Langsung ke konten utama

MENCARI - MENEMUKAN - MEMPERTAHANKAN

Kini, usiaku sudah berjalan 22 tahun. Bagi kebanyakan mereka berkata bahwa aku sudah berkepala dua, sudah bukan lagi balita, anak-anak atau bahkan ABG, melainkan mereka menganggapku sudah dewasa, ya dewasa, seharusnya aku sadar bahwa bukan usiaku saja yang seharusnya bertambah tapi pemikiranku juga seharusnya bisa bertambah, bertambah dewasa dalam menyikapi apapun, semua tentang kehidupanku.
Hari ini, aku disadarkan oleh seseorang yang membuatku mengerti arti dari mencari – menemukan – mempertahankan. Aku sadar, dalam perjalananku mencari seseorang yang sedari dulu ku harapkan mampu membimbing langkahku, aku tidak pernah merasa bahwa itu adalah hal yang mudah. Aku harus melewati dingin malam, terik matahari, angin badai sampai ombak yang hampir meruntuhkan tubuhku sendiri. Tapi Tuhan baik, sangat baik, Dia tak pernah menanamkan keputusasaan dalam diriku untuk tetap mencari, mencari dan mencari. Meski tidak kuperlihatkan caraku mencari, tapi semesta tahu apa yang aku butuhkan. Iya, aku butuh, aku sangat butuh seseorang dengan bahu yang lebih kuat untuk tempat ku bersandar, lengan yang lebih kokoh untuk merangkulku serta hati yang lebih tegar untuk menerima semua kekacauanku dan segala hal yang berantakan dalam diriku. Sekuat apapun aku, aku akan tetap merasa butuh untuk dilindungi, kodratku sebagai wanita akan selalu berada di dalam pelukan sosok tangguh dan bertanggung jawab, seberapapun kuatnya aku.
Hingga disuatu waktu, semesta seolah menjawab pencarianku. Aku ditemukan pada seseorang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku dihadapkan pada seseorang yang sama sekali tidak ada dalam bayanganku sebelumnya. Seseorang yang entah darimana datangnya, seketika membuat dunia ingin ku hentikan saja saat itu. Ada bagian dari dirinya, yang sudah merasuk tepat di separuh bagianku yang kosong. Tepat. Tepat sekali. Hingga semesta mengizinkanku menjalin hubungan dengannya bahkan hingga sampai saat ini. Yes, kini aku sudah menemukan apa yang aku cari. Ternyata, beginilah sosok yang selama ini Tuhan rakit. Terimakasih Tuhan, ini sebuah anugerah terindah sepanjang perjalanan hidupku. Tak hentinya ku panjatkan harapan agar kau kelak menjadi bagian dari keluargaku. Namun, perjalanan tetaplah perjalanan, pendakian tetaplah pendakian, aku yang rapuh dengan raga yang pura-pura tegar seringkali ingin menyerah saja dalam perjalanan ini, dalam pendakian ini. Aku melupakan proses pencarianku dulu, seenaknya saja aku berucap, menyuruhnya pergi dan memintanya meninggalkanku. Tapi semesta hebat, Dia benar-benar merancang sosok yang luar biasa kokohnya, bagaimana tidak kokoh ? Sampai saat ini, bahkan pada detik ini dia membaca surat senduku, dia masih ingin memelukku, bahkan eratnya lebih erat sebelum dia tahu bagaimana sesungguhnya aku. Bahkan di detik ini pula, aku yakin rasa sayangnya tidak akan pernah pudar. Kali ini, aku benar-benar disadarkan oleh seseorang bahwa aku sudah menemukan.
Sampai pada akhirnya aku sadar untuk kesekian kali, kini saatnya aku mempertahankan apa yang pernah aku cari dan kini aku temukan. Ya memang, tidak ada yang pernah berkata bahwa mempertahankan itu mudah. Tapi sekali lagi, dia meyakinkan aku bahwa kami masih kuat, masih sangat kuat untuk bertahan, sekali lagi dia meyakinkanku bahwa puncak disana akan terasa lebih indah jika kami benar-benar sampai berdua bersama di atas sana.
Tuhan, terimakasih untuk semua yang sudah Kau anugerahkan dalam perjalanan hidupku. Terimakasih untuk kirimannya yang tidak pernah lekang oleh waktu. Terimakasih untuk rancangan bahunya yang kuat, lengan yang kokoh dan hatinya yang tegar. Tuhan, ini kirimanmu yang luar biasa mewah setelah ibu, ayah dan adikku. Aku sadar Tuhan, ini untuk ku jaga dengan sebaik baik penjagaanku. Tuhan, jaga dia selalu dalam dekapanMu, bimbing langkahnya untu terus menuntunku dalam kebaikanMu, membalas semua kebaikanMu. Tuhan, wujudkanlah apa yang menjadi harapan, impian dan cita-citanya sebagaiman dia yang sudah mewujudkan harapanku untuk menjadi sosok terkuat dalam hidupku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...