ketika alam masih terlelap,
mereka telah bersiap menyambut matahari
menyongsong hari demi rupiah yang
tak seberapa
melawan kerasnya lalu lintas
kokohnya batin sudah menjadi
miliknya
air mata tak lagi ada harganya
untuk mereka, bahkan mengingatnya pun mungkin tidak
langkah kakinya yang gontai
melaju berputar serangkaian detak
jam di dinding putih
wajah lusuh tak lagi
dihiraukannya, baginya adalah bagaimana mereka mampu bertahan hidup dalam dunia
yang memojokkannya
saat empati manusia mulai
terkikis, senyumnya tak pernah hilang memancarkan rona kebahagiaan
meski alam mengetahui bahwa jauh
di dalam hatinya mereka menangis, meronta berharap kesejahteraan
ketegaran mereka melukiskan
cerita keras garis kehidupan yang jauh di pandangan mata
yang bahkan tak pernah terbesit
di pikiran kita
beragam kesulitan telah mereka
lalui dan kesulitan lain yang akan menemaninya entah sampai kapan
kekuatan hatinya memacu untuk
tetap bertahan dalam garis kehidupan yang sebenarnya sama sekali tidak mereka
harapkan
namun disinilah, aku melihat
sejuta kebahagiaan yang terpendam
kebahagiaan yang telah lama
mereka simpan dan tak sempat muncul
saat empati manusia menyentuh
nuraninya, lengkung pipi di wajahnya menjadi cahaya bagi alam kala itu
seolah dunia memeluknya,
mengasihinya dan melupakannya atas berbagai derita yang selama ini menyelimuti
langkah ceria memijaki rerumputan
yang dipenuhi embun segar
sungguh Tuhan, inilah sejatinya
yang mereka harapkan
mereka tak banyak berharap selain
belaian kasih untuk jiwanya yang haus akan kelembutan
tangan suci yang begitu lama
diidamkannya menjadi air hujan bagi jiwa
lihatlah, kini tawanya membuncah
dunia
matahari seolah ikut tersenyum
melihat polanya
kehangatan yang ada saat itu merasuk
ke dalam jiwanya yang gersang
betapa bahagianya ketika kekuatan
menjadi sebuah kesatuan bersama nurani yang tulus
Komentar