Langsung ke konten utama

SUDUT RUANG HAMPA


Tuhan…
kini aku jatuh
aku rasa, aku terlalu sulit untuk mengangkat tubuhku
aku butuh penopang, Tuhan
aku butuh uluran tangan untuk kembali mengangkatku
namun kenyataannya, kala aku jatuh, aku ditenggelamkan
mungkin aku hanya seorang benalu
serpihan tak berarti
tapi sesungguhnya, aku punya hati yang juga butuh sebuah kelembutan kasih
Tuhan…
peluk aku
dekap aku, meski sesaat
aku hanya punya Engkau
aku ada seperti tak ada
bagai cahaya dalam ruang cahaya
ada, tak terlihat
bagai bintang yang tak lagi mengerti tentang cara untuk bersinar terang
mungkin jiwaku haus
mungkin aku merindukan kelembutan kasih
hati ini gersang
bagai rumah tak bertuan
bagai pohon tanpa air
kini segalanya berselimutkan air mata
merasakan berenang dalam kolam air mata
aku sadar, Tuhan
aku memang tak berarti
mungkin memang tak ada kebahagiaan yang menyelimutiku
meski perih, aku mencoba untuk bertahan
dalam keheningang yang memaksaku untuk tidak merasa sepi
dalam keramaian yang sesungguhnya aku tak pernah merasakannya
Tuhan…
aku butuh Engkau disini
memelukku
mendekap erat jiwa kering ini
sebagai penyejuk gersangnya jiwa ini
sebagai sesuatu yang menghidupkan
biar, Tuhan
biar mereka bahagia
tanpaku menyertainya
yang hanya menjadi parasit baginya
genggam tanganku, Tuhan
bawaku ke tempat terindah
tempat yang mampu membuatku merasa berarti
tempat yang penuh dengan kelembutan kasih
tempat yang sangat aku rindukan
biarlah,
biarku mengerti diriku sendiri
jika memang tak pernah ada yang mampu mengertiku
mungkin aku harus kuat jalani ini
menopang jiwa sebatang kara
mereka yang hidup dalam sanubariku
yang tak pernah menganggapku ada
yang tak pernah memandangku dengan kedua bola mata mereka
hingga ku terbiasa berada di sebuah sudut ruang hampa
mungkin hanya dengan ini aku mampu belajar arti sebuah kekuatan
mungkin pula,
aku mampu belajar arti sebuah ketegaran
dan disinilah mungkin aku mampu memaknai arti sebuah kesabaran
aku percaya, akan ada pelangi setelah Tuhan
karena Tuhan tak pernah berkhianat



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...