KETIKA GARIS MULAI
TERBENTUK
Oleh: Adhelita Audina Pradanti
Dalam hidup, apapun yang kita jalani sesungguhnya adalah garis
yang sudah dibentuk oleh Sang Maha Kuasa. Apapun itu yang terjadi dalam hidup
ini, diinginkan atau tidak, semua memiliki makna yang luar biasa hebatnya bila
direnungi dengan dalam.
Sama halnya dengan perjuangan kecil yang
aku jalani beberapa bulan kemarin. Perjuangan lahir dan batin, yang membuatku
sadar akan makna kehidupan.
Pelajar SMA yang baru lulus, ya betapa
bahagianya semua pelajar ketika mendapatkan sebuah amplop yang didalamnya
berisikan tulisan “LULUS”, itu tandanya segala keringat yang tertuang pada masa
SMA membuahkan hasil yang cukup manis. Semua bersorak, semua bersujud, semua
berbangga, semua tersenyum.
Hidup tak hanya sampai disini, inilah
sebenarnya gerbang persaingan yang sebenar-benarnya. Saat itu, aku sedang
menunggu hasil pengumuman SNMPTN Undangan. Menurut kabar, pengumuman untuk IPB
lebih cepat dibandingkan dengan nasionalnya. Sudah sejak pukul 7 malam aku
browsing mengenai informasi-informasi tersebut. Ternyata, informasi tersebut
tak kunjung ku buktikan kebenarannya, ada yang bilang karena di IPB sedang ada
kasus dan ada juga yang bilang itu hanyalah issue belaka. Yah, entah apa yang
mereka katakan, intinya aku berharap bahkan sangat berharap untuk segera
mendengar pengumuman itu dan terlalu berharap ada sebuah kata “LOLOS”
menghampiriku atau mendekati namaku.
Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu aku
masih menunggu kepastian itu. Hingga tibalah saatnya waktu pengumuman itu
benar-benar ada, dengan penuh doa dan harap yang terlantun dalam setiap
hembusan napasku, berharap aku mampu mengukir senyum terindah di wajah ayah dan
ibu. Namun, semuanya hanyalah harapan, Tuhanlah yang memutuskan dan Tuhan
menjawab ‘tidak’ atas segala yang aku harapkan. “Oh Tuhaaan.. Aku masih belum
percaya akan semua ini, aku yakin aku bisa. Tuhan.. Mengapa tidak Kau izinkan
aku untuk melukis senyum indah di wajah mereka?” bergumam hatiku lirih.
Tangis pun tak
bisa ku bendung kala itu, aku seperti haus akan motivasi, hampir putus asa
dikala mendengar beberapa temanku lolos dalam SNMPTN Undangan itu.
Perlahan, aku mencoba mengikhlaskan
segalanya, keluarga dan sahabatku yang begitu berarti, membantu mengangkatku
kala aku jatuh, tulus dan amat ku rasakan. Mulailah, aku mencoba mempositifkan
segala pikiranku tentang kegagalan itu. Masih banyak cara yang bisa aku tempuh
untuk kembali mengukir harapanku.
Hampir semua jalur untuk PTN yang
disediakan aku jalani, karena ayah tidak mengizinkan aku untuk meneruskan
pendidikanku di luar kota, alhasil aku hanya menjalani jalur-jalur yang
disediakan UI, IPB, Diploma IPB, dan UIN Jakarta. Ayah membiayai segalanya
untuk keperluan ujian PTN tersebut.
Sampai pada puncak harapanku, dimana aku
sangat yakin aku bisa lolos dalam tes SPMB UIN Jakarta, karena pada saat
menjalani tes tersebut, soal-soal yang diberikan tidaklah sulit, bahkan aku
pikir, soal-soal itu jauh dibawah soal-soal UN. Hatiku penuh dengan harapan dan
keyakinan bahwa kali inilah keberhasilan yang aku petik, bahwa kali inilah
perjuanganku membuahkan hasil. Hampir sebulan lamanya setelah tes itu aku
menunggu. Menanti jawaban untuk langkah masa depanku, menanti jalan yang aku
lewati untuk ku gapai bintangku nan jauh disana.
Tibalah, waktu yang sangat aku nanti, ku
ketikkan namaku pada website yang ada. “Oh My God!” pikirku. “Ah mungkin memang
belum ada” ketika melihat status kelulusanku kosong. Setahu aku, kalau kosong
itu berarti tidak lolos. Aku tidak percaya, jantungku seperti terhenti sejenak,
aku menarik napasku dan membuangnya perlahan. Ku coba untuk mengetikkan nama
temanku, tak ku duga, dia lolos. Berarti, memang benar bahwa aku tidak lolos
juga, karena aku belum percaya dan mungkin lemah sesaat, aku terus mengetikkan
namaku, tentu saja yang keluar pun tidak pernah ada perubahan.
Terpukul, tentu! Seolah aku kehilangan
mimpiku, semua harapku seolah pudar, luntur bersama air mata yang tak bisa lagi
ku bendung keberadaannya. Waktu kian larut, aku mengambil wudhu untuk
menumpahkan kegundahanku bersama Tuhan malam itu. Namun, air mata tak jua dapat
ku hentikan. Tetes demi tetes membasahi sajadah coklatku. Ku lantunkan segala
yang ada dalam hati dan pikiranku ditiap hembusan napasku, ditiap butiran air
mata yang jatuh membasahi wajah ini. Ku pejamkan mataku untuk merasakan bahwa
aku sedang bercerita, berhadapan bersamaNya. Aku tengadahkan tanganku agar
Tuhan senantiasa selalu menggenggam tanganku, bahkan saat terkadang aku
melupakanNya. Heningnya malam itu, seketika aku rasakan keindahannya, aku
merasakan keindahan yang luar biasa ketika aku meresapi tiap hembusan napas ini
dihadapanNya.
Dan kini.. aku mengerti bahwa tak
sepantasnyalah aku meminta padaNya untuk tidak memberikanku kegagalan, tapi aku
jauh lebih pantas jika aku meminta padaNya untuk selalu memelukku dengan
membantuku untuk terus bangkit kala kegagalan itu menghinggapi hidupku.
Kegagalan akan indah bagi mereka yang merenunginya.
~ Jangan meminta
Tuhan untuk tidak memberikan kegagalan, tapi mintalah padaNya untuk tetap
memberikanmu ketegaran kala kegagalan menghampirimu ~
Komentar