Langsung ke konten utama

SENJA DI BATAS GELAP DAN TERANG


Dearest, You...
ada hal-hal yang sulit ku aksarakan, dalam sebuah bait bahkan dalam sebuah syair, pun sajak, beberapa hal ada memang hanya tersimpan dalam hati, tanpa mampu mengubahnya menjadi sebuah aksara, sekeras apapun usaha kau untuk membacanya.
bahkan, meski seringkali ku pejamkan mataku, sekuat ku coba kumpulkan setiap bayangmu yang mungkin mulai berpencar, entah bagaimana jadinya, kekuatanku rasanya tidak cukup pada batasnya.
di batas gelap dan terang, aku masih menanti senjaku, meski seringkali aku merasa patah. sekali lagi aku merasa dadaku sesak, langkahku terasa berat, mataku berkaca hingga apapun yang ku lihat semua terasa hilang. aku seperti terkait oleh luka dan terantai pilu, padamu seseorang yang sering kacaukan segala rasaku. haruskah aku berjalan mundur dan memutarbalikkan langkahku? lalu, apa ini yang sering orang sebut sebagai sebuah perjuangan, tapi apa memang benar ini yang dinamakan berjuang? atau sebenarnya kita hanya sedang menunda perpisahan?
tidak, kita bukan sedang menunda perpisahan, tapi kita sedang menghindari perpisahan, kita sedang menguatkan langkah dan merakit impian. kita bukan sedang menunda perpisahan, tapi kita sedang menyatukan dua kepala, karena sesungguhnya menyatukan dua kepala yang lengkap dengan masa depan yang berbeda bukanlah perkara mudah, bahkan dalam prosesnya bisa saja menyakitkan. tapi, kau tak boleh lengah jika kau tak ingin kalah.
percayalah, aku disini, masih menanti senjaku, senja di batas gelap dan terang. Meski seringkali aku memilih untuk berhenti, tapi yang harus kau sadari bahwa hal yang terucap dari mulutku terkadang tidak melulu sama dengan apa yang ada dihatiku, jauh di dalam sana aku mengatakan sebaliknya.
karena sampai saat ini, aku masih terus berusaha untuk tidak berhenti percaya bahwa kelak hanya padamulah ku labuhkan hatiku.
untukmu, kamu bukan hanya istimewa karena telah membuat hatiku jatuh dan tak ingin ku ambil lagi, tapi lebih dari itu, kau menawarkan hal-hal yang bahkan tidak pernah ku bayangkan dapat diberikan dunia.
catatan ini untukmu, seseorang yang namanya selalu terselip dalam doaku dan dalam masa depanku. denganmu, aku selalu bisa menemukan aksara dalam sebuah kenyamanan, menjalani cerita menuju masa depan menjadi lebih ringan.
untukmu, entah hari ini atau bahkan nanti rasamu mulai menghilang, ku mohon ingat kembali awal kita memulai perjuangan, awal kita membentuk komitmen, komitmen yang membuat kita bertahan sampai saat ini, bahkan beberapa hal seringkali hampir memisahkan kita, menyendirikan kita yang berdua. tak bisa ku pungkiri, di luar sana akan ada berjuta wanita yang jauh lebih segalanya dibandingkan aku, mungkin kelak kau akan menemukan sosok yang kau anggap bisa menggantikan posisiku dihatimu. sayang, aku tidak pernah bisa memaksakan kehendakku padamu agar kau tetap bersamaku, tapi satu hal yang perlu kau sadari dan kau ingat selalu, “kalau badai saja bisa kau terjang mengapa gerimis yang rintik saja sudah membuat kau menggigil?”
untukmu, tetaplah menjadi senja yang selalu aku nanti hadirnya, di batas gelap dan terang. tetaplah menjadi senja yang meneduhkan, senja yang indah dan senja yang selalu tahu kemana dia harus pulang.
dan untukmu, ingatlah bahwa segala perjalanan sejatinya butuh rumah untuk pulang. untuk mengistirahatkan diri dari kelelahan dalam melangkah. aku, aku akan menjadi rumah bagimu, bagi jiwamu yang penuh dengan peluh, meski tidak selalu ku janjikan kau dengan kebahagiaan, tapi ku usahakan yang terbaik bagimu.
bagimu, rumah bagi segala lelahku. kokohlah dengan segala kemampuanmu. ku mohon untuk tidak selalu mengiyakan apa apa yang kelak keluar dari mulutku.
~ yours, still loving you after I know really you

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...