Langsung ke konten utama

KOLONG LANGIT


KOLONG LANGIT

     Ketika ku temui senyum di kolong langit, saat itu pula aku merasakan kebahagiaan yang terlalu nyata bagiku. Berpendar dalam bayang-bayangnya, aku resapi setiap hembusan kasih yang terlontar darinya. Aku, adalah aku yang sedang terbang tinggi dalam faktanya.
     Hembusan napasku tak henti-hentinya terucap doa demi kebahagiaan itu. Ku panjatkan setiap doa dari bibirku yang menari. Perlahan ku rasakan kehadiran Tuhan merasuk dalam hati, jiwa, serta pikiranku. Kembali bibirku menari seolah mengikuti irama hati. Mataku terpejam, semakin dalam aku terhanyut keindahan malamNya.
     Aku minta pada Tuhan agar kekuatanNya selalu tercurahkan untukku. Kekuatan untuk menjalani hari-hariku yang tak pernah selalu lurus. Kekuatan bagiku adalah segalanya, dimana aku selalu mempunyai kekuatan untukku selalu bersabar, menahan kerasnya amarah dalam hati yang bersiap membuncah lepas.
     Kekuatan yang senantiasa menahanku untuk tidak keluar jalur yang harus ku lalui demi kebahagiaan itu. Berjuang untuk kebahagiaan yang abadi, tidaklah seperti mengucapkannya meskipun itu dengan lantang. Faktanya, kesulitan itu akan selalu terasa. Namun karena kekuatan yang dimiliki, aku percaya kesulitan itu dapat ku redam.
     Maka, aku selalu minta pada Tuhan Yang Maha Segalanya untuk selalu menanamkan kekuatan dalam diri ini. Untukku menemukan kebahagiaan-kebahagiaan abadi di kolong langit, yang mungkin masih tersembunyi. Agar aku senantiasa selalu kuat mengikhlaskan segala sesuatu yang memang bukan milikku kembali pada Sang Pemilik Semesta.
     Tuhan… dalam sejuknya pagi ini, aku mencoba berdiri menahan dingin yang menusuk hingga tulang rusukku, merasakan keindahan semesta yang Kau ciptakan, mencoba meresap kekuatan alam yang Kau sediakan, dan bersyukur atas segala yang telah melengkapi sedikit demi sedikit kehidupanku.
     Tuhan… biar tetesan embun membasahi bumi ini, izinkan aku menyentuh kesejukannya, mencoba menggenggam erat kuatnya air yang mengalir. Sementara ilalang menari perlahan, dalam hati aku mencoba mengikuti iramanya. Mengalun perlahan menengadah ke langit luas, mengucap bait doa meninggikan Tuhan Semesta Alam.
Semoga tak henti ku temui keindahan di kolong langit.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...