Langsung ke konten utama

KAU (lagi) SENJA

lalu aku mulai mencintaimu, sesederhana itu
aku paham benar kalimat itu sejak aku sadari bahwa hanya kau saja yang aku nanti, yang mampu membuatku menunggu, dan meyakinkanku kalau kau mampu menunjukkan hebatnya mencintai dan dicintai dalam satu waktu
terbuai aku terbuai, melayang jauh melanglang buana menelusuri langit ketujuh
aku mencintai kesunyianmu, dimana hanya ada kau dan duniamu
aku mencintai diammu, dimana kau mampu menyembunyikan sejuta kata di kepalamu
tetaplah tabah berjuang denganku, meski seringkali aku melupakan sikapku yang tak seharusnya
tetaplah bersamaku, seperih apapun perjalanan kita nanti
cobalah untuk saling menerima dengan keikhlasan luar biasa segetir apapun rasa yang akan saling kita cicipi
ketika aku mulai berubah, percayalah aku tak minta banyak darimu, aku hanya butuh kehangatanmu, mungkin saja aku lelah berjalan dan percayalah saat itu yang ku butuhkan adalah kau, iya kau dan segala kehangatan yang kau punya
jangan berubah sayang, tetaplah menjadi kau seperti sediakala, seperti ini, sampai nanti, tak berbatas waktu
namun jika memang keadaan mengharuskan kau berubah, izinkan aku untuk sedikit saja mengulas tentang kisah kita, awal perjuangan kita, kisah manis kita, canda tawa kita, tanpa sedikitpun akan ku bahas kesedihan-kesedihan di dalamnya, izinkan aku, sedikit saja, sebentar saja
dalam dirimu, memang tidak pernah kutemukan kesempurnaan, namun entah bagaimana penjelasannya, aku tetap saja mencintaimu, aku tetap saja ingin kau ada, disini, di dalam sini, dihati yang sudah terlanjur kujatuhkan padamu
meski seringkali kau menjengkelkan, entahlah aku tetap tak ingin tinggal selain dengan kau, tetap kau saja yang aku ingin menempati tempat khusus di dalam sana
jika kau memintaku menjelaskan bagaimana semua bisa terjadi, aku cuma bisa menyuruh kau untuk diam, pegang tanganku genggam jemariku dan rasakan aku sedalam-dalamnya, mungkin di dalam sana akan kau temui jawabannya karena sekuat apapun aku memaksa lidahku, tetap saja kelu
sudahlah, terkadang beberapa perjalanan memang tak perlu penjelasan, cukup dirasakan dan dijalani, sudah biarkan semuanya berjalan seperti adanya
karena air tahu kemana dia akan bermuara, perahu juga tahu kemana dia akan berlabuh
dan semua cinta tahu, kemana dia harus pulang
kau adalah rumah, tempat ternyaman yang pernah ku singgahi, tempat dimana aku akan pulang, dan tempat yang selalu aku tuju
tetaplah menjadi rumah bagi rindu-rindu yang menguar, karena disana aku akan berteduh dari kerasnya dunia luar yang terkadang memaksaku menjadi bukan aku sepenuhnya
kau, rumah bagi segala resah, tertumpah ruah gelisah yang menggeliat hebat
kau, rumah bagi segala tawa, tercurah segala kebahagiaan, kau dan aku, kita yang rasa
aku menyayangi kau, yang sering kusebut rumah senjaku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB

BIAR WAKTU YANG MENJAWAB                 Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, perasaan ini tak terarah. Bukan karena aku tak merasa tapi tak ada kepastian rasa yang aku dapatkan darinya. Seperti ingin tapi tak ingin, entahlah. Aku sayang kamu, tapi aku bimbang Aku suka kamu tapi aku belum mau pacaran, aku harus fokus pada satu hal Begitulah cuplikan pesan singkat yang disampaikan darinya. Air mata tak terasa mengalir lembut di sekujur wajahku. Entah aku merasa senang atau sedih, tak mampu ku ungkapkan.                 Hari terus berjalan seiring berjalannya waktu. Aku merasa dia memberi harapan lebih untukku. Hari-hariku dipenuhi dengan harapan tentangnya. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya pada teman terdekatku. “Delia, gue mau curhat deh”   Vanny merengek. “Curhat apa sih sayang?” respon Delia. Vanny me...

MAKALAH DAN POWERPOINT BAHASA INDONESIA_ PENTINGNYA BAHASA, FUNGSI BAHASA, ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA

PENTINGNYA BAHASA FUNGSI BAHASA ASPEK-ASPEK KETERAMPILAN BERBAHASA   Disusun Oleh: 1.     Adhelita Audina Pradanti 2.   Fuji Rahayu 3.   Siti Fatimah 4.   Rommeil Genzano SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI BOGOR S-1 FARMASI 2012 - 2013 DAFTAR ISI 1.       Halaman Judul             …………………………………………………………………….1 2.       Daftar Isi          …………………………………………………………………………….2 3.       Kata Pengantar            …………………………………………………………………….3 4.       Bab 1 Pendahuluan A.     Latar Belakang Masalah    …………………………………………………………..4-5 B.      ...

TULISAN INI HANYA UNTUK AKU, TIDAK TERMASUK KAMU

“berakhir semua mimpi miliki dirimu, disaat harus mengalah tuk merelakanmu pergi” -          Hanin Dhiya-Yang terbaik Memutuskan mundur menjadi sesuatu yang kelihatannya memang mudah, bahkan sangat mudah. Tapi semua pandangan itu rasanya tidak berlaku bagiku, saat itu, memutuskan mundur terlebih perlahan, menjadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Namun beberapa hal pada akhirnya aku sadari bahwa yang semu, memang selayaknya dibiarkan pergi, layaknya angin yang berhembus, bagaimanapun ia berhembus ia akan pergi juga. Aku semakin menyadari bahwa aku sudah terlarut dalam ilusiku, ilusi yang bisa saja membunuhku sendiri. “jika harus berakhir, menangis dan terluka biarlah ku jalani bila memang ini semua yang terbaik untuk kita berdua” -          Hanin Dhiya-Yang Terbaik Hingga sampailah aku pada titik dimana aku harus merelakan semua rasa yang telah tercipta. Aku putuskan untuk mengangkat tanga...