Langsung ke konten utama

PERGILAH, MENGHILANG SAJALAH LAGI

kau tahu pahitnya dikecewakan ? kalau tahu, kenapa harus datang lagi disaat semuanya sudah pulih kembali. kau pikir kau siapa seenaknya datang dan pergi sesuka hati, terlebih saat aku sudah tidak mengingatmu kembali. sebab begitu sulit membenahi semua yang sudah tertata rapi kemudian kau hancurkan kemudian aku berusaha menata lagi dan kini kau mau mencoba mampir lagi setelah semuanya rapi ? maaf, tidak semudah itu aku membenahi semuanya dan tidak semudah itu pula aku membiarkannya berantakan lagi apalagi dia adalah orang yang sama. kau coba menawarkan lagi dengan alasan penyesalan bahwa tidak ada yang setulus aku. kemana saja kau dulu ? saat aku memperjuangkanmu dan kau sia-siakan dengan ringannya, kau pilih dia yang nyatanya hadir hanya sesaat. seharusnya dulu kau pikir bahwa apakah ada orang yang sebegitu memperjuangkan kau ? atau adakah orang yang jauh lebih baik dari aku ? kini, kau kembali dengan sejuta luka dan berharap pengobatan dariku ? kau pikir kau siapa, seenaknya saja. kini aku sudah miliki kehidupanku yang baru dan sedang belajar dibahagiakan dia yang tidak akan pernah ku perlakukan sama dengan apa yang kau perlakukan dulu, karena aku tahu rasanya berjuang sendirian itu sangat melelahkan. harusnya kini kau pikir dulu, untuk apa datang lagi ? untuk apa lagi kau bawa cinta yang terlambat kau sadari ? semua sudah hilang sama sekali tak tersisa. sudahlah, sudah tidak ada lagi tempat untuk kau yang tidak bertanggungjawab membuat gaduh apa apa yang sudah tertata, sekarang semuanya sudah rapi kembali. pergilah, menghilang sajalah lagi seperti apa yang pernah kau yakini dulu. seharusnya dulu kau berpikir matang matang bahwa orang baru mungkin memang menarik tapi dia tetaplah orang baru, sementara aku sudah terlalu dalam mencintaimu, itu dulu saat aku masih berusaha berjuang mempertahankan kau yang pada akhirnya pilihan untuk pergi dengan dia yang kau yakini terbaik padahal terbalik sudah kau pilih. nikmati saja semua kepedihan itu sebagaimana dulu aku saat menikmati semua luka yang kau ukir. karena kini, aku sedang belajar memperjuangkan dia yang ku yakini tak pernah berlaku bodoh sepertimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...