nanar mataku menatap ke
langit luas
menatap langit yang tak
jua berpelangi
menatap ke langit abu-abu,
terkadang aku kehujanan
sendiri di tengahnya
menatap langit abu-abu,
terkadang aku silau
diterpa cahaya matahari kala dia yang hadir
semakin jauh, langkahku
semakin gontai
semakin berat kaki ini aku
bawa melangkah
terbesit dalam pikiranku,
apakah aku harus berhenti sampai disini jika apa yang aku tuju sudah tak lagi
terjangkau?
lalu, mengapa Tuhan mempertemukan
aku dengannya kalau pada akhirnya aku tak mampu memilikinya?
seolah berjalan dan
berlari bersama padahal sebenarnya tidak kemana-mana
God… semua tidak semudah
seperti apa yang aku tulis
melepas apa yang sudah
terlanjur tumbuh dan bersemayam
mungkin ada saatnya dimana
aku harus ikhlas atas sebuah kehilangan dan menerima sebuah kepergian, nanti
mungkin hidup ini tak lain
sering melukiskan bahwa terkadang kita bisa memiliki hanya untuk kehilangan
meski semua tidak sepenuhnya milik kita
Komentar