dalam hidupku yang mungkin akan terlalu rapuh
Tapi, tapi aku mencoba menghargai atas segala yang ada dalam pikirannya,
dalam batinnya,
dan yang terlahir dibibirnya
aku mencoba melukis senyum yang dulu sering ku berikan teruntuk dia
bahkan ketika bayangnya mulai menjauh
meski seandainya mata mampu menembus jauh ke dalam hatiku, sebenarnya aku menangis, menangis, dan menangis
itu semua tak tertahankan
karena ketika aku berusaha menguatkan hatiku, sesungguhnya hati ini akan terus mengalirkan deraian air yang tak pernah ku tahu kapan akan terhenti
terkadang pula, ketika aku hampir berhasil melupakannya, memori indah itu kembali melintasi alur hidupku
mungkin memang itulah otak manusia yang Tuhan ciptakan
dan aku tak memiliki nalar untuk menjabarkannya dalam kata yang rinci
semua kebesaranNya
namun, aku percaya cerita ini mampu mendewasakan aku
karena dari kehilangan, aku mampu belajar tentang arti sebuah ikhlas
karena dari kesedihan ini, aku juga mampu belajar untuk tegar
dan karena dari kesakitan ini, aku juga mengerti tentang arti sebuah penghargaan untuk perasaan
seharusnya aku berterima kasih pada Tuhan karena Dia telah menunjukkan orang yang salah dan aku juga percaya bahwa Dia akan segera menggantinya dengan segala keindahan yang berlipat ganda
karena yakinku, rencana Tuhan akan selalu indah
dan semua hanya waktu yang dapat menjawabnya
ketika aku bersabar, aku akan petik buah dari segala perjuanganku
dan, tak ada alasan untukku mengeluhkan semuanya pada Tuhan
sangat tidak pantas
semoga !


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...