MASA LALU ADALAH TEROWONGAN
Oleh: Adhelita Audina
Pradanti
Setiap insan di dunia pasti punya kisah
terdahulu yang pernah dialaminya, yang sering kita sebut sebagai masa lalu.
Entah itu kisah percintaan, perjalanan kehidupan, atau lain sebagainya. Intinya
masa lalu adalah hal yang terkadang mampu membuat kita berdiri tegak menatap
masa depan meski tak dapat dihindari kekecewaan yang hadir terkadang seolah
meruntuhkan semuanya. Tapi, semua tergantung pada diri sendiri, pada jiwa yang
Tuhan ciptakan sebenarnya untuk mampu menghantam semua kekecewaan itu.
Masa lalu adalah terowongan. Kata-kata itu
aku dengar saat aku menghadiri acara debat aktif calon presma di kampusku. Aku
sangat menyetujui sepenggal kata singkat namun termat bermakna bagiku. Dimana
masa lalu adalah terowongan untuk langkah menuju masa depan yang lebih indah,
sebagai jembatan langkah kita selanjutnya menatap masa depan yang lebih real.
Bukan berarti masa lalu terlupakan, karena
bagaimana pun pahitnya masa lalu, peristiwa itulah yang sesungguhnya menjadi
guru kita untuk melangkah selanjutnya, itulah yang sesungguhnya memacu kita
untuk bisa tegak berdiri menatap langit, melupakan segala kepedihan yang
terjadi di masa lalu. Lagi pula, seberapapun besarnya usaha kita, kita tidak
akan pernah mampu untuk melupakan masa lalu yang pernah hadir menyapa hidup
kita, terlebih hal itu memberikan sesuatu yang luar biasa.
Masa lalu yang meninggalkan kepedihan
memang terlalu ingin segera kita lupakan, tinggalkan, bahkan kita buang
jauh-jauh dari hidup ini. Seolah menganggap semuanya adalah parasit yang akan
meruntuhkan semangat kita melangkah. Sedangkan, ketika masa lalu itu
meninggalkan cerita bahagia, terlalu sulit untuk kita melepaskannya, seolah
ingin kembali ke masa lalu itu. Itulah egois seorang manusia. Sepahit atau
seindah apapun itu, masa lalu hanya mampu kita kembangkan menjadi sesuatu yang
jauh lebih dari segalanya dari semula. Pada dasarnya, Tuhan membedakan manusia
dengan makhluk lain adalah manusia dituntut untuk dapat berpikir logis dengan
segala liku kehidupan yang dijalaninya, meski perasaan menyerah terkadang
hadir, Tuhan memaklumi itu, karena manusia punya perasaan. Tapi tak ada alasan
untuk menuruti perasaan itu ketika yang hadir sebuah keputusasaan. Kalau
seperti itu, apa Tuhan tidak menyesal telah membedakan kita dengan makhluk
lainnya? Apa Tuhan tidak menyesal telah memuliakan kita?
Bahkan, ketika kita mulai lengah akan masa
lalu itu, ada saja hal yang datang mengingatkan kembali tentang semua masa lalu
yang pernah hadir sebelumnya. Menurut saya, itu adalah cara Tuhan mengingatkan
kita bahwa tidak sepantasnya masa lalu terlupakan begitu saja, karena walau
bagaimanapun hal itulah yang mampu mendewasakanmu, hal itulah yang mampu
membuatmu pernah merasa berarti. Sesungguhnya masa lalu adalah pengalaman
terindah, dan pengalaman adalah guru terbaik untuk kehidupan ini, yang
segalanya penuh dengan topeng.
Kini, bukan masalah bagaimana
menyingkirkan atau mengembalikan masa lalu. Tapi, bagaimana kamu menjalani
hidupmu, bagaimana kamu merajut langkahmu, bagaimana kamu melangkahkan kakimu
agar ketika masa lalu yang pernah kau alami meninggalkan sebuah kepedihan, kau
mampu menghapus kepedihan itu, kau mampu memaafkan keadaan itu, dan kau mampu
memperbaikinya. Serta ketika masa lalu itu meninggalkan kebahagiaan dihidupmu,
kau mampu menciptakan kembali kebahagiaan itu yang lebih indah.
Masa lalu adalah hal yang mengajarkanmu
tentang arti kedewasaan. Masa lalu adalah sesuatu yang pernah membuatmu seolah
terbang bersama burung-burung di angkasa. Masa lalu adalah cerita yang mampu
membuatmu jauh memaknai sebuah arti kehidupan sesungguhnya. Masa lalu adalah
kisah yang mampu menyadarkanmu tentang arti sebuah kebahagiaan serta keindahan
hidup. Tuhan menciptakan masa lalu karena ada masa depan yang siap menyapamu,
dan Tuhan menciptakan masa depan karena cerita masa lalu yang pernah kau rajut
sebelumnya.
Komentar