Ada hujan yang tak
kunjung reda pada Desember ini. Hujan di langit abu-abu itu membawa kenyataan
yang seolah menawarkan semburat sendu untuk segera reda. Pelangi yang sewaktu-waktu
melengkung, tepat sekali pada jejak-jejak yang pernah dilewati, menyadarkan bahwa
pelangi ada tidak untuk selamanya, tapi juga tidak pergi untuk selamanya.
Semesta memeluk rindu pada setiap perubahan itu, air hujan yang jatuh, langit
yang menjingga, serta pelangi yang terukir. Berbagai bentuk perubahan itu
semesta memeluknya dengan hangat, dalam pelukan matahari yang dinanti. Semesta
paham bahwa setiap perubahan yang terjadi, pada akhirnya semua akan kembali
pada semesta.
Pada jejak kakinya yang
basah, ternyata masih berbekas langkahnya. Ternyata, Tuhan tidak benar-benar
menghapusnya. Kerap suara langkahnya masih sayup terdengar, gerak tubuhnya
masih tergambar, gemericik air yang jatuh di payungnya masih juga meninggalkan
sisa. Hujan benar-benar mengembalikan semuanya. Semua yang sebenarnya tidak
hilang, tapi kosong. Tapi, tersadar akan hal yang seringkali memenjaraksn diri,
perubahan itu sejatinya mengekang pikiran untuk tidak menerima, padahal
menerima adalah satu-satunya langkah supaya hujan-hujan selanjutnya airnya
masih bisa terasa tenang.
Setiap yang pergi pasti
akan kembali, sebab akan selalu ada rumah yang menjadi tujuan. Sebab ada pergi
yang Tuhan ciptakan untuk kembali. Entah hujan di luar sana deras, sedang atau
hanya gerimis, manis atau romantis, atau bahkan miris sekalipun, rumah akan
selalu menjadi tempat paling dituju, bahkan untuk sekedar menampung tetesan
hujan di kedua telapak tangan. Menerima, mungkin satu-satunya cara memahami
bahwa ada hal lain yang langit abu-abu tawarkan, mungkin lebih dari sekedar
menawarkan sendu untuk segera reda.
Seringkali hujan yang
mengingatkan pulang. Bagaimana mungkin ? Ya, sebab ada nyaman disana.
Bersandarlah sejenak, beristirahatlah, nikmati setiap tetesnya yang jatuh.
Sebab bukan tidak mungkin, suatu saat tetesan itu akan berubah menjadi sesuatu
yang menyakitkan. Lagi, perubahan itu menyadarkan bahwa menerima adalah
satu-satunya cara bahwa menikmati proses berarti menikmati keindahan. Seringkali,
hujan juga yang memaksa pergi, keluar rumah, hingga lupa untuk pulang.
Desember ini, semesta
masih menyisipkan langit abu-abu yang terus berusaha menawarkan sendu untuk
segera reda. Tapi, langit abu-abu juga menjanjikan bahwa sejatinya pergi
diciptakan Tuhan supaya pulang masih tetap dirasa penting. Semesta hanya
meminta waktu untuk menempuh jalannya, jalan panjang yang masih dilalui hanya
untuk segera pulang~~
Komentar