Langsung ke konten utama

TUHAN, AKU LELAH !



Sampailah pada puncak kekecewaanku, 
kini aku jatuh dan tak tahu bagaimana lagi aku harus berdiri. Cahaya itu kini benar-benar padam. Gelap, habis tak berberkas.
Aku lelah dengan semua ini
Mereka mencoba membangunkanku dari lumpuhku
Namun, semua itu sulit untukku
Air mata yang kian tertahan, kini berderai deras
Mengalir sekujur wajahku
Entah apa yang dapat aku lakukan
Dalam keheningan malam, aku basuh wajahku dengan air suci
Ku panjatkan tiap bait kesedihanku
Ku lantunkan tiap butir keletihanku
Semua tentang perasaan
Perasaan yang mungkin hanya Tuhan yang tahu
Air mata tak dapat lagi aku bendung
Mengalir perlahan membasahi wajahku
Buram mataku, tertutupi genangan air mata yang mengantri membasahi wajah penuh kepedihan
Tuhan, aku lelah dengan semua ini
Sebegitu sulitkah ini, Tuhan?
Serendah itukah perjuanganku?
Tuhan, izinkan aku menangis
Bersimpuh padaMu dalam sunyi malam ini
Lilin yang ku punya, kini tak lagi bercahaya terang
Melainkan redup, tak sepanjang sumbu saat awal ku miliki
Kini, lilin itu pun meleleh dan hampir habis
Aku tak mengerti bagaimana harus aku kembalikan semula
Perlahan redup dan tak terarahkan
Tuhan, aku tak sanggup berdiri kala ini
Bantu aku Tuhan, bantu aku !
Kaki ini terasa berat untuk langkahkan menuju asaku
Berulangkali aku jatuh dalam lubang tajam
Aku sudah coba bertahan untuk tidak menjatuhkan air mata ini
Namun apalah daya Tuhan, aku manusia lemah
Aku tak sanggup menahan kekecewaanku yang sudah pada puncaknya ini
Aku berusaha bangkit, menjejakkan kakiku kembali
Namun aku belum sanggup
Semua terasa kaku, tak terkecuali hidupku
Semuanya menutup diriku semakin ke dalam kain hitam
Aku menangis, menangis, dan menangis Tuhan
namaMu selalu ku sebut kala air mata ini kembali berderai hebat
karena aku tak tahu siapa lagi yang harus aku teriakkan kala aku tersungkur bersama peluhku kini
kini aku berharap semoga semua ini memang rencana indahMU
berharap keajaibanmu memang benar-benar kau beri untukku
yakinkan aku Tuhan
yakinkan semua akan indah pada waktunya
kini aku takut akan harapku yang terlalu tinggi
takut kembali jatuh
aku percaya Tuhan, aku percaya Kau akan selalu ada bahkan saat aku tertidur
saat aku lupa akan kehadiranMU
Kau Maha Setia, Tuhan
Tuhan, bantu aku untuk tetap bertahan dalam kepahitan ini
Tak ada tempatku berpangku selain Engkau
Tak ada tempatku untuk membuang segala kepedihan ini, Tuhan
Selain kepadaMU tentunya
Tuhan, aku pecaya rencanaMu jauh lebih indah
Buktikan Tuhan, buktikan semua itu padaku
Disaat tepat waktunya
Peluk aku Tuhan
Peluk aku dalam kesedihanku ini
Usap air mataku ini
Aku butuh Engkau, Tuhan
Karena Engkau, aku tahu jawaban atas segalanya


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...