dalam
lembar ini ajari aku sedikit melukiskan kisah tentang perjalanan yang tiada
akhir
di sudut
kejauhan, tampak sebuah telaga yang jernih tak terbendung
airnya
mengalir begitu deras tak terhentikan
di sudut
kejauhan, aku memusatkan pandanganku pada tempat yang membuat anganku melayang
tempat
dimana aku bisa bersamamu sampai batas waktu yang tak ditentukan
dan pada
akhirnya aku menyadari bahwa aku mencintaimu dalam ilusi
ilusi
yang selalu menerka tentang keberadaan aku dihatimu
meski
tidak sepenuhnya aku berharap, aku juga takkan bisa lari dari kenyataan bahwa
aku tetap saja berharap kamu
memang
pada awalnya aku mencoba untuk tidak memusatkan diriku pada harapan itu, tapi
kian lama aku sadar bahwa sejatinya aku hidup bersama harapanku, harapan yang
membuatku bertahan hingga batas waktu yang tak ditentukan karena aku hanyalah
manusia, manusia yang tidur dan bermimpi, manusia yang melamun dan berkhayal
meski
terkadang aku takut, aku takut ilusiku menikam diriku sendiri, menerka-nerka
tentang jawaban atas ilusi ini
entahlah,
aku hanya berserah kepada Sang Pemilik Cinta sesungguhnya bahwa aku
mencintainya dalam ilusiku sendiri, hingga tiba waktunya nanti Tuhan
mengirimkan jawaban atas semua ilusiku yang sibuk menerka kian kemari
entah aku
harus larut dalam ilusiku atau entah aku akan hidup berdampingan dengan apa
yang menjadi ilusiku sendiri
Komentar