Seketika kemelut langit gelap
menutup apa yang disebutnya sebagai cahaya. Menyapu jingga di senja, menelan
pahit-pahit air kemarau. Mencoba berdamai pada takdir, menikmati setiap jengkal
kehidupan. Semesta tahu kapan perahu ini akan berlabuh, Semesta juga tahu
kemana air akan bermuara.
Mencoba menerima setiap
detik nafas dalam damai. Menghela hingga hilang semua luka. Menjadi sebaik-baik
manusia pada Tuhannya, menyerahkan seluruh hanya padaNya, sekalipun dirinya
sendiri. Mendoakan segala harapan, mengusahakan segala impian dan menerima
pemberianNya apapun yang dikehendaki.
Bagaimana membentuk
ikhlas ? Hujan tidak pernah bertanya kenapa ia harus jatuh ke bumi dan daun yang
gugur pun tidak pernah membenci angin yang menjatuhkannya. Mereka seolah lebih
paham bahwa apa yang terjadi padanya adalah yang terbaik untuknya meski semua
yang terjadi sama sekali bukan keinginannya.
Pantaskah manusia
mengolok-olok takdir ? sementara logikanya tidak akan sampai menembus batas.
Sesombong itukah memaksa Semesta menuruti apa yang ada dalam pikirannya ?
sementara Dia Maha Mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi.
Beristirahatlah sejenak
dari keramaian dunia. Sebab ada sunyi yang bisa dinikmati dengan baik, untuk
kembali membuka ruang pada hati dan pikiran yang mulai sesak.
Komentar