Langsung ke konten utama

Secangkir Teh di Bawah Rembulan

Setiap yang terjadi, pada dasarnya manusia hanya mampu menerima. Membujuk hatinya untuk berdamai pada kenyataan. Meski seringkali menyakitkan, waktu akan selalu menyembuhkan. Pada setiap cerita yang kau tulis, kau selalu mampu menentukan ingin seperti apa akhirnya. Namun pada setiap yang kau jalani, kau hanya mampu berjalan mengiringi waktu dan setiap waktu yang sudah kau langkahi, kau tidak akan pernah mampu mengulang, apalagi mengembalikan.


Di bawah rembulan, aku bersama secangkir teh menikmati setiap tegukan yang tidak akan pernah membawamu kembali pada waktu yang sudah berputar sempurna. Bagaimana mungkin, aku mencintai setiap tegukan di bawah cahayanya. Tapi kini, setiap tegukan itu aku hanya bisa rasakan untukku sendiri. Kau akan selalu berjalan pada kebahagiaan lain di luar sana. Tidak ada hal yang paling membahagiakan selain menikmati secangkir teh di bawah rembulan, meski pada akhirnya kau juga tidak akan kembali.


Memaksakan kehendak hanya akan bisa menyakiti diri sendiri. Terkadang, kau hanya perlu diam untuk sesuatu yang akan menyakitimu. Pada dasarnya, mencintai adalah menerima. Percayalah, suatu saat nanti kau akan tahu sendiri bagaimana kau harus memilih, bagaimana kau harus percaya dan bagaimana kau harus menerima. Bagaimana kau bisa menikmati setiap tegukan secangkir teh di bawah rembulan, tapi tidak kau bawa seluruh yang ada pada dirimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...