Pada
suatu senja, aku berjalan menikmati setiap hembusan nafas alam, menyusuri
setiap jejak langkah di atas hijaunya rerumputan hingga beberapa langkah tetes
demi tetes hujan menemani langkahku menyusuri jalan panjang dimana sepanjang
perjalanan yang elok telah aku lalui.
Dan pada
suatu ketika, aku bertemu dengan sosok yang berdiri tepat di samping pohon
rindang itu, kemudian dia menyapaku hanya dengan sebuah senyuman yang kemudian
banyak mengubah langkahku. Tanpa aku hiraukan terlalu jauh, aku kembali
melanjutkan perjalananku yang masih panjang hingga bertemulah pada sebuah
persimpangan jalan yang seketika itu pula menghentikan langkahku. Aku tidak
tahu arah mana yang harus aku pilih.
Senja
berubah menjadi malam, pada pertengahan malam, sebuah cahaya yang teramat
begitu terang membawa kedamaian di dalam jiwaku saat itu, entah cahaya apa, aku
hanya merasakan kedamaian yang teramat sungguh, cahaya itu bagakan air bagi
gersangnya jiwaku, cahaya itu bagaikan lilin di tengah gelapnya kehidupanku dan
cahaya itu memberi arti yang luar biasa istimewa. Kemudian, dibaliknya aku
melihat sosok yang aku temui sebelum aku sampai di persimpangan jalan ini,
sosok yang senyumannya mengubah langkahku pada akhirnya nanti.
Kali ini,
dia menyapaku dengan sebuah pertanyaan, “Anda hendak kemana, Nona?”
Lamunanku
tersadar dan aku... “aku sedang menuju tempat yang katanya ada keindahan luar
biasa disana, tempat dimana aku bisa menggenggam semua anganku. Tapi, aku
terhenti karena persimpangan jalan ini”
Tak
banyak reaksi yang ditunjukkannya selain menyimpulkan senyumannya dan dia pun
menunjukkan jalan, tapi semakin jauh aku semakin sering menemui persimpangan
yang selalu saja menghentikan langkahku
Dan pada
akhirnya, aku mengeluh karena lelah dan memilih menghentkan langkahku, aku
berharap sosok dibalik cahaya yang pertama kali aku temui di persimpangan jalan
pertama tadi kembali datang, namun semua harapanku kosong, sosok itu tak juga
muncul hingga aku menyerah dan benar-benar memutuskan langkahku untuk berhenti sampai
disini.
Hujan
kembali menemaniku dan menyamarkan tangisku saat itu. Tiba-tiba, sebuah suara
berkata “Mengapa Nona mengeluh ? sementara perjalanan Nona masih sangat
panjang. Mengapa Nona menangis ? sementara hujan masih sangat setia menemani
langkah Nona”
Aku berkeliling mencari sumber
suara itu, namun tak jua ku temui, “Nona, apakah kau yakin akan menghentikan
semua langkahmu disini ? lalu bagaimana dengan keindahanmu disana ?” suara itu
kembali hilang sejenak dan... “Nona, Tuhan memberikan keindahan bukan dengan
semudah itu. Tuhan memberikan keindahan dengan maksud agar kau perjuangkan
sungguh-sungguh, kau dipertemukan pada sebuah pilihan dimana saat itu pilihan
mampu menghentikan langkahmu, tapi pada setiap pilihanmu yang berasal dari
lubuk hatimu paling dalam Tuhan menyelipkan teka-teki untukmu terus melanjutkan
perjalanmu dan kau harus mempertanggungjawabkan atas semua pilihanmu.. kau
tidak bisa menggantungkan hidupmu kepada siapapun kecuali kepada Dia Sang
Pemilik Kehidupan, kosong bila kau menggantungkan langkahmu kepada selain Dia.
Keindahan butuh perjuangan besar yang bahkan akan sangat melelahkan, untuk apa
kau menyerah sementara Tuhanmu masih setia menemanimu ? untuk apa kau akan
kembalikan semua langkahmu kalau sebenarnya kau tahu betapa indahnya keindahan
yang akan kau tuju itu ? berjuanglah, Nona ! patahkanlah keputusasaan yang saat
ini bersarang di jiwamu yang akan meredupkan mimpimu, teruslah berjalan, susuri
sepanjang jalan ini dan bergantunglah hanya pada Dia Sang Pemilik Keindahan.
Istirahatlah sejenak jika kau lelah, mintalah kekuatan hanya kepadaNya, Dia
yang akan terus menemanimu dan menjanjikanmu sebuah keindahan yang tak lekang
oleh waktu. Nona, perjalanmu masih panjang, bahkan masih sangat panjang, dengan
kau menyerah dan memilih berhenti, kau akan mengubah hidupmu menuju lorong
gelap tak berpenghuni, tapi jika kau terus berjalan, Tuhan menjanjikan sebuah
tempat dimana semua impianmu akan kau genggam dengan kedua tangan kokoh, akan
kau peluk dengan hangatnya tubuhmu. Kembalilah berjalan, Nona ! karena janji
Tuhan takkan pernah ingkar”
Aku masih berputar mencari sumber
suara itu, hingga pada akhirnya... “Nona, tak perlu jauh kau mencariku, karena
sesungguhnya aku ada di dalam hati kecilmu”
Seketika itu, aku mengerti semua
petunjuk yang Tuhan tunjukkan dari setiap langkah yang aku tempuh dan hanya
kepadaNyalah kini aku gantungkan semua mimpi-mimpiku dengan tidak menghapus
semangatku untuk lebih tangguh menggenggam semuanya. Karena melalui hati kecil, Tuhan bicara.
Komentar