Langsung ke konten utama

ATAP CERITA

sekian lama aku lalui jalur kehidupan, selama itu pula berjuta hal dapat aku pelajari dan tak sedikit pula aku pahami
dengan beragam karakter manusia yang menjadi tokohnya
sejatinya, hidup adalah bagaimana aku sanggup bertahan bersama orang-orang yang aku suka dan tidak suka sekalipun
bagaimana aku mampu menerima mereka, entah mereka yang siap dengan batu dalam kepalannya atau mereka yang siap dengan bunga dalam kepalannya
Tuhan telah menciptakan semua begitu indahnya, hanya bagaimana aku mampu menikmati dengan caraku sendiri
Mereka Tuhan ciptakan bukan semata hanya sebagai crayon hidupku, tapi bagaimana aku mampu menerima dan menghadapinya dengan baik
karena pasti terselip rasa tidak tertarik pada sebagian mereka
aku berusaha untuk selalu mengerti bagaimana karakter mereka dan bagaimana aku harus menghadapinya, tak jarang aku merasa gejolak batin merenta menolak semua, namun aku selalu sebut namaNya saat semua terjadi
karena aku percaya, Tuhan pasti menyelipkan kebaikan dalam kekurangannya dan karena pasti semua manusia memiliki hati kecil yang akan bersuara saat nuraninya tersentuh
karena sesungguhnya hanya dengan kelembutanlah manusia akan merasa dihargai dan dikasihi
dan aku percaya, kekuatan yang bercampur nurani akan menghasilkan cinta yang tak pernah ada batasnya
menjadi diary mereka, aku mengerti apa yang sedang dirasakannya dan aku mengamati apa yang sesungguhnya ada dalam pikiran mereka
mataku menelusup tajam, membaca setiap kata yang tertoreh di hati dan pikirannya
aku bersyukur pada Tuhan yang telah menitipkan segalanya untuk kehidupanku, tentang kehidupan memang tak pernah ada ujungnya
selalu cerita berputar searah jarum jam dan akan berhenti kala waktu tiba pada masanya
mengerti bukan hanya sekedar berharap untuk dimengerti, menerima bukan hanya sekedar untuk menutup wajah
namun semuanya memiliki makna bahwa hidup adalah sebuah perjuangan untuk tetap bertahan satu atap bersama mereka, orang-orang yang mungkin saja akan menjatuhkanmu namun kamu harus tetap bersamanya

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...