Tuhan…
kini aku jatuh
aku rasa, aku
terlalu sulit untuk mengangkat tubuhku
aku butuh
penopang, Tuhan
aku butuh
uluran tangan untuk kembali mengangkatku
namun
kenyataannya, kala aku jatuh, aku ditenggelamkan
mungkin aku
hanya seorang benalu
serpihan tak
berarti
tapi
sesungguhnya, aku punya hati yang juga butuh sebuah kelembutan kasih
Tuhan…
peluk aku
dekap aku,
meski sesaat
aku hanya
punya Engkau
aku ada
seperti tak ada
bagai cahaya
dalam ruang cahaya
ada, tak
terlihat
bagai bintang
yang tak lagi mengerti tentang cara untuk bersinar terang
mungkin jiwaku
haus
mungkin aku
merindukan kelembutan kasih
hati ini
gersang
bagai rumah
tak bertuan
bagai pohon
tanpa air
kini segalanya
berselimutkan air mata
merasakan
berenang dalam kolam air mata
aku sadar,
Tuhan
aku memang tak
berarti
mungkin memang
tak ada kebahagiaan yang menyelimutiku
meski perih,
aku mencoba untuk bertahan
dalam
keheningang yang memaksaku untuk tidak merasa sepi
dalam
keramaian yang sesungguhnya aku tak pernah merasakannya
Tuhan…
aku butuh
Engkau disini
memelukku
mendekap erat
jiwa kering ini
sebagai
penyejuk gersangnya jiwa ini
sebagai
sesuatu yang menghidupkan
biar, Tuhan
biar mereka
bahagia
tanpaku
menyertainya
yang hanya menjadi
parasit baginya
genggam
tanganku, Tuhan
bawaku ke
tempat terindah
tempat yang
mampu membuatku merasa berarti
tempat yang
penuh dengan kelembutan kasih
tempat yang
sangat aku rindukan
biarlah,
biarku
mengerti diriku sendiri
jika memang
tak pernah ada yang mampu mengertiku
mungkin aku
harus kuat jalani ini
menopang jiwa
sebatang kara
mereka yang
hidup dalam sanubariku
yang tak
pernah menganggapku ada
yang tak
pernah memandangku dengan kedua bola mata mereka
hingga ku
terbiasa berada di sebuah sudut ruang hampa
mungkin hanya
dengan ini aku mampu belajar arti sebuah kekuatan
mungkin pula,
aku mampu
belajar arti sebuah ketegaran
dan disinilah
mungkin aku mampu memaknai arti sebuah kesabaran
aku percaya, akan
ada pelangi setelah Tuhan
karena Tuhan
tak pernah berkhianat
Komentar