untuk apa kembali lagi, kembali disaat semua sudah hampir
tersusun rapi
sadarkah bahwa kita hidup bukan di negeri dongeng, negeri
dimana apapun yang kita mau bisa kita dapatkan, kapanpun dan bagaimanapun
sadarkah yang kau hadapi itu manusia, dimana manusia itu
punya perasaan, hati kecil yang bisa kapan saja berubah tergantung bagaimana
dia dihadapkan pada sebuah cerita
kemana kamu dulu, menghilang begitu saja disaat aku
benar-benar mencintaimu, disaat aku meyakini bahwa kamu segalanya
batu yang sebegitu kerasnya saja bisa hancur oleh hujan yang
terus menerjangnya, apalagi aku, manusia dengan hati kecil yang sangat mudah
rusak, dan bagai hujan kau rusak semuanya
ya, kau memang seperti hujan, hadir tak menentu, dan
sekalinya hadir pun untuk pergi kembali, dan entah kapan lagi kembali, mungkin
lupa kembali
kau yang dulu ku kira matahari, ternyata hanya sebuah
pelangi, yang hadir dengan segala warna yang indah namun hanya sesaat
sebenarnya, kau tak perlu menjauh karena aku sudah tahu
bagaimana cara berjalan mundur
dan kini, kau hadir kembali, ingin mengulang semuanya dari
awal
kalau begitu, dimana letak keadilan sebuah cinta ? disaat aku
berjuang menata kembali sudut ruang yang kau tinggalkan dengan sangat tidak rapi,
kini kau berharap masuk kembali
maaf, aku saja lelah sekali merapikannya, dan aku takkan
pernah membiarkan ruang itu berantakan untuk kesekian kali, apalagi dengan
orang yang sama
aku tidak benci, sama sekali tidak membencimu, sedikitpun
tidak
tapi lebih dari itu, aku kecewa, kecewa yang membuatku berat
untuk kembali berjalan disisimu, kecewa yang membuatku menjauh darimu
aku takut, takut lagi salah memperjuangkan yang pada akhirnya
nanti aku terjatuh lagi dan kamu hanya bisa melihatku tanpa pernah mencoba
membantuku berdiri
dan kini, aku sedang menulis lagi ceritaku yang baru
setelah sekian lama aku tutup lembaran itu
aku sedang memulai semuanya dengan lebih tertata dan
bijaksana, dengan lebih rapi, dan dengan tidak berlebihan
aku sedang berjuang bersama dengan dia yang ku harapkan tidak
berlaku sepertimu, yang tidak membiarkanku berjuang sendiri, karena sakitnya
berjuang sendiri itu nyata terasa
sudahlah, mungkin ini memang jalan kita untuk berada di arah
yang berbeda dan berjalan dengan orang yang bukan kita
masa lalu memang tak pernah bisa dilupakan namun bukan
berarti aku harus tenggelam lagi di dalamnya
biar semua cerita yang pernah kita lalui menjadi sebuah
cambukan bahwa tidak akan pernah ada alasan untuk menyia-nyiakan dia yang kini
bersamamu, karena semua akan terasa bermakna setelah tiada, dan apabila sesuatu
yang sudah pergi, meski kembali dia tak akan pernah sama lagi
dan setidaknya kamu bisa paham bahwa tidak sepantasnya kamu
menyalahkan keadaan dimana saat keadaan dulu berpihak padamu, kau justru acuh,
kau justru berpaling pada keadaan yang kini membuatmu terpuruk
ingatlah hei, yang kau hadapi manusia, benda hidup, bukan
benda mati yang tidak pernah berpikir tentang sesuatu yang sesungguhnya terjadi
luka itu memang bisa sembuh, tapi tidak sesederhana itu !
Komentar