Langsung ke konten utama

THIS IS IT, YEA !


Hmm… Liburan itu emang paling asyik buat bersantai-santai ria di rumah tapi kalo udah kelamaan, alhasil liburan pun terasa *kriuk* (baca: garing).
Okelah, mikir keras buat bertahan dalam liburan yang masih lama ini :D
Cling ! Tiba-tiba di kepala mulai ada lampu terang, seketika itu pula gue kepikiran makanan yang pernah tayang di salah satu stasiun tv, Redaksi Siang Akhir Pekan. Saat itu, sang reporternya mencicipi makanan khas Bandung, yang pada saat itu gue lupa apa namanya. Akhirnya, nanya deh sama ‘dia’ yang notabene tahu banyak tentang dunia kuliner. Sempat bingung juga menanggapi apa yang gue maksud, hingga pada akhirnya gue menjelaskan semua yang gue ingat, dia tahu apa yang gue maksud, aha ;D
        Seblak Basah ! Yes, seblak basah ! Itu dia jawabannya, gue pun minta tolong dibuatin resepnya dengan request, resep paling mudah, because what ? because, I wanna try with my style *yuhuuuu*
This is it ! (meski nyokap masih harus campur tangan sih)

Okay, seblak basah udah. Next, liburan udah hampir 2 bulan lamanya. Tandanya hampir 2 bulan juga gue gak makan yang namanya Lumpia Basah. Yap ! jajanan favorit gue kalo lagi ada waktu senggang yang cukup banyak di kampus, Fuji dan Bella menjadi sasaran gue buat nemenin belinya. Meski mereka suka ngerasa aneh dan jengkel *mungkin* kalo gue doyan banget sama tuh makanan, but it’s so delicious ! Biarlah orang berkata apa, yang penting lidah gue harus dimanjain dooong hihihi
        Inisiatif, gue coba buat bikin Lumpia Basah ala Adhelita meskipun dengan campur tangan nyokap *lagi* huh
Sempet tertunda juga bikinnya, karena bahan rebungnya itu jarang banget ada di pasar yang biasa gue sama nyokap gue belanja. Niatnya, mau diganti sama lobak atau wortel, eh pas udah niat gitu, keajaiban pun tiba, ada salah satu penjual yang menyediakan rebung. Yeaaaaay ! eksperimen berlanjuuuuuut, this is it :D



*resepnya cari di internet aja, gue lupa haha*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...