Langsung ke konten utama

BATAS ANTARA TAKDIR DAN IKHLAS


Seketika kemelut langit gelap menutup apa yang disebutnya sebagai cahaya. Menyapu jingga di senja, menelan pahit-pahit air kemarau. Mencoba berdamai pada takdir, menikmati setiap jengkal kehidupan. Semesta tahu kapan perahu ini akan berlabuh, Semesta juga tahu kemana air akan bermuara.
Mencoba menerima setiap detik nafas dalam damai. Menghela hingga hilang semua luka. Menjadi sebaik-baik manusia pada Tuhannya, menyerahkan seluruh hanya padaNya, sekalipun dirinya sendiri. Mendoakan segala harapan, mengusahakan segala impian dan menerima pemberianNya apapun yang dikehendaki.
Bagaimana membentuk ikhlas ? Hujan tidak pernah bertanya kenapa ia harus jatuh ke bumi dan daun yang gugur pun tidak pernah membenci angin yang menjatuhkannya. Mereka seolah lebih paham bahwa apa yang terjadi padanya adalah yang terbaik untuknya meski semua yang terjadi sama sekali bukan keinginannya.
Pantaskah manusia mengolok-olok takdir ? sementara logikanya tidak akan sampai menembus batas. Sesombong itukah memaksa Semesta menuruti apa yang ada dalam pikirannya ? sementara Dia Maha Mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi.
Beristirahatlah sejenak dari keramaian dunia. Sebab ada sunyi yang bisa dinikmati dengan baik, untuk kembali membuka ruang pada hati dan pikiran yang mulai sesak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...