Langsung ke konten utama

DEAR YOU


DEAR YOU

Tuhan…
mengapa disaat aku mulai benar-benar merasakan cinta yang sesungguhnya,
pertentangan itu muncul bagai badai ombak yang meruntuhkan karang dan bebatuan di pinggir pantai
Tuhan…
tak pernah terbesit kebimbangan dalam pikiranku kala aku dihadapkan pada sebuah pilihan
karena aku masih menghargainya
lalu, siapa yang mampu mengerti tentang perasaan ini ?
ataukah memang ini sudah suratan takdir yang Kau tuliskan dalam lembar ceritaku ?
Sayang…
percayalah siapapun penggantiku nanti, kau harus percaya bahwa dia jauh lebih baik dari aku
Sayang…
tak usah kau takut, meski ragaku tak lagi kau miliki, percayalah nafasku masih tersisa jauh di dalam hatimu
dan kau tak perlu khawatir, dalam setiap sujud malamku, namamu selalu berhembus disela-sela doa demi kebahagiaanmu
takkan henti aku meminta pada Sang Maha Cinta untuk kebahagiaanmu selalu bersama dia yang mampu menuntunmu dengan genggamannya yang mungkin lebih erat
Sayang…
arungi kebahagiaanmu dengan sepenuh hatimu
usah kau hiraukan aku lagi
biar aku berdiri sendiri
merangkak mencari penopangku
asal kau bahagia, rasa itu terserap dengan sendirinya dalam sanubariku
larilah sayang !
aku selalu di belakangmu
bersama doa-doa kecil dan harapanku
bahagialah sayang…
biar ku tunggu kau di keabadian surge
bersamamu disana mungkin jauh lebih indah
karena ketika aku mulai mencintaimu
aku tak pernah ragu menempatkan hatiku dekat denganmu
meski aku terlihat tak pernah baik dimatamu
itu hanya sekedar keterbatasan penglihatanmu
karena tentang perasaanku
hanya aku dan Tuhan yang tahu kepastiannya
semoga kan kau dapatkan selalu kebahagiaan itu, Sayang
tanpaku lagi di duniamu
karena keadaan yang memisahkan kita
sesungguhnya, aku masih sangat sayang dan masih sangat ingin dalam dekapan terhangat yang pernah aku rasakan dalam cinta di cerita kehidupanku
terima kasih sayang untuk semua perjuanganmu
sejujurnya, aku terlalu bahagia bersamamu hingga aku terasa sangat sulit melepasmu
namun aku tak bisa memaksakan kehendakku
saat kata lain mulai bersuara
satu hal yang harus kau ketahui
tak ada alasan lain ketika aku memilihmu kecuali karena aku bahagia jalani ceritaku bersamamu

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...