Langsung ke konten utama

LALU, BAGAIMANA DENGAN PERASAANNYA ?


LALU, BAGAIMANA DENGAN PERASAANNYA ?

       Sebuah persahabatan yang mengguncang hati, pikiran, dan logika sekalipun. Tasya dan Reza, mereka adalah sahabatku sejak kami SMA. Ya memang Reza adalah sosok paling ganteng diantara kami.
       Liburan tibaaaaaaa… Kampusku, yang kebetulan juga Tasya dan Reza satu kampus denganku dan satu fakultas akan mengadakan liburan ke Bali selama tiga hari. “Bali… Bali… Bali…” girang Tasya yang memang Bali Bali adalah tempat favoritnya dikala musim liburan seperti sekarang ini. Aku dan Reza sudah tidak heran melihat tingkahnya yang seperti anak autis itu. “Disana kita wajib mengabadikan segalanya” kataku sambil membentuk bingkai foto menggunakan jemariku. Reza yang memerhatikan tingkah aku dan Tasya, hanya mampu tersenyum pasrah, “Banci kamera” celetuk Reza yang kemudian aku sukses membuat rambutnya berantakkan.
       Hari keberangkatan telah tiba. Dalam bus, Reza memilih untuk duduk berdua denganku. Tasya merengek seperti anak kecil yang menunjukkan kalau dia tidak suka akan hal itu, namun aku dan Reza menganggap itu hanyalah sebuah lelucon yang biasa dia lakukan. Akhirnya aku dan Tasya sering bergantian tempat duduk, namun tetap saja Reza senang sekali menggoda Tasya dengan terus mengikuti kemanapn aku pergi.
“Masa 3 hari sih ? Nambah yuuuuuk” ajak Tasya.
“Ide baguuuuus.. pake banget deh” Reza melanjutkan.
Aku pun menyetujui ajakan mereka. Tasya, reflek lompat kegirangan yang menjadikannya pusat perhatian teman-teman satu bus.
       Tibalah kami di Bali dan kami sempatkan waktu yang diberikan untuk istirahat.
Acara inti sudah selesai dan waktunya bersenang-senang. Kami bermain di pantai. Reza dan Tasya menikmatinya dengan berenang di pantai sementara aku cukup duduk di pinggir pantai menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan. Reza terus mengajakku untuk ikut gabung bersama mereka, namun aku tidak tertarik dengan ajakannya tersebut. Tasya yang entah kemana, tiba-tiba muncul di sebelah Reza.
       “Tasya… Tasya… Tolongin Tasya!” kataku yang langsung bergegas menghampirinya yang sedang meminta pertolongan. Namun sebelum aku sampai, Reza sudah menggotongnya ke pinggir pantai dan ternyata itu hanyalah lelucon Tasya *lagi*. “Senang banget cari sensasi sih lo, Sya! Nggak lucu!” aku yang mulai kesal dengannya.
“Cieeee… Jangan ngambek dong, Haura sayaaaang” Tasya memelukku dari belakang sesaat aku sedang berjalan menuju tempatku semula.
“Tau ah!” aku masih keukeuh dengan perasaanku.
       Tiga hari kemudian, kejadian tidak mengenakkan kami alami disana. Dompet kami hilang, untung saja aku masih menyimpan persediaan uang di tempat tersembunyi tapi tetap saja itu takkan cukup untuk biaya kami. Namun aku tak mengambil pusing dan mencoba menenangkan sahabat-sahabatku. Aku dan kedua sahabatku terus mencari tempat sementara yang mampu menampung kami tentu dengan biaya yang sangat minim. Akhirnya, ada orang baik yang memberi kamar untuk kami tempati beberapa hari ini.
       Wajah Tasya pucat, sangat pucat diselingi batuk yang tidak biasa. Akhirnya, aku dan kedua sahabatku bergegas ke rumah sakit termurah yang ada disana, rumah sakit gratis untuk warga yang kurang mampu. Itu pun kami diberitahu oleh pemilik kamar yang kami tempati.
“Maaf, kamar sudah penuh” kata petugas rumah sakit yang berjaga.
“Tapi saya butuh, Pak!” tegas Tasya yang memang berwatak keras dan kemauannya harus dituruti saat itu juga.
“Tapi kamar sudah penuh dan kami tidak menerima pasien baru” kokoh pendirian sang petugas rumah sakit tersebut.
       Tasya langsung menerobos, masuk menuju ruangan rumah sakit itu dan petugas rumah sakit itu mengejarnya serta memaksanya keluar. Aku dan Reza mencoba menenangkan Tasya yang menangis seperti orang putus asa.
“Gue sakit… Gue butuh obat…” isak tangisnya menyelingi suaranya.
“Iya sabar, nanti gue sama Reza coba cari bantuan dulu ya? Kita udah nggak punya apa-apa, Sya” kataku menjelaskan keadaan yang berharap Tasya bisa mengerti. Tapi, ternyata Tasya justru berlari meninggalkan aku dan Reza. Sontak Reza langsung mengejarnya, aku mengikuti dari belakang. Reza sempat kehilangan arah kepergian Tasya. Aku pun sempat kehilangan arah mereka, dan ketika aku sampai di sebuah persimpangan jalan, aku mencari, dan aku melihat mereka sedang berpelukan. Reza mencoba menenangkan Tasya, dan Tasya terlihat begitu bahagia saat berada dipelukannya.
       Entah apa yang aku rasakan, aku begitu terpukul melihat kejadian itu. Ingin rasanya aku menarik Tasya, memisahkan mereka. Namun, siapa aku?
Air mata ini mengalir ikhlas, mencoba melepas semua rasa yang sudah tertanam bertahun-tahun lalu, tapi tetap tak bisa. Ternyata, selama ini aku dan Tasya memiliki perasaan yang sama terhadap Reza.
       Aku, Tasya, dan Reza berjalan menikmati pemandangan hijau nan segar yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Tasya berjalan lebih awal karena ada sesuatu yang menarik yang ingin dia hampiri. Reza tepat di belakangku, aku pikir, Reza mengerti dengan berubahnya sikapku terhadapnya sejak kejadian itu.
“Andai Tuhan menyediakan tempat untuk berteriak sekeras-kerasnya” Aku berandai-andai sambil tetap berjalan menuju rerumputan luas luar biasa. AKu terbaring di atasnya, menumpahkan semua perasaanku, di depan Reza.
“Gue sayang lo, Za…” mengisku tersedu.
“Gue juga sayang sama lo, Haura” pernyataan Reza membuatku terkejut.
“Tapi gimana dia?” Aku menunjuk ke arah Tasya yang sedang berdiri menikmati angin sejuk perbukitan.
“Gue nggak peduli! Gue sayangnya sama lo!” kuat Reza atas pernyataannya.
       Tasya yang mengetahui hal ini, marah besar. Tasya memutuskan hubungan persahabatan kalau Aku dan Reza tetap mempertahankan perasaan kami masing-masing. Dan pada akhirnya, Aku mengalah dan menuruti kemauan Tasya meski awalnya Reza tidak menyetujui akan keputusanku, tapi semua itu akhirnya bisa Reza sikapi dengan baik. Aku biarkan perasaan ini terkubur bersama waktu demi dia, sahabatku. Perih memang merelakan hati demi orang lain, namun aku selalu percaya bahwa Tuhan selalu mengakhiri ceritaku dengan keindahan. Reza yang masih kesal dengan pernyataan Tasya, dengan segala keyakinanku membujuknya, Reza pun luluh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...