Langsung ke konten utama

DENGAN HATI KECIL, TUHAN BICARA

Pada suatu senja, aku berjalan menikmati setiap hembusan nafas alam, menyusuri setiap jejak langkah di atas hijaunya rerumputan hingga beberapa langkah tetes demi tetes hujan menemani langkahku menyusuri jalan panjang dimana sepanjang perjalanan yang elok telah aku lalui.
Dan pada suatu ketika, aku bertemu dengan sosok yang berdiri tepat di samping pohon rindang itu, kemudian dia menyapaku hanya dengan sebuah senyuman yang kemudian banyak mengubah langkahku. Tanpa aku hiraukan terlalu jauh, aku kembali melanjutkan perjalananku yang masih panjang hingga bertemulah pada sebuah persimpangan jalan yang seketika itu pula menghentikan langkahku. Aku tidak tahu arah mana yang harus aku pilih.
Senja berubah menjadi malam, pada pertengahan malam, sebuah cahaya yang teramat begitu terang membawa kedamaian di dalam jiwaku saat itu, entah cahaya apa, aku hanya merasakan kedamaian yang teramat sungguh, cahaya itu bagakan air bagi gersangnya jiwaku, cahaya itu bagaikan lilin di tengah gelapnya kehidupanku dan cahaya itu memberi arti yang luar biasa istimewa. Kemudian, dibaliknya aku melihat sosok yang aku temui sebelum aku sampai di persimpangan jalan ini, sosok yang senyumannya mengubah langkahku pada akhirnya nanti.
Kali ini, dia menyapaku dengan sebuah pertanyaan, “Anda hendak kemana, Nona?”
Lamunanku tersadar dan aku... “aku sedang menuju tempat yang katanya ada keindahan luar biasa disana, tempat dimana aku bisa menggenggam semua anganku. Tapi, aku terhenti karena persimpangan jalan ini”
Tak banyak reaksi yang ditunjukkannya selain menyimpulkan senyumannya dan dia pun menunjukkan jalan, tapi semakin jauh aku semakin sering menemui persimpangan yang selalu saja menghentikan langkahku
Dan pada akhirnya, aku mengeluh karena lelah dan memilih menghentkan langkahku, aku berharap sosok dibalik cahaya yang pertama kali aku temui di persimpangan jalan pertama tadi kembali datang, namun semua harapanku kosong, sosok itu tak juga muncul hingga aku menyerah dan benar-benar memutuskan langkahku untuk berhenti sampai disini.
Hujan kembali menemaniku dan menyamarkan tangisku saat itu. Tiba-tiba, sebuah suara berkata “Mengapa Nona mengeluh ? sementara perjalanan Nona masih sangat panjang. Mengapa Nona menangis ? sementara hujan masih sangat setia menemani langkah Nona”
Aku berkeliling mencari sumber suara itu, namun tak jua ku temui, “Nona, apakah kau yakin akan menghentikan semua langkahmu disini ? lalu bagaimana dengan keindahanmu disana ?” suara itu kembali hilang sejenak dan... “Nona, Tuhan memberikan keindahan bukan dengan semudah itu. Tuhan memberikan keindahan dengan maksud agar kau perjuangkan sungguh-sungguh, kau dipertemukan pada sebuah pilihan dimana saat itu pilihan mampu menghentikan langkahmu, tapi pada setiap pilihanmu yang berasal dari lubuk hatimu paling dalam Tuhan menyelipkan teka-teki untukmu terus melanjutkan perjalanmu dan kau harus mempertanggungjawabkan atas semua pilihanmu.. kau tidak bisa menggantungkan hidupmu kepada siapapun kecuali kepada Dia Sang Pemilik Kehidupan, kosong bila kau menggantungkan langkahmu kepada selain Dia. Keindahan butuh perjuangan besar yang bahkan akan sangat melelahkan, untuk apa kau menyerah sementara Tuhanmu masih setia menemanimu ? untuk apa kau akan kembalikan semua langkahmu kalau sebenarnya kau tahu betapa indahnya keindahan yang akan kau tuju itu ? berjuanglah, Nona ! patahkanlah keputusasaan yang saat ini bersarang di jiwamu yang akan meredupkan mimpimu, teruslah berjalan, susuri sepanjang jalan ini dan bergantunglah hanya pada Dia Sang Pemilik Keindahan. Istirahatlah sejenak jika kau lelah, mintalah kekuatan hanya kepadaNya, Dia yang akan terus menemanimu dan menjanjikanmu sebuah keindahan yang tak lekang oleh waktu. Nona, perjalanmu masih panjang, bahkan masih sangat panjang, dengan kau menyerah dan memilih berhenti, kau akan mengubah hidupmu menuju lorong gelap tak berpenghuni, tapi jika kau terus berjalan, Tuhan menjanjikan sebuah tempat dimana semua impianmu akan kau genggam dengan kedua tangan kokoh, akan kau peluk dengan hangatnya tubuhmu. Kembalilah berjalan, Nona ! karena janji Tuhan takkan pernah ingkar”
Aku masih berputar mencari sumber suara itu, hingga pada akhirnya... “Nona, tak perlu jauh kau mencariku, karena sesungguhnya aku ada di dalam hati kecilmu”

Seketika itu, aku mengerti semua petunjuk yang Tuhan tunjukkan dari setiap langkah yang aku tempuh dan hanya kepadaNyalah kini aku gantungkan semua mimpi-mimpiku dengan tidak menghapus semangatku untuk lebih tangguh menggenggam semuanya. Karena melalui hati kecil, Tuhan bicara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...